Kisah Sempurna Airin

Kisah Sempurna Airin
Bab 6


__ADS_3

Pintu besar ruangan CEO terbuka menampilkan pak Rey yang baru saja masuk, beberapa hari ini entah mengapa pak Rey jarang keliatan. Mungkin ada urusan di luar, entahlah bukan urusanku juga.


“Maaf pak saya tidak menemukannya” ucap pak Rey kepada pak Sena. Aku bisa mendengar percakapan mereka dari ruanganku, karena memang disini tidak kedap suara.


Pak Sena berdecak kesal, dia terlihat gusar setelah pak Rey mengatakan hal tadi. “Diluaran sana banyak sekali gadis yang bisa kamu pilih Rey, tapi Bagaimana bisa tidak ada satupun yang bisa kamu bawa kesini menemuiku” ujar pak Sena frustasi.


Entahlah bahasan seperti apa yang sedang mereka perdebatkan ini, tapi mendengar kata ‘gadis-gadis’ itu membuatku cukup curiga, untuk apa pak Sena menyuruh pak Rey mencarikan gadis.


Aku menutup mulutku “jangan-jangan yang dikatakan Yuri bener, kalo pak Sena sering main gila dengan banyak perempuan” ucap Airin yang tiba-tiba ingat dengan gosip yang di bicarakan Yuri tempo hari.


“Ish.. emang dasar cowok perasaan ga ada yang bener, ga jauh-jauh dari mainin perasaan cewek” ucapku bermonolog, aku cukup geram dengan kelakuan lelaki yang tidak pernah puas dengan satu perempuan. Rasanya ingin ku patahkah pedang panjangnya, Huft…


*


Setelah cukup lama aku berkutat di ruangan kerjaku, aku segera keuar untuk mengajak pak Sena mengecek grand opening store yang berisi barang-barang dari Pranata’s Company di sebuah Mall besar di Jakarta, karena jadwal


Pak Sena siang ini adalah hadir dalam grand opening tersebut.


Aku berjalan menuju meja kerja pak Sena, disana aku melihat dia menatap kosong ke arah mejanya.


“Maaf pak, jadwal bapak siang ini adalah mengahadiri grand opening store, setengah jam lagi acaranya sudah dimulai” ucapku membacakan jadwal kepada pak Sena.


Tidak ada jawaban dari perkataanku, aku coba mengulang kembali kata-kata yang ku ucapkan tadi, namun tak kunjung dapat balasan, sepertinya pak Sena sedang melamun.


Ku beranikan diri menyentuh lengan pak Sena untuk menyadarkannya dari lamunan panjangnya itu, entah mengapa beliau seperti ada beban yang sangat berat akhir-akhir ini.


“Pak” ucapku seraya mencolek lengan pak Sena yang berujung mengagetkannya, Dia mendelik tajam ke arahku “maaf pak, tadi saya mencoba untuk berbicara kepada bapak tapi sepertinya bapak sedang melamun” ucapku meminta maaf duluan karena aku takut kena semprot lagi dengan kata-kata pedasnya.


“Ada apa?” Tanyanya.


“Siang ini kita harus ke grand opening store yang baru pak, em.. tapi kalau bapak sedang tidak enak badan saya akan batalkan jadwal yang ini” ujarku memberi saran jika dia tidak ingin datang akan ku batalkan semuanya.


“Tidak, ayo kita pergi” ucapnya lalu segera beranjak pergi.

__ADS_1


Di mobil keadaanpun sangatlah canggung, pak Sena hanya sibuk dengan kemudi di tangannya. Aku tidak tahan dengan kecanggungan ini, memang pada dasarnya aku orang yang suka ceplas ceplos jadi agak risih dengan keadaan yang seperti ini.


“Pak, bapak lagi galau ya?” Tanya ku sedikit berhati-hati.


Pak Sena menoleh kearahku, lalu segera mengembalikan pandangannya kembali ke depan, “tidak” jawabnya singkat.


“Kalo ada masalah cerita aja pak gapapa kok, dari pada bapak gila sendiri, lagian saya juga ga akan minta naik gaji kok kalo bapak curhat ke saya muehehe” ucapku cengengesan.


“Saya tidak apa-apa, jangan sok perhatian kamu. Urus saja baju merah kamu itu, mata saya sakit noleh ke kamu” cibir pak Sena, lagi-lagi baju merah ini yang jadi imbasnya.


“Bapak kenapa sih sewot banget sama baju saya, saya curiga nih jangan-jangan dulu bapak sama pacar bapak sering couple-an ya pake baju merah” ujarku menyerangnya balik.


“Ngarang banget” jawabnya singkat.


