
Setelah acara arisan telah selesai di laksanakan kami langsung pergi meninggalkan tempat tersebut. Sebenarnya masih ada acara makan bersama yang di lakukan oleh ibu-ibu sosialita itu, tapi tante Karina buru-buru mengajakku pergi dari sana.
“Ma” panggilku ketika kami sudah di dalam mobil menuju ke sebuah mall besar di Jakarta.
“Iya sayang” jawab tante Karina.
“Mama kenapa, kok mukanya di tekuk gitu.”
“Gapapa sayang, mama cuma kaget aja liat Maudy yang tiba-tiba muncul setelah bertahun-tahun menghilang”
“Yaudah jangan di pikirin ya ma, nanti malah konsentrasi mama terganggu”
“Kamu harus janji ya Airin, apapun yang terjadi kamu dan Sena harus tetap menikah” ucap tante Karina yang sedikit bergetar.
Aku mengerutkan dahiku karena bingung dengan perkataan tante Karina. Aku paham dengan keterkejutan tante Karina karena kedatangan Maudy, tapi kenapa beliau bawa-bawa soal pernikahanku dengan Pak Sena.
Namun aku tidak menanyakan lebih jauh lagi soal itu, karena aku paham dengan kondisi perasaan tante Karina saat ini, “iya ma, mama tenang aja. Sekarang mama senyum dong, masa mau shopping tapi badmood gitu” ucapku.
“Iya sayang, kita belanja yaa hari ini. Terserah kamu mau beli apa aja”
“Enggak usah ma, Airin temenin mama aja”
“Ehh ga boleh nolak pokoknya”
Aku dan tante Karina menghabiskan waktu sampai malam hanya untuk berbelanja, aku seperti ketiban uang kaget hari ini, tante Karina memaksaku untuk memilih apapun yang aku inginkan di mall tersebut. Sebenarnya tidak ada yang benar-benar aku butuhkan tapi aku ingin menghargainya dengan memilih beberapa barang yang menurutku unik.
Tepat jam 9 malam aku di antar pulang oleh tante Karina, seperti biasa aku berpamitan dan cipika cipiki terlebih dahulu kepadanya.
“Mama ga mampir dulu?” tanyaku
“Lain kali aja sayang, udah malem ga enak. Nanti mama cari waktu buat sengaja main ke rumah kamu ya”
“Iya deh, yaudah kalo gitu Airin masuk dulu ya ma, mama hati-hati dijalan.”
“Iya sayang”
Akupun masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri, aku lelah seharian ini berkeliling dengan tante Karina. Aku memutuskan untuk istirahat dan menunda untuk membuka barang belanjaan ku tadi.
Tapi setengah jam berlalu aku tidak kunjung bisa tidur, pikiranku terganggu oleh sikap tante Karina saat di caffe itu tadi.
Aku resah, entahlah apa yang mendasari keresahan dalam diriku, mungkin aku takut jika nanti Maudy akan mencari Pak Sena dan memintanya untuk kembali kepadanya. Maudy itu cantik sekali, parasnya seperti tidak masuk akal menurutku, postur tubuh yang sempurna, wajah yang cantik serta rambut hitam bergelombang turut menghiasi keindahan dirinya.
Sosok Maudy yang aku lihat sama persis seperti yang di ceritakan pak Sena tempo hari saat kami di villa puncak. Jujur saja aku agak sedikit minder di buatnya, aku hanya seorang gadis sederhana yang bahkan kalah jauh dengan dia.
Keesokan harinya aku di kejutkan dengan kedatangan pak Sena ke rumah di jam yang kurang wajar dan mungkin ayam saja belum bangun.
“Rin bangun” ucap mama membangunkanku.
“Emmm…” aku menggeliat di kasurku.
“Ehhh ayo bangun”
“Apaan deh ma masih malem gini” ucapku dengan suara serak.
“Malem apaan, ini udah subuh”
“Ya terus”
“Bangun atuh ihh, di bawah ada calon suami kamu”
“Hah? Siapa?”
“Ini anak amnesia apa gimana sih, ada Sena di bawah”
__ADS_1
“Ngapain sih ma, masih pagi buta begini udah namu aja”
“Dia mau ngajak sholat berjamaah, abis itu lari pagi”
“Ngantuk ah”
“Eh gak boleh gitu, bangun cepet. Kalo ga bangun juga nanti mama siram kamu pake air kobokan bekas semalem”
“Ihh mama jahat banget”
“Iya makanya bangun, nanti keburu abis waktu”
“Iya 5 menit lagi”
“Awas ya kalo 5 menit gak turun ke bawah, mama tendang kamu”
“Ishhh iya iya” aku buru-buru beranjak ke kamar mandi untuk mandi dan mengambil wudhu.
“Mama pagi-pagi udah mau nendang aja, rada sien euy” gumam ku dalam hati.
Tak butuh waktu lama aku turun ke bawah menemui pak Sena yang sudah menunggu di ruang tamu bersama papa. Sebenarnya papa setiap subuh memang sudah nongkrong di bawah, bahkan sebelum adzan subuh berkumandang beliau udah siap untuk sholat.
