
Waktu cepat berlalu, tak terasa sudah empat bulan penjajakan yang telah dilakukan Mansoor dan Mundika. Semakin lama gadis itu mengenal sosok calon suaminya, semakin ia merasakan ada bunga-bunga yang perlahan muncul di gurun pasir hatinya. Senyumannya terus mengembang seolah ada benang yang tak kasat mata menarik sudut kiri dan kanan bibir Mundika. Ia tak menyangka bahwa dirinya bisa sebahagia ini memiliki seseorang tempat ia bersandar sejenak. Meskipun ada ayah, ibu, Mama Latifa, Majid, dan Zayed yang sayang padanya, ia merasa rasa sayang Mansoor kepadanya berbeda. Ia merasa terlindungi dengan adanya Mansoor. Lucu juga ya, mengapa ia bisa merasa seperti itu?
*Terdengar bunyi ringtone* dari smartphone milik Mundika. Dari Mansoor! Panjang umur, batin Mundika. Mungkin jika ini dikatakan sinergi hati, maka Mansoor dapat menangkap perasaan hatinya yang sedang merindukannya.
"Assalamu'alaikum calon istriku...," Mansoor membuka pembicaraan.
"Wa'alaikumsalam, calon suamiku," Mundika tertawa kecil membalas salam dari Mansoor. Awalnya ia merasa risih setiap kali lelaki tersebut memanggilnya calon istri meskipun dalam hitungan bulan ia akan sah menjadi istrinya. Namun entah mengapa ia mulai terbiasa dan membalas ucapan dari Mansoor. Meskipun mereka sudah sah bertunangan, bukan berarti mereka bisa seenaknya pergi bersama berdua karena budaya dan agama yang mereka anut melarang yang bukan atau belum muhrim berduaan. Alhasil mereka meng-intens-kan pendekatan dengan berkomunikasi via smartphone. Jikalau mereka bertemu berdua pun, ada tim pengawal dari Mansoor yang akan mengawasi.
"Hei, ada apa gerangan gadisku ini memanggilku calon suami?" Mansoor tak kalah terkejut namun dalam hatinya bahagia. Siapa yang tidak bahagia bahwa kekasih hatinya memberikan panggilan khusus untuknya. Tak pelak senyum lebar pun ikut tercetak dibibir tipisnya. Tanpa ia sadari tim penjaga yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi saling tertawa cekikikan melihat tuannya berucap rayu dengan Mundika. Suatu perubahan besar yang dialami Mansoor yang sejak bertunangan dengan anak dari Dalmouk Al Hassimi lebih sering tersenyum yang membuat tak hanya mereka namun orang-orang yang bekerja disekelilingnya merasakan aura yang lebih penuh warna, tidak monokrom seperti dulu kala.
"Dokter Mundika, keadaan darurat!" Tiba-tiba seorang suster berlari menghampiri Mundika. "Ada pasien tabrakan beruntun di jalan dan saat ini membutuhkan bantuan Dokter untuk melakukan operasi segera!"
"Mansoor, mohon maaf ya, teleponnya kumatikan dulu, ada pasien kecelakaan yang membutuhkan bantuanku untuk dioperasi." Potong Mundika.
"Baiklah, selamat bertugas calon istriku," Mansoor menghela napas sedikit kecewa. Namun bagaimana lagi, gadis yang dicintainya itu memang berdedikasi tinggi akan profesinya. Setidaknya selangkah lagi gerbang pernikahan didepan matanya. Dulu ia sering meledek wajah kakak-kakak lelakinya yang tampak seperti orang bodoh membicarakan kakak-kakak iparnya sebelum mereka menikah. Sekarang ia pun seolah menelan air ludahnya sendiri. Ia sering tersenyum-senyum seperti orang bodoh!
__ADS_1
***
Mundika mulai menenggelamkan tubuhnya kedalam air laut. Pikirannya kembali ke rumah sakit ketika pasien kecelakaan beruntun yang telah susah payah ia selamatkan akhirnya sadar dan membuka matanya. Ia bersyukur usahanya menyelamatkan wanita itu berbuah baik. Namun tiba-tiba wanita seumuran ibunya itu memanggil nama Artika, ibu kandungnya ketika melihat wajahnya. Ia shock, nama ibunya bukanlah sembarang nama yang dapat mudah dilafalkan oleh orang Emirati pada umumnya.
"Artika?!"
