Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
7


__ADS_3

"Selamat pagi Bu," Sapa Mundika kepada pasiennya yang bernama Ayu. Wanita paruh baya yang telah ia selamatkan dan sempat memanggilnya Artika.


"Selamat siang Dok," Ayu menarik tubuhnya yang semula tertidur menjadi bersandar. Sudah seminggu ia berada di sini dan berkat tim perawat serta dokter cantik yang sekilas mirip dengan sepupunya yang bernama Artika, ia lebih lekas pulih. Terlebih lagi ada suaminya, Randy yang setelah mendapatkan kabar bahwa ia kecelakaan langsung terbang dari Indonesia ke Dubai untuk mendampingi dan mengurus segala administrasi yang dibutuhkan olehnya.


"Selamat pagi Pak Randy," Lanjut Mundika menyapa suami pasien visit pertamanya hari ini.


"Selamat pagi Dokter," Jawab Randy.


"Bagaimana kabar Ibu sekarang? Apakah sudah lebih baik kondisinya?" Tanya Mundika dengan suara lembut. Ia menarik kursi yang ada di ruangan tersebut dan mendekat ke arah Ayu.


"Alhamdulillah baik Dok," Ayu balas memberi senyum kepada Mundika. "Saya mohon maaf pada saat itu memanggil nama Dokter dengan nama Artika karena dokter cukup mirip dengan sepupu saya yang pergi meninggalkan rumah orang tuanya 26 tahun yang lalu setelah memutuskan menikah dengan seorang lelaki berkebangsaan Arab yang tidak diketahui oleh keluarga besar kami. Jika ia punya anak mungkin anaknya sudah seusiamu..."


Hati Mundika sesaat menjadi sesak. Ia berani menyimpulkan bahwa Artika yang dimaksud adalah ibu kandungnya sendiri. Bagaimana bisa? Setelah dua puluh lima tahun hidupnya dan akan menikah, justru masa lalu Ibunya terkuak. Apakah ini bagian dari ujiannya sebelum menikah?

__ADS_1


"Bu, maukah anda menceritakan lebih banyak tentang sepupu Ibu yang bernama Artika?" Mundika menahan sekuat tenaga agar tak ada tangis yang menyapa di pipi. Ia sangat membutuhkan detail cerita versi Ayu untuk membandingkan dengan versi ibunya dan Mama Latifa. "Saya merasa tertarik dengan cerita Ibu yang mengatakan bahwa saya mirip dengannya."


Ayu pun menceritakan segala sesuatunya dengan lancar seolah Mundika adalah seorang psikolog handal, bagaimanapun profesinya menuntutnya untuk menjadi tempat pemberi kenyamanan dan sugesti agar pasien merasakan dirinya bisa lekas sembuh dari penyakit yang diderita oleh mereka walaupun, dirinya pun bukan superhero yang sempurna. Dibalik wajah sang gadis, jantungnya berdebar-debar tak karuan. Bingung, sedih, bimbang, dan rasa ingin menangis berpadu menjadi satu. Ingin rasanya ia menenangkan diri sebelum ia bertanya langsung pada ibunya. Walaupun sang ibu pasti akan diam seribu bahasa seperti biasanya tidak memberikan pendapat apapun karena hal tersebut telah 26 tahun berlalu.


Dan di sinilah ia sekarang dengan kondisi basah kuyup sambil memeluk handuk ditambah omelan dari calon suaminya, Mansoor. Ia jadi mengingat kembali pertemuan pertama mereka yang menurutnya konyol bin ajaib.


"Kau serius harus ke Indonesia?" Tanya Mansoor menatap kearah Mundika untuk memastikan bahwa gadisnya itu bersungguh-sungguh akan tekadnya itu. "Kau belum pernah kesana sebelumnya..."


"Aku harus ke sana Mansoor untuk memastikan sesuatu. Meyakinkan diriku mengenai apa yang salah dari ibuku, aku, dan adikku sehingga keluarga besar baba sangat tidak menyukai kami selain karena ibuku adalah orang Asia Tenggara dan banyak dari mereka yang menganggap bahwa sebagian bangsa tersebut memiliki kasta lebih rendah dibandingkan Emirati atau orang Barat pada umumnya. Setahuku ibuku adalah orang yang berpendidikan Mansoor, beliau pernah bekerja sebagai Engineer di perusahaan minyak milik baba sebelum mereka menikah..."


