
Rara kini sudah tidak ada lagi yang bisa diajak bicara, karena satu-satunya orang yang sudah dianggap sebagai ibunya telah kembali ke keluarga. Rara merasa sangat sedih, kesedihan Rara juga dirasakan oleh Winky dan bibi inah.
"Dok kasian ya non rara, baru saja dia merasakan kasih sayang seorang ibu kini sudah harus kehilangan lagi" ucap bibi inah.
"Sudah bi, sebaiknya kita hibur dia. Jangan biarkan dia seperti ini kasian dia bi" ucap Winky.
Kring... Kring...
"Halo ran" ucap Winky.
"Halo juga dokter Winky, ada apa dok?" tanya Rania.
"Ran aku mohon sama kamu, kalau ada waktu tolong kamu jengukin Rara di rumah sakit supaya dia semangat lagi" ucap Winky.
"Maaf dok, akhir-akhir ini saya sdgbuk di kantor. Kalau begitu nanti saya jenguk Rara dirumah sakit" ucap Rania.
Setelah Rania berbicara tentang Winky mengenai Rara, akhirnya Rania mempertimbangkan semuanya.
Hari ini Rania mengunjungi Rara bersama Arif dan Kamila.
"Halo cantik" ucap Rania.
"Ha... Low... Tan.. te" ucap Rara.
"Cantik ini kenalin anak-anak Tante, ini Arif dan yang ini Kamila.
"Hai kak" ucap Arif dan Kamila.
Sejak saat itulah hubungan rania, Arif dan Kamila semakin dekat, bahkan Rara sekarang merasakan punya keluarga yang utuh. Setelah beberapa Minggu dokter Winky mengatakan bahwa Rara sudah mulai membaik, bahkan penyakit berangsur sembuh.
__ADS_1
Setelah Rara menjalankan masa pemulihan, akhirnya Rara diperbolehkan pulang kerumah. Berita baik ini akhirnya terdengar hingga ke telinga Rahel dan itulah yang membuat Rahel akhirnya kembali kerumah.
"Sayang..." ucap Rahel sambil memeluk Rara
"Maaf mami kenapa kekamar aku" ucap Rara yang sudah kembali normal.
"Sayang apa itu kamu? Kamu sudah tidak gagu?" tanya Rahel.
"Kenapa mami kaget? Kenapa setelah aku normal, mami panggil aku sayang. Kenapa tidak dari dulu?" tanya Rara.
"Sayang, mami memang sayang sama kamu" ucap Rahel.
"Cukup mami! Cukup! Mami hanya sibuk dengan urusan mami, mami tidak pernah perduli dengan aku. Mami dimana saat aku butuh mami, dimana mami? Dimana?" tanya Rara dengan menetes air matanya.
"Sayang maafin mami.. Mami mohon maafin mami" ucap Rahel.
"Sekarang lebih baik mami keluar, Rara ingin sendiri" ucap Rara.
"Seandainya saja anakku bisa kembali normal, mungkin aku tidak akan mengabaikannya selama ini" gumam Rahel
Semenjak saat itu Rahel lebih sering kerumah dari pada tinggal dirumah yoga, dan Rania memanfaatkan situasi ini untuk membuat yoga kembali mengingat semuanya.
"Hai tuan.." ucap Rania yang sudah sampai dirumah yoga.
"Kamu darimana saja? Kenapa baru sekarang datang kesini?" tanya yoga dengan kesal.
"Maaf tuan, saya kemarin-kemarin sibuk sekali. Jadi sudah untuk keluar, oiya Januar tadi sudah saya suapin. Tuan ingin makan apa?" tanya Rania.
"Terserah" ucap yoga dengan masih kesal dengan Rania.
__ADS_1
"Iya sudah, tuan duduk sini dulu" ucap Rania sambil berusaha membuat yoga tersenyum.
"Tuan ini diminum dulu" ucap Rania yang memberikan kopi dengan topping hati.
"Terima kasih" ucap yoga sambil sedikit senyuman.
Rania yang kembali di dapur dan dia mencoba membuat makanan favorit suaminya, dia tahu persis jika suaminya sedang seperti ini harus bagaimana.
"Loh nyo.. eh.. mbak lagi masak apa?" tanya bibi Inayah.
"Ini bi, lagi masak SOP iga dan bikin sambel kecap. Kenapa bibi ingin bantuan aku ya" ucap Rania yang memberikan kode bahwa yoga sedang marah.
"Tidak, saya masih banyak kerjaan di belakang. Permisi" ucap bibi Inayah.
"Eeemmm... Harum sekali masakan dia, dia memang pandai masak" gumam yoga yang menahan perasaannya.
"Tuan... Tuan... Ingin mencobanya?" tanya Rania.
"Bagaimana mencobanya memang itu sudah matang?" tanya yoga.
"Oiya belum matang sih, maaf tuan" ucap rania sambil menggoda yoga.
Sekitar setengah jam, akhirnya masakannya jadi juga.
"Silakan tuan, SOP iga dan sambel kecap jeruk nipis" ucap Rania.
"Bagaimana aku bisa kesal, bila dia seperti ini?" gumam yoga.
Yoga yang langsung menyantap masakan sang istrinya dengan sangat lahap, sehingga tidak memperdulikan Rania disampingnya.
__ADS_1
"Mas yoga kamu masih saja sama seperti dulu, dengan SOP iga saja kamu bisa luluh hatinya" gumam Rania.