
“Mundika…,”
“Zayed…,”
Gerakan tangan yang lemah dan suara sayup-sayup dari Artika menyadarkan Mundika yang tengah tertidur pulas di pinggir tempat tidur Artika sambil menggenggam tangan ibunya yang telah sadar dan membiarkan sementara Zayed yang masih tertidur ditempat tidur khusus penunggu. Untuk anak seusia adiknya itu, cukup istirahat sangat dibutuhkan dalam tumbuh kembangnya.
“Aku di sini Bu, Zayed juga ada dan saat ini sedang tidur karena kelelahan harus mengalami perjalanan panjang dan cepat semalam,” Mundika semakin menggenggam erat kelima jari tangan kanan Artika. Rasa bersalahnya sedikit terobati dengan sadarnya sang ibu. “Aku panggil Dokter Hakeem dulu ya Bu, untuk mengabarkan kepada beliau bahwa Ibu sudah sadar.” Ia pun segera menekan tombol pemanggil yang khusus diberikan Hakeem kepada Majid sebelumnya untuk diserahkan kepada Mundika yang saat ini sedang berjaga untuk Artika. Kehebohan karena kebahagiaan yang dirasakan Mundika tak pelak membangunkan Zayed dari tidurnya.
“Ibu?” Tanya Zayed masih dengan wajah mengantuknya. “Ibu sudah sadar? Syukurlah…,” Pemuda yang baru beranjak remaja itu segera memeluk Artika sepenuh jiwa. Rasanya ia sudah sangat rindu pada ibunya itu, padahal baru hitungan dua hari ia pergi keluar negeri dan segera kembali. Syukurlah bujukannya kepada sang kakak berhasil untuk segera kembali ke sini. Seluruh tubuhnya lelah, namun rasa lelahnya menghilang ketika melihat ibunya telah sadar. Ia seperti menemukan rumahnya kembali setelah berpergian jauh tanpa tujuan.
Tak lama kemudian Hakeem datang bersama dua perawat untuk melakukan pengecekan kesehatan setelah dua hari tak sadarkan diri.
“Bagaimana Dokter Kepala?” Tanya Mundika harap-harap cemas.
“Kondisi Ibumu sudah mulai membaik,” Hakeem tersenyum setelah selesai memeriksa Artika. “Aku akan memberitahukan Ayahmu dan yang lainnya.” Ia berjalan menuju sofa ruang tunggu di kamar perawatan tersebut kemudian mengambil smartphone miliknya dan segera menelepon Dalmouk.
“Syukurlah…,” Rasa lega segera mengalir deras di dalam dadanya ketika mendengar kabar dari Hakeem. “Terima kasih Bu, Ibu sudah mau sadar…, itu tandanya Ibu masih sayang padaku dan Zayed. Aku janji Bu, kali ini aku sungguh-sungguh berjanji tidak akan melanggar permintaan Baba dan Ibu untuk pergi ke Indonesia.” Genangan air mata memenuhi sepasang mata indah milik Mundika. Ia pun mengarahkan kelima jari tangan kanan Artika ke pipi kirinya. “Aku mengaku salah Bu, hanya karena demi keegoisan dan rasa ingin tahuku tentang keluarga Ibu di Indonesia membuat Ibu terluka. Benar kata Mansoor, bagaimanapun juga, Ibu, Baba dan keluarga disini adalah keluargaku. Tak seharusnya aku berbuat seperti itu. Ibu mau memaafkanku kan?”
*“Tentu saja Nduk*,” Artika tersenyum lemah sambil mengusap pipi Mundika lembut dan merasakan pelukan Zayed untuk memastikan bahwa sosok anak-anaknya benar nyata di hadapan mata dan dapat tersentuh rags. “Orang tua mana yang tidak akan memaafkan anak-anaknya.” Namun tiba-tiba hatinya menjadi nyeri ketika sekelebat bayangan kedua orang tuanya sendiri yang menunjukkan wajah kecewanya. Kecuali mungkin kedua orang tuaku Nduk, orang yang ingin kalian temui pada saat di Indonesia… ucapnya dalam hati.
“Aku juga berjanji Bu, tidak akan pernah mengungkit-ungkit lagi masa lalu Ibu dan Baba,” Lanjut Mundika. “Aku janji…”
“Kau tak perlu berjanji anakku,” Dalmouk tiba-tiba muncul dihadapan mereka bersama Majid.
