Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
12


__ADS_3

Mundika menatap Zayed yang sibuk berlatih permainan sepak bola di belakang rumahnya sambil bertopang dagu dengan kedua tangannya. Zayed dengan lihai bak pemain bola profesional melakukan juggling dengan bola sepak di kakinya. Waktu begitu cepat berlalu, tak menyangka adiknya itu sudah beranjak remaja menuju dewasa. Sisi ketampanan milik ayahnya rupanya mulai terlihat dibalik warna kulitnya yang senada dengan dirinya putih langsat warisan dari ibunya. Adik kesayangannya yang telah dinanti selama sepuluh tahun agar ia tak menjadi sosok bungsu di keluarga ini dan hal terpenting adalah ia memiliki saudara satu kandung satu ibu yang bisa ia curahkan kasih sayangnya tanpa khawatir akan dihina dan dicap tidak tulus seperti kedua kakak perempuannya. Tunggu dulu, ia juga memiliki Majid yang sangat baik dan sayang padanya meskipun irit bicara.


Suasana pagi di halaman keluarga Al Hassimi itu begitu sejuk dan menenangkan. Angin berhempus sepoi-sepoi menyapa pepohonan rindang yang ada di sana. Jangan tanyakan mengapa halamannya bisa sehijau ini dibalik gersangnya padang pasir di Dubai. Ini tentang teknologi luar biasa hasil proyek besar Emir Dubai dalam mempercantik kotanya dengan penghijauan yang menelan biaya cukup besar untuk merealisasikannya.


"Zayed," Panggil Mundika.


"Ada apa Kak Mundika?" Tanya Zayed tetap dengan bola di kakinya.


"Jika...," Mundika menatap layar smarphone miliknya yang tertera nomor ponsel milik Ayu, sepupu ibunya. Ia menyerah dan memutuskan untuk memenuhi keinginan bibinya itu agar dapat melanjutkan komunikasi dengan sang bibi yang telah meninggalkannya untuk kembali ke Indonesia. "Jika kukatakan bahwa kita masih memiliki kakek dan nenek dari pihak ibu kita apakah kau percaya?"


"Kakak bukankah pembohong yang baik, tentu aku percaya," Jawab Zayed santai seolah tak ada beban. Mungkin hal ini yang membedakannya dengan Mundika sebagai perempuan. Lelaki lebih mengutamakan logikanya dan mengesampingkan perasaaannya sedangkan perempuan sebaliknya.


"Apakah kau tidak ingin tahu dan bertemu dengan mereka?" Mundika menatap tepat kearah bola mata hitam pekat Zayed yang sama dengan miliknya. Pembeda nyata selain warna kulit dari keturunan Dalmouk Al Hassimi lainnya. Meskipun usia Zayed baru akan beranjak ke enam belas tahun, namun pola pikirnya yang begitu dewasa karena telah diajak berdiskusi dan dilibatkan mengenai politik serta bisnis oleh ayah dan kakak lelakinya membuat Mundika tak segan berbagi cerita dan curahan hatinya kepada adik bungsunya itu.


Zayed menghela napas dan menghampiri kakak perempuannya itu. Ia mengerti akan keinginan kuat yang dimiliki sang kakak. Tapi tak bisakah ia menghentikan aksi nekadnya itu? Zayed sedih jika melihat kakaknya terus dibayang-bayangi masa lalu kedua orang tuanya. Bukankah ketika kedua orang tuanya tidak ingin membicarakannya memiliki tujuan yang baik agar masalah mereka tidak membebani anak-anaknya?

__ADS_1


"Kak, apakah rasa sakitmu karena hinaan dari kedua kakak perempuan kita serta beberapa anggota keluarga besar kita masih belum sembuh sehingga kau tetap ingin menjalankan niatmu itu? Sebentar lagi kau akan menikah, fokuslah pada acara pernikahanmu itu. Jangan membuat keluarga kita terutama calon suamimu khawatir. Sheikh Mansoor itu sudah cukup dibebani dengan tanggung jawabnya sebagai salah satu punggawa kota kita ini,” Zayed pun tak memungkiri beberapa anggota keluarga besar terutama Haya dan Maitha sudah keterlaluan menghina kakak dan dirinya yang lahir dari rahim ibu yang berbeda. Namun ia tak terlalu mengambil pusing akan hal itu karena baginya membungkam mereka dengan prestasi sudah cukup membuat mereka terdiam. Berbeda dengan kakaknya yang memiliki perasaan yang sangat halus, sedikit ucapan kasar saja sudah membuatnya bersedih meskipun berusaha ditutupinya dengan senyuman di bibirnya seolah ia tetap ceria tanpa beban apa-apa.


