Kisah Sempurna Airin

Kisah Sempurna Airin
Bab 9


__ADS_3

Pak Sena membawaku keluar dari rumahnya mengendarai mobil, namun tujuannya bukan ke arah rumahku. Entahlah dia mau membawaku kemana.


“Pak yang tadi maksudnya apa? Bukannya perjanjiannya saya cuma berpura-pura jadi pacar bapak, kok malah jadi ngomongin pernikahan?” Aku memberondong pak Sena dengan beberapa pertanyaan.


“Saya juga tidak menyangka orang tua saya langsung membahas soal pernikahan” jawab pak Sena dengan tenang.


“Loh jadi gimana dong pak, mana udah terlanjur bohong lagi. Ini pokoknya salah bapak ya” ucapku gusar.


“Lagian kamu juga kenapa tadi menjelaskan dengan sangat detail, sampai-sampai orang tua saya tercengang mendengarkan penjelasan kamu. Ternyata kamu juga bisa bohong dengan sangat handal ya” entah itu sebuah pujian atau hinaan aku tidak bisa membedakannya dan aku juga tidak perduli.


“Ya bapak kenapa ga bantuin saya, saya ga nyangka kalau orang tua bapak akan bertanya seperti itu, bapak ngga briefing saya dulu tadi jadi saya asal ngomong aja.” Ucapku kesal.


“Jadi gimana dong pakk jangan diem aja, bapak harus tanggung jawab”. Aku sudah sangat frustasi dengan keadaan ini, bagaimana jika mereka mengetahui rencana kami, bagaimana jika mereka tau kalau semua ini hanya pura-pura. Aduh mati gue.


“Memangnya saya ngapain kamu harus tanggung jawab” ucap pak Sena ambigu.


“Ihhhh… apaan si pak ga jelas banget. Ini jadi nya gimana?” Tanyaku lagi.


“Yasudah jalani saja dulu, nanti saya akan carikan jalan keluarnya” ucapnya santai.


Aku berdecak, menyebalkan sekali.


Aku hanya diam memandangi jalanan yang sudah lumayan sepi, mulutku berhenti berkicau tapi suara-suara di kepalaku tetap saja meributkan soal barusan.


Pak Sena menepikan mobilnya di sebuah cafe yang ada di pinggir kota, cafe bernuansa alam yang memiliki spot menghadap ke alam terbuka. Cafe ini berada di atas bukit mini sehingga memiliki pemandangan yang sangat indah apalagi di siang hari.


Pak Sena mengajakku duduk di salah satu meja paling ujung dekat pagar di pinggir tebing, “buset dah pak, kalo mau bunuh diri jangan ajak-ajak saya, saya memang lagi frustasi gara-gara masalah tadi tapi saya belum mau mati, saya masih mau keliling dunia” ucapku tidak jelas karena ngeri melihat pemandangan di bawah tebing ini.


“Duduk, jangan bawel” perintah pak Sena.


Akupun menurut perkataannya, tak lama kemudian seorang pelayan membatu mencatat pesanan kami, memang kami belum ada yang makan malam sejak tadi.

__ADS_1


“Kamu tenang saja, kita jalani saja dulu kepura-puraan ini. Soal pernikahan nanti saya jelaskan dengan orang tua saya” ucap pak Sena membuka obrolan.


“Tapi saya takut, pak Arseno dan ibu Karina itu orang penting di kota ini, saya takut jika harus membohongi mereka” ucapku sedikit gemetar karena rasa khawatir ditambah udara yang begitu dingin.


“Ya kamu mau mundurpun tidak bisa lagi, karena kamu sudah terlanjur mengatakan bahwa kamu mencintaiku dihadapan mereka” ucap pak Sena yang seketika membuat perutku mual mendengarnya.


“Dih… kepedean banget deh. Saya ngomong begitu karena bapak tidak membantu saya sama sekali, sehingga saya harus merangkai sendiri kata-kata apa yang pantas untuk di ucapkan” ucapku kesal.


“Pokoknya kamu tidak boleh mundur, kamu harus tetap pura-pura menjadi pacar saya, atau gaji kamu saya potong 70%” ancam pak Sena.


“Ga bisa gitu dong pak, kan yang beginian ga ada di kontrak kerja” protesku tak terima.


“Terserah saya, disini saya bosnya jadi suka-suka saya” ucapnya sangat menyebalkan.


‘Sialan, ni orang ngeselin banget. Rasanya pengen tak hiiiihhhhh…..’


“Terserah deh pak, atur aja gimana baiknya, saya laper” ucapku dan segera menyantap makanan yang baru saja di hidangkan dimeja kami.


