
Sepasang tangan penuh kerutan dan sedikit bergetar mengambil sebuah bingkai foto berwarna hitam yang ditempelkan pada salah satu sudut dinding putih ruang keluarga tempat ia berdiri sekarang. Seorang gadis yang sedang tertawa ceria seolah sang mentari tersaingi dengan cerahnya tercetak jelas di dalam bingkai tersebut. Rasanya sudah lama ia tak pernah menyentuhnya seolah tabu untuk dibicarakan. Namun itu sudah 26 tahun yang lalu. Ego dan kekecewaan yang pernah dirasakannya kepada gadis di foto tersebut pun telah sirna berganti kerinduan dan harapan yang membumbung tinggi serta memuncah hatinya ketika ia mendengar kabar bahwa kedua anak dari gadis di foto tersebut akan datang menemuinya.
“Apa yang kau pikirkan, Bu?” Sentuhan tangan besar di pundak ringkih Jayanti menyadarkan wanita paruh baya itu dari lamunan.
“Bukan apa-apa, Pak,” Jayanti tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya. “Hanya merasa bahwa ini masih seperti mimpi kalau sebentar lagi kita akan bertemu dengan anaknya Artika. Ta’ pikir pria itu hanya main-main dengan anak kita Pak, ternyata ia benar-benar mencintai putri kita. Hal itu terbukti dengan memberikan kita dua cucu yang sebentar lagi akan kita temui meskipun cara yang ia lakukan untuk mengambil putri kita tidak benar…”
“Sudahlah Bu…,” Janitra mengajak Jayanti untuk duduk di salah satu sofa senada dengan bingkai yang digenggam istrinya itu. “Itu sudah lama berlalu dan Bapak pun sudah memaafkan mereka terutama pria itu. Bagaimanapun kondisinya, mereka telah memberikan kita cucu yang berdasarkan info dari Ayu bahwa mereka sangat cantik dan tampan serta cemerlang perpaduan antara Artika dan suaminya itu. Kau patut berbangga dan berbahagia untuk itu.”
“Tapi aku masih khawatir Pak…,” Jayantri menatap nanar kearah suaminya. “Rasanya ada yang mengganjal dengan kedatangan mereka yang tak didampingi oleh Artika dan suaminya karena perasaan seorang ibu sepertiku itu lebih peka dalam hal-hal seperti ini.”
“Tenangkan dirimu Bu, kita akan tanyakan lebih lanjut ketika kita sudah bertemu dengan mereka nanti,” Sebenarnya Janitra juga merasakan apa yang dirasakan istrinya itu. Jika memang tidak ada apa-apa, tak mungkin hanya kedua cucunya saja yang datang namun juga anak dan menantunya. Pasti ada sesuatu dibalik itu semua. Ya Allah, semoga bukanlah hal yang buruk…
***
“Ya ampun Zayed, kok aku deg-degan ya, mau ketemu dengan Kakek dan Nenek?” Mundika tak henti-hentinya bergetar untuk menahan perasaan euphoria yang tak pernah ia rasakan seperti ini sambil menggenggam erat tangan kanan Zayed. Setelah melewati malam yang panjang kemarin, akhirnya keesokan paginya mereka berangkat menuju rumah Janitra dan Jayanti, kakek dan neneknua dari pihak ibu. Sepanjang perjalanan, ia melihat pepohonan berwarna hijau berpadu dengan tanaman bunga warna-warni menghiasi pinggiran jalan yang dilewati oleh mobil yang ditumpanginya. Sesekali iringan kendaraan roda dua berdampingan dengan mereka ketika lampu merah menyala. Sungguh sepenggal surga…
*“Biasa saja Kak, biasa saja, tenangkan dirimu, tarik napas buang pelan-pelan…, kau kan dokter, seharusnya lebih paham mengenai hal ini,” Zayed menghela napas panjang merasa kakak perempuannya itu terlalu berlebihan menanggapi perjalanan mereka untuk bertemu kakek dan nenek dari pihak Ibu mereka. Mungkin karena ia lelaki yang logikanya lebih mendominasi dibandingkan emosinya sehingga ia dapat bersikap lebih tenang. Atau mungkin karena ia tak berada diposisi kakaknya yang lebih lama menelan pahitnya hujatan dari kedua kakak perempuan beda ibu sehingga pertemuan yang sudah lama dinantikannya ini membuatnya bersikap terlalu berlebihan. Biasanya yang sudah-sudah jika berekspektasi berlebihan akan berujung kekecewaan dan ia tak ingin kakaknya merasakannya untuk kesekian lagi. “Ngomong-ngomong Kak, apakah Kakak sudah mengabari Sheikh* Mansoor bahwa kita sudah sampai dengan selamat di Indonesia dan dalam perjalanan ke rumah Kakek dan Nenek? Jangan sampai tunanganmu itu menjadi gila kemudian nekad menghampiri kita ke sini dan memaksa pulang ke Dubai sekarang juga. Ingat Kak, dia anak penguasa Dubai lho…, bukan orang sembarangan…”
__ADS_1
“Siapa yang anak penguasa Dubai?” Potong Ayu yang sedikitnya tahu Bahasa Arab yang digunakan oleh Mundika dan Zayed untuk berkomunikasi satu sama lain. Ia yang duduk di sebelah supir tergelitik menoleh ke belakang tempat Mundika dan Zayed duduk. Bukannya dirinya tidak tahu siapa itu Mansoor mengingat Artika sendiri telah menceritakan lelaki itu kepadanya ketika ia dirawat di salah satu rumah sakit di Dubai. Namun ia tergelitik ingin mengetahui sendiri dari mulut Mundika. Apakah ia sudah salah bersikap? Sepertinya membicarakan keluarga sang penguasa adalah hal yang tabu.
