Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
8


__ADS_3

Mundika termenung dalam diamnya di teras belakang rumahnya yang tampak remang-remang cahaya lampu bersapa syahdu dengan tanaman yang tumbuh disana. Pandangannya kosong namun pikirannya mengembara menembus angkasa. Permintaan Mansoor membuatnya bingung dan serba salah. Niat awalnya untuk menunda pernikahannya dengan Mansoor berbalik menjadi bumerang menjadi dipercepat.


"Ada apa gerangan putri kesayanganku duduk termenung seorang diri sendiri disini?" Suara Artika di belakang Mundika menyadarkan dirinya untuk menoleh.


"Ibu...," Mundika memperhatikan Artika yang berjalan dan meletakkan secangkir teh hangat dengan seirus lemon diatasnya. Jika sang ibu sudah memberikan minuman tersebut menandakan bahwa beliau mengetahui kekhawatiran dan kebimbangan yang sedang ia rasakan saat ini.


"Apakah ada hal yang ingin kau bagi bersama Ibu?" Artika duduk disebelah Mundika dan mencondongkan tubuhnya seolah menyampaikan bahwa ia siap mendengarkan keluh kesah anak gadisnya itu.


"...," Mundika terdiam sejenak kemudian membulatkan tekadnya untuk mengutarakan perasaan hatinya. "Bu, tadi sore Mansoor memintaku untuk mempercepat pernikahan kami dalam minggu ini karena ia ingin menemaniku pergi ke Indonesia. Ibu mengerti kan mengapa aku sangat ingin ke sana?"


Artika terkejut dalam diam. Hatinya bergemuruh penuh ketika Mundika mengucapkan nama 'Indonesia'. Negara tempat dirinya dilahirkan dan dibesarkan serta sangat ia rindukan dan terpatri lekat di dalam sanubarinya hingga saat ini.


"Seminggu ini aku merawat seorang wanita paruh baya bernama Ayu Prameswari karena mengalami kecelakaan mobil. Darinya aku tahu bahwa beliau adalah sepupu Ibu dan betapa hati ini senang sekaligus khawatir karena hal yang selama dua puluh enam tahun Ibu simpan rapat tentang mereka kepadaku dan Zayed akhirnya terkuak. Menurut Ibu aku harus bagaimana? Haruskah aku mempercepat pernikahanku dengan Mansoor sehingga aku dapat pergi ke Indonesia untuk bertemu dengan orang tua dan keluarga besar Ibu atau tetap dengan jadwal pernikahan kami dua bulan lagi dan Ibu menceritakan semuanya kepadaku sehingga aku dapat membatalkan rencanaku ke sana untuk fokus berbakti pada suamiku dan keluarga kecilku kelak?"


Tubuh Artika bergetar tak dapat lagi menahan pergolakan di dalam dadanya. Takdir macam apa yang sedang ia hadapi saat ini? Ayu Prameswari? Ya Allah, bagaimana bisa kejadian yang kemungkinan terjadi hanya sepersekian persen dialami oleh keluarganya ini? Mengapa harus Mundika yang bertemu dengan Ayu? Mengapa bukan dirinya sehingga ia bisa mencegah pertemuan anaknya dengan Ayu?


"Mengapa kau begitu ingin tahu tentang mereka Nduk? Apakah keluarga Baba ada yang masih menyakitimu karena darah Jawamu itu?"


"Bukan itu Bu, bukan...," Mundika menggelengkan kepalanya. "Tidak sesederhana itu..."

__ADS_1


"Lantas apa Nduk?" Lirih Artika.


"Karena lelaki yang akan kunikahi itu adalah anak dari Emir Dubai Bu," Ujarnya frustasi. "Dengan keadaanku saat ini saja sudah banyak omongan miring tentang latar belakangku, bagaimana jika nanti aku menikah dengan Mansoor Bu? Apa kata penduduk UEA khususnya Dubai jika lelaki itu menikahi orang seperti aku? Apa lebih baik aku batalkan pertunangan ini ya Bu sebelum terlanjur? Aku tidak tega melihat nama baiknya yang selama ini terjaga menjadi tercoreng hanya karena beristrikan aku Bu..."


"Nduk!" Nada suara Artika meninggi dan tegas. Ia menggenggam kedua tangan Mundika erat. "Ibu mohon jangan berkata seperti itu!"


Mundika terkejut dengan hentakan suara Ibunya. Seumur hidupnya tak pernah sekalipun dirinya melihat Ibunya marah seperti ini.


"Baba dan Ibu sungguh bersyukur ada lelaki yang berani melamarmu untuk menjadikanmu istrinya. Hanya takdir Yang Mahakuasa yang menentukan bahwa lelaki tersebut adalah salah satu anak Emir Dubai Nduk..., Baba dan Ibu setuju karena yakin bahwa lelaki itulah yang bisa menjagamu disaat Baba dan Ibu tidak mampu melakukannya sehingga kau tumbuh mandiri menyimpan luka. Jadi Ibu mohon jangan berpikir untuk memutuskan hubungan pertunangan kalian dan biarkan Baba dan Ibu yang menelan semua tentang masa lalu kami, jangan dirimu Nduk, karena masa depanmu masih panjang. Baba dan Ibu hanya ingin melihat kau bahagia...,” Artika berurai air mata sambil bersimpuh dihadapan Mundika ketika ia menyampaikan isi hatinya. Ia begitu emosional sehingga tanpa sadar dirinya menangis. Bukan ia tak mau menceritakan tentang keluarganya yang berada di Indonesia karena dirinya sangat bangga dengan darah Jawa yang mengalir deras merekuh sukma. Hanya saja ia dan Dalmouk sudah menorehkan luka sehingga tak pantas rasanya untuk membebani luka itu pada anak-anak mereka terutama Mundika.


