
Artika berlari tergopoh-gopoh memasuki gedung kantor nan menjulang tinggi di salah satu pusat bisnis di Dubai. Dengan penuh semangat ia melakukan tap absen di pintu masuk kemudian menuju lift yang tengah terbuka. Ia melihat seorang lelaki berpakaian kandoora putih lengkap dengan ghutrah senada dan agal hitam berada di dalam lift yang hendak menutup pintunya.
"Mohon jangan ditutup!" Teriak Artika lantang dari jarak tiga meter sambil meningkatkan kecepatan berlarinya hingga akhirnya ia bisa menggapai lift tersebut. Dengan napas yang masih tersengal-sengal, ia berusaha menormalkan kembali irama nafasnya yang memburu tadi dan mengusap peluh yang mengalir di dahinya dengan tisu yang diambil dari tas ransel kecil berwarna coklat muda miliknya. Jangan salahkan dirinya hampir terlambat hari ini. Ia tak menyangka harus terjebak macet karena kecelakaan beruntun yang terjadi di jalan raya tadi. Ayolah, ia baru merasakan sebentar diangkat menjadi assistent manager di bagian eksploitasi minyak seminggu yang lalu, masa harus membuat kesalahan dengan datang terlambat? keprofesionalannya akan patut dipertanyakan. Ia disini untuk mewakili warga negara Indonesia yang ingin menunjukkan kepada dunia bahwa bangsanya mampu bersaing secara kompetensi dan integritas serta intelektual.
"Terima kasih," Artika sedikit membungkukan tubuhnya dan tersenyum kepada lelaki itu tanpa memperhatikan sosoknya lebih jelas.
"Lantai berapa?" Tanya lelaki tersebut.
"Lantai 15, terima kasih," Jawab Artika pendek dan ditanggapi lelaki yang satu lift bersamanya dengan menekan tombol nomor 15. Meskipun ia sudah bekerja dan berkarir di perusahaan minyak milik salah satu keluarga terpandang di Dubai selama tiga tahun, dirinya masih belum terbiasa jika harus berhadapan dengan para lelaki penduduk aslinya kecuali dalam forum formal seperti rapat. Meskipun terkesan Artika sosok yang kuat dan pemberani dalam urusan pekerjaan, namun sebenarnya ia adalah seorang yang pemalu terhadap lawan jenis. Ini karena didikan kedua orang tuanya yang selalu menanamkan tata krama untuk selalu sopan dalam bertingkah laku dan menjaga diri jika sekiranya orang yang ditemui tidak dikenal baik termasuk lelaki yang berada satu lift dengannya saat ini.
TING!
Terdengar bunyi pintu lift lantai 15 terbuka. Artika mengangguk sambil tersenyum seolah mengisaratkan ia duluan yang sampai ditempat tujuan dan bergegas keluar dari lift menuju ruangan tempat kerjanya. Tanpa disadari olehnya, lelaki tersebut tersenyum menatap sosok Artika yang perlahan menghilang tertutup pintu lift yang akan membawanya ke lantai teratas, lantai 20.
***
"Melelahkan...," Artika menyandarkan tubuh langsingnya ketempat duduk miliknya dikantor setelah beberapa detik lalu sempat menyalakan CPU komputer dihadapannya. Sepertinya ia harus mulai kembali berolahraga di Gym kantor atau area olahraga di pantai Kite, karena hanya berlari seperti tadi saja napasnya menjadi tidak teratur. Ia terlalu sibuk berkutat dalam dunia logika otak kirinya mencari cara bagaimana minyak mentah di dalam bumi dapat ditarik keluar tanpa menimbulkan efek samping yang berarti sehingga mencapai target produksi yang ditentukan oleh perusahaan.
"Kau kenapa?" Tanya Aisha, gadis peranakan India dan merupakan teman dekat Artika di kantor. Ia menyerahkan caramel latte dingin favorit Artika yang dipesan gadis itu disaat terjebak macet di jalan raya tadi sehingga ketika dirinya tiba, Artika dapat langsung meminumnya.
"Aku tak menyangka jika datang ke kantor di waktu injury time membuatku harus berlari sekuat tenaga sehingga membuatku kelelahan seperti ini," Artika menerima minuman pesanannya. "Terima kasih ya, kau menyelamatkanku disaat kritis seperti ini." Ia segera menegak minuman dingin itu hingga tandas seolah dirinya sudah tidak minum beberapa hari.
__ADS_1
"Aku tahu kau dehidrasi tapi tidak sampai menghabiskan seluruh minumanmu dalam sekali tenggak kan?" Aisha memukul kepala Artika pelan dengan gulungan dokumen.