__ADS_1
“Cepat sekali kau datang?” Belum sempat Dalmouk melanjutkan ucapannya, Hakeem langsung memotong pembicaraan.
“Pada saat kau menelepon tadi, aku dan Majid sedang dalam perjalanan kemari tadi,” Dalmouk mengeram agak kesal karena merasa Hakeem telah merusak momen seriusnya tadi. “Majid titip pesan kepada kalian semua karena tidak dapat berkunjung mengingat ia sudah dua hari ini tidak ke kantor untuk mengurus pekerjaannya.”
“Oh, okay-okay,” Hakeem yang merasa salah karena merusak suasana yang terbangun serius tadi hanya bisa tersenyum keki.
“Kita lanjutkan yang tadi,” Dalmouk kembali memasang wajah seriusnya dan memutuskan duduk disebelah Hakeem. “Kau tak perlu berjanji Nak, karena Baba akan menceritakan apa yang selama ini ingin kau ketahui.”
“Dalmouk…,” Artika yang terkejut dengan ucapan suaminya berusaha bangkit dari posisi tidurnya dibantu oleh Mundika yang menekan tombol agar tempat tidur dapat diposisikan menjadi duduk. “Apa kau serius ingin mengatakannya sekarang?”
“Lebih baik sekarang daripada Mundika dan Zayed melakukan hal yang lebih nekad lagi dari sebelumnya,” Dalmouk menoleh sejenak kearah kedua anaknya membuat mereka merasa tidak enak dan bersalah.
“Tapi Dalmouk…,” Artika masih tidak setuju dengan keputusan Dalmouk. Ia khawatir ketika Mundika dan Zayed mengetahui hal yang sebenarnya justru akan berakibat kedua anak mereka membenci dirinya dan suaminya serta memilih meninggalkan mereka. Itulah sebabnya mengapa ia berusaha menahan semuanya meskipun berakibat kedua anaknya dihinggapi gosip tidak mengenakan yang menyakitkan hati.
“Apa maksud Baba sebagai pendosa?” Mundika tampak bingung dengan ucapan Ayahnya.
“Ceritanya panjang anakku,” Dalmouk tersenyum menatap putri kesayangannya itu. Putri yang sangat ia syukuri hadir sehingga ia bisa menjadikan Artika sebagai istri sahnya. “Hakeem, kuharap kau tetap disini menjadi saksi dari semua pengakuan yang akan kubuat kepada anak-anakku hari ini karena aku tak mungkin meminta Sheikh Maktoum untuk hadir sebagai saksi tambahan mengingat jadwal beliau yang sudah terlalu sibuk.”
Sheikh Maktoum? Bukankah beliau Emir Dubai sekaligus ayah dari Mansoor? Ada apa sebenarnya ini? Benak Mundika semakin penuh tanya dan ia merasakan firasat yang kurang baik mendengar ucapan ayahnya.
“Baiklah, kita mulai dengan perkenalan aku dan Ibumu dulu di kantor Kakekmu,” Pandangan Dalmouk menerawang seolah memutar memori masa lalu yang masih tersimpan rapi dibenaknya. “Ibumu adalah salah satu engineer andalan perusahaan yang didirikan oleh kakek buyutmu dalam mencari posisi minyak bumi yang akan dieksploitasi nantinya.”
Ini berita baru bagi Mundika. Tak ia sangka ibunya pernah memiliki profesi yang didominasi oleh kaum lelaki pada umumnya. Wajah keibuan dan tubuh mungil ibunya itu sungguh bertolak belakang dengan para penggelut profesi engineer pada umumnya yang cenderung maskulin.
__ADS_1
“Kita tidak dapat menilai seseorang dari penampilannya,” Dalmouk tersenyum seraya dapat membaca apa yang ada dipikiran putrinya terhadap sosok Artika. “Dibalik fisiknya yang terkesan ringkih itu, ibumu memiliki tangan yang dingin dan insting yang tajam hingga lokasi yang menurut orang lain tidak memiliki potensi minyak bumi dapat ditembus oleh kemampuannya itu dan hampir semua lokasi tersebut 100 % akurat terdapat kandungan minyak bumi.”
