Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
34


__ADS_3

“Kak Majid, Kak Maitha, Kak Haya, ada apa ini? Mengapa Mama Latifa bisa tidak sadarkan diri seperti ini?” Mundika terkejut melihat brankar yang membawa Mama Latifa masuk ke dalam ruang ICU. Sebuah ruangan yang paling dihindari karena fungsinya yang digunakan untuk merawat pasien dengan kondisi mengkhawatirkan dan membutuhkan pengawasan insentif serta ketat.


“Mundika…,” Maitha dan Haya segera memeluk adiknya itu untuk mencari dukungan moril. Betapa terkejutnya mereka ketika sedang asyik berbelanja sambil bercengkrama di supermarket, ibunya tersebut mendadak mengeluhkan sakit yang amat sangat di bagian perut tak lama kemudian pingsan. Mereka beruntung karena petugas supermarket sudah bersiap siaga dengan menghubungi rumah sakit dan mengantarkan mereka sementara salah satu diantara mereka menghubungi kakak lelakinya yang terus-menerus diigaukan namanya oleh ibu mereka.


“Apakah ada hal buruk yang selama ini tidak aku ketahui tentang kondisi kesehatan Mama Latifa, Kak?”


“…,” Majid hanya bungkam tak bergeming dari posisinya karena janji yang telah terlanjur diucapkannya kepada ibunya.


“Jawab Kak! Aku sebagai anaknya juga berhak tahu!” Nada suara Mundika yang mendadak tinggi menghentak keheningan Majid. Tak pernah sekalipun selama hidupnya melihat adik perempuannya itu bersikap seperti saat ini. Seharusnya perasaan khawatir dan takut ditinggal oleh ibunya dirasakan olehnya, bukan oleh Mundika yang notabennya anak dari istri kedua Babanya. Ada apa gerangan yang membuat adik kesayangannya itu bersikap seakan-akan dunianya hampir runtuh ketika melihat ibunya dalam kondisi kritis di dalam ruang ICU?


“Mama…, Mama selama ini mengidap kanker rahim stadium empat…,” Bibir Majid bergetar ketika mengucapkannya. Matanya pun berkaca-kaca berusaha tegar untuk tidak menumpahkan cairan yang mengambang di pelupuknya. “Beliau memintaku untuk menyimpan rahasia ini kepada kalian semua termasuk Baba dan Mama Artika…”


“Allahu Akbar…, hanya kepada-Mu lah kami memohon ampunan dan berserah diri,” Tubuh Mundika lemas ketika mendengar pernyataan kakak lelakinya yang dengan sigap ditangkap oleh Maitha dan Haya. Mengapa Ya Allah? Mengapa setelah Kau berikan kebahagiaan keluarga yang hamba inginkan sejak lama Engkau pulalah yang membaliknya kembali menjadi duka?

__ADS_1


Tanpa mereka berempat sadari, Maryam yang ditinggalkan di belakang oleh Mundika tadi ternyata menyusulnya dan melihat langsung peristiwa yang dialami keluarga Dalmouk Al Hassimi. Ia segera mengambil inisiatif untuk menghubungi Mansoor karena yakin bahwa hanya lelaki itulah yang dapat menenangkan calon kakak iparnya yang tampak paling terguncang mendengar penjelasan mengenai kondisi ibu pertamanya.


***


Mansoor yang dihubungi oleh Maryam segera menghampiri Mundika. Ia sangat miris melihat Mundika hanya duduk sendirian di depan ruang ICU dan tampak tak berdaya dengan punggung yang bersandar pada tembok rumah sakit. Pandangan mata gadis itu begitu kosong seolah banyak tanya dalam benaknya yang tak sanggup terucap kata. Bagaimana bisa? Dimana Majid, Maitha dan Haya? Usut punya usut, rupanya ketiga kakaknya itu saat ini sedang berkonsultasi dengan dokter khusus yang selama ini menangani Latifa di ruangan kerjanya. Mundika berusaha meyakinkan mereka agar dirinya saja yang menunggu ibu mereka di depan ruang ICU sambil memonitor perkembangan lebih lanjut karena merasa bahwa ketiga kakaknyalah yang berhak bertanya kepada sang dokter.


Lelaki itu menghela napas panjang melihat pemandangan sendu itu. Seolah hanya ada diri tunangannya itu sendiri yang merasakan kesakitan dalam hati. Ingin rasanya ia memeluk tubuh Mundika erat dan memberikan kekuatan dan ingatan bahwa ia tak seorang diri menanggung seluruh buncahan emosi yang sangat lelaki itu sadari belum semuanya terluapkan meskipun keluarga gadis itu telah menemukan titik cahaya dari kerumitan masalah yang terjadi. Namun keinginannya itu ia tahan mengingat tradisi bangsa mereka yang telah mengakar budaya.


