
Hari ini aku mengajukan cuti untuk 3 hari kedepan, aku ingin menenangkan diri sejenak dari apapun itu, dan aku juga belum siap bertemu dengan pak Sena setelah kejadian tadi malam.
Seharian aku hanya me rewatch film-film korea kesukaanku, tak ada yang bisa ku lakukan saat ini selain nonton dan berguling guling di kasur. Memang benar jika suasana hati sedang tidak baik maka apapun itu akan terasa hambar rasanya.
Mama berulang kali ke kamar untuk mengajak ku makan siang, tapi lagi lagi aku tidak mau.
“Eh mau jadi apa sih kamu ga makan seharian, mana belom mandi lagi” omelan mama kembali terdengar sejak tadi pagi.
“Ish mama berisik deh” aku menutup telingaku.
“dari pada nonton mulu di kamar mending ke bawah tolongin mama bikin kue” ajak mama karena dia risih melihatku yang hanya bergulingan tidak jelas dan menonton film yang itu itu saja.
“Kue apaan?” Tanya ku malas.
“Pokoknya kue lah, ayo ah mama capek kerja sendirian. Jangan sampe mama adopsi anak buat nolongin mama masak kue ya” ucap mama tidak jelas.
”lahh, ngapain harus repot - repot adopsi anak cuma buat nolongin buat kue, mending cari karyawan mah” ucapku.
“Udah deh jangan bawel, ayo turun” ajak mama.
“Yaudah bentar Airin mandi dulu” memang sedari pagi aku belum tersentuh air sedikitpun.
“Iyaaa, awas ya kalo ga turun, mama siram kamu nanti!” ancam mama.
“Iyaiya mamaaa” aku beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.
*
Pov Sena
Malam ini mama dan papa mengundang Airin untuk makan malam bersama di rumah, dan tepat jam 7 malam aku sudah sampai di rumah Airin untuk menjemputnya menuju ke rumah ku.
Harus ku akui dia begitu cantik saat mengenakan dress yang aku kirimkan tadi siang, aku sengaja menyamakan warna tuxedo ku dengan baju Airin.
Ketika sampai di rumah kami langsung melaksanakan inti dari undangan malam ini yaitu makan malam. Namun, seperti yang telah ku duga sebelumnya papa pasti menanyakan soal pernikahan ku dengan Airin.
Aku ingin sekali pembahasan ini adalah pembahasan tentang pernikahan ku yang sesunggunya dengan Airin, bukan pembahasan pernikahan atas dasar kebohongan.
Menurut ku 3 bulan lagi itu terlalu lama untuk melangsungkan pernikahan, jika aku bisa aku ingin menikahi Airin malam ini juga, tapi apa boleh buat aku tidak punya kuasa untuk itu.
Aku telah menduga sebelumnya bahwa Airin akan mengatakan yang sebenarnya kepada kedua orang tua ku, namun dengan cepat ku potong perkataannya, karena aku tidak ingin semua ini terbongkar .
Malam ini juga aku akan mengatakan perasaan ku padanya, perasaan yang entah sejak kapan tumbuh di hatiku, sungguh dia adalah wanita pertama yang bisa mencairkan kutub es di hatiku.
Perempuan cerewet itu telah mengetuk pintu hatiku yang telah terkunci selama bertahun tahun. Namun, seperti yang ku duga lagi dia pastinya tidak menyukaiku, karena di hatinya masih tersemat sebuah nama, nama seseorang yang telah lancang menggoreskan luka di hatinya itu.
Aku telah menyatakan perasaanku padanya di taman itu, taman yang menjadi saksi bahwa aku telah membuka hatiku kembali untuk wanita yang seperti nya akan sulit ku dapatkan.
__ADS_1
Dia menangis setelah mendengar pernyataan cinta yang telah aku ucapkan padanya, entahlah mengapa dia menangis, apa mungkin dia sedang mengingat mantannya atau dia syok mendengar pernyataanku, apakah aku semenakutkan itu sehingga membuat dia menangis.
Airin meminta waktu untuk memikirkan semua hal yang telah terjadi. Baik aku akan menunggu dengan sabar hingga hatimu terbuka untukku Airin.
Hari ini ku dengar Airin mengajukan cuti untuk 3 hari kedepan, aku mengerti mungkin dia sedang menghindariku dan dia belum siap bertemu dengan ku setelah kejadian semalam.
