
Artika menghela napasnya panjang setelah rapat yang cukup panjang dan mengadu mentalnya akhirnya berakhir dengan sukses. Ia ingin segera pergi dari ruang rapat itu dan kembali ke meja kerjanya. Namun niat tinggalah niat, Pak Salman, atasannya mengajaknya untuk berbincang-bincang lebih lanjut dengan Dalmouk Al Hassimi! Hal yang saat ini rasanya tak sanggup ia lakukan. Bertahan untuk tetap profesional pada rapat tadi saja sudah luar biasa dirinya lakukan, jangan ditambah lagi dengan berbicara lebih dekat lagi dengan lelaki itu! Ujar Artika menangis dalam hati.
"Ayo Artika, Pak Dalmouk sudah menunggu kita di ruangannya," Ajak Salman yang disambut Artika dengan senyum terpaksa dan langkah kakinya yang terasa berat untuk dibawa menuju ruangan lelaki itu. "Ada yang beliau ingin tanyakan lebih detail diluar rapat tadi."
"Baiklah Pak..."
Langkahnya terhenti ketika matanya secara tidak sengaja saling bertatapan dengan sepasang mata coklat milik Dalmouk sehingga membuat jantungnya berdetak lebih kencang seakan menghimpit dadanya sehingga menimbulkan sesak. Ada apa ini? Artika menyentuh dadanya untuk meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Artika, apa yang kau lakukan di depan pintu, ayo duduk disebelah saya," Panggilan Salman menyadarkan Artika dari kebingungan perasaannya.
"Eh, iya Pak Salman," Artika segera menduduki sofa yang telah ditunjuk oleh Salman dan lagi-lagi ia mendapati dirinya duduk berhadap-hadapan dengan Dalmouk Al Hassimi.
Tenang Artika, tenang..., kau tinggal cukup minta maaf saja atas ketidaksopananmu kepada Direktur Utamamu semalam... sugestinya dalam hati.
"Pak Dalmouk saya...," Belum sempat Artika menyelesaikan ucapannya, Dalmouk segera memotongnya.
"Pak Salman, saya tak menyangka anda telah mendidik pekerja yang loyal dan berdedikasi tinggi seperti Nona Artika ini," Dalmouk tersenyum kearah Salman namun matanya menoleh kearah Artika yang telah dibuatnya salah tingkah. Siapa suruh gadis itu tidak mengindahkan dirinya yang selalu mendapatkan pusat perhatian dari banyak orang. Tak tahukah bahwa harga dirinya sedikit terluka?
"Hahahaha, anda benar Pak, Nona Artika ini adalah salah satu andalan saya ketika menghadapi Ayah anda dulu yang selalu meminta data cepat dan akurat." Lanjut Salman bangga.
Pembicaraan yang tidak penting antara Salman dan Dalmouk berlangsung selama satu jam dan selama itu pulalah otot pipi Artika kaku karena memaksakan diri untuk tersenyum.
"Kalau begitu kami permisi dulu...," Salman bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. "Ayo Artika."
"Sebentar Pak, Bapak duluan saja," Sebelum mengikuti Salman dari belakang, Artika berdiri dan membungkuk kearah Dalmouk. "Ada yang lupa saya sampaikan ke Pak Dalmouk."
__ADS_1
"Ya sudah, tapi jangan lama-lama ya, pekerjaan lain untukmu sudah menunggu," Salman menghela napas dan keluar dari ruangan Dalmouk. Tumben-tumbennya Artika memberi jeda. Apa jangan-jangan..., ah, tidak mungkin! Artika bukan perempuan kebanyakan yang Salman kenal. Tapi apa perdulinya, urusan anak muda ini...
"Pak Dalmouk, jika saya ada salah kata pada ucapan saya semalam, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya," Artika membungkukkan tubuhnya pertanda permohonan maaf membuat Dalmouk terkejut tak menyangka Artika akan meminta maaf kepadanya. "Saya ingin kedepannya tidak ada rasa mengganjal dan canggung dalam urusan pekerjaan dengan Bapak, permisi."
Setelah memastikan dirinya telah meminta maaf kepada Dalmouk, ia undur diri keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintunya dari luar.
BLAM!
Hah..., lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang mengganjal sejak rapat tadi..., Artika mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi menunjukkan kelegaan dan tak memperdulikan tatapan orang-orang di sekelilingnya. Senyum terpaksanya hilang berganti dengan senyum kelegaan. Ia pun melangkah ringan menuju ruangannya untuk kembali bekerja. Berharap semuanya akan baik-baik saja.
Bertolak belakang dengan Artika, Dalmouk tertawa keki mendengar permintaan maaf dari Artika tadi. Tak menyangka dirinya yang dibuat kembali terpana oleh sikap yang ditunjukkan oleh Artika tadi.
