Kisah Sempurna Airin

Kisah Sempurna Airin
Bab 32


__ADS_3

*POV Sena*


Setelah memastikan Airin ke kembali ke kantor aku segera berbalik menuju caffe dimana tempat kami meeting tadi. Aku mau menemui Reno untuk memberitahunya agar berhenti mengganggu kehidupan Airin. Disana terlihat Reno masih duduk di pelataran caffe sembari menunduk seperti meratapi nasib malang nya.


“Reno” kupanggil dia setelah sampai di hadapannya.


Diapun mendongak menatapku dan segera berdiri, “mau apa kamu?” Ucapnya seperti menantangku.


“Saya hanya ingin mengatakan bahwa anda harus berhenti menganggu Airin” ucapku datar.


“Kenapa memangnya, anda jangan ikut campur masalah kami” ucapnya semakin menantang.


“Jelas ini menjadi urusan saya” ucapku tak kalah menantang


“Karna anda bosnya? Haha Basi!” Reno meludah kesamping seperti menyepelekanku.


Aku geram melihat kelakuan kampungannya itu “Karena saya mencintai Airin!” ucapku dengan menekankan kata cinta disana.


Reno terdiam menatap datar ke arahku, “apa lo bilang?” Tanya Reno “APA LO BILANG !!!” Reno kembali mengulangi perkataannya dengan nada tinggi.


Aku sama sekali tidak gentar mendengar bentakannya “Jangan berteriak di hadapanku, pelankan suaramu saya tidak tuli!” Ucapku dengan santai.


“Airin punya gue, lo ga boleh cinta sama dia, dia cuma punya gue!” Ucapnya emosi.


“Milik anda? Bukankah anda telah mencampakkannya dan lebih memilih perempuan lain?” Tanyaku seperti mengejek.


“Lo ga tau apa-apa dan lo ga usah sok tau, jadi jangan ikut campur” ucap Reno sambil menunjuk wajahku.


“Bagaimana kabar anda setelah berbulan-bulan lamanya meninggalkan Airin begitu saja? meninggalkan gadis yang setia, tulus menerima segala kekurangan anda, selalu bersyukur memiliki anda dan menjadikan anda satu-satunya rumah tempat dia pulang setelah keluarganya.” Ucapku yang mulai emosi.


“Tentu saja kabar anda baikkan karena anda telah menemukan penggantinya. Lalu apakah anda tau bagaimana dia melewati hari-harinya dengan sangat berat? Apa anda perduli sebanyak apa air mata yang telah membasahi pipinya? Apa anda perduli dengan sesak yang dia rasakan setiap kali menahan isak tangisnya? Dia memang patah, tapi dia selalu berusaha untuk sembuh, bahkan dia rela pergi jauh agar anda tidak terganggu akan kehadirannya.” Reno terdiam menatap ke arahku, dia perlahan mendudukkan badannya.

__ADS_1


“Apakah anda ingat dengan perempuan yang sudah anda patahkan hatinya? Perempuan yang sudah anda tinggalkan ketika dia terlanjur memberikan segenap perasaannya, perempuan yang anda kecewakan padahal dia mengira bahwa anda adalah harapan terbesarnya.” Reno hanya tertegun mendengar perkataanku.


“Anda tau? Kini dia telah berubah menjadi perempuan tangguh yang tidak mudah di runtuhkan, perempuan yang tidak lagi menaruh harapannya pada siapapun kecuali pada dirinya sendiri, perempuan kuat dan tidak mudah di jatuhkan karena pendirian yang begitu teguh.”


“Anda, seseorang yang tadinya dia kira akan menemaninya sampai puncak, namun ternyata gugur sebelum memulai perjalanan. Sekarang anda tiba-tiba datang menemuinya dan ingin mengajaknya mendaki bersama lagi dari bawah, seakan tidak perduli dengan luka di hatinya yang sudah mulai mengering.”


“Anda tenang saja, dia sudah memaafkanmu sejak lama. Tapi percayalah anda telah kehilangan bulan disaat anda sibuk menghitung bintang-bintang.” Aku mengakhiri perkataan panjangku.