"Penting Mansoor, aku ingin ketika menikah denganmu tak ada omongan miring tentangmu yang menikahi setengah Emirati sepertiku," Tubuh Mundika bergetar seolah rasa amarah, kekecewaan, kesedihan dan kebingungan bercampur menjadi satu. "Jika kau ada dalam posisiku, kau pasti akan mengerti mengapa aku nekad berbuat seperti ini. Hidup dalam masa lalu ibumu yang tidak jelas seolah sengaja ditutupi membuatmu serba salah dalam menjalaninya. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat dalam benakku selama ini dan sepertinya Yang Mahakuasa telah memberikan izin untukku mengetahui semuanya. Aku tak sengaja bertemu dengan sepupu ibuku, Mansoor."


"Apa? Yang benar saja? Memangnya ada kebetulan seperti itu?!" Mansoor yang selalu mengutamakan logika dalam setiap langkah yang diambilnya tak ayal terkejur bahwa kebetulan itu nyata ada. Ia jadi teringat kembali pertemuan awal dengan gadisnya itu yang diluar akal sehatnya. Hei Mansoor, kau sungguh sehati dengan Mundika sama-sama memikirkan awal pertemuan kalian berdua saat ini.

__ADS_1


"Buktinya kenyataannya seperti itu Mansoor!" Nada suara Mundika berubah sedikit meninggi dan tak ayal membuat Mansoor terkejut. Ia segera menutup mulutnya tersadar bahwa ia sudah bertindak sopan kepada Mansoor. "Maafkan aku karena sudah berkata kasar padamu...," Ujar Mundika lirih. "Aku..., aku hanya ingin mengenal dan tahu kakek dan nenek dari pihak ibuku Mansoor. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku ada, Zayed ada dan ibu juga baik-baik saja...," Kedua mata indahnya yang terukir eyeliner hitam tipis mengembang buliran cairan bening yang siap untuk mendobrak cakrawala bingkai mata.


Mansoor menghela napas panjang. Setelah sebelumnya dirinya dibuat pusing dengan ancaman penundaan pernikahan mereka berdua dari Mundika. Ingin rasanya ia menarik tubuh mungil Mundika dan mendekapnya erat untuk membuatnya tenang. Namun ia harus bisa menahannya karena hubungan mereka belum sah dimata agama dan negara. Ingin sekali ia membantu Mundika namun perintah ayahnya adalah mutlak terutama mengenai tanggung jawab pekerjaannya sebagai salah satu pejabat di Dubai. Ia tak bisa sembarangan pergi kemanapun apalagi ini terkait urusan pribadi. Ya Allah, mengapa dua bulan terasa lama sekali? Batinnya berteriak. Apakah sebaiknya ia mempercepat pernikahan mereka sehingga ia bisa menemani Mundika untuk ke Indonesia tanpa ada kekhawatiran sedikitpun tentang keselamatan sang gadis?


"Aku tak bisa menemanimu ke Indonesia untuk bertemu dengan kakek dan nenekmu karena tanggung jawabku atas pekerjaanku disini..."


"Eh," Mundika mendongak menatap tak percaya akan jawaban dari tunangannya itu. Buliran air mata yang berusaha ia tahan akhirnya luruh mengaliri pipi kemerahanannya. Jika tunangannya saja tidak mendukungnya, kepada siapa lagi ia bisa meminta bantuan? Orang tuanya? Tidak mungkin, kakak lelakinya? Lebih tidak mungkin..., dirinya sendiri? Apakah ia mampu melakukannya sendirian sementara ia butuh wali yang mendampingi jika ingin pergi jauh keluar dari UEA. Mansoor bin Maktoum adalah harapan satu-satunya untuk menolongnya. Namun penolakan dari lelaki tersebut membuatnya lemas tak berdaya.


"Kecuali...," Mansoor menghentikan kata-katanya sambil menunggu respon Mundika. Melihat gadis itu menangis sungguh pemandangan langka, begitu cantik tak terkira. Siapa yang menyangka bahwa seorang Mundika bint Dalmouk yang begitu perkasa di dunia kedokteran memiliki sisi lemah yang manis seperti ini?


"Kecuali apa?" Mundika menjawab dengan suara serak sambil berusaha menghapus air matanya. Ia sudah pasrah karena jika sendirian dirinya tak akan bisa keluar dari negara ini...


"Kecuali kita melakukan akad nikah terlebih dahulu dalam waktu dekat ini sehingga aku punya alasan kepada ayahku untuk mendampingimu ke Indonesia, bagaimana?" Mansoor tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Mundika terpojok dan tak punya pilihan. Kau licik Mansoor! Menggunakan kekuasaanmu untuk menekan gadis itu!

__ADS_1


***


__ADS_2