"Siapa?" Tanya Mundika kepada wanita tersebut.
"Kau Artika sepupuku kan?" Deg! Mundika terdiam. Walaupun bahasa sehari-harinya adalah Bahasa Arab dan atau Bahasa Inggris bukan berarti ia tidak mengetahui apa yang diucapkan oleh wanita tersebut. Bagaimanapun sang ibu telah mengajarinya untuk tidak melupakan asal-usulnya yang masih berdarah Indonesia. "Sekian lama aku dan keluarga mencarimu Artika..., kau kemana saja? Pakde dan Bude merindukanmu. Jangan melarikan diri lagi..., apakah kau tak kasihan pada mereka? Pulanglah..., mereka tidak mempermasalahkan statusmu sekarang..."
Melarikan diri?! Apa maksudnya? Apakah ibunya menikah dengan ayahnya tanpa restu orang tuanya? Jantung Mundika semakin berdetak kencang tak keruan. Seluruh praduga sontak berkelibat di kepalanya tanpa henti. Seperti roll film yang terputar cepat, kejadian-kejadian di masa lalu ketika ia mulai mengetahui kondisi keluarganya. Ia yang menangisi dirinya di pojok ruangan tersembunyi karena takut dibully dua kakak perempuannya dan sepupu-sepupunya yang tak pernah mengakuinya. Apakah selama ini memang ibunya yang jahat merebut cinta ayahnya dari Mama Latifa? Sebenarnya cerita yang benar itu seperti apa?!
Mundika yang terkejut karena dipaksa keluar dari terapi penenangan dirinya di air laut hanya bisa diam sampai Mansoor meletakkannya di salah satu kursi pantai yang berdekatan dengan abaya dan handuk yang telah ia siapkan sebelum ia berendam. Mansoor segera menutupi tubuh Mundika dengan handuk agar ia tidak kedinginan.
"Jika tidak ada laporan dari salah satu orang yang kuutus untuk menjagamu dari jauh aku tidak akan tahu kau melakukan kegilaan ini lagi," Mansoor menunduk lesu. "Ada apa denganmu, beberapa hari ini lebih banyak diamnya? Padahal sebelumnya kau cerah ceria. Apakah ini caramu selama ini melarikan diri? Apakah aku tidak kau anggap ada sehingga kau harus melakukan ini?"
__ADS_1
Mundika segera mendongak untuk menatap Mansoor ketika pertanyaan terakhir dari lelaki itu menggelitik hatinya. Mana mungkin ia menganggap lelaki itu tidak ada. Lelaki ini telah berusaha membuka hatinya bahkan ingin menjadikannya istri.
"Tidak Mansoor, kau salah satu orang yang berharga untukku...," Ujar Mundika polos.
Mansoor yang sebelumnya marah tak pelak mau tidak mau menyunggingkan senyumnya. Siapa yang tidak senang jika orang yang dicintainya menganggap dirinya berharga? Itu artinya selama ini usaha untuk mengetuk hati seorang Mundika berhasil.
"Mansoor...," Panggil Mundika lirih.
"Iya...," Jawab Mansoor dangan lembut.
"Maukah kau menemaniku ke Indonesia?"
"Eh? Ada apa tiba-tiba kau memintaku menemanimu ke Indonesia?" Mansoor tampak bingung dengan permintaan Mundika. Selama ia mengenal gadis itu tak pernah sekalipun dirinya mendengar ada nama negara Indonesia disebut.
"Ada hal yang harus kupastikan di sana Mansoor, setelah itu aku baru bersedia menikah denganmu," Mundika menatap lekat kearah Mansoor. Tak tampak sekalipun ada keraguan di dalam bola mata hitam indah milik sang gadis. Warna bola mata yang sangat jarang ditemui dari keturunan Arab lainnya.
__ADS_1
Kepala Mansoor mendadak pening ketika Mundika mengucapkan kata-kata tersebut. Itu sama saja ia diberi ultimatum dalam dua bulan ini untuk dapat menyempatkan waktunya yang sangat sibuk itu. Bagaimana ia bisa menyisihkan waktu setidaknya seminggu untuk menemani gadisnya ke Indonesia sementara ia tak mau rencana pernikahannya yang tinggal dua bulan tertunda hanya karena permintaan yang cukup konyol itu. Mau tidak mau ia pun harus menuruti permintaan tersebut. Apakah tak ada alternatif lain?
***