Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
24


__ADS_3

“Sampai kapan kita harus begini Dalmouk?” Sebuah pertanyaan yang dilontarkan Artika menghentikan gerakan makan yang dilakukan oleh Dalmouk. Saat ini ia sedang menikmati makan malam dengan Artika di ruang kerjanya. Waktupun telah menunjukkan pukul 9 malam dimana hanya ada mereka berdua dan dentingan jarum jam dinding di dalam gedung kantor tersebut. Suasana begitu remang-remang dan hanya cahaya lampu gedung-gedung pencakar langitlah yang menambah kerlap-kerlip gelapnya malam di Dubai.


“Hum?” Tatapan tanpa beban apapun dari Dalmouk membuat Artika menghela napas antara sedih dan bimbang. Semakin lama bersama Dalmouk ia merasa bahwa perasaannya pada lelaki itu semakin dalam. Jika diingat kembali perjalanan cinta ini, tampaknya ialah yang semakin menggebu dan Dalmouk begitu datar seakan sudah puas dengan hubungan mereka saat ini. Ia sebenarnya mulai merasakan ketakutan tak beralasan jika menyangkut hubungan dirinya dan Dalmouk yang didasari sembunyi-sembunyi seperti saat ini hingga tak terasa hampir dua tahun mereka bersama.


“Sudah hampir dua tahun kita merahasiakan hubungan kita ini dan orang tuaku terus saja menanyakan kapan aku akan menikah karena sudah hampir enam tahun aku di Dubai namun tidak ada tanda-tanda akan segera memenuhi permintaan kedua orang tuaku untuk segera melepas masa lajang…,” Artika memainkan gelas berbentuk mug dengan corak gambar batik khas Indonesia yang menandakan bahwa pemilik barang tersebut adalah miliknya. “Usiaku pun sudah hampir mendekati kepala tiga. Mungkin bagimu yang seorang lelaki bukankah hal yang terlalu penting karena berapapun usiamu kau bisa memilih gadis manapun untuk kau nikahi namun berbeda denganku Dalmouk, budayaku di Indonesia menganggap usia perempuan yang hampir menginjak kepala tiga adalah peringatan keras bahwa sudah waktunya untuk tidak fokus pada karir dan mengutamakan berumah tangga.”


“Kau tak perlu khawatirkan itu,” Dalmouk tersenyum dan mengusap-usap lembut rambut hitam sekelam malam milik Artika berusaha menenangkan Artika yang tampak begitu cemas. Hal yang sangat jarang ia temui dibalik kepercayaan diri tinggi Artika selama ini. “Aku akan mencari waktu untuk berbicara dengan orang tuaku dan keluargaku mengenai hubungan kita ini. Sekarang lanjutkanlah makan malammu karena sepertinya kau sama sekali tidak menyentuhnya.”


“Iya…,” Artika mengangguk dan mulai mengambil sendok yang ada disebelah kanan mejanya. Ada sedikit desiran kelegaan dihati Artika setelah Dalmouk menjanjikan kepadanya bahwa hubungan ini memiliki ujung yang jelas sehingga ia dapat menjawab pertanyaan orang tuanya. Namun kelegaan itu belum dapat menutupi rasa cemasnya hingga Dalmouk memberikan kepastian untuk statusnya apakah tetap berlanjut atau justru harus diakhiri. Membayangkan bahwa hubungan cinta yang dibangunnya bersama Dalmouk selama ini berakhir sontak menimbulkan rasa nyeri dan sesak seakan dadanya ditimpa batu. Inikah perasaan yang dialami Indra mantan kekasihnya dulu? Kecemasan dan kekhawatiran karena dirinya tak juga memberikan kepastian menerima lamarannya sebagai istri dan memilih untuk memutuskan hubungan mereka yang telah terjalin sejak kuliah serta fokus pada karirnya saat ini yang sangat ia bangga-banggakan karena berhasil membuktikan kepada keluarga besarnya bahwa perempuanpun dapat berkarya tak kalah dari lelaki tanpa dibatasi oleh budaya keluarganya yang masih menjunjung tinggi adat Jawa untuk tidak terlalu menonjolkan diri dihadapan lelaki karena bagaimanapun kodrat mereka yang tetap harus mengutamakan keluarga kecilnya kelak di rumah dan membiarkan lelaki yang mencari nafkah. Di hatinya ia menyesal dan meminta maaf sedalam-dalamnya tidak mengindahkan perasaan Indra yang mungkin saja lebih sakit karena patah hati setelah sekian lama mereka bersama namun hatinya tak bergetar sedikitpun oleh cinta yang besar dari lelaki itu. Ia hanya berdoa semoga lelaki itu diberikan pasangan pengganti dirinya yang jauh lebih menghargai dan mencintainya dengan tulus.

