Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
26


__ADS_3

“Baba pikir Ibumu tidak akan merealisasikan ucapannya hanya karena emosi sesaat akibat rencana pernikahan paksa itu,” Dalmouk melanjutkan ceritanya. “Namun ternyata prediksi Baba meleset karena Ibumu benar-benar memutuskan pergi dari kehidupan Baba dan membuat Baba mau tidak mau melanjutkan rencana kedua keluarga besar Baba dan Mama Latifa untuk tetap menikahkan kami berdua.”


“Awalnya Baba bisa menjalani pernikahan tersebut karena setidaknya sudah mengenal sosok Mama Latifa dan pernah memiliki cinta padanya meskipun pernah dikecewakan sebelumnya sehingga perasaan cinta kepada Mamamu akan terhapus sejalannya waktu. Namun hal itu tidak terjadi, bayangan Ibumu selalu menghantui di setiap langkah dan hari-hari Baba yang sekuat tenaga Baba tepis mengingat sudah ada Kakakmu, Majid hadir diantara kami. Meskipun setiap kali menyentuh Mama Latifa, Baba sambil membayangkan wajah Ibumu Nak, dan Baba sadar bahwa itu sungguh tidak adil bagi Mama Latifa. Namun ternyata urusan ini tak segampang yang Baba kira karena Baba baru mengetahui kenyataan bahwa…,” Dalmouk memejamkan kedua matanya untuk menguatkan dirinya sendiri. “Mama Latifa adalah dalang dibalik terjadinya pernikahan paksa kami itu…”


Seluruh orang yang ada di sana terkejut mendengar ungkapan Dalmouk kecuali Hakeem tentunya. Karena ia tahu dari A hingga Z segala kejadian di dalam hidup sahabatnya itu yang jujur jika ia diposisi Dalmouk tak akan sanggup menghadapinya.


“A..apa maksudmu Dalmouk?” Bibir Artika bergetar seolah tak percaya akan yang didengarnya barusan. “Latifa?”


“Ya, ia yang baru menyelesaikan gelar sarjananya di London saat itu berniat mengejutkanku di kantor dan mengetahui hubungan kita, Artika,” Dalmouk menatap lurus kearah Artika seolah menembus kedua bola mata hitam milik istri tercintanya itu. “Dan dengan pengaruh Ayahnya yang notabennya salah satu pemegang saham dengan jumlah saham yang cukup besar di Dalmouk Gulf Oil Company berusaha menekan kedua orang tuaku untuk menyetujui proposal perjodohan itu dan membicarakan hal-hal yang buruk tentangmu sehingga pandangan Baba dan Mamaku berubah kepadamu yang semula simpati menjadi antipati.”


Tubuh Artika melemas seketika dan dengan sigap ditangkap oleh Mundika dan Zayed. Sebenarnya Mundika juga sama terkejutnya dengan cerita babanya namun berusaha menguatkan dirinya. Ia yang selalu melihat Mama Latifa begitu lemah lembut dan penuh kasih sayang kepadanya dan Zayed tak menyangka bahwa ibu tuanya itu bisa memiliki sifat licik itu sehingga membuat kondisi keluarga mereka runyam seperti saat ini.


“Seketika Baba murka sejadi-jadinya dan tak sehari pun kami tidak bertengkar karena setiap kali melihat wajah Mama Latifa hanya ada amarah yang Baba rasakan kepadanya.” Perutnya terasa bergejolak. “Terlebih lagi Baba mendapat kabar dari Aisha, sahabat Ibumu, bahwa Ibumu bertunangan dengan mantan kekasihnya dulu dan akan melangsungkan pernikahan, semakin membuat Baba gelap mata sehingga melakukan rencana tergila tanpa memperdulikan harga diri Baba dan keluarga besar Baba termasuk Mama Latifa…”


***


“Nyonya mengapa anda terdiam di sini?” Tanya Rita, pelayan setianya sejak gadis menghampiri Latifa yang termenung di taman belakang rumah sendirian.


“Rita…,” Latifa berkata sambil menatap langit malam yang gelap tak berbintang. Pandangannya menerawang entah kemana setelah tadi menyempatkan diri ke rumah sakit untuk menjenguk Artika namun urung dilakukan. “Apakah dosaku sungguh besar kepada suamiku dan Artika?”

__ADS_1


“Apa maksud Nyonya Latifa?” Tanya Rita yang duduk di sebelah majikannya itu.


