Kisah Sempurna Airin

Kisah Sempurna Airin
Bab 26


__ADS_3

Setelah beberapa waktu di perjalanan aku dan Pak Sena sampai di sebuah Villa mewah yang terletak di tengah-tengah kebun teh yang menghampar luas, bangunan Villa itu bergaya modern dan memiliki luas yang tak dapat di hitung oleh otak pintarku.


“Buset dah pak, ini mah bukan kaya lagi, tapi kaya bangetttt!!!” seru ku ketika melihat bangunan mewah yang ada di hadapanku. Villa dengan arsitektur yang tidak pernah ku lihat sebelumnya.


Villa ini memiliki kolam besar yang mengelilingi bangunannya, lengkap di penuhi dengan pohon cemara yang ikut melingkar di sekitarnya.


“Jangan norak, saya memang kaya” ucap pak Sena sombong.


“Mulai deh sombongnya” ucapku sambil memutar bola mata malas.


Kami masuk ke dalam villa tersebut, didalam sana aku dibuat lebih tercengang lagi dengan interior mewahnya yang bergaya Eropa modern. Aku tak hentinya berdecak kagum karena melihat kemewahan milik pak Sena.


“Wah gilaa. Ini kalo gue ajak Yuri kesini pasti dia kaga mau balik lagi, pasti semua tempat dia pake untuk foto” ucapku bermonolog.


Kamu mau foto?” Tanya pak Sena tiba-tiba, “gak perlu foto-foto nanti juga semua ini bakal jadi milik kamu” sambungnya lagi.


“Hah kapan pak?” Tanyaku dengan mata yang berbinar.


“Nanti kalo kamu sudah jadi istri saya” ucapnya sambil berlalu pergi.


“Diiihh, pede amat. Kaya gue mau aja jadi bini lo” aku menggerutu pelan.


“Saya masih dengar ya Airin” teriak pak Sena dari jauh.


Aku mengabaikan pak Sena yang sedari tadi ngoceh-ngoceh tidak jelas, aku hanya sibuk buat instastory di akun Instagramku. ‘Disini bagus nih, duhhh cakep bener ini kursi. Kalo mama liat pasti udah di angkut’ ucapku sambil sibuk gonta ganti gaya berfoto.


Setelah selesai dengan segala kenorak an ku, kami di arahkan oleh pengurus villa ini untuk makan siang. Disana sudah terhidang berbagai macam makanan yang sepertinya enak-enak. Mulai dari makanan pembuka sampai makanan penutup sudah menanti untuk di santap.


“Villa ini siapa yg nunggu pak?” Tanyaku ketika kami sedang makan.


“Ada 2 penjaga yang tinggal disini” jawab pak Sena.


“Sayang banget villa segede gini ga ada yang nempatin” ucapku.

__ADS_1


Setelah makan siang menjelang sore kami besantai di balkon yang ada villa tersebut, balkon yang luas dan di isi dengan perabotan seperti Bean Bag beserta meja kecil di tengahnya, serta terdapat bunga-bunga mahal di setiap sudut. Tempat ini sangat instagramable bagi kaum sepertiku dan Yuri.


Kami duduk di Bean Bag dan duduk bersebelahan sambil menikmati hawa sejuk disana, hari tidak terik namun ada sekumpulan awan gelap yang menutupi langit dihari itu, sepertinya hujan akan turun dengan deras sebentar lagi.


Lama kami bercerita mengenai pekerjaan dan kehidupan masing-masing hingga hujan turun dengan derasnya.


“Walahhh, pak ayo masuk deres banget ini hujannya” ucapku berteriak dan berniat masuk ke dalam villa. Balkon itu hanya beratap seadanya sehingga jika angin berhembus ke arah kami maka tubuh kami akan basah semua.


“Kamu tenang saja, sini duduk” ucap pak Sena santai.


“Tenang gimana pak, itu ujannya gede banget” ucapku heboh.


Pak Sena bergerak menuju pintu masuk ke villa dan meraih sebuah remote yang menempel di samping pintu. Terlihat pak Sena mengotak atik remote tersebut hingga sebuah kaca besar berasal dari atap balkon bergerak turun kebawah dan penutup seluruh bagian balkon.