Mundika tertegun melihat ibunya yang semula marah tiba-tiba menangis dan tampak rapuh. Ia merasa bersalah karena egois memikirkan dirinya sendiri sehingga membuat Ibunya yang selalu tenang berubah tak


***


"Selamat siang Ayu."


"Artika...," Ayu terperanjat dengan kedatangan sepupunya yang selama ini menghilang bak ditelan bumi dua puluh enam tahun yang lalu sehingga meninggalkan tanya oleh seluruh keluarga besar dan Pakde serta Bude yang hanya bisa diam seribu bahasa.


"Apa kabar Dek?" Artika meletakkan sekeranjang berisi buah-buahan di meja yang berada di sebelah tempat tidurnya dan menarik sebuah kursi untuk duduk berdekatan dengannya.

__ADS_1


"Kabarku baik Artika, kabarmu bagaimana?" Ayu tampak begitu senang melihat Artika masih hidup dan sehat.


"Aku baik-baik saja Ayu," Artika menyentuh tangan Ayu seolah tak ada jarak diantara mereka. "Bagaimana kondisimu? Kudengar kau mengalami kecelakaan mobil..."


"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik, kurasa sebentar lagi aku sudah bisa sembuh. Tapi bagaimana kau bisa tahu aku dirawat disini?"


"Mundika, Dokter Mundika bint Dalmouk yang memberitahukanku tentangmu Ayu."


"Iya, dokter itu sangat baik kepadaku dan wajah serta posturnya agak mirip denganmu, jangan-jangan dia..."


"Iya, dia anakku Ayu, tapi kumohon cukup sampai di sini saja kau mengetahui tentangnya," genggaman tangan Artika kepada Ayu mengencang bak mengancam namun terselip permohonan yang dalam. "Aku mohon jangan kau biarkan ia tahu tentang kisahku dan Dalmouk sehingga aku harus pergi meninggalkan orang tuaku Ayu. Cukuplah dosa itu kami berdua yang tanggung, jangan dirinya. Gadis itu sudah cukup kenyang dengan cacian karenanya. Dan saat ini sudah saatnya dia berbahagia dengan hidupnya. Jika kau menyayanginya, biarkan ia berbahagia karena sebentar lagi ia akan menikah dengan salah satu anak pimpinan kota ini. Satu-satunya lelaki yang mau menerima keadaannya yang setengah Emirati. Aku mohon Ayu, jangan kau hancurkan hidupnya..., bila perlu aku akan bersimpuh kepadamu untuk menjaga rahasia ini selamanya..."


Ayu terdiam. Ia tak menyangka Artika yang ia kenal sangat tangguh dan percaya diri dengan kemampuannya serta berintegritas tinggi berubah melemah sejak ia mengenal Dalmouk. Mengapa keluarganya jadi seperti ini? Apakah dulu pernah ada perbuatan buruk yang nenek moyangnya lakukan hingga harus membuat seorang anak menjadi tidak berbakti dan meninggalkan orang tuanya hanya karena cintanya pada seorang lelaki?


"Aku sungguh tak mengerti jalan pikiranmu Artika," Ayu menghela napas tak diberikan pilihan lain atas masalah ini. "Pakde dan Bude memintaku untuk mencari informasi mengenai keberadaan dirimu yang tak kunjung memberi kabar apakah kau masih hidup atau tidak. Tak kusangka disaat aku sudah putus asa, kecelakaan mobil yang kualami justru menjadi gerbang pertamaku bertemu dengan keponakanku sendiri. Jika memang itu maumu Mbak, aku akan menurutimu, yang terpenting keponakanku bahagia..."


"Terima kasih Ayu..., terima kasih...," Artika lega mendengar pernyataan dari Ayu. Ia tersenyum dalam tangis dan memeluk Ayu, sepupunya dengan erat. "Aku mohon sampaikan kepada beliau berdua bahwa aku, Mundika, dan Zayed bahagia serta bangga bahwa di dalam diri kami ini ada darah Indonesia dan Jawa karena aku mendidik mereka seperti kedua orang tuaku mendidikku..."


Ayu pun balas memeluk tak kalah erat sepupu tersayangnya itu. Betapa ia merindukan dekapan bersama Artika. Ia dapat merasakan sesuatu yang sempat terputus dapat kembali tersambung meskipun tak bertahan lama. Di dalam hatinya ia ingin mengenal Mundika lebih dalam, gadis cantik nan unik yang ternyata adalah keponakannya sendiri dan Zayed tentunya. Ia hanya berdoa semoga akan ada keajaiban yang bisa membuat Dalmouk, Artika, Mundika, dan Zayed kembali terhubung mesra dengan keluarga besarnya di Indonesia.

__ADS_1


***


__ADS_2