Kisah Sempurna Airin

Kisah Sempurna Airin
Bab 31


__ADS_3

Setelah sampai di caffe tempat meeting di adakan, aku dan pak Sena segera menuju ruangan VIP yang sudah di sediakan oleh pihak Angkasa Raya untuk meeting siang ini. Disana sudah ada beberapa orang yang duduk di kursinya masing-masing, sampai mataku menangkap sosok orang yang sangat familiar.


“Reno” gumam ku. “Ngapain dia disini, perasaan akhir-akhir ini gue ketemu dia mulu” sambungku.


Aku menoleh ke arah pak Sena dan mencolek lengannya “Pak dia ngapain disini? Bukannya kita cuma meeting sama Angkasa Raya doang” ucapku setengah berbisik pada pak Sena.


Pak Sena tidak menanggapi perkataan ku, dia malah langsung duduk di kursi kosong di hadapan Reno. Aku melirik sekilas kepada Reno, dia tampak sedang memandangi ku.


“Baiklah, behubung sudah lengkap semua sebaiknya segera kita mulai meeting pada hari ini” ucap seorang pria yang sepertinya perwakilan dari Angkasa Raya.


“Mohon maaf sebelumnya saya tidak mengkonfirmasi kepada bapak Sena dan bapak Reno, jika meeting hari ini saya gabung jadi satu. Karena mengingat saya ada urusan di luar negeri dan besok saya sudah harus berangkat” ucap pimpinan dari Angkasa Raya.


Meetingpun berjalan sebagaimana mestinya, tapi aku kurang konsentrasi karena sejak tadi Reno terus memandangi ku, entah apa maksud dari pandangannya itu. Namun, ku lihat jelas dari sorot matanya seperti ada kilatan kesedihan disana. Entahlah, apapun itu aku tidak perduli.


Untuk materi meeting kali ini, aku hanya bertugas mencatat yang perlu-perlu saja, sedangkan untuk pemaparan materi itu di lakukan oleh pak Sena, karena ini adalah kesepakatan besar jadi tidak boleh gagal.


Setelah 2 jam berlalu, semua rangkaian proses meeting hari ini sudah selesai dilaksanakan kesepakatanpun telah di tentukan oleh semua pihak. Aku dan pak Sena segera beranjak dari tempat itu dan kembali menuju mobil.


“Kamu catat semuanya tadi kan?” Tanya pak Sena.


“Udah, tapi saya takut ada yang terlewat jadi selama meeting berlangsung saya merekam percakapan kalian semua” aku tidak mau melewatkan satu kalimatpun yang keluar dari mulut orang-orang itu tadi jadi saya berinisiatif untuk merekamnya.


Pak Sena mengangguk, “bagus, nanti rangkumkan hasilnya untuk saya” perintahnya.


“Baik pak” ucapku patuh.


Kami keluar dari caffe tersebut dan menuju ke parkiran mobil namun sebuah suara menghentikan langkah ku.


“Airin tunggu”


Aku menoleh ke asal suara, di belakangku sudah berdiri Reno yang sedang menatapku sendu. Ada apa dengannya?


“Iya?” Sautku sambil mengerutkan dahi.


“Aku mau bicara sama kamu Rin” ucap Reno.


“Sorry, kalo yang mau lo bahas itu ga penting gue ga mau, gue harus balik kekantor masih banyak pekerjaan” ucapku seraya membalikkan badan.

__ADS_1


Reno menggapai tanganku, aku terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu. “Lepasin!” Ucapku seraya menghempaskan tangannya.


“Rin aku minta maaf, aku tau aku salah, dan aku nyesel” ucap Reno.


“Apaan sih, lo yang selingkuh, lo juga yang nyesel. Ga jelas lo! Ucapku yang mulai terpancing emosi.


“Aku tau kamu benci dengan ku, tapi plis maafin aku Rin, semua yang aku lakuin itu ada alasannya dan itu semuanya untuk kamu” ucapnya seperti sedang memikul beban berat di pundaknya.


“I don’t care, semua bisa di maafkan kecuali perselingkuhan!” Setelah mengatakan itu aku langsung masuk ke mobil dan menguncinya.


“Rin, tunggu Rin dengerin penjelasanku dulu, aku ngelakuin itu untuk kamu dan untuk kita” teriak Reno.


“Maaf sebaiknya anda pergi dari sini” ucap Pak Sena seraya menghalangi Reno untuk mengejarku.


“Minggir, saya tidak punya urusan dengan anda!” ucap Reno tajam.


“Sudah saya katakan, Airin adalah sekretaris saya dan sekarang masih jam kantor, jadi saya berhak atas Airin” ucap pak Sena tak kalah tajam.


