
Sesuai yang di katakan pak Sena kemarin, aku hari ini mengambil cuti satu hari, aku akan menenangkan pikiranku terlebih dahulu dari segala hal mengenai Reno, dan tentu saja aku juga akan mempersiapkan diriku menemui calon mertua gadungan ku.
“Aduhhh, gimana nihh.” Aku terlihat gusar berguling-guling di atas kasur empuk ku.
“Apa gue ngaku aja ya kalo gue pacar bohongannya pak Sena”
“Tapi nanti kalo mereka marah gimana”
“Kira-kira gue bakal di apain ya kalo ketauan”
“ Duhhhh, gimana dong” aku sedari tadi hanya berbicara sendiri memikirkan apa yang harus ku lakukan saat di rumah pak Sena nanti.
Aku ingin mengakui bahwa semua ini adalah palsu namun aku juga takut jika nanti mereka akan murka kepada ku, berani sekali aku menipu keluarga Pranata. Aduh problematika sekali hidupku ini.
Aku turun ke bawah untuk melihat keadaan sekitar, aku bosan seharian berada di dalam kamar. Di ruang TV terlihat mama ku sedang menonton acara azab kesukaannya.
Sebenarnya aku bingung dengan acara itu, memangnya di dunia nyata beneran ada jenazah melayang dan masuk ke gilingan semen, atau jenazah di kejar tabung gas, aneh sekali pikirku. Terlepas ada atau tidaknya aku tidak tahu, kalaupun ada dosa seperti apa yang mereka lakukan semasa hidupnya, tapi semoga saja tidak ada yang di azab seperti itu.
“Ganti kek mah” aku menyambar remot TV yang ada di sebelah mama ku.
“Airinnn jangan di ganti, sebentar lagi dia kena azab” cegah mama ketika aku mau memencet tombol remotnya.
“Ihhh mama, bosen tau ngeliatin orang kena azab mulu”
“Awas ya kalo kamu ganti, mama ga masak buat malem ini”
“Lah, bisa-bisanya ngancem. Lagian Airin malem ini mau makan di rumahnya pak Sena kok”
“Tumben, ada acara apa?”
“Ga ada mah, cuma makan malem biasa”
“Ohhh, yaudah sini remotnya” mama langsung menggapai remot yang ada di tanganku.
Aku berdecak sebal.
“Kamu tuh harus bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah ini biar hidup kamu bener”
“Ish mama, emang nya hidup Airin kenapa” aku memberengut kesal.
“Memang nya mama ga tau kalo kamu tiap hari galau mulu di kamar, mana nangis nya kenceng banget lagi kayak bocah”
“Iiihh, mama Airin ga galau ya”
“Bohong bangett”
__ADS_1
“Udah ah, mama nyebelin” aku beranjak dari sofa ruang TV menuju ke dapur, namun langkah ku terhenti ketika mama menginterupsi.
“Eh eh tunggu dulu”
“Apaan lagi mah, Airin ga mau di ajak nobar film azab”
“Yeeee ge’er banget kamu, itu tadi ada kurir yang anterin bingkisan buat kamu”
“Hah? Bingkisan? tapi Airin ga pesen apa-apa ma”
“Ga tau, liat aja sendiri di meja depan” ucap mamaku kemudian langsung melanjutkan acara nontonnya yang sempat tertunda.
Aku berjalan ke depan “Paket apaan nih” ucapku bermonolog.
Aku membawa paket itu ke kamarku, ku buka paket itu dan ternyata isinya sebuah gaun berwarna biru gelap polos.
“Bagus banget, dari siapa nih”
Belum juga rasa penasaranku terjawab tiba-tiba handphone ku berbunyi. Tertera nama Pak Sena disana.
“Hallo, selamat siang pak”
“Emm, sudah di terima?”
“Terima apa ya pak?” Tanyaku bingung
“Oh ini dari bapak ternyata, repot-repot segala pak, saya kan punya baju sendiri”
“Sudah jangan banyak ngomong, pokoknya nanti malam pakai baju itu dan jam 7 sudah harus siap”
“Iya pak iyaaa”
“Emm”
Tut… tut… tut….
“Dihhhh main langsung mati in aja, ga sopan banget sih jadi orang” gerutuku kesal.
