
*Pov autor*
“Lo udah gila Sen?” Tanya Rey yang tiba-tiba menerobos masuk kedalam kamar Sena.
Rey baru mengetahui berita bahwa Sena sudah memiliki pacar dari om Arsen, dia mengatakan bahwa putranya akan segera menikah dengan gadis bernama Airin.
Airin yang Rey tau hanyalah Airin sekretarisnya Sena. “Kenapa sih?” Tanya Sena tidak mengerti.
“Lo nipu om Arsen dan tante Karina kan?” Tanya Rey tak sabaran.
“Enggak”
“Jangan bohong lu, tadi om Arsen sendiri yang bilang kalo lo mau nikah sama Airin”
Sena mendengus “gue terpaksa bohong, gue udah bosen dipaksa kencan buta sama cewek-cewek ga jelas”
“lo jangan gila Sen, otak lu dimana sih. Ini akhirnya nanti bakal jadi apaan?” Ucap Rey yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
“Sebenernya gue juga ga nyangka mereka langsung bahas pernikahan, padahal niat gue cuma mau pura-pura punya pacar doang” ucap Sena.
“Lo tau kan kalo om dan tante sudah berkehendak, lo ga bakal bisa nolak” Ucap Rey, Sena hanya diam mendengarkan.
“Dan lo tau apa artinya?” Tanya Rey misterius.
“Apa?”
“Mau ga mau lo harus nikah sama Airin, apalagi kalo nyokap lo udah suka sama tu cewek. Lo mikir kesana ga sih!” Ucap Rey frustasi.
Sena tertegun mendengar penjelasan Rey, memang banar sepertinya mamanya suka dengan Airin, terlebih lagi mamanya sudah membayangkan memiliki cucu dari Airin. Oh Tuhan, Sena sudah begitu gegabah mengambil keputusan. Hanya karena bosan kencan dengan gadis pilihan papanya dia rela memasukan dirinya ke lubang yang lebih dalam lagi.
“Kecuali” ucap Rey menggantung.
“Kecuali apaan?”
“Kecuali lo beneran cinta sama Airin” ucap Rey
“Ngaco lu” elak Sena.
“Jujur aja sama gua, lu beneran suka kan sama bocah helm” desak Rey.
“Enggak! Gue cuma spontan aja nyuruh dia jadi pacar gadungan gue”
“Ya kalo lo suka juga ga apa-apa, biar kebohongan lo ini ada jalan keluarnya”
“Serah deh” ucap Sena.
*
Siang ini aku merenung di ruanganku, melihat ke jendela yang pemandangannya mengarah ke suasana gedung-gedung tinggi pencakar langit. Aku bingung dengan diriku sendiri, mengapa sangat sulit untuk membahagiakan diriku sendiri, mengapa setiap kehadirannya membawa luka bagiku.
Dulu aku pernah berharap agar aku dicintai dengan baik, dimiliki dengan bangganya, dan dijaga dengan aman. Lalu Reno datang membawa kebahagiaan, aku pikir dialah orangnya, namun ternyata aku salah, dia menghancurkanku dengan cara yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Sayang sekali, Luka terbesarku berasal dari orang yang paling aku cintai.
__ADS_1
Aku sadar akhir-akhir ini aku sering tidak fokus saat bekerja, begitu banyak beban pikiran yang aku tampung dalam otakku, rasanya aku ingin menghilang saja dari bumi.
“Airin” pak Sena masuk ke ruanganku.
Aku terperanjat kaget “eh pak, iya pak ada apa? Maaf saya tadi sedang melamun.” Ucapku tidak enak karena selalu dipergoki sedang melamun oleh Pak Sena.
“Are you okay?” Tanya pak Sena.
“Iya pak saya gapapa kok” fisikku memang baik-baik saja tapi mentalku sedang babak belur.
“Kalau kamu sakit lebih baik pulang saja, jangan memaksakan diri” saran pak Sena.
“Engga kok pak, saya tidak sakit” ucapku menolak.
“Saya cuma mau mengatakan bahwa besok malam kamu harus datang kerumah untuk makan malam bersama, mama papa menyuhmu untuk datang” ucap Pak Sena.
“Hah? Serius pak?” Tanyaku terkejut.
Pak Sena hanya mengangguk mengiyakan. Bukannya aku tidak ingin menghadiri undangan mereka, hanya saja aku tidak ingin kebohongan ini berjalan semakin jauh, aku takut mereka tahu jika aku hanyalah pacar bohongan pak Sena.
“Kamu tidak lupakan dengan tugasmu”
“Emm.. pak kalo ga dateng boleh ngga?” Tanya ku hati-hati.
“Kenapa memangnya?” Tanya pak Sena.
“Em anu.. itu” ucapku terbata
“Anu siapa?” Tanya pak Sena ambigu.
“Takut kenapa?” Tanyanya singkat.
“Saya ga bisa lagi melanjutkan sandiwara ini pak, saya takut orang tua bapak tahu dan akhirnya mereka marah” jelasku.
“Tidak bisa, kamu tidak boleh berhenti” ucap pak Sena.
