Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
20


__ADS_3

TING-TONG!


TING-TONG!


“Assalamu’alaikum…”


“Assalamu’alaikum…”


Terdengar bunyi bel rumah berbunyi dan suara Ayu dari luar rumah. Janitra dan Jayanti yang sejak tadi harap-harap cemas menantikan pertemuan dengan cucu-cucu mereka dari Artika segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu utama dan membukanya. Betapa kaget mereka ketika melihat hanya ada Ayu yang berwajah murung.


“Ayu? Mengapa kau sendiri? Mana cucu-cucuku?” Tanya Jayanti.


“Bude…,” Ayu segera menghambur memeluk tubuh renta Jayanti kemudian menangis. “Maafkan aku Bude, Pakde, aku gagal membawa Mundika dan Zayed kesini…, maafkan aku…”


Ayu masih shock dengan kejadian yang begitu cepat terjadi. Dua buah mobil tiba-tiba menghalangi mobil yang dinaikinya bersama supir, Mundika, dan Zayed sehingga mau tidak mau supir Ayu melakukan antisipasi menghentikan laju mobil dengan tindakan mengerem mendadak membuat tubuh Ayu, Mundika, dan Zayed nyaris terpental ke depan jika saja tidak ada safety belt yang melindungi mereka semua.


“Astagfirullahadzim Pak Didi, Mbo’ nyetir tu yo pelan-pelan, ojo kemrungsung!” Protes Ayu dengan Bahasa Jawa. Hal yang biasa ia lakukan jika sedang kesal.


“Maafkan saya Nyonya, tapi ada dua buah mobil di depan kita yang tiba-tiba menghadang,” Didi menunjukkan kearah depan. Betapa terkejutnya mereka terutama Mundika melihat empat orang berperawakan tinggi besar dan cukup kekar dengan kulit berwarna ‘tan’ atau kecoklatan serta berjenggot rapi keluar dari mobil dan ia mengenal tiga dari orang tersebut.

__ADS_1


“Mansoor…,” Ujar Mundika pelan sementara Zayed hanya bisa menepuk wajahnya dengan tangan kanannya ketika apa yang diprediksikan sebelumnya oleh dirinya benar-benar terjadi.


“Kalian kenal mereka?” Tanya Ayu.


“Ceritanya panjang Bude,” Jawab Zayed dengan Bahasa Inggris yang lancar. “Yang bisa kusampaikan adalah lelaki yang berpakaian kaos abu-abu tua dengan celana cargo pendek selutut dan sneaker senada kaos yang dikenakan olehnya adalah Mansoor bin Maktoum, tunangan sekaligus salah satu anak penguasa kota tempat kami tinggal.”


Ayu terdiam seketika. Sepertinya jika lelaki sepenting itu meluangkan waktunya untuk menyusul kemari pasti ada hal yang salah sedang terjadi.


Mundika yang melihat raut wajah ketakutan budenya kemudian memeluk wanita tersebut dari belakang untuk menenangkannya.


“Bude tidak perlu khawatir, biar aku yang menghadapinya,” Ucap Mundika kemudian turun dari mobil dan menghampiri Mansoor dengan ekspresi dinginnya disusul oleh Zayed dari belakang.


“Apakah kau merasa bersalah karena kau harus membuatku mengorbankan waktuku yang sangat berharga untuk jauh-jauh menghampirimu kemari?” Mansoor menjawab pertanyaan Mundika dengan kembali bertanya. Ia sebisa mungkin untuk mengendalikan amarahnya dalam menghadapi Mundika dan berusaha mengerti posisi gadis itu sekarang. “Jika iya, maka ikutlah denganku kembali ke Dubai sekarang.”


“Tapi aku sudah sejauh ini melangkah Mansoor, tak bisakah kau memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan kakek dan nenekku dulu?”


“Jika tidak karena aku mendengar bahwa ibumu masuk rumah sakit karena stres dan sedih memikirkanmu dan adikmu yang pergi tanpa seizin kedua orang tuamu hanya karena menuruti rasa keingintahuanmu aku pasti akan memberikan kesempatan sehari dua hari kau berada di sini,” Mansoor mengusap wajah cantik Mundika dan menyentuh dagu gadis itu.


