
"Apa kau bilang? Pernikahan kita tetap sesuai jadwal dua bulan lagi?" Mansoor menyenderkan tubuh kekarnya ke punggung kursi kebesarannya di kantor sambil menerima telepon dari Mundika. Tubuhnya melemas karena rencananya tak berhasil. Oh ayolah, mempunyai tunangan yang selalu menarik perhatian lawan jenis itu merepotkan jika tidak diikat secara resmi dimata agama dan negara segera. Hei Mansoor, apakah kau tak sadar hal itu juga berlaku untukmu? Kau itu lebih menarik perhatian para perempuan disana dengan segala yang kau miliki! Bersyukurlah tunanganmu tidak seaktif dirimu dalam bermedia sosial sehingga tidak terlalu memusingkan sepak terjang fans-mu yang di luar batas normal. "Mengapa seperti itu?”
“Aku merasa terlalu emosional sehingga membuatmu mengambil keputusan gegebah itu,” Jawab Mundika dari telepon. “Dan lagi dua bulan bukanlah waktu yang lama. Alangkah egoisnya kita jika mempercepatnya sehingga membuat keluarga kita kalang-kabut jadinya. Aku minta maaf ya Mansoor telah membuatmu bingung...”
"Bagaimana kabar calon adik iparku yang unik itu Mansoor?" Ahmed yang melihat adiknya tampak frustasi menghampirinya kemudian menepuk pundak Mansoor. "Masih membuatmu tak berdaya?"
"Rencanaku gagal total untuk mempercepat pernikahan kami...," Jawab Mansoor lemas sambil menutup telepon dari Mundika yang ditanggapi oleh tawa bercampur kasihan dari Ahmed. Ia tidak habis pikir, adiknya yang sangat malas berurusan dengan pernikahan begitu antusias ketika bertemu dengan Mundika bint Dalmouk. Gadis yang sangat berbeda 180 derajat dengan gadis-gadis yang selama ini dekat dengannya. Ia sangat mengerti perasaan yang dimiliki oleh adiknya itu. Mundika memiliki kharisma yang jarang dimiliki oleh gadis Emirati atau gadis asing pada umumnya. Gadis itu cerdas namun juga bodoh untuk hal-hal dasar yang seharusnya seluruh warga Dubai mengetahuinya, salah satunya anggota keluarganya. Lucu juga jika dipikirkan menggunakan logika sungguh tak dapat dikira seorang Mundika bint Dalmouk dapat menjungkir-balikkan pesona seorang Mansoor bin Maktoum yang terkenal dingin dan cuek sehingga membuat para gadis menggilainya. Yah, hitung-hitung balas dendamnya karena adiknya itu sempat meledeknya ketika rasa cemas yang dialaminya dulu dirinya akan menikah.
"Padahal beberapa hari yang lalu ia tampak begitu sedih dan hari ini dari nada suaranya terdengar sudah kembali cerah ceria seolah pembicaraan kami yang lalu hanyalah khayalan semata," Mansoor mengusap dahinya dan menenggak secangkir cappucino yang ada dihadapannya dengan tidak tenang. "Sungguh luar biasa pengendalian dirinya..."
"Duniamu serasa dijungkirbalikkan ya?"
"Oh ayolah Kak, jangan terus meledekku karena hal ini tidak lucu sama sekali!" Keluh Mansoor.
"Bagaimana ya, gadis itu sejak pertama kali aku berkenalan dan bekerjasama dengannya di rumah sakit sudah terlihat menonjol meskipun dirinya bersembunyi dibalik tirai bahkan dalam situasi konyol sekalipun, buktinya kau kepincut padanya kan?" Ahmed masih saja tertawa geli tak dapat berhenti. "Kalau kau ingin mengenali lebih jauh gadis itu, kau bisa bertanya kepada dosen sekaligus atasannya dirumah sakit, Hakeem. Beliau adalah sahabat dari ayah dan ibunya yang sangat paham luar dalam gadis itu karena tidak mungkin kau terlalu sering bertemu dengannya mengingat ikatan kalian baru sebatas tunangan."
CTIK! Mansoor menjentikkan jarinya seolah mendapatkan inspirasi dari ucapan kakaknya.
__ADS_1
"Ide yang bagus!" Teriak Mansoor mengejutkan Ahmed. Ia pun segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan.
"Kau mau kemana? Memangnya pekerjaanmu sudah selesai semuanya?"
