Kisah Sempurna Airin

Kisah Sempurna Airin
Bab 15


__ADS_3

Aku tertegun mendengar pernyataan pak Sena, apa maksudnya dia sungguh-sungguh ingin menikahiku. Aku tidak tau harus berkata apa, aku tidak menyangka pak Sena akan berkata begitu. Apakah dia mencintaiku? Sejak kapan?


“Saya tau di hatimu kini masih terisi sebuah nama, namun nama itu tidak lagi menginginkan kamu. Saya ingin menggantikan posisi dia Airin, izinkan saya menggantikan nama itu di hatimu” ucap pak Sena dengan begitu lembut, pandangan matanya menatap mataku dengan teduh, tak ada lagi tatapan tajam dan dingin dari pak Sena malam ini.


Apa ini? Apakah aku sedang bermimpi? jika iya, ayo bangun Airin !


“Airin” pak Sena menyentuh tanganku dan aku terkejut saat tangan hangatnya menggenggam tangan ku.


“Eh” aku menarik tanganku dari gengamannya, air mataku turun tanpa permisi.


Apakah ini yang di katakan Yuri, orang yang sebelumnya tidak pernah ku prediksi kedatangannya? apakah ini yang disebut fase ketiga dari kisah cinta ku ? Tapi aku tidak mencintainya, bagaimana bisa dia menjadi true love seperti yang di katakan Yuri.


Aku beranjak dari tempat duduk ku. “maaf pak saya mau pulang”


“Airin tunggu”


“Ada apa lagi pak?”


“Kamu belum menjawab saya”


“Apa yang harus saya katakan pak? Bapak berharap apa dari perempun yang sedang terpuruk karena di tinggalkan oleh pacarnya. Hati manusia tidak bisa dengan mudahnya sembuh dari luka patah hati pak. Tidak semudah itu saya membuka hati untuk orang lain sedangkan saya masih mencintai orang yang sudah 8 tahun mengisi hati saya” ucapku sambil menutup wajahku karena menangis.


Pak Sena menuntunku agar kembali duduk di kursi tempat kami duduk sebelumnya.


“Saya mengerti perasaan kamu, memang tidak mudah melupakan seseorang yang namanya sudah tersusun rapi di dalam hati. Tapi apakah kamu akan terus-terusan mengharapkan dia kembali padamu, sedangkan dia sudah bahagia dengan kekasih barunya” pak Sena masih terus meyakinkan ku bahwa Reno tidak akan pernah lagi kembali padaku.


“Saya juga pernah berada di posisi kamu Airin, bertahun-tahun saya menutup diri dari dunia luar, saya benci dengan semua perempuan saat itu, namun saya sadar, saya tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan” pak Sena tetap meyakinkanku.


“Aku tidak tau harus menjawab apa atas pernyataan bapak, saya butuh waktu untuk mimikirkan ini semua, terlebih lagi untuk rencana pernikahan yang bapak katakan tadi”


“Baik, kamu tenangkan saja dulu pikiranmu. Ayo saya antar kamu pulang”


Aku ingin segera sampai di rumahku, aku sungguh tidak mengerti dengan semua ini, apa yang harus aku lakukan, yang pasti aku ingin menangis. Manangis karena keterkejutanku atas kejutan duniawi.


Setelah sampai di rumah aku mengucapkan terima kasih kepada pak Sena, lalu aku berlalu masuk kedalam rumah tanpa menungu mobil pak sena keluar dari pekarangan rumahku.

__ADS_1


Aku langsung masuk menuju kamar ku dan menenggelamkan kepalaku di bantal, aku menangis.


Apa sebenarnya yang membuat aku menangis? Keterkejutan atas pernyataan pak Sena tadi, atau ini masih tentang perasaan ku terhadap Reno yang belum hilang? Entahlah, akupun tidak tau, hatiku rasanya tidak karuan, pikiranku kusut, aku hanya butuh seseorang yang dapat memelukku saat ini.


Tok tok tok


Pintu kamarku di ketuk “masuk” ucapku parau.


“Airin, kamu kenapa? Pulang-pulang kok nangis, kamu di apain sama bos kamu? Jangan bilang kamu di perkosa?” Tanya mamaku secara beruntun.


“Ma plis deh, enggak, Airin ga di perkosa” jawabku.


“Terus kenapa? Cerita sama mama” ucap mamaku seraya mengelus rambut panjangku.