“Ya terus kenapa dari tadi bapak ngejulid in baju saya terus?” Tanyaku sedikit kesal.


“Sudah tutup mulut cerewet mu itu, sampai mall nanti kamu beli baju lain untuk menggati baju merah sampahmu itu”, ishhhhhh….. rasanya tidak ada yang lebih menyebalkan daripada mahluk bernama Sena di muka bumi ini.


Aku memberengut kesal mendengar jawaban pak Sena, buat apa aku membeli baju baru hanya untuk melindungi matanya dari kesilauan karena melihat baju merahku, lagi pula uangku sangat pas-pas an.


Pak Sena hanya mendelik tajam ke arahku tanpa mengeluarkan sepatah katapun, baguslah aku juga lelah meladeni omongan-omongan pedas yang keluar dari mulutnya itu.


Setelah sampai di parkiran kami langsung menuju ke store baru yang akan segera grand opening itu. Seumur-umur aku baru pertama kali ke mall ini, karena seperti yang aku katakan pada pak Sena tadi, disini barangnya branded semua. Walupun keluargaku hidup berkecukupan namun aku tidak di izinkan ke tempat seperti ini, harus hemat kalau kata mamaku.


Acara grand opening berlangsung sangat meriah, dimana ada artis papan atas yang ikut meramaikan acara ini, tugasku hanya mengikuti pak Sena dari belakang saja, selebihnya beliaulah yang menjalankan.


Setelah acara potong pita di laksanakan aku memohon izin kepada pak Sena untuk ke toilet, karena sedari tadi aku menahan buang air kecil.


“Pak saya permisi ke toilet sebentar ya” pamitku pada pak Sena yang hanya di balas anggukan oleh beliau.


Di depan cermin aku meneliti outfit yang aku kenakan hari ini, apa yang salah dari baju ini. Aku mengenakan blouse merah yang di tambah sebuah scarf sebagai pemanis, ya memang sih blouse ku ini berwarna merah cabai tapi memangnya sebegitu buruknya ya baju ini dimata pak Sena.


“Ga jelas banget tu orang, segala baju mau di komentarin. Kenapa ga jadi komentator bola aja sih biar bakatnya tersampaikan” gerutuku di dalam toilet.

__ADS_1


Cukup lama aku berada di toilet, aku segera bergegas kembali ke store itu lagi. Ku liat disana pak Sena sedang berbincang dengan rekan bisnisnya yang di undang ke acara ini.


Pak Sena menoleh ke arahku ketika aku sampai di sebelahnya, lalu dia berpamitan dengan temannya.


“Apa kamu tersesat? Atau kamu bertemu mantanmu lagi sehingga butuh waktu begitu lama untuk kembali kesini?” Pak Sena membrondongku dengan beberapa pertanyaan.


“Maaf pak saya kebelet” ucapku singkat, karena akan panjang urusannya jika aku mengelak lebih banyak lagi.


Pak Sena diam dan menyodorkan sebuah papper bag kepadaku, “ini apa pak?” Tanya ku heran, untuk apa dia memberiku ini dan apa isinya.


“Ganti bajumu, jangan sampai setelah ini kita ke rumah sakit mata” ucap pak Sena lalu dia berbalik menemui koleganya yang lain.


Aku diam sejenak meresapi perkataan Pak Sena barusan, ku buka papper bag yang ternyata isinya sebuah blouse berwarna cream.


Aku kembali ke toilet tadi untuk mengganti bajuku, ku bentangkan baju yang ada di papper bag itu ke depan wajahku, baju berbahan lembut dan halus, aku yakin baju ini harganya sangat mahal, bahkan price tag nya masih menggantung disana.


Setelah ku lihat kertas yang menggantung di kerah baju itu, mataku seketika melotot melihat harganya.


“Buset, ini setara 3x gaji gue” ucapku terkejut.


Setelah selesai dengan kegiatanku di toilet, aku segera kembali ke store itu lagi, disana pak Sena masih berbincang dengan koleganya, “sekali lagi saya ucapkan selamat pak Sena, semoga kepedapannya perusahaan anda maju pesat” ucap salah satu rekan bisnis pak Sena.


“Terimakasih” jawab pak Sena.


“Oh iya, kapan rencana anda untuk menikah?” Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut kolega bisnis pak Sena.


Ku lihat air muka pak Sena sedikit berubah, aku yakin dia tidak nyaman dengan bahasan ini. Namun sebisa mungkin pak Sena menjawab dengan santai.


“Doakan saja” ucapnya singkat, “kalau begitu saya permisi duluan, masih banyak yang harus saya urus” lanjut pak Sena berpamitan dengan koleganya.


***


Next ?

__ADS_1


Berkomentarlah dengan kata-kata positif❤️


__ADS_2