Kisah Sempurna Airin

Kisah Sempurna Airin
Bab 18


__ADS_3

POV Sena


Hari ini aku pergi ke kantor seperti biasa, namun yang tak biasa adalah suasana hati ku, rasanya begitu hampa dan kosong.


Aku bertemu dengan Airin, dia bersikap seperti biasa sama seperti kemarin-kemarin tanpa ada rasa canggung sedikitpun, namun berbeda denganku. aku terkesan lebih dingin dari biasanya, aku melakukan itu tujuannya agar dia tidak merasa canggung ketika bertemu denganku dan merasa aku sama seperti biasanya.


Dia seharian di ruang kerjanya, aku memang sengaja tidak menyuruhnya melakukan apa - apa seharian ini, biarlah dia ku beri keringanan agar dia bisa sedikit relax.


Aku juga memutuskan untuk makan siang bersama Rey saja, aku membebaskan dia makan sendiri di luar, aku tau pasti rasanya akan begitu canggung jika kami harus makan satu meja berdua.


Namun, apa yang ku lihat barusan?


Dia makan bersama laki-laki lain? Siapa dia, apakah teman Airin ? atau karyawan sini? Jujur aku sangat kesal melihat keakraban dia bersama laki-laki itu, mereka mengobrol seperti tidak ada beban sama sekali, berbeda sekali jika sedang bersamaku.


“Siapa dia?” Aku bertanya pada Rey saat kami sedang melewati area kantin kantor. Dari kejauhan aku berdiri dengan raut muka datar menghadap ke mereka.


Rey terlihat memicingkan matanya untuk memperjelas penglihatannya, “oh itu si Dehan, HRD Manager. Anda tidak mengingatnya?” Ucap Rey, kami memang akan berbicara formal jika sedang di kantor.


“Tidak” ucapku singkat lalu langsung berlalu pergi meninggalkan tempat itu.


Aku sangat gusar melihat keakraban Airin dan pria itu, aku sedang memberinya ruang agar pikirannya sedikit lebih tenang, bukan menyuruhnya untuk dekat dengan pria lain.


“Lo kenapa bro? Cemburu?” Tanya Rey saat tiba di ruanganku.


“Enggak” jawabku singkat.


“Udah jujur aja, keliatan dari muka lo”


“Aku memberi dia ruang agar dapat berpikir jernih untuk memikirkan pernyataan ku tempo hari, bukan malah dekat dengan pria lain” ucapku kesal.


“Lo jangan berpikir negatif dulu Sen, siapa tau mereka cuma temenan doang” ujar Rey menenangkan.


“Teman tapi kayak nya deket banget” ucapku ketus.


“Itu artinya lo harus lebih gercep lagi buat deketin dia” Rey benar, aku harus lebih bisa mengambil hatinya sebelum keduluan oleh orang lain.


*


Hujan turun begitu derasnya membasahi bumi, aku hanya duduk termenung di depan jendela ruanganku, pikiranku melayang kesana kemari memikirkan hal-hal yang terjadi padaku akhir-akhir ini.


Tante Karina tidak ada hentinya menghubungiku melalui sambungan ponsel, dia setiap hari selalu menanyakan perihal kabarku dan kapan aku akan berkunjung ke rumahnya. Aku bingung bagaimana aku harus merespon ajakan tante Karina, aku takut semakin aku dekat dengannya maka akan semakin sakit hati jika mereka tau yang sebenarnya.

__ADS_1


Aku bingung apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya kepada mereka atau aku terus mengikuti rencana konyol pak Sena sampai dia sendiri yang menghentikannya.


Lamunanku buyar ketika pintu ruanganku tiba-tiba di buka “Airin” aku terlonjak kaget ketika pak Sena masuk dan ikut duduk di sofa ruanganku.


“Eh pak ada apa? Ada yang bisa saya bantu?” Tanya ku merasa tidak enak karena sedari tadi aku hanya duduk diam di ruanganku.


“Tidak ada, aku hanya ingin mengobrol denganmu” ujar pak Sena.


‘Hem.. kenapa dia tiba-tiba jadi sok lembut gini ya, bukannya tadi dia cuek banget’ aku bergumam dalam hati tak mengerti dengan jalan pikiran pak Sena.


“Bapak kenapa, Lagi ada masalah ya?” Aku penasaran apa yang membuat sikapnya cepat sekali berubah.


“Tidak ada, kamu makan dimana tadi? Maaf tadi saya sedang ada urusan dengan Rey, jadi kami sekalian makan siang bersama” ujar pak Sena.


“Tidak apa-apa kok pak, tadi saya makan di kantin kantor biar lebih deket” jawabku jujur.


“Dengan siapa?”


