
Setelah menghadiri grand opening store baru di mall, aku dan pak Sena melipir ke sebuah restoran yang berada di mall yang sama karena jam sudah menunjukkan waktu makan siang.
“Silahkan” ucap seorang waiter seraya menyodorkan buku menu kepada kami berdua.
“Chicken salad dan orange juice” ucap pak Sena singkat.
“Oke mas catet ya, chicken salad satu, orange juice satu, nasi goreng satu dan air mineral satu” ucapku kepada waiter itu sekalian mengulang pesanan pak Sena tadi.
“Baik, silahkan di tunggu” ujar waiter.
“Ga pake lama ya mas” ucapku
“Baik kak, permisi” pamit waiter itu pada kami.
“Jadi gimana pak?” Tanyaku pada pak Sena.
Dia melirik heran kepadaku “apanya?” Tanyanya bingung.
“Baju saya, bagus tidak” ucapku mengatakan maksud dari pertanyaanku.
“Hmm” pak Sena hanya menjawab dengan dehaman.
“Setelah makan siang jadwal bapak bertemu klien dari perusahaan B di ruang meeting 3 dikantor” aku membacakan jadwal pak Sena selanjutnya.
“Hmm” lagi-lagi perkataanku hanya di jawab dengan dehaman oleh pak Sena.
“Bapak lagi sariawan ya?” Tanyaku kesal karena tak kunjung dapat jawaban yang berbobot dari pak Sena.
“Tidak” jawabnya singkat.
“Terus kenapa jawabnya cuma ham hem ham hem doang dari tadi” ujarku.
“Terserah saya mau jawab apa, lagian kamu ini cerewet sekali” pak Sena sepertinya benar-benar sedang banyak pikiran, tidak seperti biasanya dia sering melamun seperti ini.
“Pak buruan deh cerita bapak lagi ada masalah apa, saya ngerinya bapak bunuh diri gara-gara ga ada temen curhat” ucapku ngawur yang langsung mendapat delikan tajam dari pak Sena.
“Sembarangan kamu, saya cuma lagi bingung” ujar pak Sena mulai membuka pembicaraan.
“Bingung kenapa?” Tanyaku lagi namun tak langsung di jawab.
“Pak”
“Paaak”
“Atulaaah ih bapak, jangan melamun nanti kesurupan saya yang repot” ucapku heboh.
Pak Sena diam tak menjawab perkataanku, namun sedetik kemudian dia yang tadinya duduk bersandar tiba-tiba menegakkan badannya dan menatap serius ke arahku, aku di buat ngeri melihat tatapan matanya.
“Eeee… maaf pak, maaf saya udah kepo hehehe” ucapku sambil meringis.
“Airin, kamu mau jadi pacar pura-pura saya?” Tanya pak Sena tiba-tiba.
“HAH!?” aku tercengang dengan pertanyaan pak Sena, apa maksudnya jadi pacar pura-pura.
“Pokoknya kamu tidak boleh menolak” ujar pak Sena lagi.
“Bentar deh pak, maksudnya apaan dah saya ga ngerti” ucapku yang masih bingung.
Pak Sena berdecak “kenapa kamu ini bodoh sekali, pacar pura-pura saja tidak mengerti” jawab pak Sena ketus.
__ADS_1
“Saya tau apa itu pacar pura-pura, tapi untuk apa? dan Saya tidak di bayar untuk itu.” Ucapku yang tidak terima di sebut bodoh.
Aku paham maksudnya, aku harus berpura-pura menjadi kekasih pak Sena kan? Tapi kenapa? Kenapa dia harus pura-pura pacaran denganku? Bukankah dia selama ini di kelilingi gadis-gadis cantik seperti berita yang beredar di media sosial.
Atau jangan-jangan?
OMG
“Jangan bilang bapak gay” tuduhku pada pak Sena, jika bukan gay mengapa harus pura-pura pacaran denganku, dia kan bisa memacari gadis-gadisnya itu.
