
Aku tertegun setelah mendengar cerita panjang pak Sena, aku tidak menyangka jika aku dan dia sama sama memiliki kisah masa lalu yang kelam. Kisah yang menggores luka begitu dalam sehingga menimbulkan rasa trauma yang berkepanjangan.
“Jadi, kita sama-sama di selingkuhi pak?” Tanyaku dan di angguki oleh pak Sena.
“Bapak mah enak udah ngelalui masa masa kelamnya, sedangkan saya masa kelamnya sedang berlangsung” aku menekuk mukaku, merasa miris dengan keadaan ku sekarang.
Pak Sena mengusap punggung tanganku, “Airin, saya akan menunggu hingga hatimu terbuka untuk ku” ucapnya dengan tulus.
“Jangan terlalu berharap pak, saya takut nanti bapak kecewa. Saya sendiri saja belum tau kapan luka ini akan mengering” ucapku lirih.
“Saya akan sabar menunggu”
Lagi - lagi aku tertegun mendengar ucapan pak Sena, sebenarnya apa yang dia harapkan dariku. Secepat itukah dia jatuh cinta padaku? Sedangkan aku saja masih sibuk menata hatiku kembali setelah Reno menghancurkannya.
“Apa yang bapak nilai menarik dari diri saya sehingga bapak begitu yakin mau menunggu sampai luka ini sembuh” tanya ku penasaran atas apa yang membuat pak Sena yakin dengan rasa cintanya itu.
“Entahlah, saya tidak pernah merasakan perasaan seperti ini dengan wanita manapun, sudah banyak sekali wanita dari kasta tinggi yang di sodorkan orang tua saya, namun tidak satupun dari mereka yang menarik perhatianku.” Apa istimewanya aku sehingga wanita dari kasta tertinggipun dapat terkalahkan oleh ku.
“Sejak kapan bapak memiliki rasa kepadaku?” Tanyaku lirik.
“Mungkin sejak saat pertama, atau sejak perkara kemeja merahmu, atau mungkin saat kamu bercerita kepada saya tentang betapa sakitnya di khianati seseorang yang kamu sayang, sehingga pada saat itu saya seperti sedang melihat diri saya sendiri pada dirimu. Saya tidak ingin melihat kamu merasakan hal yang sama denganku dulu, saya ingin berbagi kebahagiaan denganmu Airin, saya ingin merangkulmu dan saya ingin hidup bahagia denganmu tanpa ada orang lain.” Air mataku menetes mendengar pernyataan pak Sena, aku tidak menyangka jika berbagi luka juga dapat menyebabkan seseorang jatuh cinta.
Lantas aku harus bagaimana?
Rasa cintaku yang begitu besar kepada Reno seperti tidak bisa di singkirkan oleh apapun, meski Reno sudah mendekap hati yang lain tapi mengapa aku seperti enggan berpindah ke hati yang lain juga.
Bahkan pria di hadapanku ini 10x lipat jauh lebih baik daripada Reno si begundal itu, tapi kenapa hatiku stuck di dia Tuhan.
“Airin” pak Sena kembali menyentuh punggung tanganku.
“Eh iya pak, maaf pak saya bingung sekarang harus apa. Saya belum bisa menerima siapapun di hati saya saat ini, karena saya takut nantinya hanya akan menyakiti bapak” ucapku lirih.
“Tidak apa Airin, saya tau luka tidak akan sembuh secepat itu, tapi kamu harus ingat satu hal, hidup itu berjalan kedepan bukan ke belakang. Jika dia tidak menginginkanmu maka pergilah jangan habiskan waktumu untuk menunggu hal yang sia-sia” pak Sena berucap dengan sangat lembut.
Aku tersenyum mendengar perkataannya “tunggu saya ya pak, tolong bantu saya untuk sembuh” ucapku sambil meletakkan tanganku di atas tangan pak Sena.
Air muka pak Sena seketika cerah seperti baru mendapat angin segar dari surga “iya Airin, saya akan mendampingi kamu hingga hatimu terbuka lebar untuk ku”
“Terimakasih pak” ucapku tulus
*
“Rinnnn bangunnnn”
“Airinnnnnn”
“Anak ini susah banget kalo di bangunin, Rin jangan sampai mama siram ya”
Teriakan mama sejak tadi pagi sangat mengganggu pendengaranku, bahkan aku baru tidur selama 3 jam karena sibuk memikirkan kejadian kemarin.
“Aduh mah inikan hari minggu, Airin mau males-malesan dulu lah” aku menggeliat di kasurku.
__ADS_1
“Ga ada males-malesan, ayo bantu mama cabut rumput di depan, udah pada tinggi rumput nya kaya badan anak TK”
“Dih, anak TK segala di bawa-bawa. Minta bantuin sama papa aja deh ma Airin masih ngntuk ini” ucapku kembali memejamkan mataku.
“Papa lagi ada tamu, jadi ga bisa di ganggu” ucap mama sambil menarik tanganku.
“Siapa sih yang bertamu ke rumah orang pagi-pagi buta begini” ucapku sembari terpaksa duduk di pinggir kasur dalam kondisi mata terpejam.
“Calon mantu” ucap mama.
“Ohh” Jawab ku singkat.
