
“Disela-sela kebimbangan Baba untuk menyampaikan kepada orang tua Baba tentang keberadaan Ibumu, Baba dikejutkan dengan permintaan wajib dari orang tua Baba untuk menikahi Mama Latifa yang merupakan sepupu jauh Baba,” Dalmouk menghela napas panjang dan berat seolah ada batu yang menimpa dadanya karena harus diingatkan kembali akan kejadian yang membuatnya menyesal setengah mati akibat ketidaktegasan dalam memegang teguh pendiriannya memperjuangkan Artika. “Ditambah lagi Baba mendapat info dari Sheikh Maktoum bahwa Ibumu bukanlah berasal dari kalangan bangsawan seperti nenek dari Sheikh Maktoum yang notabennya sejauh ini adalah satu-satunya wanita bukan Emirati yang menjadi bagian keluarga besar Emir Dubai membuat harapan Baba pupus dan lemah…”
“Baba, apakah Baba punya waktu sebentar untukku?” Dalmouk masuk ke ruangan kerja babanya di lantai satu rumah besar yang khusus dihuni oleh Kepala Keluarga Al Hassimi.
“Ah, kebetulan Nak, ada berita bahagia yang ingin Baba sampaikan padamu,” Marwan yang baru saja selesai berbicara dengan ponsel miliknya kemudian menghadap kearah Dalmouk yang tampak tegang pada ekspresi wajahnya.
“Apakah itu Baba?” Setelah dipersilahkan duduk oleh ayahnya, Dalmouk memberanikan diri bertanya.
“Baba dan Pamanmu Adnan telah sepakat untuk menikahkanmu dengan putrinya yang bernama Latifa,” Marwan begitu bahagia mengabarkan berita itu mengingat Dalmouk dan Latifa masih keluarga besar dan merupakan suatu tradisi bahwa menikahi salah satu anggota besar demi menjaga legacy perusahaan minyak milik keluarganya.
“Latifa?” Tenggorokannya tercekat ketika mendengar nama itu.
“Iya, Latifa bint Adnan, sepupu jauh sekaligus teman kecilmu dulu,” Lanjut Marwan. “Kudengar kau sudah menyukainya sejak kecil.”
Tubuh Dalmouk melemas hingga menghempaskan punggungnya ke punggung kursi yang ia duduki saat ini ketika nama gadis yang pernah dikenalnya dulu dan merupakan cinta pertamanya sekaligus orang pertama yang mematahkan hatinya hingga membuat dirinya sempat sedingin es sebelum akhirnya mengenal Artika. Bagaimana bisa ia dijodohkan dengan gadis itu? Sudah sekian lama dirinya tak bertemu dan selalu menghindar jika seluruh keluarga besar berkumpul pada saat liburan karena ia tak mau lukanya kembali terbuka. Bagaimanapun yang namanya cinta pertama yang berakhir bertepuk sebelah tangan tentunya akan meninggalkan bekas yang nyata.
“Ta…tapi itu dulu Baba, bagaimanapun perasaan manusia bisa berubah…,”Dalmouk berusaha menguatkan hati dan niat awalnya untuk menceritakan hubungannya dengan Artika.
“Apa maksudmu?” Marwan mengerutkan kedua alisnya seakan meminta penjelasan lebih lanjut.
“Aku…aku sudah punya kekasih saat ini…,” Akhirnya kata-kata yang ingin ia ucapkan namun sempat tertahan akibat rasa terkejutnya mendengar nama Latifa disebutkan.
__ADS_1
“Siapa?” Nada suara Marwan berubah menjadi rendah dan penuh penekanan.
“Apakah gadis yang kau katakan sebagai kekasihmu adalah Assisten Manager bidang Eksplorasi yang bernama Artika?”
Belum habis perasaan terkejut yang dideranya, Dalmouk kembali dikejutkan bahwa hubungan yang ia jalin secara rahasia dengan Artika ternyata diketahui oleh ayahnya.
“Ba…bagaimana Baba bisa tahu?”
“Kau pikir Baba ini orang bodoh sehingga tidak tahu skandal yang kau perbuat dengan gadis itu, Dalmouk?!” Suara Marwan kembali berubah melengking tinggi. “Kau anggap apa Babamu ini?! Berani-beraninya kau melakukan tindakan yang tidak menghargai nama keluarga kita?”
“A..apa yang salah dengan jatuh cinta kepada seorang gadis bernama Artika, Baba?” Jawab Dalmouk namun tetap menekankan norma santun hormatnya pada Marwan meski berusaha meredam emosi yang bergejolak di dalam dadanya dengan kepalan di kedua tangannya. “Dia gadis yang baik dan cemerlang serta sudah banyak jasanya terhadap perusahaan kita.”
“Dia bukan seorang Emirati, Dalmouk, apa kau ingin mengkhianati leluhur keluarga kita yang selalu berusaha tetap menjaga kemurniannya?!”
BRAK!