“Pada saat itu, Baba baru kembali dari menyelesaikan gelar Master Baba di Inggris untuk menggantikan posisi kakekmu sebagai penerus perusahaan dan baru mengetahui ada gadis yang berhasil mencuri perhatian Baba yang selama ini tidak terlalu memperhatikan sekelilingnya karena sibuk dengan pendidikan dan petualangan di alam bebas.”
“Bersama aku dan Sheikh Maktoum yang saat itu masih bergelar Putra Mahkota Dubai tentunya,” Potong Hakeem seenaknya dan hanya ditanggapi helaan napas panjang sedikit kesal Dalmouk kepada sahabatnya itu. Ayolah, biarkan dirinya sendiri yang menjelaskan semuanya kepada kedua anaknya itu! “Kami bertiga adalah sahabat tak kasat mata karena tak pernah tampil bersama meskipun pada saat itu Sheikh Maktoum begitu mencuri atensi banyak orang, beliau sangat menghargai kami sebagai pribadi yang tak suka di-ekspose secara berlebihan seperti dirinya sang icon pemimpin Dubai di masa depan.”
Apa lagi ini? Baru saja Babanya cerita, sudah banyak hal yang tak pernah dirinya ketahui sepanjang hidupnya kecuali kata-kata tidak menyenangkan dari kedua saudara perempuannya dan beberapa anggota keluarga besar dari babanya.
“Tolong abaikan ucapan Paman Hakeem-mu ini, anakku,” Dalmouk sedikit khawatir ucapan setengah-setengah dari Hakeem ini membuat anak gadisnya itu berpikir bahwa rencana pernikahannya dengan salah satu anak penguasa Dubai itu adalah ide gilanya. “Dan asal kau tahu, mendekati ibumu itu sungguh tidaklah mudah. Babamu bahkan sampai ditolak dua kali oleh ibumu itu dengan alasan bahwa Baba bukanlah tipe idealnya.”
Sontak suasana serius yang semula terbangun mendadak pecah dengan suara tawa tertahan dari seluruh orang yang ada disana tak terkecuali Artika yang menjadi objek pembicaraan seolah meng-aamin-i apa yang disampaikan suaminya itu. Ia mengingat kembali bagaimana usaha mati-matian Dalmouk untuk mendekatinya. Wajar saja dirinya menolak dulu, karena baginya karir adalah yang terpenting dihidupnya sebagai bentuk ekspresi dirinya sebagai wanita kepada keluarga besarnya bahwa ia bisa mandiri jauh dari keluarga dan Dalmouk bukanlah tipe idealnya meskipun ia akui suaminya itu adalah orang yang tampan dengan sejuta pesona pada saat itu.
*“Kau tidak pernah membayangkan bukan?” Dalmouk menoleh kearah Mundika yang masih berusaha menahan tawanya. “Lihat kakakmu Majid dan adikmu Zayed, mereka produk unggulan yang tampan seperti diriku ini kan*? Bisa-bisanya lho Ibumu menolak Baba saat itu?!”
“Itu karena kau terlalu meremehkan dan menganggap semua wanita menyukaimu Dalmouk, sehingga ketika ada satu gadis yang menolakmu membuatmu mati kutu dan harga dirimu terjun bebas tanpa parasut,” Jawab Hakeem tak tahan lagi menahan tawanya sambil menepuk-nepuk bahu Dalmouk. “Ini untuk kedua kalinya aku tertawa dengan alasan yang sama seperti dulu ketika kau menceritakannya padaku dan Sheikh Maktoum.”
“Sialan kau Hakeem!”
“Suamiku,” Nada sedikit tinggi dari Artika mengingatkan Dalmouk untuk berhati-hati dalam ucapannya. “Ada Zayed yang masih di bawah umur, kau tak mau anak kita ini menjadi pribadi yang mudah mengucapkan kata-kata kasar kan?”
*“He-em*, mari kita kembali kepada jalur cerita,” Mendengar alarm dari sang istri membuat Dalmouk kembali fokus pada ceritanya. “Singkat cerita, dengan usaha semaksimal mungkin dan setengah memaksa akhirnya Baba berhasil meluluhkan hati ibumu dan kami pun menjadi sepasang kekasih. Meskipun secara rahasia demi menjaga keprofesionalan kami dalam bekerja. Sebuah keputusan yang akan Baba sesali nantinya…”
***
__ADS_1