“Awas aja nanti malem aku bakalan ngomong sama om dan tante kalo ini cuma bohongan” ucapku menggebu-gebu.
*
“Udah lo kirim?” Tanya Sena pada sabahatnya.
“Udah, niat banget lo ngajakin Airin makan malem pake di beli in baju segala” ucap Rey.
__ADS_1
“Ya gapapa kan”
“Ya iya gapapa, tapi maksudnya apaan nih? Udah mulai tertarik lo sama dia?” Tanya Rey.
“Engga lah, ini untuk memaksimalkan rencana gue aja” ucap Sena santai.
“Jangan bohong deh Sen, kebaca dari tingkah lo.”
“Sok tau lo”
*
POV Sena
Aku tidak tau apa yang ada di pikiranku pada hari itu ketika aku mengajaknya berpura-pura menjadi pacar ku, padahal aku sangat tidak menyukai drama. Mungkin karna aku sudah terlalu lelah dengan kencan buta bersama perempuan random pilihan papa.
Aku hanya ingin menghentikan rencana papa menjodoh kan aku dengan anak-anak koleganya dengan cara memiliki pacar. Ku pikir dengan aku memiliki pacar maka papa akan berhenti membuat kepalaku pusing, tapi ternyata aku salah besar. Rencana yang aku buat ternyata menjadi boomerang untuk diriku sendiri.
Ini sangat diluar dugaanku, aku mengira mama dan papa tidak akan menyukai Airin karena tidak jelas asal usulnya, tapi ternyata aku salah dimana papa beserta mama memaksaku untuk segera menikahi pacar palsuku itu, aku harus apa? Inikan cuma berpura-pura, dan juga mereka belum tahu tentang latar belakang Airin.
Papa dan mama pernah mengatakan bahwa aku harus memiliki istri yang jelas asal usul nya dan harus dari kalangan atas juga. Tapi mengapa dengan Airin mereka seperti langsung takluk dalam pesonanya.
Airin selalu mendesakku untuk melakukan sesuatu agar rencana ini tidak perlu di lanjutkan, namun entah mengapa aku tidak memiliki upaya untuk menghentikannya. Aku terlihat enggan menghentikan kebersamaan dengan dirinya walaupun ini hanya berpura-pura.
Aku selalu suka melihat dia bergerutu kesal karena diriku, rasanya seperti lucu sekali melihat tingkahnya itu. Mataku selalu dibuat terpana melihat bibir mungilnya itu menggerutu kesal kepadaku.
Entah sejak kapan rasa nyaman ini muncul, saat dia menabrakku? Atau sejak perkara baju merah? Atau mungkin sejak dia sering bercerita tentang kesedihannya karena di selingkuhi mantan pacarnya?
Aku tidak pernah mau mendengarkan keluh kesah orang lain, dan orang lainpun seperti enggan bercerita ataupun hanya sekedar mendekat padaku, karena sifatku yang terlalu beku ini.
Namun Airin berbeda, dia dengan mudahnya mencuri perhatianku saat dia bercerita tentang kegagalan kisah cintanya itu.
Mungkin karena kami pernah merasakan hal yang sama, jadi aku seperti memiliki energi yang sama pula dengannya.
Malam ini orang tua ku mengajak Airin makan malam di rumah, dugaanku mereka akan membahas tentang pernikahan ku dengan Airin, dan ku tebak pula pasti Airin akan kembali merengek pada ku untuk menghentikan sandiwara ini.
Entahlah mengapa aku seperti tidak memiliki cara untuk menghentikan semua kepura-puraan ini, padahal aku tidak pernah gagal dalam segala hal.
Apakah aku sudah mulai mencintainya? Apakah aku takut kehilangan waktu bersama dia? Lucu sekali jika benar aku mencintainya karena dia sering curhat padaku tentang mantan nya itu.
Namun yang pasti, aku tidak akan menghentikan rencana ini, Biarlah masalah ini tetap berjalan meskipun tidak tau kemana akhirnya nanti.
Aku akan merebut hatimu dari dia yang telah membuatmu terpuruk saat ini.
***
__ADS_1
Berkomentarlah dengan kata-kata positif❤️