
“Dalmouk! Dalmouk! Kau hendak pergi kemana?!” Cegah Latifa sambil berusaha sekuat tenaga menahan lengan kiri Dalmouk yang tampak gusar menarik koper beroda ukuran kecil menuju pintu keluar rumahnya. “Aku tahu aku salah, tapi kumohon bisakah kau melupakan dirinya dan memberikan kesempatan untuk keluarga kecil kita?”
“Persetan dengan semua itu!” Dalmouk menarik kasar lengan kirinya dari kekangan kedua tangan kecil Latifa membuat wanita itu jatuh terjerembab ke lantai dan segera ditolong oleh Raana, adik perempuan Dalmouk. Ia mempercepat langkahnya menuju mobil yang akan mengantarkannya ke bandara udara agar ia dapat pergi secepatnya menghampiri Artika dan menggagalkan rencana pernikahan gadis itu yang akan digelar tiga minggu lagi. Ia sadar sepenuhnya bahwa gadis itu adalah sumber kebahagiaannya yang tak dapat ditukar dengan harta benda sebanyak apapun. Ia pun sudah tidak perduli lagi mengenai jabaran Direktur Utama di perusahaan keluarganya, jika ada salah satu anggota keluarganya yang hendak menggulingkan kekuasaannya, ia punya Sheikh Maktoum yang akan membantunya mempertahankan posisinya itu. Hal yang baru terpikirkan olehnya setelah semua keruwetan ini terjadi. “Bagaimana bisa aku membangun keluarga dimana ada kemunafikan dan kelicikan penuh tipu daya hanya untuk memenuhi egomu sebagai putri manja yang tak pernah tahu apa arti cinta sebenarnya?!”
“Bagaimana dengan Majid, putramu?! Putra kita,” Teriak Latifa berusaha memohon kepada Dalmouk untuk tidak berbuat nekad meninggalkan dirinya dan putra kecil mereka. “Kumohon batalkan niatmu untuk menghampiri gadis itu karena sebentar lagi gadis itu akan menemukan kebahagiaannya tanpa dirimu namun bersama orang lain!”
“Apa maksudmu?” Dalmouk menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Latifa. Kemarahan dirinya semakin menjadi-jadi. “Jadi kau sudah tahu sebelumnya bahwa Artika akan menikah dengan orang lain dan membiarkanku menjadi orang terakhir yang mengetahuinya, begitu?! Kau sungguh wanita hina!”
“Kak Dalmouk!” Protes Raana tak terima ucapan kasar dari kakak lelakinya itu. “Jaga ucapan Kakak kepada Kakak ipar! Bagaimanapun kalian adalah suami istri yang sah dan gadis itu hanyalah masa lalumu Kak!”
“Kau bilang Kakak ipar?” Dalmouk tersenyum sinis menatap Latifa dan Raana. “Sebentar lagi status itu akan menghilang dari Kakak ipar yang selalu kau banggakan itu dan berganti menjadi milik Artika selamanya!” Ia berjalan memunggungi Latifa dan Raan untuk kemudian memasuki mobil miliknya dengan dingin. “Dan kupastikan hal itu setelah aku kembali kesini nanti!”
“Oh tidak,” Latifa yang menjadi gelap mata segera bangkit dari posisinya dan bergegas menuju mobil miliknya yang terparkir tak jauh dari mobil Dalmouk tadi. “Raana, aku tak bisa membiarkan pernikahan kami berakhir! Aku sangat mencintai kakakmu, Raana! Aku harus menyusulnya segera dan mencegah Dalmouk untuk menceraikanku!” Suaranya semakin lantang dan histeris tak terkendali.
“Kak Latifa tak perlu khawatir, aku akan menemanimu untuk menyusul Kak Dalmouk,” Raana yang merupakan seorang janda ditinggal mati oleh suaminya merasa tertolong dengan perhatian Latifa padanya sehingga bersedia untuk mendukung apapun tindakan egois Latifa selama ini. Padahal ia sebenarnya tahu bahwa kakak iparnya itu memiliki sifat tidak baik namun ia seolah menutup mata dengan semua tindakan Latifa demi membalas hutang budinya. “Biarkan aku yang menyetir dan kupastikan dengan kemampuan yang kumiliki kita akan bisa menyusul Kak Dalmouk.”