Jujur aku seperti kehilangan saat dia tidak masuk kerja, yang biasanya dari pagi dia sudah melayaniku dengan baik, namun kini kosong. Bukan nya aku merasa kehilangan seorang sekretaris yang senantiasa melayani segala kebutuhan ku di kantor, tapi aku kehilangan seorang sosok wanita yang membuat nyaman hari hariku saat bekerja.
Ceklek…
“Airin mana?” Rey masuk ke ruanganku.
“Cuti” jawabku singkat.
“Cuti kenapa?”
“Mana gue tahu!”
“Buset dah jutek amat, ngapa si lo?”
“Gue gapapa”
“Cerita kali Sen kalo lagi ada masalah”
“Gak ada”
“Huft.. lo bener Rey”
“Bener apaan?”
“Gue udah jatuh cinta dengan Airin”
“NAAAAAH KANNNN!!! gue bilang juga apa, kebaca banget dari muka lo”
“Tapi dia ngga mau sama gue”
“Buset ada gitu cewek yang bisa nolak CEO Pranata’s company, Emang kenapa dia nolak lo?”
“Dia belum bisa ngelupain mantannya”
“JHIAAAAAA, bocah helm gamon?”
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
“Susah urusanya kalo gamon mah”
“Terus lo udah bilang soal perasan lo ke dia?”
__ADS_1
“Udah”
“Terus?”
“Ya dia kagetlah, dia nangis terus minta pulang”
“Ohhh jadi gara-gara ini dia ambil cuti?” Lagi-lagi aku hanya mengangguk mengiyakan.
“Lo sabar deh Sen, lo ga bisa maen langsung paksa dia buat nerima lo sedangkan masa lalu dia belum selesai”
“Iya gue tau, dan gue bakal nunggu sampai dia udah bener-bener lupa sama mantan nya”
“Iya pokoknya lo usaha aja buat bisa masuk ke hatinya tanpa memaksa, buat dia luluh dan buat dia yakin bahwa lo adalah orang yang tepat untuk dia”
Aku mengangguk mengiyakan perkataan Rey, aku harus meluluhkan hati Airin dengan cara ku sendiri, walaupun aku tidak tau seberapa lama hati dia akan terbuka.
“Tapi sebelum itu, lo harus bener-bener yakinin diri lo dulu, apakah Airin adalah cewek yang baik buat lo, apakah dia mau nerima apapun kekurangan lo, yes i mean sifat dingin dan ketus lo itu”
“Karena menikah itu bukan tentang seberapa deket lo sama dia, bukan seberapa lama lo ngejalin hubungan sama dia, dan seberapa jauh lo tau tentang dia. Tapi, ini tentang seberapa lo yakin mau memulai hidup sama dia, seberapa siap kalian saling menerima kekurangan kalian masing-masing.”
“Soalnya kalo nanti suatu saat rasa cinta kalian memudar, kalian setidaknya masih memiliki keyakinan bahwa surga adalah tujuan akhir dari perjalanan kisah cinta kalian”
“Gue sebagai sahabat cuma bisa ngasih masukan Sen, selebihnya itu lo yang menjalani.” Rey menepuk pundakku meyakinkanku bahwa aku bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk untuk diriku sendiri.
Aku tersenyum mendengar nasihat panjang yang jarang sekali keluar dari mulut seorang Rey yang sangat menyebalkan itu.
Aku sudah berpikir ribuan kali menganai masalah ini, aku yakin aku telah mengambil langkah yang tepat, yaitu mencintai Airin. Perihal nanti dia mau atau tidak dengan ku itu akan menjadi urusanku, biarkan aku merebut posisi mantannya di hati Airin dengan caraku sendiri.
“Thanks bro! Gue emang ga pernah salah milih teman”
“Iyalah, guee yang udah nemenin lo dari dulu, jadi gue udah hapall semuanya”
“Yaa yaa yaa”
“Eh btw kalo Airin resign gimana?”
“Ga mungkinlah”
“Lah mungkin aja, dia ga mau ngeliat muka lo lagi dan mau berenti dari sini, ini buktinya dia rela cuti demi menghindar dari lo”
“Kambing lo ye, sini lo!”
Rey berlari keluar dari pintu ruanganku, dan aku mulai termakan dengan perkataannya tadi, Brengs*k!
***
Berkomentarlah dengan kata-kata positif❤️
__ADS_1