
Pagi ini aku dan pak Sena menuju ke rumahnya untuk bertemu tante Karina yang sejak kemarin mengajakku ke sana.
“Mukanya santai aja, jangan tegang gitu” pak Sena menyadari raut wajahku yang sangat tegang.
“Ya gimana ga tegang pak kalo lagi bohong gini, nanti disana juga saya mau ngapain” jawabku gusar
“Anggap saja aja kamu lagi gak bohong, tapi lagi latihan” saran pak Sena.
“Latihan apaan?” Tanyaku bingung,
“Latihan jadi calon mantu yang baik, biar bisa lebih dekat dengan calon mertua” ucap pak Sena.
Pipiku bersemu merah mendengar perkataan pak Sena, calon mertua? Gaya banget dah.
Tak lama pak Sena memarkirkan mobilnya ke sebuah toko kue, “kita beli kue dulu” ajak pak Sena.
“Buat apaan pak? Siapa yang ulang tahun?” Tanya ku tak mengerti.
“Untuk mama, ayo kamu yang pilihkan” ucap pak Sena.
Kami memilih beraneka macam kue dari brand mahal yang di pilihkan oleh pak Sena.
‘Buset ini mah kayak yang sering gue beli di pasar, tapi ini harganya mahal banget. Klepon doang harganya 200 ribu isinya apaan? Berlian?’ Gumam ku dalam hati bingung karena melihat harga yang begitu mahal hanya untuk sepotong kue.
Setelah kegiatan membeli kue dan sebagainya barulah kami menuju ke kediaman Pranata.
“Assalamualaikum” ucapku saat memasuki rumah.
“Eh pak salam dulu kalo masuk rumah” tegurku.
“Iya assalamualaikum” ucap pak Sena menuruti.
“Waalaikumsalam, duhh calon mantu mama udah dateng, ayo masuk” ucap tante Karina seraya menarik tanganku ke dalam.
“Ma ini kita bawain kue buat mama sama papa” ucapku sembari menyerahkan papper bag berisi aneka macam kue.
“Wah terimakasih ya” tante Karina menerima uluran papper bag dari tanganku dan segera menyerahkannya kepada maid untuk di hidangkan.
“Ayo sini duduk, abis dari mana sama Sena?” Tanya tante Karina.
“Engga dari mana-mana ma, tadi Sena menjemputku dari rumah khusus untuk kesini” ucapku.
__ADS_1
“Mama seneng banget Rin, kamu dan Sena itu udah cocok banget” ucap tante Karina kegirangan.
Aku dan Tante Karina tenggelam dalam obrolan sesama wanita, sedangkan pak Sena entah kemana dia tidak menampakkan batang hidungnya sejak aku dan tante Karina bertemu.
“Kita ke taman belakang yuk, mama mau ngasih liat kamu taman yang mama urus sendiri tanpa bantuan yang lain.” ajak Tante Karina.
“Ayo ma, Airin mau liat” ucapku penasaran.
Tante Karina menuntunku menuju taman di belakang rumahnya, disana terlihat banyak sekali bunga-bunga yang sedang bermekaran. Aneka ragam bunga berwarna cerah menghiasi taman yang luas itu. Disana juga terdapat air mancur yang di bentuk seperti air terjun mini yang dikelilingi oleh batu batu besar layaknya di air terjun sungguhan. Beda sekali dengan rumahku yang isi tamannya hanya pohon cabai dan kawan - kawan.
“Wahhhh, bagus banget. Airin kayak lagi berasa di negeri dongen ma” aku terkesima dengan pemandangan di depan mataku, pemandangan indah yang menyejukkan mata dan hati.
Tante Karina tersenyum melihat ekspresi norak ku, “ayo kita duduk di sana” tunjuk tante Karina pada sebuah kursi panjang di tengah-tengah bunga yang bermekaran.
“Ini mama sendiri yang menata semua bunga yang ada disini?” Tanya ku.
“Iya mama sendiri yang menata, tapi kalau urusan cangkul menyangkul mama serahkan kepada tukang kebun sih hehehe” ucap tante Karina cengengesan.
Aku sedikit memajukan badanku guna meraih bunga yang ada di sekelilingku, aku memegang dan memerhatikannya dengan seksama “ini bunga asli kan ma?” Tanyaku memastikan.
“Asli dong sayang, bunga-bunga ini mama beli saat kami keliling dunia beberapa tahun yang lalu, mama sengaja membeli beberapa bunga setiap mampir ke suatu negara, biar kalau mama lagi kangen negara itu mana tinggal duduk disini aja deh” ucap tante Karina.
‘Enak bener ye jadi orkay, beli bunga aja harus ke luar negeri dulu’ gumam ku dalam hati.
Tante Karina tersenyum mendengar ucapanku, “yaudah nanti kapan-kapan kita ke luar negeri sama sama ya sayang” ucap tante Karina.
“Oh iya mama boleh nanya ga?” Sambung tante Karina.
“Boleh dong ma, mama mau tanya apa?” Ucapku mempersilahkan.
“Kamu sama Sena beneran pacaran ga sih?” Pertanyaan tante Karina seketika membuat tenggorokanku tercekat. Kenapa tante Karina bertanya seperti itu, apa jangan jangan tante Karina sudah mengetahui tentang kebohongan kami, aduh mampus!
