
"Kamu kenapa ada disini? Mau ngapain?" tanya Desi.
"Aku ingin jenguk Rania, boleh kan?" tanya yoga.
"Apa kamu bilang jenguk rania? Mas yoga masih ingin jenguk Rania, setelah mas hamil perempuan pelakor yang tidak tahu diri itu?" tanya Desi.
"Maksud kamu pelakor? Siapa?" tanya yoga.
"Iya siapa lagi kalau bukan Rahel, dia itu sudah merebut suami orang. Dia sudah merebut kamu dari Rania" ucap Desi.
"Maaf bukannya Rania itu sudah jadi mantan aku?" tanya yoga dengan heran.
"Mantan mas bilang? Tega sekali mas bicara seperti itu? Sejak kapan kalian resmi cerai, sejak kapan?" tanya Desi dengan sangat marah.
Tiba-tiba...
"Ayah... Ayah yoga kan?" tanya Arif dan Kamila.
"Kalian siapa? Maaf aku tidak kenal dengan kalian?" tanya yoga.
"Hiks... Hiks... Ayah jahat... Ayah tidak ingat dengan kita" ucap Kamila.
"Hiks.. Hiks... Ayah kenapa? Kenapa ayah lupa dengan kita?" ucap Arif.
Akhirnya Arif dan Kamila masuk kedalam ruangan dan mereka memeluk nenek dan kakeknya.
"Kamu Setega itukah dengan arif dan Kamila hah?" tanya Desi dengan mendorong yoga.
"Kamu benar-benar tidak punya hati mas, sekarang kamu pergi!" ucap Desi.
__ADS_1
"Desi cukup! Apa-apaan kamu bikin ribut dirumah sakit" ucap putri yang datang tiba-tiba.
"Kenapa aku harus diam put, kenapa?" tanya Desi.
"Cukup Des! Cukup! Mas yoga itu hilang ingatan, jadi kamu tidak seharusnya seperti itu" ucap putri.
"Apa?" tanya Desi.
"Mas yoga duduk dulu, kamu juga Desi ayo duduk" ucap putri.
"Des maaf sekali aku tidak memberitahukan soal ini kepada kamu, karena Rania yang memintanya. Namun malah keadaannya seperti ini. Yoga terkena amnesia sementara, dia tidak ingat semuanya. Jadi dia tidak tahu kalau Rania dan mas yoga masih sah suami istri" ucap putri.
"Mas apa yang kamu katakan itu benar?" tanya yoga.
"Iya mas, sebenarnya mamanya mas yoga memang sudah membuat surat cerai kematian dan hak asuh Januar jatuh pada mamanya mas. Namun semua itu bukankah tidak berarti apa-apa, karena mas yoga masih hidup" ucap putri.
"Sudah ya Des, ini bukan salah dia. Ini adalah takdir, kalau kamu menyalahkan dia, aku yakin bila Rania tahu akan marah kepada kita" ucap putri.
"Iya put, lalu bagaimana dengan anak dalam rahim Rahel?" tanya Desi.
"Maaf kalau hal itu yang membuat kalian marah denganku, sejujurnya aku masih ragu dengan janin itu. Karena seingatku, aku tidak pernah melakukan apapun dengan dia. Tapi kalian tenang saja, aku akan coba menyelediki ini" ucap yoga
"Kalau begitu, ijinkan kami membantu mas" ucap putri.
"Rania bangun, aku disini..." ucap yoga.
"Rania tolong bangun, aku ingin kembali kepadamu. Aku mohon sadarlah" ucap yoga.
"Eemm...." ucap Rania sambil perlahan membuka matanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah Rania..." ucap yoga.
Yoga langsung memanggil dokter, setelah dokter memeriksa Rania dan keluar dari ruangan Rania.
"Tuan tahu darimana namaku?" tanya Rania
"Dari sahabatmu, sahabatmu sudah memberitahukan semuanya. Maaf aku Rania, maafkan aku" ucap yoga.
"Sudahlah mas, aku sudah ikhlas. Tapi mas tolong jangan bersikap berlebihan, karena aku ingin menyelediki kenapa mertuaku begitu jahat kepadaku. Aku mohon selama kamu belum ingat semuanya, kita jaga jarak dulu" ucap Rania.
"Iya Rania, kamu benar. Aku juga harus menyelidiki soal kehamilan Rahel" ucap yoga.
"Apa mas? Rahel hamil?" tanya yoga.
"Iya Rania, sebelum aku kesini, dia melarangku dengan alasan dia sedang hamil. Makanya aku kesini secara diam-diam" ucap yoga.
"Apa mas sudah melakukannya dengan dia?" tanya Rania.
"Seingatanku tidak, tapi aku hanya ingin memastikannya saja. Maaf aku jika membuatmu kecewa" ucap yoga.
"Mas tatap mataku, jawab jujur! Apa mas melakukannya?" ucap Rania yang menatap mata yoga.
"Tidak Rania, seingatku aku tidak melakukan itu dengan dia" ucap yoga.
"Iya mas, aku percaya kepadamu" ucap Rania.
"Rania ini sudah hampir gelap, aku pamit dulu. Soalnya takut mama dan Rahel mencariku, oiya jika kamu sedang sendirian disini kabariku. Karena aku tidak ingin menemanimu saat ada orang, aku paham kan?" ucap yoga.
"Iya mas aku ngerti soal itu" ucap Rania.
__ADS_1