
Sudah beberapa bulan sejak kejadian naas yang menimpa yoga, Rania dan keluarga tinggal dirumah orangtua Rania. Dan karena kebaikan hati sahabatnya putri, Rania diberikan pekerjaan dikantornya.
Setelah kepergiaan yoga, mama mertua menarik semuanya termasuk Rania tidak diijinkan untuk masuk ke kantor yoga. Kehidupan Rania kini menjadi seperti dulu, menjadi seorang janda. Yang lebih menyakitkan bahwa Rania dilarang untuk menjenguk anaknya yang bernama Januar.
"Sayang bunda rindu kamu nak" ucap Rania sambil meneteskan air matanya dan memandangi foto keluarga kecilnya.
"Sayang kamu kenapa belum tidur?" tanya mama Rania.
"Rania rindu dengan Januar ma, Rania sudah lama tidak bertemu dengan Januar. Hiks... Hiks..." ucap Rania.
"Sabar nak... Sabar.... Insya Allah semuanya kan kembali seperti dulu" ucap mama Rania.
"Tapi Rania merindukan Januar ma" ucap Rania.
"Kenapa kamu tidak meminta bantuan dengan baby sisternya Januar?" tanya mama yoga.
"Tapi apa mungkin dia mau membantuku ma?" tanya Rania.
"Nak jika kamu bisa ambil hatinya, insya Allah dia akan mengijinkan kamu bertemu dengan Januar. Dia seorang wanita dan ibu sayang, pasti dia bisa merasa apa yang dirasakan olehmu" ucap mama Rania.
"Baiklah ma, besok sepulang kerja aku akan mencoba saran mama" ucap Rania.
__ADS_1
"Iya sayang, sekarang kamu tidur. Besok kamu kan harus bekerja" ucap mama Rania.
Mereka akhirnya tidur, dan mereka tidur dengan sangat pulas. Rania benar-benar ingin bertemu dengan anaknya itu. Hati mana seorang ibu mana yang bisa menahan kerinduan terhadap seorang anak, mungkin jika seorang ayah bisa melawan rasa rindu itu namun berbeda dengan seorang ibu.
Pagi-pagi Rania seperti biasa menyiapkan sarapan untuk keluarga, setelah sarapan mereka berbagi tugas satu sama lain. Rania pergi ke kantor, mama Rania beres-beres rumah serta papa Rania mengantar cucu-cucunya ke sekolah.
"Are you ok?" tanya putri.
"Ehh.. Put maaf.. Maaf... Aku melamun" ucap Rania.
"Iya oke ran, kamu itu kan sahabatku. Tapi aku perhatikan kamu melamun dari tadi ada apa?" tanya putri.
"Biasa put, aku merindukan Januar" ucap Rania.
"Tidak put.." ucap Rania yang melemah dan menundukkan kepalanya.
"Dasar ya nenek tua, tega banget menghalangi menantunya untuk bertemu dengan anaknya" ucap putri.
"Sudah put, nanti aku akan coba mendekati baby sisternya januar. Semoga saja dia bisa mengerti aku" ucap Rania.
"Apa yang bisa aku bantu ran?" tanya putri.
__ADS_1
"Kamu bantu aku dengan kamu menjaga anak dalam kandunganmu dan suamimu put" ucap Rania sambil tersenyum.
"Aahh.. Kamu itu, kalau itu mah sudah pasti ran. Karena anak ini adalah yang aku inginkan sejak lama, terima kasih ya sudah mengingatkanku" ucap putri.
"Iya put, sama-sama" ucap Rania.
Putri akhirnya melanjutkan pekerjaannya untuk meeting dengan client dan ditemani oleh suaminya.
Sementara Rania yang menjalani pekerjaannya sebagai asisten manajer, dan manajer yang sekarang adalah seorang pria yang usianya dibawah dengan Rania. Tapi dia sangat dewasa, tegas, cerdas, dan tampan.
Sepulang kerja Rania langsung bergegas untuk mencari kendaraan umum, tapi tiba-tiba. Tin.. Tin... suara klakson mobil berbunyi.
"Halo ibu Rania, ibu Rania sedang mencari angkutan umum?" tanya Sarif yang telah turun dari mobilnya dan menghampiri Rania.
Sarif adalah manajer perusahaan putri sekaligus adalah atasan Rania.
"Iya pak" ucap Rania.
"Kalau begitu bareng dengan saya saja, kebetulan rumah ibu searah dengan saya" ucap Sarif
"Tidak pak, tapi saya tidak pulang kerumah. Saya ingin kerumah mantan mertua saya" ucap Rania.
__ADS_1
"Kalau begitu biar saya antar" ucap Sarif.
"Tidak pak, arahnya berlawanan. Kalau begitu saya dulu pak, permisi" ucap Rania yang melihat angkutan umum lewat dan langsung menaiki angkutan tersebut.