“Jangan sembarangan kamu, kalau orang lain mendengar nanti bisa berimbas ke perusahaan” jawab pak Sena kesal dengan tuduhanku.
“Ya terus kenapa bapak harus berpura-pura pacaran, bukannya bapak selama ini kencan dengan banyak perempuan, saya sering liat muka bapak beredar di media sosial bersama gadis yang berbeda di setiap postingan lambe lambean” ucapku penasaran.
“Lambe lambean?” Tanya pak Sena tak paham.
“Itu nama akun gosip pak” jawabku memberitahu dan pak Sena hanya beroh ria.
“Saya tidak pernah serius dengan gadis-gadis itu” ucap pak Sena.
“Wah ternyata bapak brengsek juga ya” ucapku yang langsung mendapat plototan tajam dari pak Sena, “hehehehe” cengirku seraya mengangkat tanganku membentuk huruf V menggunakan jari tengah dan jari telunjuk.
“Saya tidak serius karena saya tidak menyukai mereka” jawab pak Sena ketus.
“Kalo gak serius kenapa di ajak kencan, itu namanya bapak mempermainkan perasaan perempuan” ucapku tidak setuju dengan cara pak Sena.
“Saya juga tidak mempermainkan perasaan mereka, papa saya yang menyuruh saya berkencan dengan wanita-wanita pilihannya, tujuannya untuk mencarikan saya calon istri yang sesuai dengan selera saya” jelas pak Sena, aku tidak menyangka bahwa gosip yang beredar selama ini adalah salah, tapi apakah pak Sena harus di bantu oleh papanya untuk mencari calon istri?
Pasti yang ada di pikiran netizen pak Sena adalah seorang playboy dan sering bermain gila dengan wanita. Tapi ternyata semua itu salah, mereka hanyalah wanita suruhan yang di pilih oleh orang tua pak Sena.
Namun, Kejadian seperti apa yang telah di alami pak Sena sehingga dia tidak pernah melirik perempuan, apa dia sudah kehilangan selera dengan mahluk yang bernama perempuan, sehingga untuk mencari istri saja harus di pilihkan oleh orang tuanya.
“Hmm tidak apa-apa, jadi kamu mau tidak berpura-pura pacaran dengan saya?” Tanya pak Sena lagi.
“Duuuh, buat apaan si pak?” Tanyaku yang masih tidak mengerti.
“Untuk menghentikan usaha papa saya, supaya dia tidak lagi menyodorkan perempuan setiap harinya. Saya sudah sangat bosan setiap hari harus melakukan kencan buta dengan banyak wanita, mereka juga tidak ada yang berbobot, saya takut lama kelamaan nama baik saya akan semakin tercoreng, sehingga nanti akan berimbas ke perusahaan” sepertinya pak Sena sudah muak dengan usaha orang tuanya mencarikan istri untuknya.
“Kalau saya tidak membawa pacar saya malam ini kehadapan beliau, otomatis saya langsung di nikahkan dengan wanita pilihannya. Jadi kamu harus mau bekerjasama dengan saya” paksa pak Sena.
“Waduh… kenapa bapak jadi bawa-bawa saya.” Ucapku tidak mengerti dengan jalan pikiran bosku itu.
“Karena kamu karyawan saya” ucap pak Sena.
“Tapi, perasaan saya melamar pekerjaan sebagai sekertaris bapak bukan sebagai pacar gadungan” ucapku frustasi.
“Kamu tenang saja, nanti gaji kamu saya naikkan 30%” ucap pak Sena yang sontak membuat mataku berbinar.
“Beneran pakkk?!!” Tanyaku antusias.
“Hmm”
“Bapak ga bohong kan?” Tanyaku memastikan.
“Saya tidak pernah mengingkari perkataanku” ucapnya.
“Yaudah deh kalo gitu saya mau, tapi bener ya gaji saya di naikin” ucapku menyanggupi permintaan gila pak Sena.
