Kisah Sempurna Airin

Kisah Sempurna Airin
Bab 33


__ADS_3

Setelah aku bertemu dengan Yuri di caffe tadi sore, aku memutuskan untuk langsung pulang ke rumah karena sudah sangat lelah. Aku pulang di antar oleh Yuri menggunakan mobilnya.


“Besok kemana lo?” Tanya Yuri


“Ga kemana-mana, di rumah doang” ujarku karena memang besok hari minggu jadi aku memutuskan untuk istirahat saja di rumah.


“Iya bagus deh, mending lo tenangin dulu pikiran lo jangan sampe overthinking gara-gara kejadian tadi” ucap Yuri menasehati.


“Iya bawel, yaudah gue balik ya, mau mampir gak?” Aku menawari Yuri untuk mampir terlebih dahulu ketika sudah sampai di rumah.


“Ga deh gue langsung aja, salam sama tante Juwita” ucap Yuri.


“Sipp” ucapku seraya mengacungkan ibu jari kepadanya.


Aku berjalan masuk ke dalam rumah, tak banyak aktivitas yang ku lakukan karena memang hari sudah malam, setelah aku membersihkan seluruh tubuhku aku langsung saja bergegas untuk tidur dan melupakan kejadian yang terjadi hari ini.


*


Sinar matahari pagi masuk melalui cela-cela jendela dan mengusik mataku, alarm yang sedari tadi tak hentinya meraung membangunkanku namun tak sedikitpun ku hiraukan.


Aku berencana bangun siang hari ini namun rencana itupun harus ku urungkan karena mama sudah sejak tadi sangat bawel menyuruhku untuk bangun.


“Rin bangun ih, udah siang gini” ucap mama yang sudah mulai geram melihatku yang masih meringkuk di atas kasur kesayanganku itu.


“Atulahh mama masih jam 7 ini, lagian juga ini hari minggu Airin mau istirahat ma” ucapku seraya menggeliat di atas kasur.


“Iya tidurnya di lanjut siang nanti aja, sekarang tolongin mama masukin kue ke box, mama mau bawa ke rumah nenek” ucap mama.


”HAH? Mama kau ke rumah nenek hari ini? Kok gak ngajak Arin sih?” Aku terlonjak dan bangun dari tidur, aku sebal karena mama mau ke rumah nenek tanpa memberi tahuku sebelumnya.


“Iya mama mau nginep disana sampai besok, kalo mau ikut mah ayo ayo aja, tapi kan kamu kerja besok” ujar mama.


Bahu ku merosot lesu, aku ingin sekali ikut ke sana, sudah lama sekali aku tidak mengunjungi nenek tercinta ku itu. Dulu aku dekat sekali dengan beliau, sampai-sampai aku tidak pulang ke rumah berminggu-minggu karena betah tinggal disana.


“Yah, padahal Arin pengen banget ke rumah nenek” ucapku lemah.


“Yaudah lebaran nanti aja kamu ke sana, sekarang kamu bantu mama, ayo cepet” ucap mama memaksa.


“Iya iyaa, mama duluan aja Arin mau cuci muka sama gosok gigi dulu” ucapku.


“Tapi cepet yaa” ucap mama mengingatkan.

__ADS_1


“Iya mama”


*


Setelah menyelesaikan segala ritual bersih-bersih aku segera turun kebawah untuk melaksanakan perintah mama tadi.


“Banyak amat ma bawa kue nya, emamg mau ada acara apa disana?” Tanyaku pada mama karena kue yang akan di bawa lumayan banyak macamnya.


“Besok nenek mau ngadain syukuran katanya, jadi mama bawain kue aja buat nambahin konsumsi di acaranya” ujar mama.


Tanpa banyak protes aku langsung menyelesaikan pekerjaan ku, setelah setengah jam berjibaku dengan kue-kue itu mama dan papa pun pamit untuk pergi ke rumah nenek yang ada di Bandung.


“Kamu baik-baik dirumah, kunci pintu kalo udah malem. Jangan keluyuran malem-malem” ucap papa memperingati.


“Siap bosss, papa tenang aja. Yang penting mama sama papa hati-hati di jalan dan salam sama nenek, bilangin kalo Arin minta maaf belum bisa ikut ke rumah nenek” ucapku menyampaikan pesan untuk nenek.


“Iyaaa nanti mama sampaikan, tadi juga mama udah nelpon mantu buat minta jagain kamu”


“Lahh, mama ngapain nyuruh pak Sena jagain Arin, emangnya Arin masih bocah” ucapku sebal.


“Udah nurut aja kenapa sih, yaudah kita berangkat ya” pamit mama.


Setelah orang tua ku berangkat ke Bandung tak banyak hal yang ku lakukan di rumah, hanya menonton TV dan duduk-duduk tidak jelas di ruang TV. Sampai bel rumah berbunyi dan mengejutkan ku.


“Siapa tuh” gumam ku, aku berjalan menuju pintu depan untuk membukakan pintu.


Setelah pintu terbuka disana terpampang nyata sebuah wajah yang tidak ingin aku lihat di minggu pagiku yang cerah ini.


“Reno! Ngapain kamu ke sini?” Tanya ku sinis ketika melihat Renolah yang ada di sana.


“Airin, boleh aku masuk?” Tanyanya.


