
Malam itu aku tidur dengan membawa keresahan di dadaku. Perasaanku saat ini sungguh tak karuan, aku resah, aku gusar dan aku juga gelisah. Berulang kali aku mendengar pernyataan cinta yang keluar dari mulut pak Sena, aku ingin sekali menjawab pernyataannya itu tapi akupun tidak tau apa yang harus aku katakan. Aku memang sudah melupakan Reno dan sudah tidak ada lagi namanya di hatiku, tapi aku juga tidak bisa secepat itu membuka hatiku untuk orang lain, aku butuh sejenak waktu untuk bernafas.
Pak Sena adalah laki-laki baik yang pernah aku temui, tidak ada cacat dalam dirinya dan seakan tidak ada cela untukku menolak cintanya, tapi entah mengapa hati ku ini seakan masih tertutup rapat untuk orang lain.
Aku berharap hatiku akan segera terbuka, sehingga aku tidak akan menyakiti hati siapapun karena berharap kepadaku, akupun tidak tau pak Sena mau atau tidak menungguku sampai bisa membuka hati lagi.
“Airin, hei kenapa melamun?” Suara pak Sena menyadarkanku dari lamunan panjangku mengenai malam dimana aku menginap di Villa mewahnya.
“Hah? Kenapa pak? Bapak butuh apa?” Tanyaku gelagapan.
“Kita ada kunjungan ke perusahaan Azka Perkasa, apa kamu lupa?” Tanya pak Sena sembari bersedekap dada.
Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, “ah iya sudah saatnya, ayo pak kita berangkat” ucapku bergegas menarik tangan pak Sena.
Siang itu setelah jam makan siang aku dan pak Sena pergi menuju kantor Azka Perkasa yang berada tak jauh dari perusahaan pak Sena. Setelah sampai kami langsung di arahkan menuju ke ruang meeting di gedung itu. Kantornya berukuran cukup besar namun jika dibandingkan dengan Pranata’s Company pastinya jauh berbeda, tapi kabarnya perusahaan ini sukses bersaing di pasaran karena memiliki Manager baru yang sangat mereka banggakan, seperti apa sebenarnya Manager yang mereka maksud itu aku jadi penasaran.
“Silahkan masuk Tuan” ucap salah satu karyawan Azka Perkasa saat kami sudah ada di depan ruang meeting.
Aku dan pak Sena masuk ke ruangan itu, disana sudah ada beberapa staff lain yang sudah menunggu kedatangan kami.
“Selamat datang tuan Arya Sena Pranata” ucap seorang pria yang menyambut kami dan aku sangat mengenali suara itu, kemudian aku mendongak melihat wajahnya.
“Reno!” Ucapku pelan.
Pak Sena sepertinya mendengar ucapanku, dia juga sepertinya terkejut melihat Manager baru perusahaan ini.
“Sena saja” ucap pak Sena beralih ke Reno dan menyambut jabatan tangannya.
“Dan ini? Airin?” Tanya Reno yang sepertinya terkejut melihatku bersama dengan pak Sena
“Dia sekretaris saya” ucap pak Sena datar.
“Oke baik, Silahkan diduduk” dia mempersilahkan kami duduk.
__ADS_1
Reno beserta staff nya mulai menjelaskan mengenai produk dari perusahaannya, bisa ku akui cara mereka menyampaikan presentasinyA diluar dari ekspektasiku, mereka mengemasnya dengan cara yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, namun yang lebih mengejutkan lagi adalah….
“Bagaimana tuan Sena, apakah anda berminat bekerjasama dengan perusahaan kami?” Tanya Reno setelah selesai mempresentasikan produknya.
“Maaf saya tidak berminat, permisi” ucap pak Sena seraya beranjak dari tempat duduknya.
Aku tercengang melihatnya, karena sungguh tidak ada cela untuk menolak promosi mereka, ini sangat menggiurkan, tapi mengapa pak Sena menolaknya begitu saja?
“Loh, tapi kenapa tuan? Apa alasannya? Apakah anda tidak tertarik dengan markeeting kami? Anda bahkan belum bertanya apapun mengenai produk kami.” Tanya Reno seraya mengejar kami yang sudah mulai beranjak dari tempat duduk kami.