“Kau bohong, ini pasti hanya akal-akalanmu saja agar aku mengurungkan niatku sekarang,” Mundika menunduk tersipu malu ketika Mansoor tak segan menyentuh wajahnya. “Bukankah kau sudah tahu bahwa momen saat ini adalah yang sangat kutunggu-tunggu seumur hidupku?”

__ADS_1


“Aku bukanlah lelaki serendah itu, terlebih lagi jika berurusan denganmu yang merupakan orang yang kucintai, karena aku adalah lelaki yang sangat menjunjung tinggi kejujuran dalam hidupku meskipun hal itu merupakan sesuatu yang menyakitkan sekalipun.” Mendengar pernyataan dari Mansoor tak pelak membuat sepasang mata Mundika berkaca-kaca seakan menyadari bahwa ia telah egois dengan keputusan sepihak tanpa menyadari konsekuensinya kepada kedua orang tuanya, terutama ibunya.


“Kak…, ayo kita pulang saja…,” Zayed yang mendengarkan pembicaraan antara Mansoor dan Mundika menarik-naik kaos hoody berwarna pink yang dikenakan kakaknya itu. “Aku memang mendukungmu namun jika sampai membuat Mama jatuh sakit, aku juga merasa bersalah…”


“Tapi bagaimana dengan Bude Ayu, Mansoor?” Mundika kembali menatap kearah Mansoor. “Beliau sudah susah payah untuk membantuku agar aku bisa bertemu dengan Kakek dan Nenek…”


“Aku akan menemanimu untuk menghampiri beliau dan meminta maaf bahwa kau dan Zayed terpaksa tidak dapat melanjutkan urusanmu disini,” Mansoor merangkul pundak kecil milik Mundika dan berjalan menuju Ayu yang telah berdiri di luar mobilnya. “Bu Ayu, perkenalkan nama saya Mansoor bin Maktoum, saya adalah tunangan sekaligus orang yang diberikan amanah untuk menjemput Mundika dan Zayed untuk kembali ke Dubai karena ibunya saat ini sedang sakit dan dirawat di rumah sakit.”


“…,” Ayu hanya bisa terdiam tak bergeming merasakan aura dari lelaki yang berbicara dihadapannya saat ini. Terasa sedikit mengintimidasi dan membuatnya segan.


“Saya berterima kasih kepada Bu Ayu karena telah menjaga tunangan saya dan adiknya selama di Indonesia meskipun hanya sebentar. Saya juga minta maaf terpaksa melakukan hal yang sekiranya tidak sopan dengan menghadang mobil anda di depan tadi. Mungkin saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk Mundika dan Zayed bertemu dengan kakek dan nenek mereka dari pihak ibunya karena bagaimanapun mereka masih menjadi tanggung jawab orang tuanya. Saya berharap suatu hari nanti entah kapan itu, semoga Mundika dan Zayed dapat dipertemukan dengan mereka tanpa harus membuat kedua orang tuanya khawatir seperti saat ini. Saya akan membawa Mundika dan Zayed sekarang, dan untuk barang-barang milik mereka dua pengawal saya yang akan mengambilnya bersama Bu Ayu. Sekali lagi saya minta maaf…”


“Begitulah ceritanya Bude, maafkan Ayu ya Bude…, Pakde…,” Ayu masih memeluk erat Jayanti yang ia yakin saat ini sedang ikut menangis bersamanya namun berusaha nampak tegar sehingga hanya meresponnya dengan diam dan isakan.


“Pak…,” Suara Jayanti terdengar serak. “Ini semua salah kita Pak…, seharusnya kita tidak naik pitam dan mengusir Artika dari rumah ini. Seharusnya kita menerima kondisinya saat itu dan memberikan restu untuknya dan suaminya menikah meskipun terpaksa menjadi yang kedua…”


“Sudah Bu…, sudah…, mungkin benar seperti yang lelaki itu katakan, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk kita bertemu dengan mereka…,” Janitra mengusap-usap punggung istrinya untuk menyalurkan kekuatan agar bisa berbesar hati menerima kenyataan saat ini. “Yang kita lakukan adalah memohon ampun kepada Yang Mahakuasa atas semua kesalahan kita dan berdoa semoga Artika lekas sembuh dan diketuk hatinya bersama dengan suaminya untuk bisa datang kemari menjenguk kita bersama anak-anak mereka.”


“Bapak…”

__ADS_1


***


__ADS_2