Bisa ku lihat dari dalam mobil mereka berdebat sengit, dan tak lama Reno mengalah dan pergi dari tempat itu. Dada ku memburu, jantungku seakan di pompa dengan cepat setelah percakapanku dengan Reno tadi.


Apa maksudnya dia melakukan semua itu untukku, jelas-jelas dia sudah menyakitiku dengan cara menduakanku. Sekarang dia tiba-tiba datang dan meminta maaf, sedangkan saat sedang bersama pacarnya itu dia malah seakan mengejek ku. Dasar manusia tidak punya hati!


Aku mengambil ponsel dari dalam tasku dan segera menelpon Yuri, “Hallo, sore ini bisa ketemu?” Tanyaku.


“Oke kayanya ini serius, kita ketemu di caffe dekat kantor lo” jawab Yuri di sebrang sana.


Setelah kembali ke kantor aku hanya berdiam diri di ruanganku, aku merenungi perkataan yang Reno ucapkan tadi padaku. Aku tidak mengerti apa maksud dari perkataannya itu.


Aku pikir aku harus menceritakan ini kepada Yuri, karena hanya dia yang mengerti dengan keadaanku saat ini. Jujur aku sama sekali tidak sedih saat bertemu dengannya, perasaanku lebih ke marah dan kecewa karena kelakuannya. Bisa-bisanya dia mengatas namakan aku untuk perbuatan menjijikkannya itu.


Tapi sejak kembali dari meeting aku tidak melihat pak Sena di ruangannya, biasanya setelah melihatku bertemu dengan Reno dia selalu menenangkanku, namun kali ini dia tidak ada di sampingku, entahlah mungkin dia ada urusan lain.


Sampai jam kantor usai pak Sena masih tidak nampak batang hidungnya, aku heran tidak biasanya dia menghilang seperti ini. Tapi aku tidak ambil pusing, aku segera menuju ke caffe tempat ku dan Yuri janjian untuk bertemu. Disana Yuri sudah duduk manis dan telah memesan berbagai macam makanan.


“Lo mesen banyak banget, ngundang siapa lo?” Tanyaku saat sampai di hadapan Yuri.


“Ya kaga ada, kita doang. Gue belum makan dari siang jadi gue pesen banyak sekalian” ucap Yuri.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk mendengar perkataan Yuri.


“Kenapa lo ngajak ketemu, kayanya serius banget” ucap Yuri.


“Tadi gue ketemu Reno”


“Lagi?”


“Iya gue ketemu Reno lagi. Bangs*t kan? Disaat gue mau bener-bener move on, kenapa dia malah sering muncul di depan gue” ucapku kesal.


“Bangs*t sih” ucap Yuri sembari mengunyah makanannya.


“Terus dia ngomong apaan?” Tahya Yuri.


Aku menceritakan semua yang dia katakan padaku tadi, semua ekspresi dan tatapannya semua ku katakan pada Yuri. Dia heran mendengarnya “masa sih Rin dia ngomong gitu?” Tanyanya sembari mengerutkan dahinya.


“Bingungkan lo? Sama gue juga. Bisa-bisanya tu orang ngomong nyesel udah ninggalin gue, padahal kemarin-kemarin dia happy banget kalo lagi sama pacarnya” ucapku.


“Aneh banget, pas kita ketemu dia di mall sama cewek nya perasaan dia kaya bucin banget, tapi kok kalo lagi ga sama ceweknya dia gitu” ucap Yuri bingung.


“Dan lo juga pernah bilang kalo sebelumnya dia juga pernah kaya gini ke lo, pas lo dan pak Sena meeting ke Azka Perkasa” sambung Yuri.


“Iya, waktu itu dia kaya mau ngejelasin sesuatu gitu ke gue, tapi di halangi oleh pak Sena” jawabku.


“Fix sih, ini ada sesuatu yang dia sembunyiin”


“Apaan?”


“Ya ga tau, mungkin tadi dia mau ngejelasin itu ke lo, tapi lo nya udah keburu pergi”


“Ya gue emosi Yur, masa dia yang ninggalin gue dia yang nyesel. Terus dia berharap gue maafin dia gitu aja setelah berbulan-bulan gue meratapi kesedihan. Sekarang saat gue udah mulai terbiasa tiba-tiba dia dateng lagi ke gue.” Ucapku dengan dada memburu.


“Yaudah, lo sabar dulu aja. Lambat laun semuanya bakal terbongkar kok, tapi inget lo harus tetap pada pendirian lo, lo harus lupain dia apapun alasannya”


“Iya Yur gue tau”


***

__ADS_1


Lanjut gak nih??


__ADS_2