Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
14


__ADS_3

"Ukhhh...,” Mundika mengaitkan kesepuluh jarinya dan menariknya ke atas udara. Perjalanan 8,5 jam yang dilaluinya terasa lama. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk kembali ke dunia nyata setelah terbuai di alam mimpi. Dilihatnya Zayed yang masih tertidur disampingnya, kemudian diusapnya kepala Zayed dengan penuh kelembutan. Dalam hatinya ia berterima kasih kepada adik lelaki bungsunya itu karena mau mendukung ide gilanya untuk ke Indonesia, sebuah negara asing yang belum pernah dijejaknya seumur hidupnya. Hanya dengan mengandalkan analisis logika dan komunikasi yang diam-diam telah dilakukan bersama Ayu, bibinya.


Ia sadar bahwa tindakan yang dilakukannya sungguh sembrono, mengambil cuti dadakan dan pergi diam-diam bersama Zayed. Tak bisa ia bayangkan reaksi keluarganya dan orang tuanya, terutama ibunya. Didalam relung hatinya ada perasaan bersalah yang amat besar bergelayut seakan memberatkannya. Namun ia harus melawannya sekuat tenaga demi sebuah kebenaran yang harus ia temukan dan hanya dengan datang ke Indonesialah ia bisa mendapatkan jawaban semua pertanyaan yang masih mengganjal di dirinya.


Mansoor! Tiba-tiba nama lelaki itu tersekelebat dipikirannya. Oh, tidak, ia lupa bahwa dirinya secara tidak langsung sudah menjadi tanggung jawab lelaki tersebut mengingat status pertunangan mereka. Mengapa ia bisa lupa dengan lelaki tersebut? Mundika merutuk dirinya sendiri dan semakin merasa bersalah. Ia berjanji jika sudah sampai Indonesia akan mengabari kedua orang tuanya dan lelaki belahan jiwanya itu. Kalaupun lelaki itu akan memarahinya, ia akan menerimanya tanpa berargumen apa-apa.


***


"Berapa lama lagi kita sampai ke Indonesia?" Tanya Mansoor gusar dan cemas. Sejak ditelepon Mundika yang mengatakan bahwa gadis itu sudah berada di Indonesia, kekhawatirannya semakin menjadi-jadi. Ia membayangkan gadis itu disebuah negara yang tak pernah sekalipun dikunjunginya tanpa pengawalan apapun. Bagaimana jika sang gadis dan adiknya, Zayed ditipu orang? Bagaimana jika mereka diganggu orang?Bagaimana jika mereka tersasar tanpa ada yang menolongnya? Berbagai kemungkinan-kemungkinan terburuk terlintas dipikiran Mansoor bak roll film yang terus berputar membuat rasa khawatirnya semakin menjadi-jadi.


"Tenanglah Sheikh Mansoor, kita baru saja dua jam meninggalkan Dubai menuju Jakarta, masih ada waktu 6,5 jam lagi untuk mendarat disana," Jawab Shiddiq, lelaki yang diberi tanggung jawab mengurus pesawat pribadi milik Mansoor dan selalu menemaninya dalam penerbangan. "Kau bisa kena darah tinggi jika seperti ini. Sungguh tak biasanya kau bisa bersikap tidak tenang seperti ini. Kau kan terkenal sebagai manusia es dan minim ekspresi."


"Jika kau memiliki seseorang yang dicintai dan ingin dilindungi agar ia tetap tersenyum menatap dunia, kau akan mengerti mengapa aku seperti ini," Mansoor menenggak orange juice yang telah disediakan pramugari.

__ADS_1


Shiddiq tertawa mendengar jawaban dari Sheikh mudanya itu. Ia pikir kabar angin yang mengatakan bahwa Mansoor bin Maktoum sekarang berubah menjadi lebih berekspresi setelah bertunangan dengan salah satu anak perempuan pemilik perusahaan minyak di Dubai rupanya benar adanya. Ia melihat aura disekeliling lelaki itu mulai menampakkan warna selain hitam, putih, dan abu-abu. Rupanya ada juga gadis yang berhasil menaklukkan hati dingin sang Sheikh muda. Biasanya mereka hanya dijadikan angin lalu saja. Ia jadi penasaran, seperti apa sosok tunangannya itu hingga seorang Emir Dubai dengan senang hati mengizinkan salah satu anaknya tidak menikahi salah satu anggota keluarga besar bangsawan penguasa Dubai demi menjaga garis keturunan. Sungguh diluar kebiasaan dan budaya yang mereka anut. Jika dilihat dari fisiknya, tunangan Mansoor adalah sosok yang cantik, tapi ia rasa cantik saja tidaklah cukup karena di sekeliling Mansoor banyaklah gadis cantik yang patah hati ketika mendapat pengumuman bahwa lelaki itu sudah bertunangan. Pasti ada sesuatu yang istimewa dari gadis itu hingga Mansoor meminta penerbangan tanpa perencanaan seperti ini.