“Gud morning semua” teriakku dari arah tangga,
“Airin berisik ih, masih pagi juga” ucap mama
“Heheh maaf ma, pak ngapain kesini pagi-pagi buta begini” ucapku beralih ke pak Sena.
“Mau sholat berjamaah” jawabnya singkat.
“Emang masjid di deket rumah bapak lagi libur apa gimana?”
“Eh Airin gak boleh ngomong gitu, orang mau ibadah juga” tegur papa
“Iya om”
Pagi pagi yang masih subuh itu kami melaksanakan sholat berjamaah di rumah ku, entahlah kenapa pak Sena random sekali tiba-tiba datang dan ngajak sholat berjamaah, subuh pula.
Selesai sholat kami berbincang-bincang sebentar sambil di temani teh hangat yang aku buat tadi. Ketika matahari telah memunculkan sedikit cahayanya barulah aku dan pak Sena keluar untuk lari pagi.
“Bapak gak kerja?” Tanyaku saat kami sedang berjalan santai.
“Bapak? Bapak siapa yang kamu maksud” tanya pak Sena.
“Ohiya maaf lupa hehehe” jawabku cengengesan.
“Maksudnya mas gak kerja?” Aku meralat kata-kataku.
“Ini hari minggu sayang” ucap pak Sena lembut.
Seketika aku merinding mendengarnya, angin pagi yang masih sejuk di tambah kata-kata keramat yang di sebutkan pak Sena barusan membuat bulu kudukku meremang.
“Hehehe lupa” jawabku dengan senyum garing.
“Kamu kenapa?”
“Apanya?”
“Belum terbiasa ya?”
“Emm sedikit”
“Biasakan, nanti lama-lama terbiasa”
__ADS_1
Jujur aku belum tebiasa memanggil pak Sena dengan sebutan mas apalagi sayang, karena aku sudah biasa menyebutnya dengan sebutan Pak.
Kami berlari mengelilingi kompleks rumahku, dan berakhir di sebuah taman yang cukup besar di sekitaran sana.
“Duduk dulu mas capek” ucapku sambil ngos ngosan.
“Lemah banget, ayo satu putaran lagi”
“Kaga deh mas, nanti saya pingsan” ucapku yang memang sudah tidak sanggup lagi untuk berlari.
“Setengah putaran deh” tawar pak Sena.
“Bersihkan sel kulit mati dan kotoran, tar putar di wajah, bilas. Multivitamin” sambungku dengan nafas yang masih memburu.
“Ngomong apa sih kamu” tanya pak Sena bingung.
“Enggak-enggak, kirain tadi mas lagi iklan sabun”
“Yaudah kamu duduk di kursi sana, saya beli minum dulu” ucap pak Sena seraya berlalu meninggalkanku.
“Lembek amat badan gue kaya nutrigel, baru juga lari dikit udah kaya mau mati gini” gumamku.
“Nih minum” ucap pak Sena seraya menyodorkan minuman botol kepadaku.
“Maksih mas”
“Kamu harus sering-sering olahraga biar ga lembek gitu”
“Males mas, harus lari keliling kompleks.”
“Yaudah nanti kalau udah nikah kita buat satu ruangan khusus untuk kamu gym ya, pokoknya harus gerak biar gak sakit pinggang”
“Iya iya bawel banget deh”
“Kemarin kamu jalan sama mama ya?”
“Iya, kemarin saya sa…” ucapanku terhenti ketika pak Sena memotong kata-kataku.
“Aku bukan saya” pak Sena meralat ucapanku.
“Iya maksudnya, kemarin aku sama mama pergi ke acara arisan abis itu belanja”
“Asik banget, sampe lupa ngabarin” sindir pak Sena.
“Hehee lupa mas, eh mas…” ucapanku kini kembali terhenti namun bukan pak Sena yang menghentikan tapi aku sendiri.
“Kenapa?” Tanyanya sembari menunggu kelanjutan perkataanku.
Aku berpikir sejenak, apakah harus ku katakan bahwa kemarin aku dan tante Karina bertemu dengan Maudy. Tapi jika nanti ku katakan, reaksi seperti apa yang akan aku terima dari pak Sena.
“Enggak deh gak jadi”
“Kenapa? Jangan buat penasaran”
“Emm… aku laper, makan yuk” ajak ku untuk mengalihkan pembicaraan.
“Yaudah deh yuk.” ucap pak Sena pasrah.
Aku memutuskan untuk tidak memberitahunya, biarlah tidak usah di bahas jika mengenai masa lalu, apalagi masa lalu itu sudah membuat pak Sena terpuruk, aku takut nanti luka lama yang sudah kering di hati pak Sena kembali robek jika aku beritahu bahwa Maudy sudah kembali.
***
Jangan lupa like, komen dan vote ya teman-teman.
__ADS_1
Gimana kalian suka gak? Sepi banget kayaknya. Berasa pengen resign aja nulis🥺😂