“Ee… beneran dong ma, masak bohongan hehe” ucapku dengan tawa garing.
“Yaa baguslah kalo beneran, mama tu khawatir kalau Sena masih kekeuh ga mau nikah” ucap tante Karina.
“Ga mau nikah ma?” Tanya ku tak paham.
“Iyaa, dulu Sena tuh menyedihkan banget Rin” ucapnya.
“Menyedihkan gimana ma?” Tanyaku lagi.
__ADS_1
Tante Karina menghembuskan nafas pelan dan mulai bercerita “Jadi dulu saat kuliah Sena pernah punya pacar, dan kami juga deket banget sama pacarnya Sena karena orang tuanya adalah sahabat suami saya, bahkan kami sudah membuat kesepakatan untuk menikahkan mereka berdua setelah lulus kuliah. Tapi entah kenapa di pertengahan jalan Maudy malah mengkhianati Sena, dia pergi meninggalkan Sena bersama laki-laki lain” tante Karina menjeda penjelasannya karena ada maid yang mengantarkan minuman dan cemilan.
“Terimakasih mba” ucapku pada maid tersebut.
“Di minum dulu ma, biar mama lebih tenang” aku menyodorkan gelas berisi minuman kepada tante Karina.
Setelah minum tante Karina melanjutkan perkataannya, “Sejak saat itu, Sena marah dan kecewa sehingga dia menutup diri dari dunia luar. Bahkan untuk keluar kamarpun dia tidak mau, kami sudah berusaha membujuknya tapi tidak bisa, berbulan-bulan sena susah di temui, sampai akhirnya Rey bisa meyakinkan Sena untuk bangkit.”
“Setelah Sena agak sedikit tenang dan bisa di ajak berbicara kami langsung membawa sena keliling dunia untuk membuat pikiran nya lebih jernih lagi. Setelah itu kami memindahkan kuliahnya di eropa agar dia lupa dengan kisah cintanya di sini”
“Tahun demi tahun berlalu, Sena sudah lulus kuliah dan sudah mendalami tentang perusahaan papanya, dia kembali lagi ke Indonesia, kembali dengan sikapnya yang sangat berbeda dengan yang sebelumnya, Sena yang sekarang dingin, kejam, dan tak tersentuh oleh apapun. Bahkan kami sebagai orang tuanya sangat sulit untuk berinteraksi dengannya.”
“Sejak saat itu juga dia tidak pernah terlihat menjalin hubungan dengan wanita, sampai kami khawatir dan berusaha mencarikan pasangan untuknya, tapi tidak pernah berhasil dan selalu berakhir menjadi skandal saja di media sosial. Sampai dia datang kerumah membawa kamu menghadap kami dan memperkenalkan kamu sebagai pacarnya, saat itu kami senang bukan main Airin, kami berharap kamu benar-benar wanita yang tepat pilihan Sena untuk mendampingi dirinya.” Ucap tante Airin sambil menyeka air disudut matanya.
Aku tertegun mendengar perkataan tante Karina, ternyata seberat itu yang di lalui pak Sena dulu, sampai sampai tidak mau berinteraksi dengan dunia luar. Dan apa tadi katanya? Aku adalah wnaita yang tepat untuk mendampingi pak Sena. Bahkan untuk menyembuhkan diriku sendiri saja aku belum mampu, bagaimana bisa aku menjadi pendamping pak Sena dengan keadaan seperti ini.
“Airin” panggil tante Karina yang melihat aku melamun.
“Eh iya ma, maaf Airin jadi terbawa suasana” ucapku tidak enak.
“Tidak apa-apa, mama memberi tahu agar kamu paham dengan kondisi mengapa dia memiliki sikap seperti itu. Mama sangat berharap kamu menikah dengan Sena, mama mau melihat anak mama bahagia. Hati mama hancur ketika melihat Sena terpuruk meratapi kisah cintanya dulu.” Ucap tante Karina lirih.
Aku mengusap tangan tante Karina dan menenangkannya, “iya ma, mama jangan khawatir ya ma, Airin akan mencintai Sena dengan tulus” ucapku.
‘Ya allah apaan sih Airin, mencintai dengan tulus lo bilang? Cinta lo aja masih nyangkut di Reno, sok banget bilang mau mencintai pak Sena dengan tulus’ aku merutuki perkataan ku barusan.
Tapi aku jadi makin khawatir dengan harapan besar tante Karina kepada ku, dia sangat berharap aku menjadi istri Pak Sena, sedangkan aku belum mencintainya.
Hari itu kami menghabiskan waktu hanya untuk saling bercerita tentang kehidupan masing-masing dan tentu saja tak lupa tentang masalah wanita, hingga sore menjelang aku di antar pulang ke rumah oleh pak Sena.
“Ma Airin pamit ya makasih untuk hari ini, Airin seneng banget bisa ngobrol sama mama” ucap Airin tulus.
“Iya sayang sama-sama, makanya kalian cepet nikah biar bisa tinggal disini sama mama” ucap tante Karina semangat.
“Hehe iya ma doakan ya”
“Iya sayang pasti”
“Yaudah kalau gitu Airin pamit ya ma, Assalamualaikum” ucapku sembari menyalami tante Karina.
***
__ADS_1
Berkomentarlah dengan kata-kata positif❤️