“Itu berbeda Dalmouk! Istri dari Sheikh Maktoum masih memiliki darah bangsawan di negaranya sedangkan gadis itu tidak ada dan beliau berdua dicintai serta direstui oleh orang banyak karena sejarah cinta mereka yang menggemparkan hampir seluruh dunia sehingga pernikahan itu bisa terjadi!” Marwan yang telah kehabisan kata-kata memilih untuk menggebrak meja sehingga menimbulkan kehebohan seluruh anggota keluarga untuk menghampiri mereka berdua.
“Ada apa ini suamiku? Hingga kau harus menggebrak meja dan mengagetkan seisi rumah?” Tanya Dalisha, istri Marwan dan ibu dari Dalmouk diikuti dua adik perempuan Dalmouk, Jaleela dan Raana.
“Bilang pada putra kesayanganmu itu bahwa dia harus mengakhiri kegilaannya dengan memacari anak buahnya di kantor yang bukan Emirati seperti kita dan harus bersedia untuk menikahi Latifa bint Adnan jika ia masih ingin dianggap putra olehku dan gadis itu tetap bekerja di perusahaan kita!” Dada kiri Marwan mendadak sesak karena emosi berlebihan membuat seluruh orang yang ada di sana panik dan berusaha menenangkan Kepala Keluarga Al Hassimi tersebut.
__ADS_1
Dalmouk memejamkan matanya berusaha menahan gejolak hatinya. Rasanya peristiwa itu seperti baru ia alami kemarin.
“Dan demi meredakan amarahnya akhirnya Baba mengalah sementara untuk menuruti permintaan beliau sambil memikirkan strategi untuk membujuk agar dapat membatalkan rencana pernikahan tersebut...,” Dalmouk berusaha melanjutkan. “Namun tak Baba sangka bahwa Mama Latifa yang begitu bahagia dengan perjodohan kami segera membuat undangan dan membagi-bagikannya kepada pekerja di kantor termasuk Ibumu.”
“Kalian bisa bayangkan bagaimana perasaan Mama pada saat itu?” Artika melanjutkan cerita suaminya meskipun dadanya nyeri setiap kali mengingat kejadian itu. “Ibu seperti ditusuk sepuluh pedang dan dilemparkan ke dasar jurang tak bertepi sehingga tak sanggup berkata apa-apa...”
Mundika yang membayangkan reka adegan yang terjadi berusaha tegar menahan tangisnya dengan meremas kuat abaya yang dikenakannya. Tak ia sangka kedua orang tuanya mengalami hal seperti ini.
“Dengarkan aku Artika!” Dalmouk berusaha membujuk Artika yang tak terima ternyata diri dan perasaannya dipermainkan oleh Dalmouk selama ini.
“Aku harus mendengarkan alasan apa lagi Tuan Dalmouk?!” Jawab Artika keras meskipun suasana siang itu di atap gedung. “Tak puaskah kau sudah menyakiti hatimu dengan janji manismu yang kau tukar menikamku dengan sembilu?!”
“Pernikahan ini tidak aku inginkan sama sekali Artika! Yang aku cintai adalah kau, bukan Latifa!” Balas Dalmouk tak kalah keras membuat Artika tercekat. Ini pertama kalinya ia melihat Dalmouk bersikap keras padanya. “Apakah kau tidak mengerti posisiku sebagai anak tertua dan anak lelaki satu-satunya dalam keluargaku yang diandalkan untuk meneruskan keberlangsungan perusahaan ini dan menjagamu tetap bisa bekerja dan berkarir di sini?!” Dalmouk yang melihat ekspresi kesakitan dan terluka ketika ia membentak sang gadis secara tak sengaja menimbulkan cubitan kecil nan keras di hatinya. Tak pernah ia berkata sekeras ini kepada Artika sebelumnya sehingga membuatnya merasa bersalah yang amat sangat.
“Lantas kau akan menjadikanku pihak ketiga nantinya begitu?!” Bibir Artika bergetar sambil tersenyum sinis demi berusaha menahan semua emosi yang bergejolak di hatinya. “Kau sungguh egois!”
“Artika...,” Ucap Dalmouk pelan.
“Mohon maaf Tuan Dalmouk, hubungan kita berakhir di sini,” Artika menatap nyalang penuh air mata yang sudah ditahannya sejak tadi. “Anda dan keluarga anda tidak perlu khawatir bahwa kehadiranku akan mengganggu rumah tanggamu kelak. Anggap saja ini karmaku dulu karena memilih berkarir di perusahaan ini dan dengan seenaknya memutuskan hubunganku dengan mantan kekasihku dulu.”
“Apa maksudmu?” Perasaan Dalmouk tidak enak ketika mendengarkan ucapan Artika barusan.
__ADS_1
“Aku tidak segila itu untuk menggadaikan harga diriku hanya demi karir di sini,” Artika berjalan melewati Dalmouk seolah memunggungi lelaki itu. “Aku akan resign dari perusahaan ini dan kembali ke Indonesia!”
***