
“Alhamdulillah…,”
Tubuh Mansoor melemas tanda kelegaan yang tiada tara setelah berhasil dengan lancar melaksanakan Ijab Kabul kepada Dalmouk Al Hassimi yang saat ini telah resmi menjadi ayah mertuanya sebagai janji bahwa ia menerima tampuk tanggung jawab atas Mundika yang telah diserahkan secara resmi dari ayah mertuanya tersebut. Pembacaan doa penutup secara khusyuk oleh orang-orang yang berada di ruangan tersebut dilakukan untuk mendoakan dirinya dan Mundika agar menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah hingga akhir hayat mereka.
Tak lama kemudian, Mundika dengan didampingi para ibu memasuki ruangan Ijab Kabul untuk dipertemukan dengan Mansoor yang kini telah sah menjadi suaminya. Tatapan mata Mansoor tak berkedip melihat penampilan Mundika yang begitu cantik dan anggun dengan balutan abaya jalabiya berwarna putih berbordir benang emas, untaian kalung emas tersemat menutupi seluruh dada dan kerudung senada bisht berwarna putih dengan pinggiran emas yang dikenakannya sebagai jas resmi pendamping kandoora putih kebanggaan bangsa ini. Tuhan…, nikmat mana lagi yang aku dustakan? Jawabannya tidak ada!
Kali ini ia tidak sedang bermimpi, kali ini yang dilihatnya sungguh nyata dihadapan mata! Ia akhirnya menikah juga! Sebuah pelanggaran janji dirinya yang dulu tak mau menikahi siapapun dan memilih hidup membujang selamanya karena tak kunjung bertemu dengan perempuan yang tulus mencintainya tanpa embel-embel latar belakang keluarganya. Sialan! Pada akhirnya ia harus menjilat air ludahnya sendiri yang telah dibuangnya dulu. Tapi tidak apa-apa, toh pada dasarnya manusia berubah menjadi versi terbaik dirinya, dan ia bersyukur telah dipertemukan oleh Mundika yang mampu merubah pandangannya akan cinta.
“Pengantin pria dipersilakan membacakan doa khusus kepada pengantin wanita,” Ucap Penghulu dan hanya keheningan saja jawaban dari Mansoor yang masih terbius oleh pesona pengantin wanitanya yang telah berdiri di hadapannya.
“He-em, pengantin pria?” Tanya Penghulu kembali untuk menyadarkan keterpanaan Mansoor pada Mundika. “Anda dipersilakan membacakan doa khusus untuk pengantin wanita.”
“Eh, oh, iya,” Mansoor yang menyadari kebodohannya segera bersikap cool seperti dirinya yang biasa untuk menutupi rasa malunya karena tertangkap beberapa pasang mata bersikap diluar kewajarannya. Tentu saja kasak-kusuk kekehan kecil memaklumi perilakunya terdengar di telinganya termasuk Mundika yang berusaha menahan diri untuk tidak tertawa. Ayolah, ia kan juga manusia biasa yang bisa merasakan kegugupan seperti ini di hari pernikahan sekali seumur hidupnya dengan orang yang dicintainya.
Lelaki gagah itu segera berdiri dari duduknya untuk saling berhadapan dengan istri yang baru saja selesai dinikahinya. Ia membacakan doa khusus di kening Mundika kemudian mengecupnya dalam sebagai bentuk rasa sayang diikuti oleh gadis itu mencium tangan kanannya serta pertukaran cincin pernikahan untuk keduanya.
“Kau sangat tampan hari ini, suamiku,” Bisik Mundika.
“Kau juga sangat cantik hari ini, istriku, hingga aku dibuat terbuai olehnya,” Jawaban Mansoor dengan suara beratnya membuat Mundika tersipu malu. Bisa saja nih rayuan mautnya…
Setelah acara akad nikah selesai dilaksanakan, dilanjutkan dengan acara jagal gahwa, sebuah acara kecil-kecilan untuk sekedar minum kopi dan makan makanan ringan bersama untuk mempererat hubungan silaturahmi antara kedua keluarga sambil menikmati gambus, lagu-lagu yang dinyanyikan dengan syair berbahasa Arab dan tarian zafin yang dilakukan oleh kaum pria. Sebuah tarian unik dengan menggerakan kaki ke depan dan belakang seperti saling beradu dengan penari lainnya.
