Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
35


__ADS_3

“Kak Latifa…”


“Kak Latifa…”


“Raana?” Latifa memicingkan matanya untuk memastikan sosok yang dihadapannya adalah nyata Raana, adik perempuan Dalmouk yang telah meninggal akibat kecelakaan maut yang membuat dirinya mengalami penderitaan berkepanjangan. “Apakah itu benar kau? Jika benar itu kau apakah artinya aku sudah mati?”


“Kak Latifa…”


“Pada akhirnya ini adalah keputusan yang terbaik dari Yang Maha Kuasa sebagai penebus dari dosa-dosaku padamu dan semuanya…,” Latifa tersenyum nanar dengan genangan air mata menatap sosok Raana yang tersenyum padanya. “Maafkan aku Raana, karena keegoisanku dulu membuatmu harus kehilangan nyawa…, maafkan aku juga karena kebungkamanku untuk menutupi rasa bersalahku sehingga tanpa sadar hampir membuat kedua anak perempuanmu menjadi pendengki…, maafkan aku karena kurang mendidik mereka dengan baik…, ini semuanya adalah salahku, salahku hingga belum ada lelaki yang meminang mereka karena perbuatan mereka pada anak gadis Artika sebelumnya…”


“Maafkan aku Raana, Maafkan aku!” Latifa tersentak dan bangun dari tidak sadarnya. Ia mengerdipkan matanya berkali-kali dan memandang sekelilingnya untuk memastikan bahwa apa yang dialaminya mimpi atau nyata. Ia mendapati seluruh anggota keluarganya kecuali Mundika dan Zayed, berkumpul di sebuah ruangan dengan tatapan penuh kekhawatiran dimana dirinya berbaring di tempat tidur.


“Latifa…,” Tampak Dalmouk dan Artika menatap penuh kekhawatiran sambil menggenggam pergelangan tangan kanannya yang semakin mengurus karena tergerogoti sel kanker yang telah menjalar keseluruh organ tubuh penting lainnya.


“Aku dimana?” Tanya Latifa dengan suara lemah. “Bukankah aku sudah mati?”


“Apa yang kau katakan?” Jawab Dalmouk lembut. Bagaimanapun wanita dihadapannya ini tetaplah anggota keluarganya yang telah setia mendampinginya selama ini meskipun tak ada cinta untuknya seperti cintanya pada Artika. “Kau saat ini sedang dalam perawatan intensif di rumah sakit.”


Setelah masa kritis Latifa berhasil dilewati di dalam ruang ICU, akhirnya kondisi Latifa berangsur-angsur mulai stabil sehingga dapat dipindahkan ke ruang perawatan biasa.


“Benarkah? Benarkah aku belum mati?” Latifa masih setengah tak percaya mendengar ucapan dari Dalmouk. Karena melihat kondisi kesehatannya saat ini rasanya ia hanya bisa menunggu waktu ajal menjemputnya.


“Kau masih hidup dan hanya membutuhkan penanganan intensif saja,” Hakeem yang juga mengenal Latifa ikut andil bicara menjelaskan kondisi pasien yang ditangani oleh salah satu dokter bawahannya. Ia sungguh tak menyangka bahwa Latifa bisa mengalami efek samping berupa kanker ganas sejak operasi pengangkatan rahim yang pernah ditanganinya bersama tim khusus permintaan keluarga Al Hassimi pada saat itu. Ia telah meyakinkan diri bahwa seluruh prosedur yang dilakukannya saat itu telah benar. Meskipun ia tidak menyukai tindakan Latifa yang egois saat itu, tidak berarti bahwa dirinya harus menanggalkan keprofesionalannya sebagai dokter untuk menangani pasiennya yang membutuhkan jasanya. “Bagaimana bisa Latifa? Aku dan tim-ku saat itu sudah memastikan bahwa tidak akan ada efek samping dari operasi pengangkatan rahim saat itu.”

__ADS_1


“Ini semua bukan salahmu, Dokter Hakeem,” Latifa tersenyum lemah sekaligus lega bahwa yang dialaminya tadi hanyalah mimpi dan tetap berusaha tegar meskipun tak dapat ditutupi linangan air mata telah meleleh membasahi pipinya. Rupanya Yang Maha Kuasa masih sayang padanya sehingga memberikan kesempatan baginya untuk bisa tetap bernapas hingga sekarang. “Ini semuanya sudah takdir yang harus kujalani. Yah…, anggap saja bentuk pengampunan dosa dari-Nya atas perbuatanku selama ini.”


Tak pelak ucapan itu membuat suasana semakin sendu. Latifa tahu bahwa anak-anak itu ingin mendampingi dan mendukungnya. Namun yang saat ini ia butuhkan adalah berbicara empat mata dengan Dalmouk dan Artika. Meskipun kondisi kesehatannya masih dapat dipertahankan namun tidak menutup kemungkinan suatu ketika jika waktunya telah tiba, ia ingin segalanya terencana dengan baik untuk ketiga anaknya.


“Nah, karena kondisiku sudah mulai stabil, lebih baik kalian semua pulang dan biarkan aku bersama Dalmouk dan Artika sejenak karena ada yang ingin kubicarakan dengan mereka berdua,” Latifa melepas genggaman tangan Dalmouk untuk menghapus air matanya dan mengibas-ngibaskan kelima jari tangan kirinya tanpa memperdulikan jarum infus yang dipasang disana.