“Rasanya aku ingin segera mati saja jika hal itu dapat membuat penderitaanku berakhir…,” Tubuh Latifa bergetar dan air matanya mengalir. Ia tampak frustasi dengan hidupnya yang tak pernah ia rasakan bahagia sejak semua rencana paling jahat dalam hidupnya hanya karena karmanya dulu pernah menolak cinta Dalmouk berubah menjadi obsesi ketika Dalmouk menemukan cinta baru pada Artika. Ia gelap mata tak terima Dalmouk yang selama ini memujanya dan berkali-kali ditolaknya hanya untuk kebanggaannya semata bisa memindahkan hati dan cintanya pada sosok Artika yang jujur saja membuatnya iri karena wanita itu bisa menjadi dirinya sendiri apa adanya dengan kemandiriannya. Dirinya yang terbiasa dimanja dengan fasilitas yang selalu ada merasa tak sanggup bersaing mendapatkan cinta Dalmouk hingga terpetiklah niat merebut Dalmouk dengan menggunakan kekuasaan ayahnya serta bantuan salah satu adik Dalmouk yang bernama Raana.


Raana yang sangat menjunjung kemurnian darah keluarga Al Hassimi tak terima bahwa ada wanita di luar keluarga besarnya yang berpotensi menjadi kakak iparnya dengan menikahi Dalmouk. Dengan hasutan halus Latifa membuat rencana mereka berjalan mulus dan matang hingga akhirnya ia bisa memilik Dalmouk sebagai suaminya.


“Ini apa Nyonya?” Tangan Rita bergetar seolah tak percaya dengan kertas yang sejak tadi diremas Latifa.


“Apakah kau tak bisa membacanya sendiri Rita?” Latifa masih menelungkupkan kepalanya dan menempelkannya di lutut yang didekapnya oleh kedua tangannya.


“Nyonya…,”


“Apa maksud ucapan Mama, Kak Maitha?” Tanya Haya yang merasakan firasat tak enak setelah mendengar kalimat terakhir ibunya itu.


“Sssttt, diam dan dengarkan saja pembicaraan mereka, Haya,” Maitha memberikan kode dengan menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke bibirnya.


“Nyonya masih punya Nona Maitha dan Nona Haya, Nyonya,”


“Tak sebanding Rita, tidak sebanding,” Latifa menggelengkan kepalanya. “Mereka adalah penebus dosaku untuk Raana yang…,”

__ADS_1


Belum sempat Latifa melanjutkan ucapannya terdengar suara dehaman Majid yang memergoki kedua adiknya itu menguping pembicaraan ibunya dan pelayan setianya.


“Apakah kalian tidak pernah diajarkan bahwa menguping pembicaraan orang lain itu adalah tidak diperbolehkan?”


“Kak Majid,” Maitha dan Haya merespon serempak merasa malu bahwa perbuatan mereka diketahui oleh kakak lelaki yang paling dihormati oleh mereka.


“Pergilah ke kamar kalian masing-masing,” Usir Majid dengan halus yang tentu saja tidak dapat ditolak oleh Maitha dan Haya hingga sosok kedua adiknya menghilang dari pandangan mata elangnya yang selalu berhasil membius setiap kaum hawa yang ditemuinya. Namun saat ini bukanlah hal itu yang menjadi perhatian utamanya dalam hidupnya. Ia merasa tak pantas berbahagia sebelum benang kusut keluarganya dapat terurai dengan baik dan ia hanya bisa pasrah entah kapan masa itu akan datang. Masa dimana ia dapat memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan statusnya sebagai pewaris pimpinan keluarga Al Hassimi ini...


“Ma…,” Ujar Majid dengan lembut sambil menyentuh pundak ringkih ibunya yang masih terisak. Sontak Latifa memeluk putra semata wayangnya itu dan tangisnya semakin menjadi-jadi.


“Oh Majid…, Majid anakku…, pelipur laraku…,” Respon Latifa dengan suara serak.


“Ada apa ini Bu Rita? Kenapa dengan Mamaku?” Tanya Majid sambil terus mendepak Latifa.


“Ini Tuan Muda…,” Rita menyerahkan secarik kertas yang sempat dibacanya kepada putra majikannya itu.


“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami memohon pengampunan atas dosa-dosa kami,” Hanya ucapan itu saja yang terapal oleh Majid ketika membaca catatan yang tertera pada kertas tersebut sambil mengeratkan pelukan kepada ibunya seraya memberikan kekuatan.


***

__ADS_1


__ADS_2