“Mau ngapain, disini aja” ucapku masih terlihat sinis.


“Ada yang pengen aku omongin sama kamu Rin”


“Kayanya udah ga ada lagi yang perlu kita bicarakan Ren, kamu ngapain sih kesini bukannya kamu udah ada cewek baru ya” ucap ku dengan bersedekap dada.


“Aku mau jelasin alasan kenapa aku mutusin kamu Rin”


“Aku udah tau alasannya, lo selingkuh udah itu aja”

__ADS_1


“Enggak Rin dengerin dulu, aku masih sayang sama kamu Rin”


Aku berjalan masuk ke rumah dan di ikuti oleh Reno, “gak Ren kamu kemana aja? Dulu, ketika kita berpisah aku dengan susah payah mencoba berdiri, tapi aku melihatmu sudah berlari dengan yang lain, sedangkan aku masih tertatih saat itu. Tapi aku sadar, bahwa sebelum hari perpisahanpun sebenarnya aku sudah kehilangan kamu Ren, tapi aku sama sekali tidak menyadarinya” air mataku mulai turun membasahi wajahku.


Aku tak kuasa menahan tangis yang selama ini ku tahan, mungkin inilah saatnya aku mengeluarkan semua keresahan yang ada di hatiku tepat di hadapannya.


“Rin, aku bisa jelasin kenapa aku melakukan itu semua”


“Saat kamu sedang bahagia-bahagianya dengan pacar kamu yang baru, disini aku hampir gila Ren. 8 tahun bukan waktu yang sedikit buat aku”


“Aku tau Rin, kita udah pacaran lama dan aku ga mau kehilangan kamu, saat itu aku kalut, aku di butakan oleh obsesi dan tuntutan, aku minta maaf dan tolong jangan benci aku Rin” Reno memohon dengan lirih.


“Setelah hubungan kita berakhir kamu langsung memutus kontak denganku seakan aku tidak di izinkan untuk bertanya perihal alasanmu memutuskanku, sampai akhirnya aku tau sendiri alasannya” Reno menunduk mendengarkan.


“Kamu terlalu cepat mempersilahkan penggantiku untuk masuk ke hatimu, seolah aku tidak membekas dan tidak ada apa-apanya bagimu, sementara aku disini mati-matian menanggung luka sendirian, aku setiap malam menangisi kisah kita yang telah hancur kamu injak-injak, sementara kamu dan cinta barumu sibuk menebar kebahagiaan, sebenarnya itu hak kamu untuk menunjukkan nya kepada semua orang, tapi tidak adakah rasa belas kasihanmu kepada orang yang kamu bilang pernah sangat kamu sayangi ini? Kenapa kamu seolah tidak perduli dengan kehancuranku?” Air mataku terus turun dengan deras seiring dengan ucapanku yang semakin lirih.


Terlihat Reno pun menangis mendengar ucapanku yang sangat menyayat hati, seolah kini rasa sakitku terbagi dengannya.


“Aku mencintaimu sejak saat pertama kau mengucap kata cinta padaku, tidak ada rasa yang berubah sedikitpun selama 8 tahun kita bersama. Setelah hari itu aku masih mencintaimu walaupun dengan tangisan yang jatuh dengan tulus setiap malamnya dan hanya tertuju padamu, aku benar-benar mencintaimu disaat sepi dimana semua orang menyuruhku melupakanmu, dan mengubur semua impian yang sudah kita bangun bersama”


“Aku mencintaimu atas semua perlakuan baikmu padaku bahkan setelah kamu meninggalkanku dengan rasa sakit yang aku tanggung sendirian, itu belum cukup untuk membuatku benci padamu. Tapi kenapa kamu dangan tega memutus hubungan tanpa persetujuanku terlebih dahulu, dengan sangat terpaksa aku pergi membawa luka di hatiku. Aku tidak pernah marah tentang bagaimana caramu meninggalkanku, aku hanya menyesal karena kamu tidak pernah memahami bagaimana cara aku mencintaimu, hikss..” aku mengangis dengan keras menumpahkan segala kesedihanku dengan orang yang sudah menggoreskan luka tepat di jantung hatiku.


“Rin aku tau tindakan ku terlalu gegabah, dan caraku juga salah, tapi aku ngelakuin itu buat hubungan kita Rin”


“Buat kita? Dimana letak menguntungkannya bagi ku Ren, dimana?! Yang ada aku hanya menangis setiap malam, meratap dan merintih tanpa tau kamu sedang apa dan dimana dengan perempuan itu”


“Aku juga menangis Rin, aku juga tidak menginginkan itu, aku juga tersiksa ketika bertemu kamu tapi tidak bisa memelukmu seperti dulu”


“Kamu tidak membutuhkan ku Ren, dan kamu tidak lagi mengenalku sejak saat itu”


“Enggak Rin, kamu tetap Arin kesayanganku. Aku mencintai kamu masih seperti yang dulu, tapi hanya keadaan yang memaksa”


Aku tersenyum getir mendengar perkataan Reno, “apalagi yang kurang dari perempuan itu sehingga kamu kembali mencariku?” Tanyaku sinis.


“Aku tidak kembali mencarimu, karena sejak awal aku memang tidak pernah melepaskanmu Rin, itu semua hanya karena tuntutan”


“Tuntutan apa?!”


***


Jangan lupa like, komen dan vote ya teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2