"Aduh, aku kan butuh penenangan diri untuk memulai pekerjaan hari ini," Keluh Artika sambil mengusap-usap kepalanya. Ia pun segera menarik napas dalam-dalam dan menghelanya pelan-pelan. Ditepuk-tepuk pipi putih langsatnya hingga kemerahan alami untuk membuatnya fokus pada layar komputer dihadapannya.
"Ngomong-ngomong anak lelaki sekaligus CEO baru perusahaan ini sudah kembali dari pendidikan Masternya di London," Aisha yang memiliki hobi bergosip jika sedang santai memulai pembicaraannya.
"Yang mana ya? Seingatku CEO kita namanya Marwan Al Hassimi, seorang pria paruh baya dan berkharisma sehingga berhasil menjadikan perusahaan minyak ini menjadi salah satu yang diperhitungkan di Timur Tengah." Artika berpikir keras mengingat-ingat sosok pemegang jabatan tertinggi perusahaan tersebut. Ia yang terlalu fokus dengan pekerjaan sehari-harinya tanpa sadar memandang sekelilingnya bak kacamata kuda yang kurang menyadari bahwa banyak warna disekelilingnya.
"Kau payah sih, tidak suka bergabung di grup gosip kantor kita," Aisha menyandarkan pinggulnya di pinggir meja kerja Artika sementara Artika sudah memulai pekerjaannya bermain aplikasi khusus untuk engineer sepertinya yang penuh dengan angka-angka statistika untuk memastikan bahwa titik kordinat yang telah dikirimkan bagian eksplorasi telah sesuai dengan lokasi pengeboran minyak yang akan dieksekusi olehnya.
"Aku dibayar secara profesional di sini untuk bekerja, bukan bergosip sepertimu," Dengus Artika sedikit kesal.
"Jangan marah begitu Artika," Aisha menarik kedua pipi kemerahan Artika untuk membujuknya. "Nanti cantiknya hilang lho..."
“Hei, kau dengar omonganku tidak sih?” Protes Aisha.
“Eh, apa?” Artika mengedipkan kedua matanya dan tersadar dari lamunan tak kasat mata.
“Iya, nama putra dari CEO perusahaan kita ini adalah Dalmouk Al Hassimi dan beliau masih berstatus single alias belum menikah, jika tidak salah hari ini adalah hari pertamanya bekerja menggantikan ayahnya. Siapa tahu pada saat kau tadi memasuki kantor berpapasan disana dan...”
“Dan terjadilah kisah cinta antara pangeran serta rakyat jelata,” Artika yang tidak terlalu berminat dengan pembicaraan mengenai privasi keluarga atasannya itu membalas mengetuk kepala Aisha yang terlalu kreatif dalam berpikir penuh khayalan yang tak dapat terealisasi secara nyata. “Hentikan ide konyolmu itu, kau terlalu banyak menonton drama Korea yang sudah menginvasi hampir seluruh dunia!”
__ADS_1
“Tapi kan...”
“Sudah kembali bekerja sana,” Artika mengibas-ngibaskan tangan kanannya. “Nanti Pak Khouri mendatangimu kemari lho, karena kau menghilang dari peredaran pandangannya. Ingat, kita bekerja dengan orang, bukan perusahaan sendiri.”
“Iya deh iya...,” Aisha mengerucutkan bibirnya merajuk. “Makan siang nanti bareng ya kita ke kantin.”
“Sip!” Artika mengacungkan jempol tanda setuju dan kembali fokus pada pekerjaannya.
***
“Bagaimana hari pertamamu bekerja disini?” Tanya Maktoum, Putra Mahkota Dubai sekaligus sahabat dari Dalmouk Al Hassimi. Ia sengaja berkunjung ke kantor sahabatnya itu untuk menghargainya yang mulai bekerja menggantikan ayahnya yang memutuskan menjadi anggota pasif di jajaran Dewan Komisaris perusahaan minyak yang menjadi salah satu penyumbang pendapatan bagi kota yang akan dipimpinnya kelak.
“Dimulai dengan bertemu gadis cantik yang hampir terlambat masuk kantor.” Jawab Dalmouk dengan senyuman sambil duduk bersender di kursi kebesarannya yang baru. Sebuah ruangan yang cukup besar dengan ornamen perpaduan minimalis dan dominasi coklat kayu khas Timur Tengah.
“Oh ya? Gadis Emirati mana yang berhasil menarik perhatianmu itu?”
“Memangnya aku mengatakan jika gadis itu seorang Emirati?” Dalmouk mengangkat alis kanannya keatas.
“Lantas?”
“Seorang gadis yang ayu dan anggun dengan kulit putih langsatnya...” Pandangan Dalmouk menerawang jauh menatap kaca bening yang membatasi dirinya dengan gumpalan awan putih yang seolah menyapa hari pertamanya yang dimulai dengan senyuman lebar di bibirnya.
__ADS_1
***