Kisah Sempurna Airin

Kisah Sempurna Airin
Bab 24


__ADS_3

“Makasih banyak ya pak, bapak selalu ada saat saya lagi merasa terpuruk” ucapku tulus.


“Sama-sama, saya hanya tidak ingin melihat kamu terus bersedih karena dia, sedangkan saya selalu berusaha memberi yang terbaik untuk mu dan selalu berusaha membuat kamu untuk tersenyum” ucap pak Sena.


“Saya yakin banget kalo bapak adalah orang baik yang di kirim Tuhan buat ngobatin hati saya” ucapku.


“Aamiin, saya berharap kamu bisa segera membuka hati kamu untuk saya Airin dan melupakan semua kejadian masa lalu yang membuat kamu bersedih” ucap pak Sena seraya memegang tanganku.


“Saya juga berharap begitu pak, saya hanya tidak menyangka bahwa kisah cinta saya begitu sangat menyedihkan, disaat saya telah memberikan cinta yang tulus tapi dia seakan tidak cukup dengan itu semua. Kesetiaan yang saya bangun di balas dengan pengkhianatan.”ucapku lemah.


“it’s not your fault, kamu itu sudah lebih dari cukup, kamu layak di cintai dan juga layak mendapatkan cinta yang lebih daripada itu. Kamu indah dan istimewa dengan apa adanya kamu.”


“Jangan pernah kamu berpikiran tentang kurangnya kamu sehingga dia tega mengkhianatimu, bukan kamu yang kurang, tapi dia yang tidak punya rasa cukup dalam dirinya. Setiap orang berhak bahagia dan berhak mendapatkan cinta yang tulus dari orang lain, termasuk kamu.”


“Kamu hebat sudah memberikan cinta yang tulus untuk orang yang tidak tau diri, kamu sudah mencintainya sebagaimana mestinya. Sekarang jika cintamu tidak disambut sengan baik, maka pergilah, kesetiaan mu tidak di harapkan oleh orang berhati batu seperti dia” perkataan panjang yang keluar dari mulut pak Sena membuat aku semakin yakin bahwa pak Sena adalah laki-laki yang baik dari Tuhan untukku.


“Terimakasih banyak pak, bapak adalah motivator yang paling handal hehehe” ucapku dengan nasa yang sudah lumayan santai.


“Saya bos kamu, bukan motivator pribadi kamu” okee sifat aslinya sudah keluar.


“Iya iya maaf deh pak” ucapku.


“Sudah sudah, kembali bekerja” ucap Pak Sena.


“Siap bos”


*


Sudah berbulan-bulan lamanya aku bekerja di Pranata’s Company karena masa uji coba ku sudah habis dan kontrak kerja ku di perpanjang. Selama itu pula aku semakin dekat dengan pak Sena, dia selalu ada di dekatku dalam keadaan apapun, jujur aku mulai meleleh dengan semua perlakuan nya padaku.


Selama ini juga aku tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Reno, aku tidak pernah bertemu dia lagi setelah pertemuan terakhirku dengan dia di mall tempo hari. Ya baguslah akan jadi lebih baik jika aku tidak pernah bertemu dia lagi untuk selamanya. Perlahan hati ku sudah mulai membaik, aku selalu menyibukkan diriku untuk mengalihkan rasa sakitku.


Hari ini aku telat datang ke kantor karena aku bangun kesiangan, semalam aku begadang sampai jam 2 pagi hanya untuk menonton drama korea terbaru yang harus nya bisa ku tonton pada hari minggu, memang dasar aku tidak sabaran jadi langsung gas saja nonton sampai tamat.


Aku berjalan tergopoh gopoh menuju ruanganku, biasanya aku menuju ke lantai atas menggunakan eskalator agar bisa melihat suasana kantor yang masih sepi dipagi hari, tapi kali ini aku lebih memilih menggunakan lift agar cepat sampai ke atas. Pintu lift terbuka dan aku segera menyempil di antara kerumuman orang yang sudah ada di dalam lift tersebut.

__ADS_1


“Loh Airin” sapa seorang pria.


Aku menoleh ke arahnya, “eh Dehan” ucapku balik menyapanya.


“Kamu apa kabar? Sudah lama gak ketemu” tanyanya.


“Gue baik kok” jawab ku sekenanya karena aku sedang resah menunggu lift ini sampai ke lantai 15.


