Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
30


__ADS_3

“Dasar anak tidak tahu diuntung!”


PLAK! Terdengar suara tamparan keras membuat orang disekelilingnya terkejut.


“Dalmouk!” Teriak Artika karena terkejut melihat Dalmouk datang mendadak berusaha melindungi Artika yang hendak ditampar oleh Janitra dan berakhir pipi kanan lelaki itu yang tertampar dan jatuh tersungkur karena tenaga pria paruh baya tersebut yang terlalu kuat penuh emosi.


Artika yang saat ini disidang oleh kedua orang tuanya, kakak lelakinya, Indra dan kedua orang tuanya tak menyangka bahwa Dalmouk akan segera datang menemuinya setelah ia dikejutkan dengan hasil test pack positif yang ia dapatkan karena merasakan ada yang salah dari dirinya sejak peristiwa antara dirinya dan Dalmouk terjadi. Ia sudah berpasrah bahwa lelaki itu hanya ingin merusaknya tanpa mau bertangggung jawab dan membiarkan dirinya menelan pil pahitnya sendirian karena pria itu telah beristri. Ia merasa bersalah kepada kedua orang tuanya, namun ia lebih merasa bersalah lagi kepada Indra yang telah memberikan kesempatan kedua untuk hubungan mereka yang tinggal seminggu lagi jika tidak ada halangan dan rintangan dapat bersatu di pelaminan pernikahan jika saja hal mengerikan itu tidak terjadi. Mengapa semua hal ini bisa terjadi padanya? Apakah karena ia telah berbuat seenaknya terhadap hidup yang diberikan oleh Sang Pemilik segalanya sehingga ini adalah teguran keras dari-Nya?


“Sopo koe? Berani-beraninya menghalangiku untuk mendidik putriku sing nggawe isin keluargane dewe?” Suara Janitra masih meninggi setelah melihat seorang berwajah asing dengan hidung mancung khas Bangsa Arab dan kumis serta jambang rapi di wajahnya.


Dalmouk yang tak mengerti bahasa yang digunakan oleh Janitra memberikan kode kepada Artika untuk mengartikannya sambil menahan nyeri di pipi kanannya bekas tamparan tadi.


“Apa yang kau lakukan di sini?” Bisik Artika masih bingung dengan kondisi yang terjadi.


“Bertanggung jawab atas yang telah aku perbuat padamu,” Jawab Dalmouk membuat Artika sedikit tersipu namun kembali tersadar akan statusnya sebagai pria yang telah beristri.


“Kalau kau tak mengerti ucapanku, akan kupertegas lagi, siapa kamu? Berani-beraninya menghalangiku untuk mendidik putriku yang telah membuat malu keluarganya sendiri ini?” Janitra yang menyadari bahwa lelaki itu benarlah seorang berkewarganegaraan asing mempertegas dengan penggunaan Bahasa Inggrisnya yang terkenal lancar seolah logat Jawa yang selalu menghiasi di setiap ucapannya hilang tak berbekas.


“Saya Dalmouk Al Hassimi, orang yang akan bertanggung jawab dengan kekacauan semua ini,” Dalmouk berdiri lantang menatap lurus tepat di hadapan Janitra.


“Apa maksudmu?”


“Sayalah orang yang telah menghamili putri anda guna mencegah pernikahan gadis yang saya cintai dan saya yakin di dalam hatinya masih mencintai saya ini untuk menikah dengan orang lain.”

__ADS_1


Indra yang mendengar penyataan Dalmouk segera bangkit dari duduknya karena tahu sejarah percintaan Artika dengan lelaki Arab ini tak menyangka lelaki ini pulalah yang menghancurkan impian bahagianya untuk memiliki Artika di sisinya. Ia tidak terima lelaki itu begitu bangga tanpa merasa bersalah atas kehancuran yang telah diperbuatnya kepada dirinya, Artika dan kedua keluarga mereka.


“Koe ojo melu-melu, Le’,” (Kamu jangan ikut-ikutan) Kamila, ibu dari Indra menahan tangan Indra agar tidak ikut campur urusan keluarga calon besan yang mungkin hanya tinggal kenangan tiada harapan. Padahal ia sungguh menyayangi Artika seperti putrinya sendiri dan di dalam hatinya saat ini hanyalah sebuah kekecewaan yang mungkin kadarnya tidak sebanyak kedua orang tua gadis tersebut.


“Saya mohon izinkan saya untuk bertanggung jawab dengan menikahi Artika dan membahagiakannya,” Lanjut Dalmouk.