“Iya, kalo soal duit aja cepet” ucap Pak Sena seraya memutar bola matanya.
__ADS_1
“Hehehehhee” aku hanya cengengesan mendengar perkataan pak Sena.
“Nanti malam saya jemput ke rumah, dandan yang rapi dan ingat tidak perlu berlebihan” ucap pak Sena mengingatkan.
Aku mengangguk dengan pasti, bodo amat deh yang penting gaji gue naik. Terserah pak Sena mau anggep gue cewek matre atau apalah itu, gue ga peduli.
Ya bodoh sekali aku menyanggupi permintaan gila pak Sena tanpa tau akibatnya kelak.
*
Tepat pukul 7 malam pak Sena sampai di rumahku, awalnya aku bingung darimana dia tau alamat rumah ku, sedangkan aku tidak pernah memberi tahunya, tapi ya dari mana lagi kalau bukan dari CV ku yang dia pegang, bodoh sekali.
“Rin ada tamu tuh” ucap Mama kepadaku.
“Siapa mah?” Tanyaku bodoh, padahal aku sudah tau jika yang akan datang ke rumah malam ini hanya pak Sena saja.
“Tau tuh pakaiannya rapi bener kaya mau kondangan, dia lagi ngobrol sama papa di bawah” ucap mama ku yang tidak mengetahui jika yang sedang dia bicarakan itu adalah CEO ditempatku bekerja.
“Buset deh ma, itu bos Airin” ucapku pada mama.
“Masa sih, ngapain bos kamu ke rumah malam-malam gini” ucap mamaku heran.
“Ada urusan pekerjaan mah, yaudah Airin ke bawah dulu ya” pamitku pada mama sekalian menyalami beliau.
Aku turun ke lantai bawah, dari tangga terlihat 2 orang laki-laki sedang berbincang sembari tertawa kecil, “nah ini dia orangnya” tunjuk papa pada diriku yang baru saja sampai di hadapan mereka.
“Kenapa pah? Lagi ngomongin Airin ya?” Tanyaku penasaran.
“Engga kok, geer banget kamu” ucap papa.
“Yaudah om, kami pamit dulu takut kemalaman, saya pinjam Airin sebentar ya om” pamit pak Sena sopan.
“Iya hati-hati di jalan, om titip Airin ya. Dia ini agak sedikit susah di Atur dan juga cerewet” adu papaku pada pak Sena.
Apa banget deh papa, pake segala ngadu sama pak Sena, kaya lagi nitipin anaknya ke calon suami aja, jhiaaaaa….. calon suami, geli bet gua Rin.
“Ih papa apaan sii, udah ah Airin pamit ya, daahh” ucapku
“Eeeeh, Assalamualaikum” ralat papa.
“Ohiyaaa, assalamualaikum hehehe” ucapku yang sering lupa mengucap salam ketika akan keluar rumah.
“Ga pake hehehe, Waalikumsalam” jawab papa.
Kami segera pergi meninggalkan area rumah ku, “kaya nya akrab banget sama papa, lagi mendalami peran ya pak?” Godaku pada pak Sena.
“Maksudnya?” Tanya pak Sena tidak mengerti.
“Biasanya kan kalo orang pacaran suka ngakrab-ngakrab in orang tua pacarnya muehehhe” ucapku cengengesan.
“Geer sekali kamu, kami hanya mengobrol tentang pekerjaan” jawab pak Sena.
“Bercanda kali pak, serius amat. Saya juga sadar diri, gak mungkin kita pacaran beneran.” Ucapku serius kali ini.
Mobil melaju membelah jalanan dingin di malam hari ini, aku lumayan gugup mengingat sebentar lagi akan bertemu dengan orang tua pak Sena, sama seperti orang pacaran pada umumnya yang akan merasa gugup apabila akan di kenalkan kepada keluarga pacar, tapi bedanya aku cuma pura-pura.
***
Berkomentarlah dengan kata-kata positif❤️
__ADS_1