
“Mama Latifa tidak boleh berbicara seperti itu!” Mundika spontan masuk ke dalam ruang kamar tempat Latifa dirawat.
“Mundika?” Latifa terkejut melihat Mundika mendadak masuk ke ruangannya diikuti Mansoor, tunangan gadis itu dari belakang. Dalmouk dan Artika pun hanya bisa saling berpandangan penuh tanya.
Mansoor hanya dapat menepuk dahinya melihat reaksi Mundika yang menurut lelaki tersebut berlebihan. Ini sih alamat dirinya harus siap siaga menyiapkan tenaga lagi untuk menenangkan gadisnya lagi, batinnya. Padahal baru beberapa jam yang lalu dapat ia redam.
Ia sadar bahwa Mundika telah mengalami tower moment yang meluluhlantakkan dunianya berkali-kali dalam waktu berdekatan sehingga emosi yang selama ini terpendam di lubuk hatinya terdalm harus dilepaskan semuanya agar tak ada lagi beban yang menghimpit dadanya. Mungkin ini yang dinamanya ujian dalam perjalanan menuju gerbang pernikahan. Untung saja ia sudah ditempa untuk menghadapi segala hal bahkan dengan skenario yang terburuk sekalipun. Untuk kali ini ia bersyukur bahwa kombinasi didikan keras namun toleran yang sejak awal diterapkan secara seimbang oleh kakek dan nenek buyutnya dulu kemudian dilanjutkan oleh generasi babanya sekarang menjadikan dirinya sebagai sosok bak ksatria namun tetap berhati mulia.
“Jujur Ma, awalnya aku tidak terima bahwa semua yang terjadi dalam hidupku ini penyebabnya bermuara pada Mama Latifa,” Mundika mengepalkan kesepuluh tangannya agar emosi yang akan dikeluarkannya tetap terkontrol dengan baik mengingat saat ini ia berhadapan dengan orang tuanya agar ia terhindar menjadi anak durhaka. “Namun ketika aku tahu bahwa Mama Latifa juga telah menahan beban rasa bersalah itu sekian lama, rasanya akan sungguh egois jika aku menyalahkan Mama. Jika menurut Mama tidak ada lagi alasan untuk hidup di dunia ini, lihatlah kepada Kak Majid, Kak Maitha dan Kak Haya. Apakah Mama Latifa tak ingin melihat langsung momen kebahagiaan mereka memiliki keluarga kecil mereka?”
“Mundika…,” Kedua mata Latifa terbelalak sempurna seakan mendapatkan pencerahan dibalik rasa putus asanya selama ini. Tak ia sangka dorongan kuat bahwa ia masih pantas untuk berbahagia datang dari anak yang sempat ia kutuk keberadaannya di dalam hatinya karena telah merusak semua impian egoisnya dulu.
__ADS_1
“Oleh karena itu, berjuanglah untuk hidup lebih panjang dan berbahagialah, karena Mama pun pantas mendapatkannya…,” Ucap Mundika lirih.
***
Mundika menatap kearah wajahnya yang sedang dihias menggunakan make up khas pengantin wanita tradisional Arab Emirati oleh Make Up Artist yang dipesan oleh kedua ibu dan calon ibu mertuanya. Wajahnya perlahan berubah seperti bukan dirinya yang biasanya, sungguh manglingi. Sambil ia menunggu riasannya selesai, ia pun menatap kesepuluh jari-jemarinya hingga tangan yang telah berhiaskan lukisan henna nan cantik dengan pola yang begitu artistik. Pikirannya pun melayang kembali kepada acara Malam Pacar untuknya. Sebuah tradisi turun-temurun yang wajib dilakukan oleh calon pengantin Arab wanita menjelang pernikahannya dan hanya dihadiri oleh tamu wanita saja. Waktu itu seluruh keluarga, saudara, sahabat dan kerabat wanitanya berkumpul untuk memakaikannya henna, sebagai tanda telah memberikan restu padanya untuk melaksanakan pernikahan dengan pujaan hatinya, ksatrianya, Mansoor bin Maktoum. Tak lupa setelah pemakaian henna dilanjutkan dengan acara sungkeman kepada ibu kandung, ibu dari istri pertama babanya dan calon ibu mertuanya kemudian diakhiri dengan berdansa bersama oleh seluruh hadirin yang ada disana seolah lupa akan dunia karena larut dalam euphoria kebahagiaan yang terasa hingga keseluruh sukma.
