
Assalamu'alaikum...
Maaf ya untuk semuanya, saya baru bisa up sekarang karena saya dilanda sakit 3hari. Semoga kalian tetap setia menunggu up novel ini hingga hari ini. Terima kasih...
Rania kini semakin sulit untuk bertemu dengan yoga dan Januar, karena Rahel terus menerus mendampingi yoga bahkan dia jarang sekali menjenguk Rara. Hingga suatu hari Rara mendadak kejang-kejang yang hebat dan dia tidak sadarkan diri.
Kring.. Kring..
"Halo nyonya, non rara kambuh, sekarang non rara tidak sadarkan diri" ucap bibi inah.
"Kalau memang dia tidak sadarkan diri terus kamu telpon saya untuk apa? Memangnya saya ini dokter?" ucap Rahel dengan nada keras.
"Tetapi nyonya, tadi saya sudah telpon dokter tapi dokter Winky sedang keluar kota nyonya" ucap bibi inah.
"Iya sudah kami bawa saja kerumah sakit, begitu saja ribet" ucap Rahel.
Begitulah Rahel sangat membenci anaknya Rara, karena semua harapannya pupus ketika menikah dengan ayahnya Rara.
Rania sungguh tidak bisa berbuat apapun, karena tujuannya ingin membuat suaminya ingat padanya saja untuk sangat sulit sekali.
Kring.. Kring...
"Halo nyonya Rania.." ucap bibi Inayah.
"Iya bi, ada apa?" tanya Rania.
"Aden Januar sakit nyonya, dirumah tidak ada siapa-siapa. Doro dan nyonya Rahel sedang shopping di mall" ucap bibi Inayah.
"Apa? Bisa-bisanya shopping, padahal Januar sedang sakit. Iya sudah bi, saya akan kesana tunggu sebentar. Saya minta ijin dulu sama bos" ucap Rania.
Setelah Rania mendapatkan ijin dari Sarif dan putri, dia langsung menuju ke rumah yoga. Sekitar 30 menit Rania sampai.
Tingtong... Tingtong...
__ADS_1
"Nyonya, silakan masuk" ucap Rania.
"Tuan yoga mana bi? Dia tau tidak kalau Januar sakit?" tanya Rania.
"Tuan yoga dari tadi ada dikamar Januar, nyonya. Beliau juga bingung harus bagaimana" ucap bibi Inayah.
"BI siapkan air untuk kompres Januar, sama minum air putih ya" ucap Rania.
"Permisi tuan" ucap Rania
"Kamu?" tanya yoga.
"Iya tuan, tadi bibi Inayah telpon saya, kasih tahu kalau Januar sakit" ucap Rania.
"Kenapa kamu perhatian sekali dengan januar?" tanya yoga.
"Dia anak saya tuan, maksudnya dia sudah saya anggap sebagai anak sendiri" ucap Rania.
"Terima kasih" ucap yoga.
"Kenapa Januar begitu tenang bersamanya, bukankah Rahel adalah ibunya. Tetapi kenapa Rahel tidak sedikitpun perhatian dengan Januar" gumam yoga.
"Ini air dan kompresannya" ucap bibi Inayah.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya yoga.
"Tidak ada tuan, terima kasih" ucap Rania.
Yoga keluar dari kamar Januar, begitu juga dengan bibi Inayah. Setelah beberapa jam berlalu, yoga merasa penasaran karena Rania tidak keluar dari kamar Januar.
Yoga mengintip dari balik pintu dan melihat Rania sedang tidur disamping sang buah hatinya. Yoga pun berusaha membangunkan Rania untuk makan siang bersama.
"Mbak.. Mbak... Bangun..." ucap yoga.
__ADS_1
"Iya tuan ada apa?" tanya Rania.
"Kamu tidak makan siang dulu? Ayo temani saya makan siang" ucap yoga.
"Tapi..." ucap Rania.
"Sudah ayo temani saya makan kalau kamu tidak menolak berarti kamu tidak perlu lagi kemari untuk Januar" ucap yoga sedikit mengancam Rania.
"Baiklah tuan" ucap Rania.
Setelah selesai makan, Rania kembali ke kamar Januar untuk mengecek suhu badan Januar. Rania dan yoga lega karena suhu badan Januar sudah berangsur membaik, Rani menyadari bahwa hari semakin senja dan itu artinya dia harus pergi.
Rania langsung berpamitan dengan yoga, selepas 15 menit Rahel dan mamanya datang dari mall dengan membawa belanja yang sangat amat banyak.
Begitu Rahel masuk ke dalam kamar, yoga mengikutinya dan menutup pintu kamarnya Rahel. Rahel sangat amat bahagia karena ini pertama kalinya yoga menutup pintu kamar Rahel.
"Astaga apa dia sangat merindukanku, kenapa dia menutup pintunya" gumam Rahel.
Yoga yang terus memojokkan Rahel disudut kamar, Rahel pun tidak bergerak sedikitpun. Karena memang inilah yang Rahel harapkan, dia ingin mempunyai seorang anak dari yoga.
Lagi-lagi yoga memandang mata Rahel tapi bukan tatapan cinta melainkan tatapan penuh amarah, setelah yoga berusaha menahan amarahnya.
Brruugghhh..
"Kamu dari mana saja hah?" tanya yoga sambil meluapkan amarah.
"Kamu kenapa sayang? Kok marah sama aku sayang?" tanya Rahel.
"Tidak perlu kamu panggil sayang-sayang. Jawab habis darimana? Kamu tahu kan Januar sedang sakit, tapi kenapa kamu malah shopping bersama mama. Dimana hati kamu sebagai ibunya?" tanya yoga.
"Sayang aku pergi menemani mama kamu, lagian dirumah kan sudah ada bibi yang jaga Januar" ucap Rahel.
"Kamu pikir dengan ada bibi, terus kamu lepas tanggungjawab sebagai ibu? Dasar wanita tidak punya perasaan, untung saja tadi ada temannya bibi yang sangat menyayangi Januar. Jadi Januar sudah sedikit baik" ucap yoga yang melangkah keluar dengan membuka pintu kamar serta membantingnya dengan kuat. Drrrrooo..
__ADS_1
Dear pembaca novel, bila kalian sudah membaca novel ini. Tapi lebih baik kalian membaca juga novel KKJ yang pertama, share dan like ya.. Jangan lupa komen dan votenya. Dukungan, saran, dan kritik kalian sangat berarti untuk saya pribadi. Terima kasih..