
Hari ini aku bangun tak seperti biasanya yang selalu bersemangat untuk datang ke kantor, ya hari ini aku masuk kerja setelah mengajukan cuti selama 3 hari, rasanya aku malas sekali bekerja, lebih tepatnya malas bertemu pak Sena.
Apa yang akan aku katakan padanya nanti saat kami bertemu, bukankan kami berdua akan begitu canggung setelah pak Sena menyatakan cintanya pada malam itu.
“Duh males banget gue”
“mau resign nanti gue gak ada duit”
“Cari kerja sekarangkan susah, mau masuk Pranata’s Company aja susah nya minta ampun, masa gue harus resign sih”
“Tapi nanti pas ketemu pak Sena gimana”
“Ah udah deh, profesional aja”
Aku ngoceh sendiri di kamar, bingung nanti akan bersikap seperti apa di depan pak Sena.
Sekitar pukul 7.30 aku sudah berada di ruanganku, namun ternyata pak Sena belum ada di mejanya, ya baguslah kalo perlu aku ga usah ketemu dia.
Ceklek.
Tak lama pintu besar ruangan CEO terbuka, menampakan sesosok orang yang ingin aku hindari kehadirannya, “duhh dia pake dateng lagi” gumamku dalam hati. Namun tak urung aku langsung menyambutnya dan seperti biasa aku membacakan list jadwal nya untuk hari ini.
Setelah membacakan seluruh jadwal untuk pak Sena hari ini aku lekas ke pantry untuk membuatkan minuman untuknya. Beruntung pak Sena sama sekali tidak membahas soal kejadian pada waktu itu, dia bersikap biasa saja, bahkan cenderung sedikit lebih cuek.
“Silahkan pak kopinya” ucapku sembari meletakkan segelas kopi panas di hadapannya.
Pak Sena mendongak ke arah ku lalu mengangguk “terimakasih”.
“Sama-sama pak, saya permisi ke ruangan saya dulu pak” pamitku yang hanya di balas anggukan oleh nya.
Aku merasa ada yang aneh dari pak Sena, yang biasanya dia sedikit-sedikit memanggilku karena minta bantuan ini dan itu tapi sekarang tidak lagi, dia lebih banyak diam dan cenderung mengerjakan pekerjaannya sendiri.
Apakah dia marah padaku? Tapi apa salah ku?
Bahkan aku belum menjawab pernyataan cintanya apalagi menolaknya, tapi mengapa dia sekarang lebih dingin dari pada saat pertama kali bertemu.
Aku bingung harus berbuat apa, haruskah aku bertanya padanya apakah dia marah kepadaku atau tidak? Tapi kurasa itu akan cukup memalukan.
Hari sudah semakin siang, namun aku tak kunjung di panggil menghadap pak Sena untuk melakukan satu halpun, semua pekerjaan sudah beres ku kerjakan. Kami seharian sibuk dalam ruang kerja masing-masing, sampai…
__ADS_1
“Airin” ahh akhirnya dia menyadari aku masih hidup di dunia ini, lebay sekali memang. Tapi rasanya begitu aneh ketika aku seperti tidak di butuhkan disini, padahal aku kan sekretarisnya.
Aku lekas berlari menuju ke meja nya “iya pak, ada yang bisa saya bantu?” Aku bertanya dengan semangat sembari melihat jam yang melingkar di tangan kanan ku.
“Oh iya sudah jam makan siang pak, bapak mau makan di luar atau mau saya pesankan untuk di makan di kantor saja?” Aku yang tersadar bahwa sekarang sudah jam makan siang, pasti pak Sena mau mengajak ku makan siang.
“Tidak perlu, saya akan makan di luar bersama Rey. Kamu saya bebaskan mau makan dimana” ucapnya lalu segera beranjak dari kursinya dan menuju ke pintu keluar.
Aku tertegun melihat ke arah dimana pak Sena menghilang di balik pintu besar itu, ini sebenarnya ada apa? Apa yang salah dengan nya? Bukankah seharusnya aku yang menghindar darinya, mengapa sekarang jadi kebalikannya.
Siang ini aku memilih untuk makan di kantin kantor saja, mengingat jaraknya yang tidak jauh dan harganya tidak begitu menguras kantong.
Aku duduk di salah satu stand makanan yang ada di sana, aku memilih duduk di samping pagar pembatas agar dapat melihat pemandangan dari atas, karena kantin kantor ini terletak di lantai 8 gedung kantor, jadi aku ingin menikmati makanan ku di temani angin semilir yang menyapu wajah ku.