“Tapi pak, mau sampai kapan kita harus membohongi mereka? Akan berakhir menjadi seperti apa kebohongan ini?” Tanyaku dengan penuh ketakutan.
“Kamu cukup jalankan apa yang menjadi tugasmu, selebihnya saya yang akan mengatasinya” ucap pak Sena seraya pergi meninggalkan ruanganku.
Aku tertegun memikirkan masalah ini, mengapa banyak sekali yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Ini memang salahku, mengapa aku menyanggupi permintaan konyol pak Sena untuk berpura-pura menjadi pacarnya.
Siang ini pak Sena memutuskan makan siang di luar bersama pak Rey, aku di bebaskan untuk makan di mana saja yang aku mau. Jadi aku memutuskan untuk mengajak Yuri untuk makan siang bersama, kebetulan kantornya tak berjauhan dengan kantor tempatku bekerja.
Aku sudah sampai di cafe tempat kami janjian, Yuri selalu saja datang terlambat.
“Woy kenapa lo, melamun aja” Yuri menepuk bahuku.
“Setan lo, bikin kaget aja” umpatku karena kesal, aku paling benci di kagetkan, itu mengapa aku sangat benci berpisah dengannya, sebab hal itu sangat mengagetkanku.
“Lagian lo dari tadi melamun mulu, kaya lagi banyak beban pikiran aja”
__ADS_1
“Emang banyak!”
“Kenapa emang? Lo lagi ada masalah apa?” Tanya Yuri.
“Gue pusing Yur, banyak banget masalah gue” aku menunduk menahan tangis.
“Hey kenapa? it’s okay ada gue. Lo coba cerita pelan-pelan ada apa.” Yuri beranjak duduk di sofa sampingku untung memeluk dan menenangkan ku.
“Lo bisa nginep di rumah gue nanti malem?” Aku ingin menumpahkan segala keluh kesahku dengan Yuri, dadaku sesak menahan tangis.
“Bisa, nanti malem gue dateng. Tapi lo harus ceritai semuanya sama gue, jangan ada yang di tutup-tutupi, oke?” Ucap Yuri.
Aku mengangguk mengiyakan lalu melanjutkan acara makan siang bersama Yuri.
Hari itu aku hanya menghabiskan waktu di ruanganku saja sambil memainkan handphone, karena pak Sena sedang ada urusan di luar bersama pak Rey.
Sore hari ketika jam kantor telah usai, aku berjalan keluar menuju lobi untuk mencari angkutan umum, tapi sayang sekali di luar hujan cukup deras, jadi aku tidak bisa pulang sekarang. Huft.. sial sekali.
Aku hanya bisa berdiri di depan palataran kantor sambil menunggu hujan reda, lagi-lagi pikiranku melayang terbang segala penjuru arah. Entahlah akupun bingung mengapa aku sering sekali melamun, aku khawatir nantinya aku kesurupan.
Tiiiin…..
Aku terperanjat kaget mendengar suara klakson mobil yang baru saja tiba. Ishh… ngagetin aja.
itu adalah mobil pak Sena yang berhenti didepanku.
“Naik” perintah pak Sena ketika kaca jendela ia turunkan.
“Ga usah pak saya naik angkot aja” tolakku tidak enak jika di antar pulang oleh pak Sena.
“Naik” ulang pak Sena.
“Engga usah pak”
“Saya tidak suka penolakan” ucap pak Sena tajam.
“Ishh.. maksa banget sih” gerutuku seraya memasuki mobil pak Sena.
Mobil perlahan namun pasti membelah jalanan macet yang sedang di guyur hujan deras itu, aku menatap kaca jendela yang banyak di penuhi tetesan air hujan.
“Airin” panggil pak Sena.
“Iya pak?” Aku menolehkan kepalaku ke arahnya.
“Kamu bisa mengambil cuti jika diperlukan, seperti nya kamu sedang tidak fokus beberapa hari belakangan. Bukankah sebelumnya saya sudah pernah mengatakan bahwa saya tidak suka jika ada orang yang mencampurkan urusan pribadinya ke dalam urusan pekerjaan” ucap pak Sena yang sepertinya sudah tidak tahan dengan tingkah bodohku ini.
“Maafkan saya pak, saya mengakui bahwa beberapa waktu ini saya tidak bisa mengontrol diri saya. Saya terlalu fokus dengan perasaan saya dan mengenyampingkan tugas saya di kantor. Saya minta maaf pak, besok saya akan lebih memfokuskan diri saya ke pekerjaan” ucapku menyesal karena tidak bisa mengontrol perasaanku yang sedang kacau ini.
“Sebaiknya kamu besok mengambil cuti satu hari untuk menenangkan sejenak pikiranmu, dan juga untuk mempersiapkan acara makan malam di rumahku pada malam hari nya” ucap pak Sena yang bertepatan mobil berhenti karena sudah sampai di depan rumahku.
Aku segera turun dan mengucapkan terimakasih atas tumpangannya.
__ADS_1
***
Berkomentarlah dengan kata-kata positif❤️