Kisah Sempurna Airin

Kisah Sempurna Airin
Bab 25


__ADS_3

Siang itu setelah meeting pak Sena mengajak ku berkeliling tak tentu arah, dari tadi hanya mutar-mutar tidak jelas.


“Sebenernya kita mau kemana sih pak, dari tadi muter-muter mulu, saya mual ini mau muntah” ucapku mengeluh karena sedari tadi tak jelas arah dan tujuan nya.


“Norak banget sih kamu naik mobil aja mual” cibir pak Sena.


“Ya gimana kaga mual kalo dari tadi kita muter doang kerjaannya, makan kek atau apa kek, saya belum makan siang ini pakk” keluh ku yang memang belum makan dari tadi.


“Tunggu bentar lagi kita makan” ucap pak Sena singkat.


“Emang bapak lagi cari apaan sih?” Tanyaku penasaran.


Pak Sena hanya diam tak menjawab perkataan ku, sampai tiba-tiba mobil yang di kendarai pak Sena rodanya berdecit nyaring akibat mengerem mendadak.


“Duhhh, ngapain sih pak pake acara ngerem mendadak segala, kepala saya sakit ini kepentok dashboard” ucap ku seraya mengusap usap kepalaku yang hampir benjol.


“Nah itu dia” ucap pak Sena bermonolog, aku melongokkan kepalaku melihat apa yang pak Sena cari sedari tadi.


“Bang bang sini” pekik Pak Sena kemanggil abang-abang penjual mainan.


Terlihat pak Sena sedang memilih sebuah mainan kecil berbentuk kucing yang sedang menyatukan jari telunjuk dan jempolnya membentuk tanda cinta (🫰🏻), aku tidak tau dari mana asal jari telunjuk dan jempol kucing itu pokoknya tangan kucing tersebut sedang berpose membentuk simbol cinta.


Aku melongok tidak percaya dengan apa yang aku lihat, pak Sena sejak tadi mengajak ku mutar-mutar tidak karuan hanya karena mainan ini?


“Ini uang nya” ucap pak Sena menyodorkan uang seratus ribuan kepada abang penjual mainan, “uang kecil aja pak, saya tidak punya kembalian” ucap penjual tersebut.


“Tidak apa-apa ambil saja kembaliannya” ucap pak Sena.


“Eh jangan pak ini kebanyakan, ini saya kasih 1 lagi aja ya kucing nya biar sepasang, kayak bapak sama istri bapak sepasang hehehe” ucap Penjual itu seraya menunjuk aku yang ia duga sebagai istri pak Sena.


Pak Sena tersenyum menanggapi perkataan penjual mainan itu, “iya pak dia memang istri saya, cantik kan?” Tanya pak Sena.


“Cantik banget pak, pokoknya cocok deh sama bapak yang ganteng dan baik hati” puji abang itu berlebihan.


“Terimakasih” ucap pak Sena, lalu pak Sena kembali melajukan mobil.


“Buset dah pak, jadi dari tadi bapak muter-muter cuma mau cari mainan doang?” tanyaku tak habis pikir.


“Kemarin saya sempat melihat penjual mainan itu saat di lampu merah, dia menjual patung kucing narsis itu. Saya ingat di meja kerjamu ada foto kucing, saya menduga kamu pecinta kucing jadi saya berniat membelinya untuk kamu, tapi sayang sekali lampu sudah berubah hijau dan mobil di belakang saya bawel sekali jadi saya tidak sempat membelinya. Jadilah hari ini saya mengajak kamu untuk mencari penjual itu tadi” jelas pak Sena.


Demi apapun aku meleleh mendengar penjelasan pak Sena, dia bahkan rela meninggalkan kantor demi untuk membelikan ku patung kucing lucu ini walaupun harus memutari seluruh lampu merah dulu.

__ADS_1


“Ihhh bapak kok baik banget sih, iya emang saya suka banget sama kucing. Makasih ya pak muehehe” ucapku.


“Sama-sama, kamu bawa saja dua-duanya biar sepasang cewek sama cowok” ucap pak Sena.


“Kaya kita ya pak” ucapku nakal sambil mengedip ngedipkan mataku.


Pak Sena tersenyum melihat kelakuan ku dan dia mengusap pucuk kepalaku, “menggemaskan sekali” ujarnya.


“Ngomong - ngomong tadi maksudnya apa tuh ngaku-ngaku jadi suami saya” ucapku yang baru ingat dengan percakapan pak Sena dengan penjual mainan tadi.