Aku mengatakan hal tersebut agar Reno sadar akan perbuatannya di masa lalu, perbuatan yang susah untuk di terima oleh perempuan manapun. Hubungan yang telah terjalin begitu lamanya tiba-tiba harus kandas karena dia telah menghadirkan orang lain di tengah-tengah hubungan mereka.


Dan sekarang dia ingin memohon maaf dan meminta untuk kembali bersama, aku tau jika Airin di biarkan berlama-lama bersama Reno maka hatinya lambat laun akan mulai goyah dan berujung menerimanya kembali, seakan-akan dia melupakan perjuangannya selama ini untuk mengobati luka di hatinya.


“Gue memang salah, gue udah ninggalin dia demi Revina. Tapi ada alasan lain kenapa gue ngelakuin itu semua” ucap Reno membela diri.


“Apapun itu alasannya, perbuatan anda sudah menyakiti hatinya” ucapku.


“Gue tau, dan gue nyesel. Gue udah di butakan oleh obsesi gue sendiri dan mengabaikan perasaan orang yang gue cintai”


Setelah menemui Reno aku tidak pulang menuju kantor melainkan aku langsung pulang ke apartemen, aku ingin menenangkan hati ku sendiri yang telah kalut melihat orang yang telah menyakiti Airin kini kembali dan memintanya untuk bersama lagi.


Aku tidak mau itu terjadi, aku sudah terlanjur mencintai Airin, aku tidak mau jika Airin kembali dengan mantannya itu.


Sampai di Apartemen ku lihat disana sudah ada Rey yang menungguku, aku memang sengaja menyuruhnya ke Apartemen untuk mendengarkan keluh kesahku.


“Kenapa lo?” Tanya Rey meilhat wajahku.


“Airin mana?” Tanyaku.


“Lah kan dia sekretaris lo, ngapain nanya ke gue” ucap Rey heran.


“Iya tadi gue ninggalin dia di kantor, terus cabut nemui Reno” ucapku.

__ADS_1


“Reno siapa?” Tanya Rey yang belum mengetahui soal Reno.


“Mantan Airin”


“Ngapain lo nemuin dia, mau berantem lo?”


“Tadi mereka ketemu, terus Reno minta Airin buat maafin kesalahan dia, tapi Airin ga mau, tapi dia tetap maksa. Jadi gue berinisiatif nemui dia setelah gue drop Airin ke kantor”


Aku menceritakan semuanya pada Rey, aku bingung harus berbuat apa. Aku takut jika nanti Airin berubah pikiran dan kembali ke Reno, sedangkan aku telah jatuh sejatuh jatuhnya dalam pesona Airin.


Rey mengangguk mendengar ceritaku, “enggak begitu rumit sih, ada di lo nya aja sih Sen, kalo lo giat buat ngejer Airin ya pasti dia ga bakal balik ke mantannya”


“Caranya?”


“Ya kaya rencana awal aja, lo harus buat dia nyaman sama lo jangan kasih kesempatan sedikitpun untuk dia bisa ketemu sama si Reno Reno itu”


“Susah Rey, pintu Airin ketutup rapet banget, gue udah berulang kali buat buka tapi susah”


“Lo harus sabar, lo kan tau dia pacaran udah 8 tahun, jadi ya wajar aja kalo dia susah ngelupain mantannya. Lo dulu gimana coba? Jangankan buat buka hati lo, buat buka pintu kamar lo aja susah nya minta ampun” ucap Rey


Aku menggaruk kepalaku tak gatal, “yaudah nanti gue coba lagi deh” ucapku.


“Bagus tuh, udah ah gue mau nemuin pacar gue dulu” ucap Rey seraya beranjak dari tempat duduknya.


“Hah? Pacar? Sejak kapan lo punya pacar?” Tanyaku yang baru tahu jika Rey telah memiliki pacar.


“Ada dehh”


“Heh, siapa pacar lo. Sialan lo ga cerita-cerita”


“Kepo lo, dahhh” ucap Rey dan menutup pintu apartemen.

__ADS_1


***


__ADS_2