Jantung Mundika berdetak keras dan terasa lebih cepat dari biasanya. Ia mengangkat kelima jari tangan kanannya dan menyentuhkannya ke dada untuk menikmati sensasi ketegangan menjelang akad nikahnya. Apakah Mansoor merasakan hal yang sama seperti dirasakannya ya?
Saat ini mereka berada di dalam mobil yang sama mengantarkan sang mempelai pria menuju rumah atau tempat akad nikah dimana calon mempelai wanita berada. Di belakang mobil tersebut terdapat iring-iringan mobil yang membawa mahar untuk pengantinnya. Barang-barang yang nyaris menjadi objek perang bintang pertama kalinya dengan Mundika karena perbedaan pandangan dalam menilai jenis mahar yang harus diberikannya sebagai lelaki yang akan menikahinya. Mana ia tahu, jika kesederhanaan berlebihan Mundika hasil didikan ibunya yang berdarah Jawa itu berimbas pada jumlah mahar yang dimintanya akan bertentangan dengan harga dirinya sebagai salah satu anak Emir Dubai yang ingin memberikan sebanyak mungkin yang mampu ia berikan dan berakhir Mundika mengalah untuk mengikuti keinginannya. Sayup-sayup terdengar musik rebana yang dimainkan oleh anggota hadrah mawaris meramaikan acara iring-iringan pengantin pria menandakan bahwa tempat yang mereka tuju sudah semakin dekat. Kesenian khas timur tengah yang biasanya dinyanyikan pada acara pernikahan.
“Ayolah Kak, seperti kau tak pernah mengalaminya saja,” Jawab Mansoor sedikit gusar untuk menutupi ketegangan yang dirasakannya. Rasanya seperti mimpi bahwa hari yang dinanti-nanti dengan penuh kesabaran dalam menghadapi setiap gelombang drama yang dihadapi oleh hidupnya untuk mencapai hari ini akhirnya tiba.
__ADS_1
“Oh, tentu saja berbeda, saat itu adalah hari yang luar biasa penuh warna kebahagiaan,” Jawab Ahmed bangga sengaja memanas-manasi Mansoor yang ia yakin tegangnya setengah mati.
“Iya saja deh, suka-suka Kak Ahmed saja,” Respon Mansoor malas, ia sudah tidak punya sisa tenaga meladeni canda sarkasme dari kakak lelakinya itu karena sudah terlalu sibuk merapal ucapan ijab kabul yang akan dilakukannya agar tidak terjadi kesalahan dalam pengucapannya nanti. Bisa dipecat jadi calon mantu di hari yang bahagia ini jika hal itu terjadi. Amit-amit, jangan sampai hal itu terjadi!
“Hentikan candaan kalian berdua, sudah saatnya kita turun,” Ucapan Maktoum yang tegas menyadarkan Mansoor bahwa waktunya telah tiba.Mansoor bin Maktoum, tenanglah…, tenanglah…, anggaplah ini seperti sedang bernegoisasi bisnis dengan partnermu! Kau pasti bisa melaluinya!
Dengan tegap dan gagah, Mansoor turun dari mobil mengikuti ayahnya dari belakang memasuki ruangan tempat acara akad nikah akan dilangsungkan. Tentu saja sebelum akad nikah dilangsungkan ia harus mendengarkan pembacaan Maulid Nabi agar pernikahannya nanti selalu diberkahi. Setelah itu akan dilanjutkan dengan khutbah yang berisi keutamaan-keutamaan dalam sebuah pernikahan dan memasuki acara inti Ijab Kabul yang akan dilakukan olehnya dan ayah dari Mundika, Dalmouk Al Hassimi.
“Ya Allah, berikan aku kekuatan dan keberanian untuk melewati ini semua!” Desis Mansoor pelan karena merasakan jantungnya berdebar berkali-kali lebih kencang dari sebelumnya dan hanya direspon senyum meledek dari Ahmed. Ia tarik kata-katanya yang sempat meremehkan prosesi ini sehari sebelum akad nikahnya sekarang. Ini lebih menegangkan dari pada melakukan sky diving sambil bertaruh nyawa dengan melemparkan diri dari ketinggian 13.000 kaki!
***
__ADS_1