Kisah Sempurna Airin

Kisah Sempurna Airin
Bab 8


__ADS_3

Tak seberapa lama, pak Sena memarkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah mewah di kawasan elit Ibukota. Aku segera keluar dari mobil dan berjalan mengikuti pak Sena.


Mataku terus memperhatikan rumah mewah ini, indah sekali pikirku.


‘Buset dah, ini mah ukuran rumahnya 10x lipat dari rumah gue’ batinku.


“Tutup mulutmu, nanti lalat masuk” pak Sena mengingatkan.


Aku cemberut mendengar perkataan pak Sena, “ish… nyebelin”.


“Ayo” ajak pak Sena masuk ke dalam rumahnya.


Ketika masuk ke dalam sudah berbaris beberapa maid yang memakai baju berwarna hitam putih seperti yang ada di TV. Semuanya merunduk ketika kami lewat di tengah-tengah mereka.


Ada satu maid berpakaian berbeda dari yang lainnya datang menyambut kami, “silahkan tuan muda, tuan dan nyonya besar sudah menunggu di ruang utama” ucap maid tersebut pada pak Sena.


Pak Sena hanya mengangguk dan mengikuti kemana maid itu membawa kami. Setelah sampai di sebuah ruangan besar yang begitu indah, terlihat sepasan suami istri yang terlihat masih sangat muda dan bugar.


Karina Pranata, aku tidak menyangka bahwa aku bisa bertemu langsung dengan sosok wanita panutan semua orang yang sering muncul di Televisi. Parasnya begitu cantik, tatapannya teduh dan senyumnya sangat menawan.


“Sena jadi ini pacar kamu?” tunjuk tuan Arseno pada ku. Aku tau tuan Arseno ini adalah raja pengusaha yang ada di negeri ini, namanya begitu tersohor hingga ke mancanegara, jujur nyaliku sedikit ciut ketika di hadapkan dengan mereka. Aku sedikit menyesal menerima tawaran pak Sena.


Pak Sena mengangguk mengiyakan. Melihat aku hanya tertegun pak Sena menyenggol lenganku, sontak aku segera tersadar dan segera menyalami kedua orang tuanya.


Aku tersenyum ramah, “assalamualaikum tuan nyonya, perkenalkan nama saya Airin, saya pacarnya pak Sen- eh maksudnya pacarnya Sena” ucapku sampai salah salah karena sangking gugupnya.


Nyonya Karina tersenyum geli melihatku, “kamu jangan panggil tuan dan nyonya dong, panggil om dan tante saja biar lebih akrab, atau langsung panggil mama papa juga boleh” Guraunya.


“I-iya tante” ucapku yang masih dalam mode gugup.


“Kamu cantik sekali Airin” puji tante Karina.


“Terimakasih tante, tapi menurutku tante lebih cantik karena dari aku kecil hingga sekarang wajah tante tidak berubah sama sekali” jawabku jujur, karena memang wajahnya seperti awet muda.

__ADS_1


“Ah kamu bisa aja” jawab tante Karina malu-malu.


“Sudah berapa lama kamu berpacaran dengan anak saya?” Tanya Om Arsen, aku gelagapan mendengar pertanyaan itu, karena sebelumnya pak Sena tidak mem briefing ku terlebih dahulu untuk pertanyaan ini.


“Eh emm..” ucapku terbata-bata.


“Sudah 6 bulan pa” ucap pak Sena menyela.


“Emm sudah lumayan lama ternyata” ucap om Arsen sembari menganggukan kepala nya.


“Kenapa kamu bisa suka dengan anak saya? Bahkan wajahnya saja selalu datar tidak ada ekspresi dan cenderung ketus kalau berbicara” ucapan om Arsen 100% benar, tidak ada yang tahan berada di dekat pak Sena. Tapi sekarang masalahnya aku harus jawab apa.


‘Ya allah gue harus jawab apaan, siapa juga yang suka sama anak om, ngajak dia ngobrol aja berasa kaya ngajak ngobrol batu’ gumam ku dalam hati, aku bingung harus menjawab apa.


“Emm…” aku menoleh dengan pak Sena berharap dia mau membantuku, namun harapanku sia-sia, dia sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk membantuku.


‘Pak Sena sialan, kenapa diem aja sih bukannya bantuin gue. Bisa-bisanya gue mau terjebak di suasana awkward gini, duh gimana dong. Ahh Bodo amat dehh gue jawab sesuai versi gue aja’


“kita semua tau bagaimana dinginnya sifat Sena, bahkan saat dia berbicara dengan orang lainpun cenderung kasar dan menyakitkan hati, tapi tidak semua dari kita mengetahui bahwa ada sisi baik dan hangat dari diri Sena om, tante.” Aku mulai menjelaskan apa yang ada di kepalaku kepada mereka.