“Saya berhak untuk memilih dengan siapa perusahaan saya akan kerjasama, jadi jangan memaksa” ucap pak Sena tajam.
“Tapi pak sebelumnya tidak ada yang menolak strategi kami” ucap Reno.
“Saya tidak perduli, ayo Airin” pak Sena menarik pergelangan tanganku.
“Rin tunggu, boleh aku ngomong sama kamu?” Ucap Reno menghentikan kami dan meraih tanganku.
“Tidak boleh!” Sentak pak Sena seraya menghempaskan tangan Reno dari tanganku.
“Sekarang adalah jam kantor, jadi saya berhak dengan dia sebagai karyawan saya” ucap pak Sena yang langsung membawaku keluar dari sana.
Aku hanya diam menuruti pak Sena, akupun tidak berminat untuk berbicara dengan Reno. Ku akui aku sangat terkejut saat mengetahui bahwa Reno lah yang menjadi Manager baru di perusahaan itu. Pertanyaannya sejak kapan dia bekerja disini? Bukankah beberapa bulan yang lalu sebelum kami berpisah dia bekerja di perusahaan Teknologi Internet di pinggir kota sebagai staff biasa, tapi kok bisa secepat itu dia menjadi manager di perusahaan besar seperti ini.
“Rin tunggu”
“Airiiin” Reno terlihat kesal ketika tidak bisa menghentikanku.
“Dia kenapa heboh banget manggil gue” gumamku.
“Jangan di pikirkan, ayo kita pulang” ajak Pak Sena ketika sampai di depan mobil.
Dimobil pikiranku berkecamuk, aku penasaran dengan apa yang akan dia bicarakan padaku, apakah mengenai kerjasama yang di tolak pak Sena atau mengenai hubungan kami yang telah usai.
__ADS_1
“Airin” panggil pak Sena.
“Iya pak?”
“Are you oke?”
“Sure” aku tersenyum.
“Jangan bohong”
“Bener pak saya gapapa, saya cuma penasaran aja dia mau ngomong apa sama saya”
“Kamu tidak usah repot-repot mendengarkan apa yang akan dia katakan, dia tidak pantas bertemu denganmu lagi”
Aku mengangguk, “bapak tadi kenapa nolak kerjasama dengan Azka Perkasa? Bukankah tadi presentasi mereka sangat memukau” tanyaku penasaran.
“Saya memang tertarik dengan produk mereka tapi semua itu tidak penting, yang lebih penting sekarang adalah kesehatan hati kamu.” Ucap pak Sena.
Aku mengerutkan dahiku heran, “kok saya?” Tanyaku.
“Jika saya menerima tawaran mereka untuk kerjasama dengan Pranata’s Company maka secara tidak langsung kamu akan lebih sering bertemu dengannya, saya hanya meminimalisir rasa sakitmu ketika melihatnya Airin” ucap pak Sena.
Aku tertegun mendengarnya, perusahaan Azka Perkasa akan memberikan dampak besar kepada perusahaan pak Sena karena perusahaan itu sedang naik daun saat ini, maka akan banyak sekali keuntungan di dalamnya. Tapi hanya karena memikirkan perasaanku pak Sena rela melepaskan itu semua.
“Pak, tapi bapak tidak perlu melakukan itu, saya bisa profesional dalam bekerja. Jangan merelakan keuntungan perusahaan hanya karena memikirkan perasaan saya” ucapku yang tidak enak hati.
“Tidak apa, lagi pula saya juga tidak menyukai Manager baru itu, masih banyak perusahaan lain yang mau bekerjasama dengan perusahaan saya. Pranata’s Company tidak akan rugi hanya karena menolak kerjasama dengan perusahaan kecil menengah itu” ucap pak Sena datar.
Aku hanya mengangguk menanggapi perkataan pak Sena. Dia terlihat sangat emosi ketika Reno meraih tanganku, pak Sena seakan tidak rela jika miliknya di sentuh orang lain, entahlah aku juga tidak tahu tapi yang pasti aku merasakan begitu.
***
Guys langan lupa like, love, komen dan vote ya biar aku tambah semangat upload nya.
__ADS_1
Thanks semua❤️