"Lebih baik kau beristirahat dan menenangkan syaraf-syarafmu yang menegang itu. Aku sudah meminta agen terpercaya di Indonesia untuk mencari jejak Mundika dan Zayed.”


"Aku mana bisa istirahat jika kondisinya seperti ini?!" Jawab Mansoor pendek. Kepalanya mendadak pusing karena turbulensi yang tiba-tiba.


“Aku kan sudah bilang...,” Shiddiq pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali melakukan pengecekan di ruang pilot. Jika lelaki dihadapannya sudah mulai keras kepala, ia hanya bisa angkat tangan dan mendiamkannya hingga kembali pada emosi normalnya.


***


Zayed menatap tak percaya dengan sosok wanita paruh baya dihadapannya. Ia berpikir kakak perempuannya ini hanya mengikuti emosinya sesaat sehingga tidak merencanakan kedatangan mereka ke Indonesia dengan baik. Rupanya kakaknya itu selangkah lebih maju darinya.


“Nak, bolehkah Bude memelukmu?” Tanya Ayu penuh harap. Matanya berkaca-kaca seolah ada kerinduan yang membucah dalam dada wanita itu. Setidaknya memeluk Zayed seolah ia sedang memeluk sepupu kesayangannya yang memilih menjauh darinya.

__ADS_1


Zayed menoleh kearah Mundika untuk meminta izin apakah tidak apa-apa jika ia menerima pelukan dari wanita yang mengaku kakak sepupu dari ibunya dan dijawab anggukan serta senyuman dari Mundika. Tak lama pemuda itu menerima pelukan erat dari Ayu. Walaupun terasa sedikit aneh dan canggung, Zayed merasa bahwa ada aliran hangat yang mengalir di dalam dirinya melalui pelukan Ayu. Rasa yang sama seperti dirinya yang dipeluk oleh ibunya. Ia pun membalas pelukan budenya itu.


Mundika yang melihat adiknya yang baru bertemu dengan Ayu tak kuasa menahan haru. Seolah benang yang kusut di dalam kehidupannya perlahan terurai. Ia hanya berdoa semoga saja keputusannya ini tidak salah.


“Oh iya, Pakde Randy titip salam untuk kalian berdua dan minta maaf tidak bisa menyambut kedatangan kalian karena mendapat tugas dinas keluar kota selama seminggu mulai dari kemarin,” Ayu melepas pelukan kepada Zayed dan meminta bantuan supirnya, Pak Didi, untuk mengangkat dua koper yang dibawa Mundika dan Zayed dan meletakkannya di bagasi mobil SUV hitam yang disupirinya. Setelah dirasa tidak ada yang ketinggalan, mereka segera naik ke mobil dan beranjak pergi dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju rumah Ayu yang berada di pinggiran Kota Bogor nan asri penuh akan pepohonan besar dan rindang.


“Wa’aikumsalam,” Jawab Mundika dan Zayed kompak.


“Malam ini kalian akan menginap di rumah Bude dulu, besok akan Bude antarkan ketempat kakek dan nenek kalian,” Ayu tak henti-hentinya berbicara. “Jangan kaget ya kalau malam hari seperti ini bukannya lengang namun semakin macet. Kalian sabar-sabar saja, oh iya, bagaimana kalau nanti kita mampir untuk makan malam dulu. Pak Didi, Bapak tahu kan tempat makan langganan saya...”


Mundika hanya tersenyum kemudian menyenderkan kepalanya ke belakang sambil menikmati suasana Jakarta di malam hari. Penuh dengan gemerlap lampu kota dan lampu kendaraan bermotor roda empat. Perlahan rasa kantuk yang sempat hilang tertutup kebahagiaan bertemu dengan Ayu tiba-tiba menyerang dan tak dapat ditolerir lagi. Ia pun kembali tertidur.


“Kak?” Tanya Zayed yang melihat Mundika tampak tertidur. Ia merasa sedikit kurang nyaman dengan kondisi saat ini karena merasa ditinggal sendiri oleh Mundika yang sedang tidur terlelap. Bagaimanapun meskipun Ayu adalah budenya, beliau tetaplah orang baru dalam hidupnya sehingga rasa canggung pun masih dirasakannya.

__ADS_1


“Sudahlah Nak, Mundika jangan diganggu dulu,” Ujar Ayu menenangkan. “Biarlah ia beristirahat. Zayed jika ingin melanjutkan tidur seperti Mundika, lanjutkanlah. Bude yakin perjalanan 8,5 jam di atas udara dengan kadar oksigen tipis telah melelahkan kalian. Lagipula perjalanan menuju rumah Bude masih cukup panjang. Ditambah lagi kita juga belum makan malam. Jika sudah sampai di tempat makan akan Bude bangunkan.”


***


__ADS_2