“Ngayal aja dulu, siapa tau jadi kenyataan” ucap pak Sena seraya melajukan mobilnya.


Setelah mendapatkan apa yang pak Sena cari, kami berhenti di salah satu restoran untuk makan sore karena sejak tadi perut kami belum diisi dengan makanan.


“Kamu besok ada acara?” Tanya pak Sena.


“Emm” aku belagak seperti sedang berpikir, “gak ada kayak nya, kenapa pak?” Tanyaku.


“Saya mau ngajak kamu ke puncak” ucap Pak Sena.


“Ngapain?”


“Jalan-jalan aja kan besok sabtu”


Keesokan hari nya pak Sena sudah menjemputku di rumah sekitaran jam 9 pagi. Kami berangkat menuju puncak pagi itu dengan mengendarai mobil berkecepatan santai, karena ingin menikmati perjalanan pagi yang sejuk.


“Kita mau ngapain di puncak pak?” Tanyaku membuka obrolan.


“Nyangkul” ucap pak Sena singkat.


“Hah?! Nyangkul? Ngapaiiin” jawabku agak lemot.


“Ya enggak lah, kita ke villa saya yang di sana, sekalian liat pemandangan” ucap pak Sena.


“Oh” jawabku singkat.


“Kamu sudah sarapan?” Tanya pak Sena.


“Belom” jawabku singkat.


“Kenapa belum?”

__ADS_1


“tadi saya bangun agak siang jadi saya cuma mandi terus ganti baju, abis itu bapak dateng jemput saya, jadi saya gak sempat sarapan deh” jelasku.


Tadi aku memang bangun kesiangan karena semalam aku skype an dengan Yuri sampai jam 12 malam, biasalah kalau perempuan sudah ngobrol tidak ingat waktu. Yuri bercerita bahwa dia sedang dekat dengan seorang laki-laki, tapi dia belum mau memberi tahu siapa laki-laki itu.


“Yasudah kita sarapan dulu” ujar pak Sena sembari menepikan mobil nya ke pelataran sebuah tempat makan di pinggil jalan.


Pak Sena mengajak ku sarapan bubur khas Bandung, “Bu buburnya 2 ya” ucap Pak Sena kepada ibu penjual bubur itu.


“yang satu nya jangan pakai seledri ya bu” ucapku segera menyela perkataan pak Sena tadi, sepertinya dia lupa bahwa bubur ada seledrinya.


Pak Sena menoleh padaku lalu tersenyum, “terimakasih, bahkan saya lupa jika saya tidak suka seledri” ucap pak Sena.


“Kan udah tugas saya pak, sayakan sekretaris bapak jadi harus inget semuanya hehehe” ucapku.


Setelah ibu penjualnya menyajikan 2 mangkok bubur, kami langsung menyantapnya dalam diam. Tak begitu lama kami istirahat untuk makan, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju puncak sebelum matahari semakin terik.


“Wooww, bagus banget pak” aku terkesima melihat pemandangan kebun teh yang terhampar di sepanjang jalan itu.


“Liat nya biasa aja, jangan norak” cibir pak Sena.


“Ishh… nyebelin” ucapku kesal.


Sepanjang jalan aku hanya berdecak kagum melihat pemandangan yang indah ini, pasalnya aku sama sekali belum pernah ke puncak sejak kecil, jadi ya wajarlah sedikit norak.


“Pemandangan di samping saya juga gak kalah indah” ucap pak Sena tiba-tiba.


“Hah? Siapa?” Tanyaku berlagak polos padahal di dada ku sudah bergemuruh tak karuan mendengar pernyataan pak Sena yang tiba-tiba itu.


“Kamu” jawabnya singkat.


“Oh jadi maksud bapak muka saya ijo?!” Ucapku spontan, alih-alih aku menjawab dengan malu-malu, aku malah menjawab dengan tidak jelas.


“Ijo? Maksudnya?” Tanya pak Sena tak mengerti.


“Bapak nyamain saya dengan daun teh?” Tanyaku konyol.


“Serah kamu deh Airin, saya pusing ngomong sama kamu. Bolot banget” ucap Pak Sena jengah.


“Dihhh ngatain orang bolot” ucapku kesal


Ya sebenarnya aku paham, tapi aku sangat malu mendengarnya. Biarlah aku pura-pura bodoh di hadapannya.

__ADS_1


***


__ADS_2