“Wooowwwww, luar biasaaa!” Lagi-lagi aku di buat tercengang oleh teknologi yang ada di sini.


“Sudah tutup mulutmu ayo duduk” ucap Pak Sena.


“Gilaa, ini gilaaa pak”


“Berapa duit buat ginian pak?”


“Wah, balkon kamar saya kalo ujan auto basah semua pak”


Pak Sena hanya tersenyum melihat tingkah norakku itu, jujur aku baru pertama kali melihat semua kemewahan duniawi ini.


“Airin” panggil pak Sena.


Aku menoleh padanya, “kenapa pak?” Tanyaku.


“Apakah kamu masih sering bertemu mantanmu itu?” Tanya pak Sena.


“Enggak, kenapa emang pak?” Tanyaku.

__ADS_1


“Gak apa-apa, nanya aja” ucapnya lagi.


“Saya tau bapak mau nanya apa” ucapku.


“Apa?”


“Bapak pasti mau tau kan saya masih punya perasaan atau tidak dengan Reno” tebakku.


“Kamu benar Airin, beberapa bulan ini saya melihat kamu tidak lagi murung seperti waktu itu. Saya senang jika kamu tidak memikirkannya lagi” ucap pak Sena menatapku.


“Ya saya juga ngerasa hati saya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, sejak terakhir kali bertemu dengannya aku jadi berpikir kenapa aku begitu bodoh bersedih hanya karena pengkhianat” ucapku santai.


Pak Sena mengangguk mendengarkan, “saya paham dengan keadaan kamu yang sebelumnya, yang terkadang melamun dan tiba-tiba menangis mengingat dia. Karena sayapun begitu dulu” ucap pak Sena.


“Move on itu bersifat dinamis, tidak konstan. Hari ini kamu bisa saja tidak kepikiran dengan dia, tapi tiba-tiba besoknya kamu rindu setengah mati. Itu memang bagian dari prosesnya sampai nanti kamu sudah biasa tanpa dia.” Sambung pak Sena lagi.


“Iya pak saya juga ngerasa gitu dulu, hari ini udah bisa ikhlas tapi besokkan nya nangis lagi. Tapi bapak tenang aja saya sekarang gak nangis lagi kok pak, saya sudah ikhlas hehe” ucapku sambil tertawa.


“Makasih banyak ya pak, bapak selalu ada setiap saya merasa terpuruk saat ingat dia, saya sudah sering di nasehati oleh Yuri maupun mama tapi entah kenapa saya tetap ga bisa lupain dia, tapi seiring berjalannya waktu Tuhan membuka semua kebusukannya, jadi perlahan-lahan saya sudah bisa ikhlas” ucapku .


“It’s oke, wanita bisa kehilangan akal nya hanya karena orang yang dia cintai, oleh karena itu dia butuh di tampar puluhan kali agar bisa sadar dan membuka mata tentang orang yang dia cintai itu” ucap pak Sena.


Aku tersenyum, “saya seneng sekarang hati saya sudah lega dan bisa tersenyum lepas tanpa ada tangisan lagi.” Ucapku senang.


Pak Sena menoleh kepadaku, “Lalu bagaimana dengan perasaanmu Airin?” Tanya pak Sena.


Aku menoleh padanya, ku tatap dengan lekat mata hitam pekatnya itu, “kalau untuk perasaan saya ke bapak, boleh ga saya minta waktu sebentar lagi untuk meyakinkan diri saya?” pintaku padanya.


“Untuk apa?” Tanyanya.


“Saya perlu waktu untuk sekedar meyakinkan diri saya bahwa saya benar-benar mencintai bapak, dan bukan hanya sekedar kagum saja. Jujur saya sangat kagum dengan bapak, Pak Sena adalah sosok pria yang smart, berwawasan luas dan berhati lembut, ya walaupun bermulut pedas. Tapi saya masih butuh waktu untuk menentukan apakah saya sudah mencintai bapak atau belum.” Ujarku.


“Baiklah saya akan menunggu sampai kamu benar-benar mencintai saya Airin. Saya benar-benar sudah jatuh hati padamu” ucap pak Sena.

__ADS_1


Aku tersenyum menanggapi, “terimakasih pak” ucapku tulus


***


__ADS_2