__ADS_1
Di sela-sela acara sederhana namun penuh riuh tawa bahagia karena dikhususkan untuk keluarga, kerabat dan teman dekat saja sebelum acara resepsi yang sesungguhnya, tampak Maitha yang terus menatap sepasang pengantin baru tersebut dengan tatapan mendamba. Bukan iri, namun lebih bertanya dalam hati, apakah ia bisa mendapatkan kebahagiaannya sendiri? Dengan hadirnya seorang lelaki yang akan meminangnya menjadi mempelai pengantin seperti adiknya yang saat ini begitu berbahagia sambil bersenda gurau dengan salah satu lelaki baik yang ada di Dubai ini dan telah sah menjadi suaminya, imamnya dan sahabat dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Setelah semua hal tidak baik yang ia lakukan kepada adiknya tersebut. Apakah ia masih punya kesempatan mendapatkan lelaki baik seperti Mansoor untuk Mundika?
*“Dari tatapanmu, apakah kau ingin menikah juga?” Sosok tak asing duduk di sebelah kursi kosong yang ditinggal oleh Haya untuk ikut menari dengan para anggota keluarga perempuan di tengah-tengah panggung bersama para penari zafin*. Begitu juga Zayed yang ikut berpartisipasi menjadi bagian dari penari zafin tersebut.
Maitha pun menoleh kearah datangnya suara tersebut. “Anda kan…”
“Hakeem bin Saeed, sahabat Babamu sekaligus atasan adikmu di rumah sakit,” Hakeem tersenyum kearah Maitha sambil memainkan cangkir kecil berisi kopi sebagai peneman kue-kue manis yang terhidang di meja.
“Te…, tentu saja aku ingin menikah! Siapapun yang berstatus single seperti diriku ini pastinya mempunyai impian ingin punya keluarga kecilnya sendiri,” Maitha menjawab pertanyaan Hakeem dengan gugup. Entah mengapa sejak pertemuan perdana mereka di rumah sakit, ia merasakan sesuatu yang berbeda pada lelaki paruh baya ini. Ditambah lagi cerita berbumbu dari Mundika yang begitu antusias menceritakan kebaikan-kebaikan dari duda tanpa anak yang ditinggal mati oleh istrinya ini. Ia kan jadi berharap akan ada sesuatu yang lebih diantara mereka berdua…, dasar kompor meleduk Mundika!
Baginya berapapun usia lelaki tersebut jika ia adalah sosok yang baik dan bisa memberikan kesempatan dirinya untuk berubah menjadi pribadi yang baik, ia akan dengan suka cita membuka hatinya. Namun mungkinkah pria ini bisa menerima masa lalunya yang begitu kelam dan manipulatif karena kesalahpahaman yang berkepanjangan dulu?
“Pertanyaannya adalah, apakah ada yang mau denganku setelah apa yang kulakukan pada adik-adik beda ibu hanya karena kebencian yang tak mendasar dulu?” Pandangan mata Maitha menoleh kearah ibunya yang sedang berbincang-bincang dengan kakak lelakinya Majid dan tunangannya, Rabiya.
“Maksudnya?” Maitha menaikkan alis sebelah kanannya untuk memastikan bahwa ia tidak salah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Hakeem.
“Kalau saya memiliki niat untuk menikahimu, apakah kau bersedia menerima?”
“Eh?” Sepasang iris mata kecoklatan milik Maitha melebar ucapan lanjutan dari Hakeem. Ia sedang tidak berhalusinasi kan?
“Jika kau bersedia, izinkan saya yang berjuang untuk mendapatkan restu dari sahabatku sekaligus ayahmu itu yang kuyakin akan membutuhkan sedikit perjuangan.” Hakeem tersenyum menatap penuh kelembutan kepada Maitha. Gadis cantik yang begitu mirip dengan Raana, ibunya. Cinta pertamanya yang hanya dapat dipendam karena rasa tak enaknya dulu pada Dalmouk yang merupakan kakak sekaligus sahabatnya hingga akhirnya dinikahi oleh orang lain dulu. Dan sekarang ia tak mau kehilangan kesempatan yang sama dengan memantapkan hati bahwa ia pun pantas memperjuangkan kebahagiaannya sendiri setelah dirinya selalu berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Setidaknya ia kini memiliki pendukung seperti Mundika dan Mansoor yang akan selalu berada di sisinya untuk membujuk Dalmouk menerimanya sebagai bagian dari anggota keluarganya. Itu pun kalau Maitha menerima lamarannya saat ini…
__ADS_1
***
“Mundika, sudah waktunya,” Mansoor memberikan aba-aba mengenai rencana yang telah dibuatnya secara matang bersama Mundika sebelum hari pernikahan mereka.