“Bukan siapa-siapa Bude,” Jawab Mundika berusaha mengalihkan pembicaraan sambil menutup mulut Zayed dengan kelima jari tangannya kemudian berbisik kepada Zayed, “Kau jangan menakut-nakutiku Zayed, aku sudah mengabarinya ketika kita mendarat di sini kemarin namun tidak menceritakannya secara detail tempat yang akan kita kunjungi. Lagipula ini adalah urusan keluarga kita, jangan kau bawa-bawa Mansoor di dalamnya. Cukuplah ia tahu bahwa kita berada di Indonesia!”
“Lepasin Kak,” Protes Zayed berusaha melepas tangan Mundika yang mendekap mulutnya tadi. “Terserah Kakak saja, aku sih tidak akan ikut campur lagi jika hal itu benar-benar terjadi!” Ia menangkat kedua bahunya sedikit tak terima dengan kekeraskepalaan kakaknya itu. Sebenarnya ia sedang khawatir dengan kondisi orang tuanya setelah kakaknya mengabari bahwa mereka ke Indonesia tanpa seizinnya, terutama ibu mereka. Membayangkan ekspresi terkejut wajah ibunya saja sudah tidak kuat mengingat betapa beliau begitu mencurahkan kasih sayangnya kepada mereka berdua. Namun di sisi lain ia juga ingin segera menyelesaikan masalah yang mengganjal di kehidupannya dan kakaknya. Rasanya seperti bertaruh akan sesuatu yang hasilnya tidak pasti. Sial! Mengapa jadi seperti ini?! Ia tak menyangka akan terlibat urusan rumit ini…
“Nah, begitu dong, tetap mendukung Kakak kesayanganmu ini,” Mundika mengacak-acak rambut hitam milik Zayed. “Dengar Zayed, kalaupun terjadi yang tak diinginkan, aku pastikan bahwa aku yang bersalah dan menanggungnya sehingga kau aman dari amarah keluarga kita.”
“Kak…,” Zayed menatap kedua bola mata milik sang kakak. Tampak ada kesungguhan di dalamnya dan ia pasti luluh dengan kebulatan tekad kakaknya itu. Hal yang sangat ia segani dari seorang Mundika bint Dalmouk.
Kemacetan yang sempat membuat mobil mereka terhenti akhirnya mulai terurai juga dan kembali berjalan lancar di jalan yang mereka lalui. Yang tak mereka sadari sejak tadi adalah, terdapat sebuah mobil berjenis SUV berwarna putih dan berjarak tak jauh dari mereka mengikuti seolah mengawasi.
“Halo Mr. Shiddiq,” Salah satu penumpang di dalam SUV putih itu tampak menghubungi seseorang yang penting dengan smartphone yang ditempelkannya di telinga kirinya.
*“Yes* Ali, diterima!” Respon Shiddiq yang masih terdiam diposisi duduk supir mobil jenis jeep milik tuan disebelahnya. Mobil mereka sengaja diparkirkan sambil menunggu informasi penting yang saat ini diterimanya
“Target telah ditemukan, mohon arahan lebih lanjut.”
__ADS_1
“Bagaimana?” Shiddiq menyingkirkan smartphone miliknya sejenak dan meminta jawaban dari Mansoor.
“Jalankan sesuai rencana yang telah kita bahas semalam dan aku tak terima adanya kegagalan!” Ucap Mansoor tegas. Tampak jelas ketegangan di wajahnya karena kurang tidur memikirkan strategi apa yang harus ia dan tim-nya lakukan.
“Ali, kau dengar sendiri kan dari Sheikh Mansoor?” Shiddiq kembali berbicara dengan smartphone miliknya. “Jalankan sesuai rencana yang telah kita bahas semalam dan beliau tak terima adanya kegagalan, kau mengerti?!”
“Yes Sir!”
*Shiddiq menekan tombol start engine* mobil dan mengganti persneling gigi otomatis untuk melajukan mobil tersebut sesuai titik lokasi yang dikirimkan bawahannya tadi.
BRRRUUUUUMMMM!!
*Mobil pun melesat cepat seakan berpacu dengan waktu. Dengan teknik menyetirnya yang sangat profesional, Shiddiq menyalip seluruh kendaraan yang ada dihadapannya tanpa membuat tuannya bergeming dari duduknya. Ia tak ingin amarah yang dipendam oleh Mansoor mengarah padanya karena lelaki sepertinya yang jarang berbicara dan dingin jika tidak dalam mode* on keprofesionalan jabatan yang diembannya sungguh sangatlah mengerikan.
Mundika, aku pastikan kau pulang hari ini juga ke Dubai! Ucap Mansoor dalam hati sambil menoleh kearah jendela disampingnya.
***
__ADS_1