“Membahagiakan seperti apa yang kau maksud Tuan Dalmouk?” Indra yang sudah tak tahan lagi dengan ucapan Dalmouk bak pahlawan kesiangan akhirnya melanggar ucapan Ibunya untuk tidak ikut campur. “Anda itu sudah mempunyai istri! Apakah kau tidak malu dengan kelakuan anda dengan menghancurkan kebahagiaanku dan Artika serta keluarga kami?!”


“Opo iku tenanan, Nduk? Ibu ndak salah dengar kan?” (Apa itu benar, Nak? Ibu tidak salah dengar kan?)


Artika hanya bisa mengangguk lemas sambil terus berusaha menahan tangis dan penyesalannya yang tak mungkin dapat diperbaiki lagi.


“Oalah Gusti, kulo njaluk ngapuro atas keselahan-kesalahan keluarga kulo…,” (Ya Allah, hamba memohon ampunan atas kesalahan keluarga hamba…) Betapa terkejutnya Jayanti dengan kenyataan yang bertubi-tubi saat ini. Seharusnya ia dulu bersikeras agar anak gadisnya itu tidak mengikuti ambisinya bekerja di luar negeri. Seharusnya ia bisa meyakinkan hati suaminya bahwa anak gadisnya tetap bekerja saja di Indonesia. Namun semuanya sudah terlanjur dan menjadi bubur tak dapat diputar dan diperbaiki kembali. Keluarganya pernah membuat kesalahan apa sehingga mengalami takdir seperti ini? Ia dan suaminya hidup dengan kejujuran dan kesederhanaan yang menjadi nilai luhur keluarganya secara turun-temurun, mengapa kejadian yang mengerikan dan memalukan ini harus menimpa dirinya? Menimpa putri kebanggaan dan kesayangan mereka? Apakah ada karma buruk di masa lalu keluarganya yang pernah menyakiti orang lain sehingga pembalasannya begitu tak terduga dan sungguh menyakitkan?


“Bu…, Bu…, “Janitra dan Hadyan bergegas menjaga kestabilan tubuh Jayanti yang melemas tak berdaya serasa ingin pingsan agar tetap sadar. Artika pun refleks menghampiri ibunya namun uluran tangannya segera ditepis oleh Hadyan yang merasa sungguh kecewa dengan dirinya.


Melihat calon besannya itu telah pergi, Janitra hanya bisa terdiam menahan kesedihan dan kekecewaan yang begitu mendalam. Mengapa bisa-bisanya putrinya itu mengecewakan keluarga lelaki baik itu hingga dua kali. Dulu demi karir dan sekarang karena kehamilan tak terduga ini, bahkan lelaki yang menghamilinya merasa tidak bersalah dan bangga dengan apa yang telah diperbuatnya seolah ia dan istrinya tak dianggap sebagai orang tua yang harus dipikirkan ketika lelaki itu dengan seenaknya merusak anak gadisnya.


“Pergilah…,” Ucap Janitra dengan suara bergetar. Ia sebenarnya sungguh tak rela anak gadisnya pergi, namun rasa malu karena telah mengecewakan calon besan mereka membuat harga dirinya harus ia tinggikan sehingga mengambil keputusan seperti saat ini. “Pergilah dengan lelaki yang bersedia bertanggung jawab kepadamu itu. Anggap saja Bapak dan Ibu sudah kehilanganmu sebagai putri kami…”


Air mata Artika yang sejak tadi ditahannya akhirnya jebol juga. Harapannya agar kedua orang tuanya tetap menerima dirinya meskipun telah meninggalkan bekas luka dan aib akhirnya pupus sudah.


“Pak…, Bu…, jangan begitu…, Artika masih butuh Bapak dan Ibu…, Mas Hadyan, apa Mas tidak mau membelaku sama sekali? Bukankah jika seorang anak telah berbuat salah adalah orang tua tempat anak tersebut dimaafkan?” Ujarnya lirih dan lemah penuh permohonan namun Dalmouk yang tak tega melihat Artika begitu terluka segera mengangkat tubuh mungil wanita yang sedang mengandung anaknya itu saat ini. Ia tak ingin terjadi apa-apa pada belahan jiwanya itu dan anaknya, anak yang telah menjadi tiket emas menjadikan dirinya sebagai pemilik Artika satu-satunya.