__ADS_1
BRUUMMM!
Mobil yang dikendarai Raana dan Latifa melaju kencang berusaha menyusul mobil yang ditumpangi Dalmouk di depan mereka. Jalan raya Dubai saat itu cukup padat dengan kendaraan yang menuju arah Bandara Udara Internasional Dubai dimana telah tersedia pesawat jet pribadi milik Putra Mahkota Dubai yang akan mengantar Dalmouk menemui Artika.
“Apakah kau tak bisa lebih cepat lagi, Raana?” Tanya Latifa masih dengan rasa cemas berlebihannya karena bayang-bayang dirinya yang akan diceraikan Dalmouk terus terngiang di kepalanya. Baginya Dalmouk adalah pusat dunia dan kebahagiaannya. Ia bisa bunuh diri jika perceraian itu terjadi karena ia telah menggunakan segala cara untuk mendapatkan Dalmouk di sisinya. Tangannya sudah terlanjur kotor dengan ulahnya sendiri. Katakanlah ia memiliki obsesi cenderung cinta buta kepada Dalmouk karena sejak kecil dirinya sudah dijanjikan untuk bisa menikah dengan Dalmouk oleh kedua orang tuanya. Namun ia bisa apa jika rasa cintanya membuat logikanya tak berjalan sempurna dan membutakan hatinya?
“Tenanglah Kak, aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyusul mobil Kak Dalmouk,” Raana berusaha tetap berkonsentrasi dengan menyetirnya. Bagaimanapun menyetir dengan kecepatan tinggi disuasana terik panas matahari seperti saat ini sungguh berbahaya. Banyak kecelakaan terjadi ketika cuaca musim panas ekstrim melanda Dubai yang didominasi dengan gurun pasir seperti ini.
Tanpa disadari sebuah truk pengangkut peti kemas berukuran 40 feet berjalan oleng dari arah berlawanan sehingga menerobos pembatas jalan tepat di depan mobil yang dikendarai Latifa dan Raana.
“Raana, awas!” Teriakan Latifa yang mengejutkan Raana, membuatnya segera membanting kemudi guna mengindari tabrakan terjadi. Namun nahas, Raana justru mengarahkan mobil mereka berlawanan arah sehingga tabrakan beruntun itu tak dapat terelakkan lagi.
Pandangan Latifa dan Raana gelap seketika. Suasana macet pun tak terhindarkan. Beberapa orang berkerumun untuk melihat kecelakaan tersebut sementara seorang pengemudi mobil yang tepat di belakang mobil mereka, menghentikan laju mobilnya untuk menghubungi ambulan dan polisi guna lekas mengantisipasi kecelakaan tersebut. Ia hanya berdoa semoga nyawa orang yang ada dalam mobil dan truk tersebut dapat diselamatkan.
***
__ADS_1
“Untuk apa lagi kau datang kemari Dalmouk?” Artika menatap dengan dingin kearah lelaki yang telah mematahkan hatinya berkeping-keping dengan janji-janji manisnya. Tak ia duga Dalmouk berani untuk menstalking dirinya selama ini sejak kembali dari Dubai. Ia ingat bahwa dirinya yang sangat menjunjung tinggi yang namanya anti nepotisme terpaksa melakukannya dengan bantuan ayahnya yang setelah pensiun mendapatkan mandat menjadi salah satu anggota Komisaris di perusahaan minyak tempatnya dulu bekerja sebelum ia meninggalkannya untuk mengejar karirnya di Dubai. Rasa malu dan harga dirinya harus ditekan sedemikian rupa ketika rekan-rekan kerjanya dulu terkejut tak percaya bahwa ia kembali bekerja di perusahaan tersebut dan tak sedikit pula ada yang menyindirnya karena telah menjilat air ludahnya sendiri. Namun ia bisa apa? Hanya cara ini yang dapat dilakukannya dan tenggelam dalam kesibukan pekerjaan yang sama seperti dulu sebagai Engineer Senior demi menyembuhkan luka hatinya yang entah sampai kapan dapat terobati.