***
Kesibukan kembali menenggelamkan Artika ke dalam dunia pekerjaannya hingga tidak mengindahkan ada seseorang yang selalu memperhatikannya dari kejauhan. Sosok itu selalu tersenyum miris ketika tak ada dirinya dalam bayang-bayang angan sang gadis yang tampak cemerlang dan tak ada beban. Rasa yang semula hanya berupa harga diri yang terluka karena diabaikan perlahan berubah menjadi keinginan kuat untuk merubah pusat dunia gadis itu yang semula tentang profesi geologist yang selalu gadis itu banggakan menjadi dirinya.
"Kenapa lagi sekarang?" Tanya Aisha.
“Ini nih, seharian ini aku hanya dapat air, mengapa aku kurang beruntung hari ini...,” Keluh Artika. "Alamat lembur lagi nih, pusing..."
“Kau yakin mau lembur lagi?” Aisha terheran-heran dengan sikap Artika yang semakin gila lembur. Jika dipikir-pikir sudah hampir dua bulan ini temannya itu seperti ini. “Kerja sih kerja, tapi nggak sampai segitunya diforsir Artika...,” Ia melihat sekelilingnya hanya ada dirinya dan Artika. Niat untuk mengajaknya pulang bersama pupus sudah.
“Mau bagaimana lagi, produksi minyak mentah bulan ini belum mencapai target,” Artika menyenderkan punggungnya yang pegal karena terlalu lama memperhatikan layar komputer.
“Iya, tapi kau juga manusia biasa yang butuh istirahat juga,” Aisha menghela napas sambil berkacak pinggang tak habis pikir dengan jalan pikiran teman seperjuangannya itu. “Terlalu mencintai pekerjaan juga tidak baik Artika, jalan-jalan kek, banyak tempat yang dapat kau explore di Dubai ini.”
__ADS_1
“Nanti saja setelah produksi bulan ini tercapai, sebentar lagi pasti dapat,” Artika kembali fokus menatap layar komputernya. “Kalau kau ingin pulang duluan, pulanglah...,” Usir dirinya secara halus kepada Aisha agar ia dapat berkonsentrasi kembali dengan pekerjaannya.
“Ya sudah, aku pulang duluan, ingat jaga kesehatan dan jangan dipaksa.”
“Iya...,” Jawab Artika tanpa menoleh kepada Aisha yang telah pergi dan membiarkan dirinya berteman malam nan sepi serta bunyi detik jam dinding.
"Butuh bantuan?" Suara yang selama ini berhasil Artika hindari membuatnya membeku karena terdengar jelas di hadapannya. Artika spontan menengadah menatap wajah tampan dengan senyum khasnya dan tak ada satu kata pun dapat keluar untuk menjawab pertanyaan itu. Detak jantung yang menghimpit dadanya membuat Artika menyentuh dadanya untuk meredakannya. Sebenarnya ada apa dengan dirinya? Sejak rapat yang lalu, setiap kali dirinya melihat sosok Dalmouk Al Hassimi meskipun hanya punggungnya perasaan seperti ini pasti muncul, padahal sebelum bertemu lelaki itu ia biasa-biasa saja...
Dalmouk berinisiatif berdiri di belakang Artika dan menggerakkan cursor yang sejak tadi dipegang Artika. Gadis itu tak bergeming dan hanya pasrah ketika Dalmouk mulai menggeser cursor kearah lokasi kandungan minyak mentah yang luput dari pandangannya sejak tadi.
“Mencari titik yang tepat diantara lapisan-lapisan bumi ini. Adapun syarat teknis adanya kandungan minyak bumi di bawah lapisan tanah, pertama yakni adanya batuan induk (source rock), jalur migrasi, batuan reservoir (reservoir rock), jebakan (trap), dan adanya batuan penutup (cap rock) serta pikiran yang fokus...,” Dalmouk menjelaskan. Sebagai pewaris dari perusahaan minyak ayahnya, sudah pasti ia harus menguasai dasar-dasar teknik perminyakan. Namun bukan itu yang menjadi titik konsentrasinya melainkan gadis yang saat ini terdiam dalam kungkunganya. Ia menyesap aroma lembut ekstrak bunga kamboja, teh putih china, bunga sakura, musky, dan vanila yang berpadu menjadi satu dengan keringat membuat dirinya terbuai namun tetap berusaha mempertahankan logikanya.
CTIK!
CTIK!
CTIK!
Dengan cekatan Dalmouk membantu Artika menemukan titik-titik kandungan minyak sehingga jumlah produksi minyak bulan ini sudah mencapai target yang diinginkan untuk selanjutnya diserahkan kepada tim operasional lapangan agar dapat memulai proses eksplorasi.
“Seharusnya dasar-dasar itu tidak kau lupakan Artika,” Bisik Dalmouk mesra di telinga Artika sebelum mengubah posisinya kembali saling berhadap-hadapan satu sama lain. Keheningan kembali tercipta di antara mereka berdua.
“Aku jatuh cinta padamu Artika,” Ucap Dalmouk jujur dengan tatapan penuh damba. Ia harus mengutarakannya jika tak ingin lebih lama lagi tersiksa akan perasaan yang dipendamnya.
“Eh?”
__ADS_1
“Jadilah kekasihku...dan aku tak menerima penolakan...”
***