Selama ini aku tidak pernah bercerita soal apapun kepada mama, selagi aku bisa menyelesaikannya maka aku akan menyelesaikannya sendiri. Tapi tidak untuk malam ini, semua kejutan dari Tuhan membuatku hampir gila, aku butuh pelukan hangat dari mama.


Aku menceritakan semua masalahku dari awal sampai akhir, mulai dari masalah putusnya aku dengan Reno, masalah rencana ku dan pak Sena untuk menghentikan perjodohan pak Sena dan yang terakhir masalah pak Sena tiba-tiba menyatakan perasaannya kepadaku.


Mama mendengarkan semua keluh kesahku malam ini, aku menjelaskan sambil menangis dengan tersedu-sedu. Mama tersenyum seraya mengelus pundakku.


“Kalo Reno sudah benar-benar menginginkan untuk kalian berpisah jalan, itu artinya tugas kamu sudah selesai dan jangan pernah disesali, biarlah semua kenangan yang telah kalian rajut bersama itu disimpan dalam ingatan saja.”


“Dan ingat jangan habiskan cintamu untuk orang lama, karena kamu akan terus-terusan terpuruk karena dia, cobalah terlebih dahulu berdamai pada diri kamu sendiri.”


“Kamu juga harus paham dan percaya bahwa suatu saat semua akan berbalik, yang menyakiti akan disakiti, yang mengkhianati akan di khianati, yang melukai akan dilukai, dan yang meninggalkan akan di tinggalkan. Hukum tanam tuai itu nyata Rin.”


“Dan untuk Sena mama yakin tidak ada yang namanya kebetulan, akan selalu ada alasan mengapa kamu bertemu seseorang, entah hadirnya untuk mengubah hidup kamu atau kamu yang mengubah hidupnya.”


“Kamu harus menentukan arah hidup kamu sayang, pikirkan dengan matang dan selesai kan dulu masalalu kamu sebelum menerima orang baru”


Ku hapus air mata yang membasahi pipi ku, ku pikir cukup sudah aku menangis untuk Reno, entah sudah berapa banyak air mata yang aku tumpah kan hanya untuk menyesali perbuatannya pada ku.


Setelah mendengar nasehat panjang dari mama, aku semakin yakin untuk tidak lagi menangisinya


Dulu setiap pertemuanku dengan sang pencipta aku selalu menyelipkan namanya dalam doaku, namun kini aamiin paling serius ku telah usai, maka ku tutup doaku untuknya dengan ikhlas yang paling dalam.

__ADS_1


“Ma makasih ya udah bikin hati Airin tenang, jujur Airin hampir gila karena masalah-masalah ini” ucapku pada mama.


“Iya sayang, mulai sekarang apapun masalah yang lagi kamu hadapi, kamu harus cerita sama mama, jangan di pendam sendiri.”


“Iya mah, Airin janji”


“Mama takut nanti kamu bunuh diri lagi”


“Ihhhh mama jahat banget ngomongnya”


“Ya makanya, eh Rin ngomong-ngomong soal Bos kamu itu, emang beneran ya dia suka sama kamu?” Tanya mama ku memastikan apa yang aku katakan tadi.


“Gatau, pokoknya dia tadi bilang mau gantiin nama Reno di hati Airin, dan dia juga gamau batalin rencana pura-pura pacaran di depan orang tua nya karena dia emang maunya nikah sama Airin.” Jelasku.


“Wahh, beruntung banget kamu bisa di lirik sama bos ganteng begitu”


“Yaelah maa, modal ganteng doang buat apaan, orang galak begitu”


“Galak dari mana, waktu dia kesini ketemu sama papa kamu orang nya seru kok, mereka bahas soal kamu dia juga semangat banget kayaknya.”


“Hah? Bahas soal Airin? Bukan nya papa sama pak Sena bahas soal kerjaan.”


“Kerjaan apaan, orang papa menyeritain soal kamu yang pecicilan, usil, males, suka ngupil, ga bisa masak dan..”


“Eet ett stop stop” aku menghentikan perkataan mama.


“Papa ngapain ngomongin aib anak sendiri ke pak Sena, papa jahat banget siiii” aku merengek kesal.


“Sama calon mantu sendiri gapapa kali Rin hiihi” mama cekikikan dan berlalu pergi keluar kamar meninggalkanku yang sedang uring-uringan saat mendengar fakta yang memalukan itu.


“Iiiiihhh mamaaaaaa” aku menggerentak tidak jelas di atas kasurku.


***


Berkomentarlah dengan kata-kata yang Positif❤️

__ADS_1


__ADS_2