Kehadiran Indra, mantan kekasihnya yang menawarkan cintanya kembali tanpa mengingat masa lalu mereka yang terpaksa kandas karena keegoisan dirinya sedikit mengobati hatinya. Ia akui rasa cintanya pada Dalmouk belumlah hilang 100 % dan ia pun sudah mengutarakannya kepada Indra akan hal itu. Betapa terkejutnya dirinya bahwa Indra masih mau membukakan pintu hatinya lebar-lebar untuknya yang terluka ini hingga akhirnya ia memutuskan menerima pinangan lelaki tersebut untuk bersedia menikah dengannya dan membangun cintanya kembali bersamanya.
“Apakah kau tidak malu bahwa sebagai seorang lelaki yang telah beristri mengajak perempuan yang telah bertunangan ini untuk bertemu di luar seperti ini?” Tatapan dingin Artika tak melunturkan niatnya untuk memperjuangkan gadis itu kembali kepadanya.
“Aku tidak akan pernah malu untuk memperjuangkan hak cintaku padamu, Artika,” Suasana café disalah satu mall tak jauh dari kantor Artika cukup lengang sehingga membuat mereka dapat berbicara berdua tanpa menarik perhatian disekeliling mereka.
“Sungguh menggelikan,” Artika tertawa penuh kesinisan dan Dalmouk memaklumi sikap gadis itu padanya yang telah melukai hatinya sedemikian rupa akibat rasa kepengecutannya. “Seharusnya itu yang kau lakukan dulu dihadapan orang tuamu, tidak bersikap pengecut dan lihatlah dirimu sekarang ini, menjadi sosok egois untuk kembali merusak rencana hidupku hanya karena aku memutuskan untuk menikah dengan orang lain. Tak kusangka kau adalah orang seperti itu!”
“Aku tahu aku salah, namun kali ini berikan aku kesempatan sekali ini lagi,” Dalmouk berusaha menggenggam kesepuluh jari Artika yang bersedakap di atas meja. “Aku akan menceraikan Latifa dan menikahimu. Aku sudah mendapatkan jalan keluar yang selama ini kutakutkan akan terjadi.”
“Apakah kau ingin membuatku sebagai perebut suami orang dan menjadikanmu anak yang durhaka pada kedua orang tuanya?” Artika menarik kesepuluh jarinya seraya enggan menerima sentuhan tangan Dalmouk karena khawatir keyakinannya akan goyah kembali. “Maaf, kau cari saja perempuan yang mau diposisi itu!” Ia meminum minuman pesanannya yang baru datang beberapa menit lalu guna meredakan emosi amarahnya tak terima Dalmouk mengucapkan kata-kata tabu itu. Bagaimanapun orang tua adalah sosok yang harus dihormati dan disayangi sepenuh hati. Tak mungkin dirinya akan menyakiti mereka dengan keegoisan diri. Tanpa disadarinya, senyuman tipis mengembang di bibir Dalmouk ketika Artika meminum minuman tersebut. “Sudahlah kita akhiri saja omong kosong ini karena waktuku terlalu sibuk untuk meladeni kegilaanmu itu!”
Seketika pandangan mata Artika berkunang-kunang dan kepalanya pusing serta tubuhnya melemah tak berdaya. Untung saja Dalmouk sigap menangkap tubuh gadis yang dicintainya itu. Masih dalam setengah sadar dan tak bertenaga, Damouk membawa Artika masuk ke sebuah mobil yang telah disewanya untuk mengantarkan mereka berdua. Tak lupa ia mengacungkan jempol kearah pelayan yang mengantarkan minuman mereka tadi kemudian berlalu dari tempat itu.
__ADS_1
“Artika…, maafkan aku jika dengan cara ini aku bisa memilikimu selamanya…,” Bisik Dalmouk sambil mengecup dahi Artika yang sudah tak sadarkan diri di sampingnya.
***