
"Wah kebetulan mama baru keluar" gumam Rania.
Rania langsung mengendap-endap masuk kedalam rumah, tiba-tiba dia melihat sesok pria yang sedang duduk didepan TV.
"Nyonya Rania" ucap bibi Inayah.
"Usstt.." ucap Rania sambil memberikan tanda jangan berisik.
"Nyonya ada apa kesini? Aduh kalau Doro tahu habislah aku" ucap bibi Inayah.
"Bi saya tidak mengganggu bi, saya hanya ingin bertemu Januar. Sebentar saja bi, aku sangat merindukan dia" ucap Rania sambil memohon.
"Tapi nyonya, Doro lagi tidak ada dirumah. Lebih baik nyonya besok kembali lagi" ucap bibi Inayah.
"Bi aku mohon, aku tahu mama sedang pergi barusan. Makanya saya kesini, supaya aman. Aku mohon bi, masa bibi tega melihat aku tidak boleh bertemu dengan Januar?" tanya Rania.
"Baiklah tapi sebentar saja ya nyonya, soalnya saya takut Doro keburu pulang" ucap bibi Inayah.
Rania dan bibi Inayah masuk ke kamar Januar, disana dia melihat wajah anaknya yang sangat mirip dengan ayahnya. Kemudian Rania mengelus wajah Januar. "Sayang seandainya saja ayahmu masih ada, mungkin kita tidak akan terpisah seperti ini" gumam Rania.
Kemudian Rania teringat akan sosok seorang pria didepan TV tadi.
"Bi tadi aku sempat melihat ada seorang pria didepan TV itu siapa?" tanya Rania.
__ADS_1
"Ohh... I... itu... Suaminya doro nyonya" ucap bibi Inayah.
"Suaminya mama, masa sih bi. Bukannya suaminya mama sudah lama menghilang bersama anak-anaknya ketika mas yoga marah dengan mereka" ucap Rania.
"Saya tidak tahu nyonya soal itu, tapi itu benar suaminya nyonya" ucap bibi Inayah.
"Maafkan saya nyonya, saya terpaksa berbohong. Karena doro dan nyonya Rahel yang menyuruh untuk menyembunyikan tuan yoga" gumam bibi Inayah.
"Apa iya itu suaminya mama? Dari belakang seperti mas yoga" gumam Rania.
Tin... Tin... Bunyi klakson mobil mama mertuanya datang.
"Aduh nyonya, doro sudah pulang. Bagaimana ini?" ucap bibi Inayah.
"Lama sekali buka pintunya bi?" tanya Rahel.
"Maaf nyonya saya lagi tidurin Aden januar" ucap bibi Inayah.
"Jadi Januar sudah tidur? Baguslah kalau begitu" ucap Rahel.
"Sayang..." ucap Rahel.
"Rahel yoga, mama kekamar dulu. Mama capek sekali" ucap mama yoga.
__ADS_1
"Sayang... Aku panggil diam saja" ucap Rahel.
"Emmm..." ucap yoga.
"Ihh.. cuma emmm.. saja. Kamu tidak merindukanku?" tanya Rahel sambil memeluk yoga.
"Maaf Rahel, aku ngantuk. Aku tidur duluan" ucap yoga.
Namun ketika yoga akan berdiri, dia ditarik oleh Rahel dan tubuhnya hampir menindih tubuh Rahel. Rania yang tidak sengaja melihat dari jendela. "I.. itu... bukannya mas yoga? Kenapa dia bersama Rahel? Jangan-jangan..." gumam Rania.
"Tapi tidak mungkin, mas yoga mencintaiku. Tapi dulu dia pernah menyebut Rahel dalam tidurnya" gumam Rania.
"Nyonya lihat apa? Kenapa tidak pulang, nanti ketahuan doro bagaimana?" tanya bibi Inayah.
"Iya Bi, aku pulang ya. Bibi aku minta tolong, jaga Januar baik-baik. Kapan-kapan aku akan kesini lagi" ucap Rania.
Disepanjang perjalanan Rania terus berkeming dalam hatinya, dia merasa tidak percaya tentang apa yang dia lihat tadi. Namun Rania juga tidak bisa berbuat banyak, dia takut jika mama mertuanya mengetahui bahwa dirinya menemui Januar secara diam-diam.
Sesampainya dirumah bayangan itu selalu ada dalam ingatnya. "Aku penasaran sekali, apa benar itu mas yoga? Aku hanya selidiki apa yang terjadi" gumam Rania.
"Sayang kamu kenapa lagi? Bukankah tadi sudah bertemu dengan Januar? Januar baik-baik saja kan?" tanya mama Rania.
"Aku tidak apa-apa ma, Januar juga baik-baik saja. Aku kekamar dulu ma" ucap Rania.
__ADS_1
"Maafkan aku ma, aku tidak ingin mama jadi kepikiran jika tahu ada orang yang mirip mas yoga" gumam Rania yang menghentikan langkahnya sambil melihat mamanya.