"Kemana lagi jika bukan bertemu Pak Hakeem? Masalah pekerjaan sudah kuselesaikan dari tadi Kak, aku pergi dulu ya! Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam," Ahmed menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan tindakan nekad, spontan, dan berani yang dilakukan oleh Mansoor. Pantas saja adiknya itu menjadi kesayangan ayahnya. Dibalik sikap dingin dan acuhnya, rupanya ia memiliki jiwa ksatria. Buktinya ia berani menbujuk sang ayah untuk mendapatkan Mundika bint Dalmouk, hal yang dulu tak berani ia lakukan dan memilih untuk menikahi salah satu sepupu dari anak saudara lelaki pihak Ibunya karena ingin bermain aman dan takut nama baiknya akan tercoreng mengingat status gadis itu yang setengah Emirati dan latar belakang ibunya yang berkebangsaan Indonesia. Ia sebenarnya iri pada adiknya itu karena tak hanya mendapatkan diri gadis itu namun juga hatinya, namun saat ini rasa iri itu ia pendam di dalam relung hatinya terdalam karena ia ingin melihat dua orang yang ia sayangi berbahagia. Bukankah puncak tertinggi dari perasaan cinta adalah mendoakan kebahagiaan orang yang dicintainya tanpa harus memilikinya?
***
"Halo," Mundika mengangkat telepon dari Mansoor.
"Umm, aku sedang ada diruang kerjaku setelah visit pasien, ada apa?"
"Tunggu aku di sana!"
Mundika menatap smartphone-nya bingung setelah Mansoor menutup hubungan teleponnya secara buru-buru. Hari yang aneh..., batinnya sambil mulai merapikan barang-barangnya mengingat jam kerjanya telah berakhir dan ia lapar. Hmm..., enaknya makan apa ya? Nasi briyani? Shawarma? Atau makan bakso dan mie ayam di salah satu restoran khas Indonesia dekat sini?
__ADS_1
BRAK!
Ampun deh, siapapun itu yang membuka pintu, dimohon untuk memperlakukannya dengan lembut dan pelan bisa kan? Meskipun mereka benda mati, perlu dirawat juga..., hitung-hitung meringankan pekerjaan bagian perawatan... Mundika mengurut dahinya menahan kesal mendengar suara keras tersebut.
"Mansoor?!"
Mansoor tiba-tiba datang dan memeluk Mundika erat.
"Apa yang kau lakukan Mansoor?! Kita ini belum sah menikah dan tidak boleh bersentuhan fisik seperti ini?!" Protes Mundika berusaha melepas pelukan Mansoor namun tenaganya kalah kuat dibandingkan lelaki itu. "Apa kau tak takut dosa dan hukuman peraturan di sini?!"
"Aku yang akan menanggung dosa dan hukumannya Mundika, dan aku pastikan akan mengaku pada Ayahku hari ini dan siap menerima hukuman apapun!" Jawab Mansoor tegas dan pelukannya semakin mengerat. "Dan dengarkan aku, apapun yang terjadi nanti, aku akan selalu mendukung, menjaga, dan melindungimu serta membahagiakanmu!"
Mansoor mengingat kembali pertemuannya dengan Hakeem sesuai arahan kakaknya, Ahmed. Betapa terkejutnya dirinya ketika mengetahui detail dari masa lalu bagaimana Mundika lahir, dibesarkan hingga menjadi seorang dokter andalan di rumah sakit ini. Dan hal itu rupanya diketahui ayahnya. Bagaimana bisa hal itu terjadi pada diri gadis ini? Bagaimana bisa?! Pujaan hatinya itu tak meminta hadir dalam keluarga Al Hassimi dengan cara yang tak habis pikir oleh Mansoor dapat dilakukan oleh seorang Dalmouk Al Hassimi demi menjadikan ibu Mundika sebagai istrinya. Dadanya terasa sesak dan sakit ketika Hakeem menceritakannya semuanya dan Mundika sama sekali tidak tahu dan terus hidup dalam tanda tanya. Pantas saja teman Emirati-nya hanya satu dua orang sedangkan yang lainnya adalah orang asing yang bekerja di Kotanya. Ya Allah, betapa malang dan kuat hati gadisnya itu dalam menghadapi semuanya...
"Kau percaya padaku kan?" Mansoor melepaskan pelukannya dan merengkuh wajah Mundika.
Mundika menghela napas, kemudian mengangguk dan tersenyum. Oh tidak, Mansoor harus menghentikan kegilaan yang dia lakukan sebelum menjadi berlebihan. Menatap senyuman manis gadisnya sudah membuatnya meleleh dan hampir kehilangan kontrol diri. Ingat Mansoor, kau harus bisa menahan dirimu selama dua bulan ini! Harus!
__ADS_1
"Ya sudah, aku pergi dulu, sampai jumpa!" Mansoor segera pergi dari ruangan tersebut tanpa memberikan kesempatan Mundika untuk berkata-kata dan diakhiri tawa serta kemerahan dipipinya tak habis pikir dengan tindakan yang telah dilakukan tunangannya itu. Rupanya lelaki dingin itu punya sisi manis yang tidak membuatnya terasa mual mendengarnya.
***