__ADS_1


“Namun kesalahanmu itu adalah kesalahan yang sudah tidak dapat dimaafkan, Dek,” Hadyan yang merasa kehilangan sahabat lelaki sekaligus calon adik iparnya karena ulah adik perempuannya hanya bisa bersikap dingin. “Jadi Mas mohon kepadamu, turutilah permintaan Bapak dan Ibu, pergilah bersama lelaki itu, dan jangan pernah kembali kemari…”


“Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir akan Artika dan calon anak kami,” Dalmouk berkata penuh kesungguhan menatap keluarga Artika yang begitu terluka karena perbuatannya yang begitu nista karna cinta buta sambil memeluk tubuh Artika penuh perlindungan. “Jika ingin menyalahkan, salahkanlah saya yang begitu mencintai putri kalian dan menyesali mengapa dulu membiarkannya pergi dan mengikuti keinginan orang tua saya untuk menikahi sepupu jauh saya hingga berbuat senekat ini. Jika dapat diputar waktu, tentulah saya dan keluarga saya akan meminang putri anda secara baik-baik dan terhormat. Namun kita tidak dapat memutar kembali ke masa lalu. Tapi saya berjanji kepada keluarga anda, saya akan berusaha melindungi dan membahagiakan putri anda dan calon anak kami sekuat tenaga, meskipun keluarga besar saya dan keluarga anda menentang hubungan ini, saya pastikan cinta dan kasih sayang saya kepada putri anda tidak akan pernah hilang hingga nyawa ini menghilang dari jasadnya.”


Jayanti membuka kedua matanya yang sudah tua. Ia terbangun dari tidurnya dan melihat sekelilingnya. Terik matahari menembus celah jendela yang ditutupi gorden putih berbahan lace. Rupanya pagi, ah tidak, siang hari telah menyapa tubuh tuanya lagi yang sejak kehilangan putrinya merasa jiwanya telah mati suri. Ia termenung mengingat mimpi dalam tidurnya tadi. Rasanya sudah sekian lama ia tak bermimpi sejelas tadi seolah kejadian itu baru saja dilaluinya. Ia menatap jam di dinding telah menunjukkan pukul 10 pagi. Ternyata ia sudah tertidur lelap cukup lama setelah sholat shubuh tadi. Hal yang tak biasanya terjadi.


“Ono opo, Bu?” (Ada apa, Bu?) Janitra yang menyadari bahwa istrinya itu sudah bangun dari tidur segera menghampirinya.


“Pak, aku tadi bermimpi tentang kejadian kita mengusir Artika dan suaminya dari rumah ini,” Jayanti menatap kearah suaminya.


“Bu, sudahlah…, itu semua sudah berlalu…,” Janitra menghela napas panjang. Sejak kejadian itu, kondisi tubuh Jayanti terus menurun dan tak dapat lagi melakukan aktifitas yang terlalu berat sehingga ia memutuskan menambah asisten rumah tangga dalam mengurus rumah tua mereka. “Diikhlaskan saja…”


“Tapi Pak…,” Belum sempat Jayanti melanjutkan terdengar suara teriakan yang taka sing di telinga mereka.


“Pakde, Bude, ada berita baik,” Ayu berjalan tergopoh-gopoh sambil membawa laptop di tangan kirinya dan duduk disebelah kanan Jayanti. Ia yang telah kehilangan kedua orang tuanya sudah menganggap Jayanti dan Janitra sebagai kedua orang tuanya. Terlebih lagi dirinya dan suaminya tidak memiliki anak sehingga ia sering berkunjung ketempat kedua orang tua tersebut untuk menemani sekaligus menghibur diri.


“Ayu, kamu ini membuat kaget kami saja, ada apa tho pagi-pagi sudah bersemangat seperti ini?” Tanya Janitra.


“Sebentar Pakde, Bude, aku sambungkan dulu jaringan internetnya ke laptop ini,” Ayu segera masuk ke sebuah aplikasi teleconference untuk menghubungkannya dengan seseorang yang telah membuat janji sebelumnya untuk melakukan komunikasi jarak jauh. Tak lama kemudian tampak seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahunan bersama lelaki tampan sedikit dingin di sampingnya. Mereka saling bertatapan seolah saling memberikan kekuatan untuk menyapa kedua pasangan paruh baya di hadapan mereka.


“Siapa mereka?” Tanya Janitra yang merasa tak asing dengan wajah sang gadis.


“Seseorang yang selama ini ingin menemui dan menyapa Pakde dan Bude,” Jawab Ayu tersenyum lebar.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum Eyang Kakung, Eyang Putri,” Gadis itu menyapa penuh semangat dan senyuman manis di bibirnya. “Perkenalkan, saya Mundika bint Dalmouk dan lelaki disebelah saya adalah Mansoor bin Maktoum, tunangan saya.”


***


__ADS_2