__ADS_1


***


“Hahahahaha, akhirnya kau terdesak juga kan?” Hakeem tertawa selebar-lebarnya sambil mengangkat barbel yang digenggamnya. Suasana tempat gym khusus milik Putra Mahkota Dubai tampak lengang karena tidak sembarangan orang yang dapat menembus area ketat tersebut. “Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali untuk tidak berhubungan dengan gadis di luar Emirati seperti kita. Bukankah sudah kubilang juga jangan bermain api jika kau tak ingin terbakar. Sekarang gadis itu meminta pertanggungjawabanmu karena kau sudah berani mengetuk hatinya.”


“Lalu apa langkahmu selanjutnya Dalmouk?” Tanya Maktoum yang masih dengan track larinya disalah satu treadmill di sana. “Berdasarkan sejarah keluargaku, yaitu kakek dan nenekku, kau tahu sendiri bahwa nenekku adalah orang berkebangsaan yang sama dengan kekasihmu itu dan beliau berdua membutuhkan perjuangan berat yang penuh air mata dan pengorbanan untuk akhirnya bersatu. Itu juga karena terbantu dengan latar belakang nenekku yang ternyata dan tak terduga masih keturunan bangsawan di negaranya. Yah, walaupun tak kupungkiri, sejak kakek dan nenekku bersatu suasana di UEA ini penuh kebahagiaan tak henti-hentinya diikuti kelimpahan, kemakmuran dan kejayaan yang mengalir deras di Dubai ini khususnya. Kisah cinta mereka bak drama televisi yang menjelma menjadi nyata itu sungguh menarik perhatian para wisatawan mancanegara yang berbondong-bondong kesini hanya ingin mengetahui kisah mereka. Bahkan ada monumen khusus mereka berdua sebagai icon persatuan dua budaya yang berbeda dan tak pernah sepi pengunjung untuk mengabadikan mereka. Bagaimana dengan gadismu sendiri? Apakah ia juga memiliki latar belakang seperti nenekku yang setidaknya dapat membantumu bernegoisasi dengan keluarga besarmu mengingat mereka tak kalah kakunya dengan keluarga besarku?”


“Kau…,” Hakeem berdiri dari duduknya seraya tak percaya dengan apa yang didengarnya dari Dalmouk. “Kau benar-benar serius dengan gadis itu?”


“...,” Dalmouk hanya terdiam menanggapai pertanyaan Hakeem.

__ADS_1


“Aku akan membantumu Dalmouk,” Maktoum yang melihat kesungguhan sahabatnya yang tak pernah jatuh cinta itu menuruni treadmill-nya dan menyeka keringat yang menetes dipelipisnya dengan handuk yang diletakkan sebelumnya di treadmill. “Namun kau pun perlu mencari alternatif lain jika kekasihmu itu adalah orang biasa tanpa latar belakang kuat disisinya.”


Sepintas keraguan menjalar di hati Dalmouk namun ia berusaha menepisnya jauh-jauh. Setidaknya sejauh ini ia sudah berusaha memperjuangkan Artika untuk tetap di sisinya. Di dalam hatinya juga penuh tanya seperti pertanyaan Hakeem padanya. Apakah perbuatan nekadnya ini karena dirinya merasa nyaman ketika cinta Artika dimilikinya sehingga melambungkan kepercayaan dirinya mengingat betapa susahnya ia menjadikannya gadis itu sebagai kekasihnya? Atau dirinya benar-benar mencintai gadis itu? Entahlah, ia pun merasa tidak pernah melakukan tindakan di luar logikanya yang sangat dibanggakannya sejak dulu.


“Sebenarnya apa keistimewaan gadis itu hingga membuatmu mendobrak pakem logika kecerdasan yang sangat kau bangga-banggakan selama ini?” Hakeem menggeleng-gelengkan kepalanya penuh kekesalan dan tanda tanya. “Bukankah ia sama saja dengan gadis-gadis lainnya yang selama ini mengejar-ngejar dirimu?”


“Aku mengerti mengapa Dalmouk seperti itu Hakeem,” Maktoum duduk disebelah Dalmouk dan menepuk-nepuk bahu kiri sahabatnya itu. “Aku yang sudah pernah bertemu dengannya dapat dengan mudah menangkap pesona dari gadis itu. Kurasa kau harus bertemu dengan Artika dan kupastikan pandangan remehmu tadi akan berbalik menjadi rasa kagum yang tak terkira.”


***

__ADS_1


__ADS_2