
Pikiran Mundika semakin semrawut ketika ia duduk berhadap-hadapan dengan Mansoor ditaman rumah utama. Dilihat dari sudut manapun rasanya tidak mungkin seorang Mansoor bin Maktoum melamarnya menjadi istri. Ia bukanlah orang yang dekat dengan lelaki tersebut. Bagaimana bisa?
"Kau pasti bingung mengapa aku melamarmu menjadi istri sementara kita baru bertemu dengan hitungan jari dan pertemuan terakhir kita di rumah sakit sungguh tidak menyenangkan?" Mansoor tertawa geli melihat betapa ekspresifnya gadis itu. Dalam keadaan bingung dan stres di hadapkan dengan lamaran mendadaknya ini saja, ia masih tampak menggemaskan.
"Bagaimana? Bagaimana bisa Sheikh...,"
"Mansoor, panggil aku Mansoor,"
"Saya tidak berani...," Mundika menunduk merasa tidak enak. "Anda adalah anak dari pimpinan kami, tak pantaslah kiranya saya memanggil nama anda saja..."
"Tapi aku kan calon suamimu," Potong Mansoor membuat Mundika mau tak mau mendongak menatap Mansoor.
"Iya, mengapa aku Mansoor?" Mundika menyerah dan mengikuti keinginan Mansoor. "Sebelum melamarku kau sudah pasti mencari tahu tentang latar belakang keluargaku. Jika karena perbuatanku yang telah tidak sopan kepadamu sehingga kau berniat menikahiku karena ingin membalas dendam padaku, aku mohon maaf sekali lagi. Kumohon jangan libatkan keluargaku dan timpalah hanya padaku, aku siap menerimanya. Jikalaupun kau melamar rasanya lebih pantas Kak Maitha atau Kak Haya yang lebih tua dariku yang mendampingimu..."
"Kau percaya cinta pada pandangan pertama?" Tanya Mansoor dan hanya ditanggapi gelengan kepala oleh Mundika. Bagaimana bisa ia mengintepretasikan tentang cinta sementara dirinya belum pernah jatuh cinta. Melihat kondisi keluarganya, ia sendiri tak yakin bisa jatuh cinta. Karena dirinya merasa bias ketika di hadapkan pada kenyataan yang sampai sekarang pun tak ia temukan jawabannya. Bukan ia tidak bahagia, namun ada ganjalan di hati yang membuatnya merasa tidak pantas untuk berbahagia.
Mansoor yang dapat menangkap makna dibalik gelengan kepala Mundika tersenyum kecil.
"Mungkin benar aku awalnya marah padamu karena kau menginjak kakiku dan mencuekiku pada saat aku berpidato bahkan kau menghindariku setelahnya. Tapi niat tulusmu meminta maaf padaku menggetarkan hatiku." Mansoor menjelaskan. "Apa ya, aku seperti mendapatkan jackpot bisa bertemu beberapa kali denganmu. Aku rasa itu bukan kebetulan namun sudah takdir dari Yang Maha Kuasa. Bagaimana? Apakah penjelasanku dapat kau terima Mundika?"
"Mansoor, apakah aku boleh berbahagia di atas penderitaan orang lain yang notabennya kakakku sendiri?" Mundika menatap Mansoor dengan tatapan nanar. "Aku adalah anak dari wanita yang secara tidak langsung merebut suami wanita lain..., meskipun poligami di negara kita ini diperbolehkan. Namun aku merasa aku telah merebut hak anak-anak dari istri pertama ayahku karena di keluarga ini tahu bahwa cinta ayahku lebih besar kepada ibuku dan anak-anak darinya dibandingkan istri pertama ayahku itu. Aku..."
"Kakakmu Majid sudah menceritakan semuanya dan sebenarnya. Aku memastikan bahwa aku menerimamu apa adanya," Mansoor memberikan senyum terlebarnya. "Terbukti ayahku pun begitu bersemangat menyetujui permintaanku untuk melamarmu.”
__ADS_1
"Aku masih bingung Mansoor, semuanya serba mendadak sehingga mengejutkanku...," Ujar Mundika. "Akupun belum memiliki perasaan cinta padamu..."
"Jangan khawatir, aku yakin kau akan segera jatuh cinta padaku," Ucap Mansoor penuh percaya diri. "Aku kan tampan, cool, dan keren!"
Mundika yang merasa ucapan Mansoor sangat cheesy tertawa kecil. Ia tak menyangka dibalik wajah dingin dan terkesan agak angkuh, calon suaminya itu punya sisi humor yang sedikit garing. Calon suami? Apakah saat ini ia sudah mengakui lelaki di hadapannya ini adalah calon suaminya?
"Jadi, sekarang kita tunangan ya," Mansoor mengarahkan jari kelingkingnya kehadapan Mundika sebagai bukti ikatan. Ia baru akan memberikan cincin tunangan setelah Mundika setuju menjadi calon istrinya. Sebenarnya karena ia belum tahu ukuran jari gadisnya itu, ia meringis dalam hati.