Tapi yang aku rasakan saat ini adalah aku sama sekali tidak menikmati makan siang ku kali ini, aku sibuk dengan pikiranku yang mengingat keanehan dari pak Sena. Mengapa dia mengabaikan ku, walaupun dia sebelumnya cuek dan dingin tapi dia tidak pernah mengabaikan ku, terlebih lagi jika menyangkut pekerjaan.
Namun lamunanku seketika terganggu ketika seseorang ikut duduk di hadapanku dengan membawa sepiring makanan miliknya.
“Permisi, saya boleh duduk disini? Soalnya di tempat lain kursinya penuh” seorang laki-laki bertubuh tegap dan berpenampilan rapi menghampiriku dan meminta izin untuk berbagi tempat duduk.
“silahkan mas” ucapku mempersilahkannya duduk bersamaku.
Aku mengangguk mengiyakan “iya mas, seperti yang mas liat” ucapku sekenanya.
“Mbak kerja disini?” Tanya nya lagi.
“Iyalah mas kerja disini, kalo kaga ngapain gue disini” ucapku kesal karena dia bawel sekali, kenal juga enggak.
“Buset dah mbak, jutek amat” balas mas mas itu.
“Makan aja deh mas, saya lagi bete jangan di ganggu” ucap ku yang tidak ingin di usik, jika aku sedang tidak enak hati atau lagi banyak pikiran aku tidak mau di ganggu, walaupun hanya di ajak ngobrol.
“Tapi kaya nya kita pernah ketemu deh” ucap mas mas itu berlagak seperti sedang berfikir.
“Iyalah kan satu kantor, mungkin aja pernah papasan” ucapku.
“Engga, lebih dari papasan” ucapnya sok serius
“Jangan sotoy deh mas” ucapku malas.
__ADS_1
Pria itu diam sejenak seperti sedang berpikir keras.
“Nahhh saya inget, kamu yang waktu itu tanda tangan kontrak uji coba selama sebulan sebagai sekretaris CEO perusahaan ini kan?” Ucapnya ketika telah mengingat dimana ia pernah bertemu dengan ku.
Akupun baru ingat dengan nya, dia adalah HRD Manager di perusahaan ini yang waktu itu membantu segala urusan kontrak kerja ku.
Aku hanya bisa cengengesan karena sejak tadi aku sangat jutek padanya.
“Oh iya saya juga baru inget, maaf ya mas saya tadi ketus banget ngomongnya muehehe” ucapku tak enak hati padanya.
“Gapapa kok saya ngerti, kalo cewek lagi badmood pasti lagi banyak masalah” tebaknya.
“Iya tau banget mas”
“Saya hanya berusaha mengerti suasana hati perempuan” ucapnya lembut.
Aku hanya tertawa kecil mendengar perkataannya.
“Ohiya saya Dehan Pramudya, nama kamu siapa? Saya lupa hehe” pria itu memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangannya.
Aku menyambut uluran tangannya dan memperkenalkan diri juga padanya “saya Airin mas, Airin Rahayu Sudirja”
“Oke Airin, ngomong-ngomong jangan panggil mas dong, jadi berasa tua banget, trus ngomongnya santai aja ga usah formal formal amat”
“Okedeh Dehan” kami lanjut mengobrol, saling bertanya soal kegiatan yang di lakukan di bidang masing-masing. Ternyata Dehan adalah orang yang cukup menyenangkan, terbukti bahwa mood ku yang tadinya hancur sekarang berangsur membaik karena mengobrol dengannya.
“Lo kapan-kapan main ke ruangan gue deh, ntar gue kenalin sama anak-anak yang lain, tenang aja mereka orangnya asik kok” ajak Dehan, jujur selama aku bekerja di sini aku sama sekali tidak memiliki teman.
“Nanti deh kalo ada waktu luang gue main ke ruang HRD”
“Ohiya gue minta nomor lo ya, biar bisa sekalian ngajak hangout sama anak-anak yang lain, kita rutin tiap bulan ngadain hangout biar ga stress, banyak dari divisi lain juga yang ikut”
Kami saling bertukar kontak satu sama lain, baru kali ini aku langsung bisa akrab dengan orang yang baru aku kenal.
Lalu tak lama aku berpamitan dengan Dehan untuk kembali ke ruanganku, karena jam makan siang sebentar lagi habis, aku takut nanti pak Sena sudah duluan sampai di ruangan, bisa-bisa aku habis di maki-maki olehnya.
***
Berkomentarlah dengan kata-kata positif❤️
__ADS_1