
Alarm ponsel Rania berbunyi, dia langsung menjalani tugasnya sebagai seorang ibu. Didapur ketika sedang memasak sarapan yaitu nasi goreng..
"Bun..." ucap Kamila.
"Bunda..." ucap Arif.
"Bunda! Bau gosok nih" ucap kamila.
"Ehh... Astaghfirullah... Ya gosong deh nasi goreng kalian" ucap Rania.
"Bunda masakin telur ceplok saja iya, maafin bunda" ucap Rania.
"Iya bunda tidak apa-apa" ucap Arif dan Kamila.
Disaat Rania, Arif dan Kamila sedang sarapan.
Tok... Tokk...
"Siapa pagi-pagi begini sudah datang?" gumam Rania.
"Sayang bunda tinggal dulu sebentar" ucap Rania.
"Eeemmm... Maaf pak cari siapa?" tanya Rania.
"Apakah ini benar rumah Bapak Yoga Prasetya?" ucap polisi.
"Iya pak, saya istrinya" ucap Rania.
"Apa ini barang-barang miliki suami anda?" tanya polisi.
__ADS_1
"Iya pak ini miliki suami saya, memangnya suami saya melakukan apa pak?" tanya Rania dengan tubuh sedikit lemas.
"Suami anda yang bernama Yoga Prasetya mengalami kecelakaan semalam, taksi yang dinaikinya jatuh kedalam jurang. Menurut supir taksi, mereka diserang oleh sekumpulan geng motor" ucap polisi.
"Lalu keadaan suami saya bagaimana pak? Hiks.. Hiks.." ucap Rania.
"Hingga kini suami anda belum diketemukan ibu, kami mencari suami anda" ucap polisi.
"A... Apa? Suami saya belum ketemu..." ucap Rania.
"M... mas.. yoga..." teriakkan Rania yang keras membuat Arif dan Kamila langsung berlari keluar rumah
"Bunda kenapa? Kenapa ada pak polisi bunda" ucap Arif.
"Bapak kesini ada apa?" tanya Kamila, tetapi pak polisi tidak menjawab satu patah katapun.
"Ayah? Ayah kenapa bunda?" tanya Arif dengan sedikit bingung
"Ayah kalian kecelakaan dan masuk jurang. Hiks... Hiks..." ucap Rania.
"Astaghfirullah... Ayah... Ayo bunda kita sekarang kerumah sakit" ucap Kamila.
"Ayah kalian masih belum ditemukan nak" ucap Rania.
"Hiks... Hiks... Ayah..." tangisan Arif dan kamila.
"Ibu apakah ingin mengunjungi lokasi kecelakaan itu?" tanya pak polisi.
"Iya pak, sebentar" ucap Rania.
__ADS_1
Rania, Arif, Kamila dan Januar pun pergi ke lokasi kecelakaan itu. Sungguh Rania tidak percaya karena keberatan hatinya untuk melepaskan suami tercinta pergi, ternyata ini jawabannya.
"Andai saja malam tadi, aku tetap tidak memberikan ijin. Mungkin mas yoga masih ada" ucap Rania.
Kedua orangtua Rania dan mama yoga turut hadir ke lokasi tersebut, namun disana mama yoga sangat-sangat emosional.
"Dasar wanita pembawa sial" ucap mama yoga.
"Kamu tidak puas-puasnya membuat anak saya susah" ucap mama yoga sambil menarik tangan Rania.
"Maaf ma, tapi kalau boleh jujur aku juga sedih ma" ucap Rania.
"Sedih? Kamu bilang sedih? Tidak salah?" ucap mama yoga.
"Bukannya kamu bahagia, suamimu meninggal? Terus kamu bisa menikah lagi dengan pria yang muda" ucap mama yoga.
"Cukup ma, aku tidak akan lakukan itu selama bukan mas yoga sendiri yang mengucapkan talak kepadaku" ucap Rania.
"Sudah jeng, ini namanya musibah. Musibah bisa menimpa siapapun dan tanpa diberitahukan" ucap mama Rania.
"Iya seharunya kita berikan kekuatan kepada Rania dan cucu-cucu kita" ucap ayah Rania.
"Apa? Cucu-cucu kita? Maaf itu cucu-cucu kalian bukan cucu-cucu saya, cucu saya hanya Januar" ucap mama yoga.
"Apa ma? Apa maksud mama bicara begitu?" tanya Rania sambil menangis
"Sudah... Sudah.... Sayang lebih baik kita fokus untuk mencari yoga" ucap mama Rania.
"Iya ma pa" ucap Rania.
__ADS_1