Tak selang beberapa lama ada dua orang yang sangat ku kenali duduk di meja tak jauh dari tempat kami duduk. Aku menatap lurus melihat ke arah mereka.


Aku menyendok makananku dengan malas, rasa laparku seketika hilang begitu saja saat melihat Reno dengan kekasihnya sedang duduk berdua.


“Sudah jangan di lihat kalau tidak sanggup” ucap pak Sena yang sadar dengan perubahan raut wajahku.


“Engga kok pak saya ga apa-apa, saya sudah baik-baik saja” ucapku bohong, bahkan sampai detik ini aku masih memikirkan dirinya. Mengapa dia bisa setega itu meninggalkanku.


“Jangan membohongi perasaan sendiri, kamu bisa cerita dengan saya jika mau” tawar pak Sena padaku.


Aku melirik dan menatap matanya lalu tersenyum getir, “bapak tau ga gimana rasanya hidup setelah kehilangan seseorang yang pernah terpikirkan untuk diajak hidup bersama?” Ucapku lemah.


“Saya capek pak, kadang saya ingin lari dari cerita hidupku sendiri. Dia disana sudah bahagia dengan pilihannya, sedangkan saya disini masih terpuruk meratapi kesedihan” ucapku yang berusaha menahan tangis.

__ADS_1


Hal tak terduga pak Sena mengulurkan tangannya mengelus punggung tanganku dan menenangkanku supaya tidak menangis.


“Apa karena perempuan yang itu kalian putus?” Tanya pak Sena.


Aku menggeleng, “awalnya bukan, dia memutuskan saya karena keluarganya tidak menyetujui hubungan kami, tapi saya tidak begitu saja percaya pada ucapannya. Setelah saya cari tahu lebih jauh ternyata benar, karena perempuan itulah dia tega meninggalkan saya” ucapku miris mengingat saat pertama kali dia memutuskan ku.


Dia berkata bahwa keluarganya tidak menyukaiku dan tidak menyetujui hubungan kami, tapi anehnya aku memiliki hubungan baik dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Aku tak tinggal diam dan segera mencari tahu penyebab sebenarnya, dan ternyata fakta membuktikan bahwa dia selingkuh di belakangku.


Setelah tau alasan yang sebenarnya, saat itulah aku langsung menghilang dan tidak ingin keberadaanku tercium oleh dia dan orang-orang terdekatnya. Hatiku begitu sakit mengingat perbuatannya kepadaku.


“Dia meninggalkan ku bukan karena desakan keluarganya tapi karena dia telah menemukan bunga yang baru pak hiks..” air mataku turun dengan sendirinya, orang yang begitu aku sayang dan percaya dengan tega menghianatiku. Hubungan yang sudah terjalin sekian tahun harus kandas hanya karena bunga yang baru.


Pak Sena menggenggam tanganku dan menenangkanku, “sudah tidak perlu di tangisi lagi, kamu harus percaya bahwa orang yang tidak worth it, manipulatif dan toxic untuk hidupmu akan tersingkirkan dengan sendirinya. Bagaimanapun caranya, walaupun kita sendiri harus jadi korbannya dulu.“ ucap pak Sena.


“Jika Tuhan mengambil darimu sesuatu yang tidak pernah kamu sangka akan kehilangannya, maka Tuhan akan memberimu sesuatu yang tidak pernah kamu sangka akan memilikinya” ucap Pak Sena dengan bijak.


Ini yang ku maksud dengan sisi lain dari sikap dinginnya pak Sena yang tadi ku jelaskan kepada orang tuanya. Pak Sena yang ketus bisa berubah menjadi pak Sena yang begitu bijak dan hangat.


Sebenarnya penjelasanku tadi tidak sepenuhnya berbohong, aku juga sudah merasakn sendiri sisi lain dari pak Sena, contohnya seperti sekarang ini.


Aku terkesima dengan perkataan panjang pak Sena, aku tidak pernah menyangka jika beliau bisa menenangkanku seperti ini.


“Terimakasih banyak pak, mendengar perkataan bapak barusan hati saya sedikit lega” ucapku pada pak Sena.


Dia mengangguk “sama-sama”.


“Ngomong-ngomong nyontek di quote mana tuh” ucapku meledek, karena hatiku sudah sedikit tenang karena mendengar kata-katanya.


“Sembarangan, itu ikhlas keluar dari mulut saya” elak pak Sena tidak terima di tuduh mencontek.


“Iya iya, sekali lagi terimaksih ya pak, berkat bapak saya jadi lebih tenang” ucapku dengan tulus kali ini.

__ADS_1


***


Berkomentarlah dengan kata-kata positif❤️


__ADS_2