"Aku..., aku merasa jika aku tahu yang sesungguhnya akan membuat diriku lega dan bisa menjalani pernikahanku nanti dengan tenang dan damai. Aku tak mau hal ini malah menjadi beban di rumah tanggaku kelak Zayed," Mundika memberikan sebotol infused water kepada Zayed yang langsung ditenggak olehnya.


"Lantas kakak ingin aku melakukan apa agar Kakak bisa merasa tenang?" Zayed menangkap ada rencana yang mungkin terkesan konyol namun kakaknya ini tetap ingin merealisasikannya. Tapi jika hal itu bisa membuat kakak perempuan kesayangannya itu bahagia mengapa tidak ia menuruti keinginan tersebut?


"Benarkah kau akan membantuku untuk merealisasikannya?" Kedua mata Mundika berbinar-binar dan kedua tangannya memegang erat pundak Zayed.


Zayed pun memberikan sebuah anggukan sebagai jawaban.


"Aku ingin kau..."


***


"Maafkan aku Mansoor, baru memberitahukanmu setelah aku sampai di Jakarta sore ini karena tak mau mengganggu kesibukanmu," Ujar Mundika setelah turun dari pesawat pagi ini sambil berjalan menuju pengambilan koper yang dititipkan sebelumnya di bagasi pesawat. "Tapi jangan khawatir, aku pergi bersama Zayed dan kupastikan setelah semua urusanku dengan keluarga besar ibuku selesai aku akan segera kembali ke Dubai dan fokus dengan persiapan pernikahan kita."

__ADS_1


"Tapi," Belum sempat Mansoor melanjutkan ucapannya, Mundika segera memotong pembicaraan. "Sudah dulu ya Mansoor, aku akan menghubungimu lagi."


"Gadis ini...," Mansoor menggenggam erat smartphone miliknya. Tampak amarah yang berusaha ia kendalikan. Tak lama telepon dari Majid masuk dan segera diangkat olehnya.


"Halo Mansoor, kau pasti sudah menerima kabar dari Mundika," Terdengar nada panik dari Majid. "Mama Artika berkali-kali menangis dan pingsan setelah menerima pesan dari Mundika dan Zayed setengah jam yang lalu."


"Kau tak perlu khawatir Majid, aku yang akan menjemputnya dan membawanya serta Zayed kembali ke Dubai sekarang!" Ya Allah, kegilaan macam apa yang diciptakan Mundika saat ini?! Mengapa gadis itu bertindak seenaknya tanpa memikirkan konsekuensinya?! Teriak batin Mansoor. Seharusnya ia percaya bahwa suasana yang terlalu tenang sebelumnya tidak membuat dirinya mengendorkan instingnya mengenai Mundika yang masih punya urusan mengganjal dengan keluarga ibunya di Indonesia.


"Badar, Ali, tolong persiapkan penerbanganku ke Jakarta sekarang juga!"


"Siap Sheikh!" Jawab keduanya serempak.


Mansoor pun bergegas menuju kamarnya untuk memasukkan beberapa perlengkapan yang harus dibawanya. Sementara anggota keluarganya hanya bingung melihat perubahan emosi yang terjadi pada Mansoor. Tak pernah mereka melihatnya menjadi panik seperti saat ini. Maktoum dan istrinya Shaikha hanya saling berpandangan tersenyum satu sama lain. Lain halnya Maryam, adik Mansoor yang lebih muda setahun darinya. Ia merasa tidak menyukai perubahan pada kakak lelakinya yang terkenal dingin dan antipati. Sejak Mansoor bertunangan dengan Mundika, kakak lelakinya itu menjadi emosional seolah tak terkontrol sehingga ia kehilangan sosok yang dikaguminya dulu. Ia harus menanyakan lebih dalam kepada Maitha dan Haya, bagaimana sebenarnya kepribadian Mundika yang bisa menjungkirbalikkan dunia kakaknya itu.


"Baba, Mama, aku pergi dulu!" Mansoor berpamitan kepada kedua orang tuanya kemudian melesat menaiki mobil jeep mercy berplat delapan miliknya menuju bandara untuk terbang langsung ke Jakarta menyusul Mundika.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan Nak!"


***


__ADS_2