“Lo kenapa? Buru-buru banget kaya nya” tanya Dehan lagi.


“Iya nih gue telat bangun, gue ngeri pak Sena udah duluan sampe” ucapku.


“Emang dia udah di kantor dari tadi pagi, gue liat dia naik lift khusus CEO jam 7 tadi” ucap Dehan memberi tahu.


“Yang bener lo? Aduh mampus gue” ucapku gusar.


Ting… pintu lift akhirnya terbuka di lantai 15, “Dehan gue duluan ya” ucapku pamit pada Dehan.


“Mampus gue, pasti pak Sena ngamuk ngamuk ini karna gue belum dateng” gumam ku seraya berjalan cepat menuju ruangan CEO.


Ku buka pintu besar ruang CEO dengan perlahan, di kursi kebesarannya pak Sena sedang menatapku tajam “dari mana saja kamu?” tanyanya dengan raut dingin.


“Eng.. nganu pak.. itu” aku gugup sampai-sampai pekataan ku tidak jelas.


“Anu apa? Saya sudah menunggu setengah jam untuk kopi saya” ucap pak Sena kesal.


“Iya maaf pak, saya akan segera buatkan” ucapku seraya langsung berlari menuju pantry.


“Duhhh.. bisa bisanya gue kesiangan” walaupun pak sena pernah menyatakan perasaannya padaku dan kami sudah cukup dekat tapi kalau urusan pekerjaan kami harus tetap profesional.


Aku menyodorkan kopi buatanku kepada pak Sena, “saya permisi ke ruangan saya pak” pamitku dan diangguki oleh pak Sena.


Aku mendudukan bokongku di kursi ruanganku karena lelah berlari untuk sampai kesini, “huft… masih pagi udah kena sembur aja, mana mata gue masih ngantuk lagi” aku segera meraih Ipad ku dan mulai bekerja.


Hari itu seperti biasa aku mengerjakan pekerjaan ku dan juga pekerjaan pak Sena, tidak begitu banyak hal yang harus di kerjakan sehingga kamipun bisa bekerja dengan santai.

__ADS_1


“Udah jam makan siang, bapak mau makan apa?” Tanya ku ketika melihat jam di tanganku sudah menunjukkan waktu makan siang.


Pak Sena mendongak mentap ku “jadwal saya setelah makan siang apa?” Tanya pak Sena tanpa menjawab pertanyaanku tadi.


“Jam 2 siang nanti ada meeting di ruang meeting 1 dengan divisi Humas, untuk membahas tentang pembangunan Masjid dan Gereja sebagai bentuk pelaksanaan program CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan” ucapku memberi tahu jadwal pak Sena selanjutnya.


“Majukan di jam 1, jam 2 kita pergi” ucap pak Sena seenaknya.


“Hah? Mau kemana pak?” Tanyaku yang tidak paham.


“Sudah jangan banyak tanya, segera urus ke divisi humas” perintah pak Sena.


“Baik pak” ucapku patuh dan segera berjalan ke lantai 7 untuk memberi tahu kepala divisi Humas bahwa meeting di majukan ke jam 1.


Aku menuruni lantai perlantai menggunakan eskalator karena aku sedang tidak buru-buru, “Airin” sapa Dehan yang ternyata ada di belakang ku.


Aku menoleh “eh Dehan, mau kemana?” Tanyaku.


“Mau ke divisi keuangan, lo mau kemana?” Dehan bertanya balik.


“Gue mau ke Divisi Humas” jawabku.


Dehan ber-oh ria mendengar jawabanku “eh btw pulang kantor lo ada acara gak? Hangout yuk bareng yang lain” ajak Dehan.


“Mau kemana?” Tanyaku.


“Ke caffe doang, biar ga stres-stres amat abis kerja” ucapnya.


“Gue ga janji bisa ikut, soalnya lo tau sendiri pak Sena sibuknya minta ampun, ada ada aja yang harus di kerjain dan gue harus ngikutin dia kemanapun itu” ucapku.


“Yaudah deh kalo gitu, tapi kalo lo bisa ikut kabarin gue ya” ucap Dehan.


“Oke sip” jawabku singkat lalu segera pamit untuk berbelok ke ruangan Humas.


***

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote ya teman-teman🙏🏻❤️


__ADS_2