“Aku membawakan shawarma dan karak chai untukmu,” Mansoor menyodorkan bungkusan paper bag warna coklat dihadapan Mundika. “Makan dan minumlah selagi hangat.”


“Aku dengar dari Maryam bahwa kau membatalkan rencana makan siang kalian karena ada peristiwa ini,” Mansoor duduk di sebelah Mundika dan mengambilkan shawarma yang masih hangat itu untuk diberikan kepada Mundika. Berdasarkan informasi yang didapatnya dari Maryam, istri pertama dari ayahnya Mundika itu menderita kanker rahim stadium akhir hingga harus masuk ke ruang ICU karena tak sadarkan diri.


“Terima kasih, tapi aku tidak lapar…,” Mundika menerima makanan pemberian Mansoor namun tidak berselera untuk memakannya. Entah mengapa rasa lapar yang amat sangat ia rasakan sebelumnya mendadak menguap bak udara hilang entah kemana. Perutnya terasa penuh entah dengan apa...

__ADS_1


“Mau sampai kapan kau menyiksa dirimu sendiri?” Lelaki itu menoleh kearah sang pujaan hati. “Bukankah aku selalu mengatakan bahwa aku tidak menyukai sifatmu yang ini dan memintamu berusaha berubah dengan memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dan lebih positif?”


Mundika hanya diam tak perduli seakan pendengarannya tuli karena bukan itu kalimat yang ingin ia dengar dari Mansoor. Namun dirinya tahu bahwa percuma ia tak bergeming karena tatapan mata Mansoor yang dalam selalu bisa membuatnya berbicara tanpa lelaki itu minta.


“Di…,” Mundika menelan air ludahnya untuk memberikan cairan pada kerongkongannya yang mengering agar dapat mengeluarkan suara. “Di dalam hatiku sebenarnya sangatlah marah ketika mengetahui bahwa Mama Latifa yang selama ini kuanggap sebagai pihak yang berkorban untuk kebahagiaan Baba dan Mamaku, hingga aku selalu merasa bersalah setiap kali melihat kebaikannya yang dilimpahkannya kepadaku dan Zayed ternyata adalah dalang dari semua kerumitan dan masalah yang terjadi di dalam keluarga Al Hassimi. Semua gejolak itu berusaha kutahan dan kutelan sendiri mengingat tata krama yang telah diajarkan oleh Mamaku untuk bisa mengendalikan emosi agar tak sampai melukai hati siapapun dan berharap Mama Latifa mendapatkan balasannya sendiri karena telah membuatku merasakan tekanan batin dan emosi yang kupendam lama hingga menyakiti diriku sendiri,” Mundika masih tak mau menatap mata Mansoor dan lebih memilih mengarahkannya ke depan. “Tak kusangka Mama Latifa telah menuai karmanya sendiri saat ini. Kupikir akan ada rasa kepuasan ketika mengetahui kenyataan ini.” Air mata Mundika perlahan jatuh satu per satu di pipi. “Namun yang terjadi sebaliknya. Justru rasa kesakitan dan penyesalan tak terperi mengapa aku pernah berharap seperti itu pada Mama Latifa, Mansoor…”


Tangisan Mundika pecah membuat Mansoor tak tahan lagi untuk memeluk gadis itu. Ia sudah lagi tak perduli dengan peraturan yang telah ada turun-temurun diajarkan dan dicontohkan oleh keluarganya. Saat ini gadis itu membutuhkan pelukan untuk berbagi rasa kesakitan yang sama dengannya.


“Mengapa? Mengapa harus seperti ini balasan untuknya Mansoor? Setelah aku bisa memaafkan dan mengikhlaskan dengan apa yang terjadi di masa lalu mereka hingga menjadikanku seperti saat ini. Ini terlalu menyakitkan Mansoor…, terlalu menyakitkan…, bagaimana bisa Mama Latifa menanggung semuanya selama ini tanpa berbagi pada siapapun dari kami?” Mundika tak kalah erat membalas pelukan Mansoor. Kesepuluh jarinya mencenggeram erat kandoora Mansoor. “Mama Latifa sudah berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki diri agar dapat menebus kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Namun tidak harus menderita seperti saat ini seolah nyawanya perlahan digerogoti untuk meninggalkan dunia fana ini...”


“Sssttt, tidak apa-apa Mundika, luapkanlah semuanya hingga kau merasa lega dan tak ada lagi ganjalan di hati,” Mansoor mengusap-usap punggung gadis itu.


“Aku tak ingin kehilangan Mama Latifa, Mansoor…, aku ingin Mama Latifa bisa merasakan kebahagiaan juga setelah semua yang terjadi…”

__ADS_1


***


__ADS_2