“Tapi…,” Belum sempat Majid melanjutkan ucapannya, Latifa segera memotong.


“Sudahlah, Maitha, Haya, Mama minta tolong kepada kalian untuk pulang bersama dengan kakak kalian sekarang karena Mama yakin kalian pun pasti lelah menunggu Mama sejak tadi.”


“Iya Ma,” Jawab Maitha menurut. “Ayo Kak Majid, Haya, kita pulang sekarang.”


Mendengar perintah Mamanya, sontak Maitha dan Haya segera meraih kedua lengan Majid dan menariknya keluar dari kamar dan membiarkan para orang tua tersebut melanjutkan pembicaraan yang ia yakin pasti mengenai masa depan mereka bertiga. Terutama masa depannya dan adiknya, karena Majid telah menemukan tambatan hatinya untuk dipinang setelah acara pernikahan Mundika dengan salah satu anak Pemimpin Dubai selesai digelar seminggu lagi.


Mungkin banyak yang bertanya mengapa ia dan Haya bisa menjadi sosok yang tegar bahkan tak menangis ketika Dokter khusus yang menangani penyakit ibunya menjelaskan kondisi beliau terkini. Ia dan Haya sebenarnya mendengar dengan jelas ketika sang ibu bercerita dengan asisten yang selama ini menemaninya di taman sebelum terpergok oleh Majid. Tangisnya dan Haya telah pecah di malam itu sehingga sebisa mungkin semakin berbakti dan membahagiakan ibu mereka serta selalu ada jika dibutuhkan. Ditambah lagi dengan kenyataan yang sebenarnya mengenai status mereka berdua ternyata bukan anak kandung melainkan keponakan yang telah dengan penuh kasih sayang diakui sebagai anak sendiri, semakin membuat mereka menyadari posisi mereka di rumah itu.


“Sebentar Kak Majid, tasku ketinggalan di kamar perawatan Mama,” Menyadari ada yang kurang di genggamannya, Maitha menghentikan langkah kakinya dan membalikkan tubuhnya.


“Dasar ceroboh,” Ledek Majid.


“Maksudmu tas ini, Nona?” Maitha terkejut ketika ia berbalik dan melihat sudah ada tas miliknya di hadapannya yang dibawa oleh seorang yang ia kenal di ruang perawatan ibunya.


“Iya, terima ka…,” Pandangan Maitha beradu dengan pandangan Hakeem membuat mereka terkejut dalam diam. “…sih.” Ia menerima tas yang diserahkan oleh pria seumuran babanya itu.

__ADS_1


“Dokter Hakeem?” Tanya Majid yang menyusul Maitha.


“Kebetulan pada saat saya hendak keluar kamar Ibumu, saya melihat tas yang tertinggal disana yang ternyata milik…”


“Saya, Maitha,” Maitha mengangkat tangannya ke atas.


“Ah, Maitha ya…,” Hakeem terdiam sejenak seakan tersadar akan sesuatu.


“Pak Kepala, bagaimana jika engkau menikahi Kakak saya yang bernama Maitha?” Ide spontan dari Mundika sontak membuat Hakeem dan Mansoor serta kedua pengawalnya menoleh kepadanya.


“Wah, ide yang bagus itu!” Lanjut Mansoor.


“Pak Kepala tidak perlu khawatir, kakak perempuan saya itu sudah banyak berubah, dan saya rasa tidak ada salahnya menjodohkannya dengan Pak Kepala,” Mundika tersenyum puas dengan ide cemerlangnya itu.


“Kau ingin membuat Babamu mati berdiri jika memiliki menantu yang seumuran dengannya hah?” Protes Hakeem.


“Kalau begitu kami permisi dulu,” Majid undur diri bersama kedua adik perempuannya. Perlahan sosok mereka dari belakang semakin menjauh dari pandangan Hakeem.


“Maitha…,” Hakeem memfokuskan pandangannya kearah Maitha. Ia teringat kembali pembicaraan kosong antara dirinya, Mundika dan Mansoor beberapa hari yang lalu. Sepertinya ia sudah gila jika menyetujui ide gila Mundika karena dirinya merasakan ikatan tak kasat mata pada gadis itu.


***


Mundika yang emosinya telah stabil dan tenang setelah diajak pergi oleh Mansoor menjauh sejenak dari ruang ICU dan memerintahkan dua pengawalnya untuk berjaga dan mengabari mereka mengenai kondisi dari Latifa, akhirnya memutuskan untuk menjenguk Latifa ditemani Mansoor setelah mendapatkan kabar bahwa Latifa telah melewati masa kritisnya dan dipindahkan ke ruang perawatan seperti pasien lainnya. Ketika Mundika hendak membuka gagang pintu, tangannya terhenti karena tak sengaja mendengar pembicaraan antara kedua orang tuanya dan Mama Latifa.

__ADS_1


“Artika, aku sadar bahwa waktuku tidak lama lagi dan Yang Maha Kuasa bisa kapan saja memanggilku kembali pada-Nya. Dan jika saat itu tiba, aku mohon untuk tetap menyayangi ketiga anakku seperti kau menyayangi anak-anak kandungmu sendiri…”


***


__ADS_2