Namun sedetik kemudian mataku langsung terbuka lebar “Hah!! Siapa ma? Maksudnya calon mantu siapa?” Tanyaku kaget mendengar kata calon mantu, karena aku yakin sekali siapa itu calon mantu yang mama maksud.
“Bos kamu itu loh yang ganteng, siapa sih namanya mama lupa” ucap mama santai.
“Pak Sena?” Jawabku memberitahu sekalian bertanya.
“Nah iya Pena”
“Sena ma”
“Iyaiya pokoknya itu, ayo ah cepet turun ke bawah” ajak mama seraya dia berjalan keluar kamar ku.
“Et ett tunggu ma, dia ngapain kesini?” Tanya ku heran karena dia tidak ada konfirmasi akan ke sini sebelumnya.
“Ga tau, katanya mau silaturahmi aja sekalian beli in sarapan buat kamu”
“Dan dia juga minta izin tadi buat ajak kamu ke rumahnya, soalnya mama nya nanyain kamu terus”
“What!!!
“Ihhhhh Airin kamu kenapa sih, ayo turun bantu mama buatin teh. Liat nih tangan mama tanah semua karna abis tanem cabe” mama memperlihatkan tangannya yang penuh dengan noda tanah bekas dia menanam di taman depan.
“Kalo kamu gak mau buat teh yaudah kamu cabut rumput aja di depan”
“Iyaiyaaa Airin turun, tapi Airin mau mandi dulu”
“Yaudah sana cepet”
Aku mandi secepat kilat dan langsung memakai baju rumah seadanya. Setelah aku turun ke bawah ternyata mama benar, sudah ada pak Sena di ruang tamu sedang duduk bedua dengan papa.
“Pak ngapain ke rumah saya pagi-pagi buta begini?” Tanya ku to the point saat sampai di hadapan mereka.
“Eh Airin ga boleh gitu, gak sopan banget sama tamu” tegur papa
“Ehehehhe maaf pa, Airin ambilin minum dulu bentar ya” ucapku seraya melenggang ke dapur untuk membuatkan teh.
Aku membawa nampan berisi 2 gelas teh dan sepiring kue buatan mama, “Silahkan di minum pak” ucapku mempersilahkan.
“Kok manggilnya bapak sih?” Tanya Papa yang bingung dengan ku.
__ADS_1
“Ya kan pak Sena bos Airin jadi manggilnya harus bapak lah, kalo manggilnya mas kan jadinya aneh” jelasku pada papa.
“Lohh kan Sena calon mantu papa, jadi sah sah aja dong kalo mau manggil mas, Ya gak Sena” ledek papa seraya menaik turunkan alisnya ke arah pak Sena.
“Hehehe om bisa aja” jawab pak Sena cengengean.
“Dihh, bisa bisanya” ucapku sambil menaikkan sebelah bibiku karena aneh melihat mereka berdua.
“Airin kamu bisa sarapan dulu sebelum kita pergi, tadi saya sudah belikan kamu bubur” ucap pak Sena.
“Emang kita mau kemana sih pak? Perasaan kok saya ga ada waktu istirahatnya deh” ucapku malas karena aku tidak ada lagi waktu untuk bersantai di rumah.
“Kan kemarin saya sudah memberi tahu kalau mama memintamu untuk mengunjunginya” ucap pak Sena mengingatkan.
“Tuh Rin, udah di tungguin sama calon mama mertua hahaha. Sena om ke dalem dulu ya, kamu suruh dia makan dulu sebelum berangkat ” papa meledekku sembari melenggang pergi ke ruang kerjanya.
“Iya baik om” jawab pak Sena.
Aku menuju ke dapur untuk menata buburku ke dalam mangkok dan membawanya ke ruang tamu.
“Makannya jangan sambil cemberut begitu” tegur pak Sena karena aku makan sambil menggerutu kesal.
“Pak saya ga mau ke rumah bapak, saya takut” rengek ku.
“Kenapa harus takut, dirumah saya tidak ada setan”
‘Iya emang dirumah lo gak ada setan, karena lo setan nya’ umpatku dalam hati.
“Bukan gitu, saya takut nanti om dan tante tau kebohongan kita”
“Tenang saja, kebohongan itu sebentar lagi akan jadi sebuah kenyataan”
“Dih pede banget deh” ucapku seraya kembali menyuapkan bubur ke dalam mulutku dengan asal.
Pak Sena tersenyum melihat kelakuanku dan mengulurkan tangannya untuk mengusap ujung bibirku “laper banget ya, makannya sampe belepotan gini” ledeknya.
Aku salah tingkah karena perlakuannya ‘duh kenapa gue jadi deg degan gini sih’
Pak sena mengambil alih mangkuk berisi bubur yang tinggal setengah itu lalu menyuapkan buburnya kepadaku.
“Ee enggak usah pak, saya bisa sendiri” tolakku karena aku malu.
“Udah ayo buka mulutnya, biar cepet” perintah pak Sena, aku dengan terpaksa menerima suapan demi suapan darinya hingga bubur itu habis.
Setelah itu aku membereskan mangkok dan kawan - kawan nya lalu aku langsung naik ke atas untuk berganti pakaian.
***
Gimana guys? Sampe sini kira2 kalian pengen lanjut atau engga?
Berkomentarlah dengan kata-kata positif❤️
__ADS_1