“Pertama kali saya mengenal Sena memang tidak mendapatkan kesan yang baik, namun seiring berjalannya waktu aku menemukan Sena yang hangat dibalik itu semua, dia yang mengerti bagaimana cara menghiburku saat aku sedang merasa terpuruk, dia yang tau apa yang terbaik untukku dan dia yang selalu memiliki cara agar aku bahagia.” Semua diam mendengarkan penjelasan panjangku termasuk pak Sena.


“Terkadang kita tidak boleh hanya menilai seseorang dari sikap buruknya saja, kita juga harus tau apa yang sedang dia rasakan dan apa yang sedang dia alami sehingga dia bersikap tak tersentuh seperti itu. Om tante, saya yakin Sena adalah laki-laki yang baik terlepas dari sikap dinginnya itu dan saya mencintai anak om dan tante” aku mengakhiri penjelasan panjangku itu.


Aku menoleh ke arah pak Sena, dia tertegun mendengar perkataanku. Entahlah apa yang ada di pikirannya setelah aku mengatakan hal yang membuat perutku mual, iya aku mual mendengar mulutku sendiri mengatakan bahwa Pak Sena adalah orang yang baik dan aku mencintainya.


Om Arsen tersenyum mendengar penjelasanku, “luar biasa, tidak pernah sebelumnya aku bertemu seorang perempuan yang memuji anakku dengan begitu tulus. Perempuan yang aku pertemukan dengan Sena semuanya mengeluh dan tidak tahan akan sifatnya, tapi kamu bisa melihat sisi lain dari anakku” ucap om Arsen.


“Om yakin kamu orangnya Airin” lanjut om Arsen.


Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan om Arsen.


“Sen, kamu pinter milih calon istri” seketika aku menoleh ketika tante Karina mengatakan hal itu, “calon istri?” Tanyaku.

__ADS_1


“Iyaa, Sena berjanji malam ini akan mengenalkan calon istri pilihannya sendiri pada kami” ucap Tante Karina.


Bahuku merosot mendengarnya, ‘apa-apaan ini, kan perjanjiannya jadi pacar boongan doang, kok jadi bawa-bawa calon istri’


Aku menoleh pada pak Sena, bahkan dia hanya duduk santai mendengarkan interaksi kami bertiga.


“Jadi kapan Sen?” Tanya om Arsen.


“Nanti Sena atur dulu pa” jawab pak Sena seadanya.


“Kalau bisa jangan terlalu lama menikahnya, kami sudah merestui kalian, lagi pula kami mau secepatnya mengendong cucu.” Ucap om Arsen.


“Me-menikah om?” Tanyaku terputus-putus.


“Iya, menikah. Om dan tante sudah sangat lama menantikan momen ini, namun Sena tak kunjung memperkenalkan calon istrinya pada kami. Nah sekarang dia sudah membawa kamu kemari, mau menunggu apalagi ?” Ucap om Arsen, aku semakin kalang kabut di buatnya.


Tidak tidak, perjanjiannya bukan begini, “em.. apa tidak terlalu terburu-buru om? Saya dan Sena juga baru bersama selama 6 bulan” ucapku berusaha menghentikan semua ini.


“Ahh kalau sudah saling cinta mau tunggu apa lagi Rin” sela tante Karina, “tante juga mau seperti teman-teman tante yang sudah memiliki cucu, biar bisa di ajak ke mall sama-sama” lanjutnya lagi.


Aku gusar, apa yang harus aku lakukan, ini namanya aku di jebak, pak Sena brengsek!


Pak sena seketika berdiri dan menarik pergelangan tanganku, “Ma Pa, sepertinya pertemuan malam ini cukup sampai disini, Sena butuh waktu berdua dengan Airin, kami permisi” pamit pak Sena ketika dia melihat wajah pucatku, sepertinya dia menyadari kegelisahanku ini.


“Iya iya silahkan, secepatnya kabari kami ya” ucap Om Arsen,


Aku terlebih dahulu menyalami om Arsen dan Tante Karina, “om tante Airin pamit dulu ya, assaalamualaikum” ucapku.


“Waalaikumsalam” jawab mereka serempak.


***


Berkomentarlah dengan kata-kata positif❤️

__ADS_1


__ADS_2