“Iya,” Mundika mengangguk dan mengambil microphone yang tersedia dekat dengannya untuk kemudian mengambil alih acara sementara. “Para hadirin tamu yang saya dan Mansoor cintai serta sayangi, mohon maaf mengganggu pesta ini sejenak. Izinkanlah saya untuk menyalakan teleconference dengan orang-orang yang tidak dapat menghadiri hari bahagia ini. Dan teleconference ini merupakan hadiah saya dan Mansoor kepada Baba dan Ibu karena telah berhasil membesarkan saya dan Zayed dengan baik hingga sekarang.”
Dalmouk dan Artika saling bertatapan penuh tanya apa yang dimaksud Mundika dengan ucapannya barusan ketika sebuah video terpampang pada layar televisi yang telah terhubung pada laptop yang telah diletakkan Ali, salah satu pengawal Mansoor.
“Assalamu’alaikum anak perempuanku Artika, menantuku Dalmouk,” Suara dan wajah Janitra serta Jayanti terpampang nyata dihadapan Dalmouk dan Artika tersenyum kepada mereka. “Semoga di hari kebahagiaan cucu perempuanku ini kita dapat kembali menautkan hubungan yang pernah putus dulu hanya karena rasa ego dan sakit hati sehingga mengambil keputusan hingga melukai.”
“Bapak…, Ibu…,” Artika terkejut tak menyangka mendapatkan hadiah yang tak terduga olehnya selama ini. Ia yang terharu tak kuat menahan tangisnya melihat kedua orang tuanya yang pernah dibuat kecewa oleh dirinya dan Dalmouk hingga mengusirnya dari rumah dan mengeluarkan dirinya dari anggota keluarga kini ada dihadapannya untuk berkomunikasi langsung meskipun dengan menggunakan media teknologi canggih seperti ini. Dalmouk pun tak kalah terkejut bahwa setelah sekian lama tak bersua, akhirnya ia masih diberikan kesempatan untuk memiliki orang tua lagi setelah kedua orang tuanya tiada.
“Terima kasih kepada Sheikh Maktoum dan Sheikha Shaikha yang telah mengangkat dan menerima cucu perempuan kami menjadi menantu dan bagian dari keluarga anda, semoga kesehatan, umur panjang dan kebahagiaan selalu dilimpahkan untuk anda sekeluarga,” Nampaknya usia hanyalah angka bagi Janitra dalam keahlian tata Bahasa Inggris. Kemampuannya rupanya masih melekat pada otak dan lisannya meskipun telah dimakan masa. “Bagi kami keberadaan Mundika dan Mansoor sangatlah berharga sehingga membuat hubungan kami dengan anak dan menantu kami bisa kembali seperti sedia kala. Merekalah gerbang pembuka hingga kami berada di sini dan bisa bersua kembali dengan anak perempuan serta mantu kami. Tanpa mereka berdua, mungkin tidak ada peristiwa ini.”
Mansoor dan Mundika saling bergandengan tangan dan bertatapan penuh senyum kebahagiaan. Mereka bertekad, bahwa momen hari bahagia mereka adalah titik balik untuk orang-orang terkasih di sekeliling mereka juga ikut berbahagia.
“Khusus untuk putri kami dan suaminya, kami sudah memaafkan kesalahan kalian,” Janitra melanjutkan ucapannya. “Marilah kita memulai lembaran baru dengan membuang masa lalu karena sejatinya manusia adalah makhluk yang tak luput dari kesalahan. Terlebih lagi usia kami pun mungkin sudah tidak lama lagi sehingga ingin rasanya bisa memperbaiki hal-hal buruk yang terjadi dan merubahnya menjadi kebaikan dan kebahagiaan hingga akhir nanti.”
“Nduk, Le’, jika kalian ada waktu luang, mampirlah ke sini untuk menemani Bapak dan Ibu,” Lanjut Jayanti dengan Bahasa Jawa halus yang hanya dapat dimengerti Artika dan diterjemahkan kepada Dalmouk hingga pria paruh baya itupun tak kuasa untuk tidak terharu hingga menitikkan air mata. Setelah apa yang telah diperbuatnya pada putri kesayangan mereka hanya karena mengatasnamakan cinta, ia masih mendapatkan maaf dari kedua orang tua tersebut.
“Terima kasih Pak, Bu, terima kasih atas kesempatan kami untuk dapat mengabdi kepada Bapak dan Ibu,” Dalmouk menundukkan kepalanya dalam sebagai rasa syukurnya akan hadiah tak terduka ini. “Kami pasti akan ke sana untuk menjenguk Bapak dan Ibu…”
__ADS_1
***