"Iya, kita tunangan," Mundika mengaitkan jari kelingkingnya kepada jari kelingking Mansoor.
Dari kejauhan Maktoum tampak tersenyum puas dari dalam rumah ketika melihat anaknya telah melewati satu langkah untuk memperistri gadis pujaannya itu. "Misiku berhasil Dalmouk, setidaknya aku berhasil mengangkat derajat anak gadismu itu yang memang semestinya berada di sana jika saja kau tidak membuat kesalahan dulu."
"Terima kasih atas kebijaksanaanmu Maktoum," Dalmouk berdiri disamping Maktoum. "Aku titip anakku itu, dia mutiaraku yang sangat berharga..."
***
"Aku akan menghubungimu nanti," Mansoor memberikan kode akan menelepon Mundika jika ia sudah sampai rumah dan diangguki oleh Mundika dengan senyuman sambil melambaikan tangannya.
"Saya permisi dulu Pak Dalmouk, besok saya tunggu di kantor untuk membahas rencana pernikahan putra dan putri kita," Maktoum menaiki mobil jeep putihnya.
"Baik Sheikh...," Angguk Dalmouk.
Dan kedua mobil tersebut berlalu dari halaman depan rumah Dalmouk. Mundika dan Ibunya izin pamit untuk kembali ke kediaman mereka.
__ADS_1
"Aku tidak terima jika Mundika melangkahiku dan Haya! Apa kata orang di sana jika kami dilangkahi?!" Tiba-tiba Maitha memprotes kepada ayahnya.
"Iya, aku setuju dengan Kak Maitha, mengapa Baba mengizinkan anak itu melangkahi aku dan Kak Maitha?!" Haya yang sejak tadi menahan amarah akhirnya bersuara juga. "Mengapa Baba selalu dan selalu mengutamakan dia?! Apakah di mata Baba anak yang Baba miliki hanya dia?! Tidak ada yang lain?!"
"Haya...," Latifa berusaha menenangkan anak-anak perempuannya. Sebenarnya ia sedih melihat anak-anak perempuannya seperti ini. Inikah karmanya karena egois mencintai seorang Dalmouk Al Hassimi? Cara yang dilakukan Maitha dan Haya hampir sama dengan yang ia lakukan dulu memanipulasi keluarga Al Hassimi untuk memilihnya sebagai istri Dalmouk sementara pria itu telah melabuhkan hatinya kepada Artika, perempuan yang sebenarnya lebih pantas jadi istri Dalmouk Al Hassimi. "Mama mohon..., sudah cukupkan kebencian kalian kepada Mundika dan Zayed, terutama Mundika. Gadis itu sangat menyayangi kalian semua..., tak bisakah kalian membalas kasih sayangnya?"
"Mana bisa jika Baba saja tidak dapat berlaku adil dengan kami!" Maitha dan Haya menjawab serempak.
"Cukup Maitha, Haya," Majid sebagai anak pertama dan calon pemimpin keluarga Al Hassimi yang semula hanya diam saja melihat kelakuan dua adik perempuannya akhirnya buka suara. "Apakah kalian pikir aku tidak tahu perbuatan kalian yang berkali-kali menggagalkan rencana lamaran dari para lelaki sebelum Sheikh Mansoor?!"
"Apa maksudmu Majid?" Dalmouk terkejut dengan ucapan anak sulungnya itu. Latifa pun tak kalah terkejut.
"Asal Baba tahu, sebenarnya bukan kali ini saja ada lelaki yang ingin melamar Mundika, namun dengan akal bulus mereka berdua membuat para lelaki itu mundur teratur dan hanya Sheikh Mansoor lah yang tidak terpengaruh sehingga meneguhkan diri untuk tetap maju melamar Mundika," Jelas Majid. "Seharusnya kalian berkaca pada diri sendiri, apakah kalian sudah lebih baik dibandingkan dengan Mundika?!"
"Ya Allah, hanya kepada-Mu lah aku memohon pengampunan atas dosa-dosaku...," Kepala Dalmouk mendadak pusing mendengarkan penjelasan bertubi-tubi dari Majid.
"Suamiku, sebaiknya kau beristirahat, mari aku antarkan...," Latifa yang tak tega melihat kondisi suaminya segera mendampingi suaminya itu untuk beristirahat. Dibalik wajahnya yang tenang sesungguhnya ia menahan rasa sesak di dadanya.
Setelah kedua orang tuanya kembali ke kamar, Majid pun segera menoleh kearah dua adik perempuannya.
"Perbaikilah sikap kalian agar aku tidak pusing memilihkan lelaki yang pantas untuk menjadi suami kalian."
Majid meninggalkan Maitha dan Haya sendirian untuk merenungkan diri.
__ADS_1
***