Aku memicingkan mataku, kenapa dia kepo sekali aku makan sama siapa, apakah dia harus tau semua kegiatanku, sedang apa dan bersama siapa.


“Eee tadinya sendiri, tapi setelah itu ada Dehan ikut duduk bersamaku karena tidak ada lagi bangku kosong” aku menjelaskan secara jujur apa adanya.


“Siapa? Dehan?”


“Iya” jawabnya singkat.


“Enggak kok pak, kami baru saja berkenalan tadi saat di kantin, dia orangnya cukup seru jadi aku bisa cepat akrab dengannya” ujarku.


“Apakah saya tidak cukup seru, sehingga kamu tidak cepat akrab dengan saya?” Ucap pak Sena.


WHAT!! Apaan sih maksudnya, apa dia mau aku sok akrab dengannya? Ga jelas banget deh.


“Hah? Maksudnya gimana pak, kan bapak atasan saya, jadi sudah seharusnya saya bersikap lebih sopan kepada bapak” balasku, agak aneh jika aku sok akrab dengannya sedangkan dia adalah bos ku, tidak sopan sekali.


Pak Sena menggeleng “lupakan saja”. Keadaan hening sejenak, tidak ada satupun dari kami berdua yang membuka obrolan, sampai setelah sesaat pak Sena melirik ke jam tangan mahal di pergelangan tangan nya “lihat jadwalku sore ini, apakah ada yang bisa di geser untuk besok” perintah pak Sena.


Aku lekas bergegas mengambil Ipad ku di meja dan membuka list jadwal pak Sena, mataku meneliti setiap huruf yang tertulis disana, jariku sibuk meng-scroll layar Ipad tersebut.


“Satu jam kedepan pukul 3 bapak ada jadwal pertemuan dengan karyawan divisi keuangan untuk mengevaluasi kinerja mereka bulan ini” jelasku setelah menemukan jadwal terakhir pak Sena untuk hari ini.


“Batalkan saja dan ganti besok” perintah pak Sena.

__ADS_1


“Tapi pak..” ucapanku terhenti ketika pak Sena menyela perkataanku.


“Kita pergi sekarang”


“Tapi kita mau kemana pak” ucapku bingung, pak Sena membatalkan pertemuan dan malah mengajakku pergi entah kemana.


“Saya sedikit pusing, saya butuh hiburan” aku mengerutkan dahi mendengar kata ambigu pak Sena, hiburan?


Sepertinya pak Sena paham dengan raut muka bingungku “Untuk hari ini kita jalan-jalan saja, tunjukkan tempat bagus yang menurutmu bisa membuat pikiran tenang” pinta pak Sena padaku.


Tempat yang bisa buat pikiran tenang? Dimana ya. Aku saja terhitung jarang sekali keluar rumah, aku akan jalan-jalan jika orang tua ku mengajakku liburan akhir semester, selebihnya aku hanya menghabiskan waktu ku di rumah.


“Saya ga tau pak, saya anak rumahan jadi ga tau tempat-tempat begituan. Yang saya tau kalo mau nenangin pikiran ya ke masjid terus sholat” ujarku, aku memang buta jalan, tidak tau seluk beluk kota kelahiranku sendiri.


“Kampungan sekali kamu, tempat jalan-jalan saja tidak tau” pak Sena mengejekku. Ish… tidak sadar diri sekali pria ini, apa dia lupa kalau barusan dia juga bertanya padaku tempat bagus untuk jalan-jalan.


“Lah bapak sendiri aja masih nanya sama saya kan, berarti bapak juga kampungan dong” balasku tidak terima.


“Ya karena saya sibuk bekerja, jadi saya tidak ada waktu untuk jalan-jalan” tukasnya.


“Serah deh pak”


“Yasudah kita ke bioskop saja, tidak jadi jalan-jalan nya, nanti nyasar” ujar pak Sena seraya berlalu menuju ruangannya.


‘Ihhhh nyebelin banget sih jadi orang, gue gibeng juga lu’ umpatku dalam hati.


Siang menuju sore itu langit yang tadinya gelap dan berair kini sudah berubah menjadi agak lebih cerah. Kami membelah jalanan basah bekas hujan dengan pelan, “kita mau nonton apaan pak?” Tanyaku membuka percakpan.


“Terserah kamu” ucapnya singkat


“Kok terserah saya, kan bapak yang ngajak nonton”


“Lihat nanti saja ada film apa”


“Tapi jangan nonton film horor ya pak, saya takut” jangankan nonton film horor, gorden ketiup angin aja aku udah teriak.


“Hemm” pak Sena hanya menjawab dengan dehaman.


***


Berkomentarlah sengan kata-kata positif❤️

__ADS_1


__ADS_2