Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
22


__ADS_3

Dengan tergopoh-gopoh Mundika dan Zayed serta diikuti Mansoor dan pengawalnya dari belakang berjalan menuju ruang perawatan tempat Artika berada. Sepanjang perjalanan dari Jakarta kembali ke Dubai ia tak dapat beristirahat sama sekali meskipun tubuhnya meminta. Rasa nyeri dan lelah tak dapat mengalahkan pikirannya yang terus tertuju kepada ibunya. Suasana saat itu telah memasuki malam hari dan tampak aktifitas semakin menggeliat mengingat cuaca panas dan terik di siang hari membuat orang-orang disana memilih tidak keluar rumah atau kantor.


“Kak Majid, bagaimana keadaan Ibu?” Mundika menghampiri Majid yang masih berjaga di dalam ruangan perawatan.


“Mama Artika masih belum sadar dan terkadang mengigaukan memanggil namamu dan Zayed,” Majid menghela napas dan menggelengkan kepalanya meskipun dalam hatinya ia merasa lega bahwa kedua adiknya itu telah sampai dengan selamat dan tidak kekurangan satu apapun. “Terima kasih Mansoor, kau telah memenuhi janjimu untuk menjemput adik-adikku. Aku sungguh berhutang budi padamu.” Ia menepuk pundak Mansoor.


“Kau tak perlu sungkan seperti itu Majid, bagaimanapun sebentar lagi kita akan menjadi keluarga,” Mansoor balas menepuk pundak Majid.


“Kak Majid, aku izin sebentar untuk mengantar Mansoor pulang,” Mundika memberi kode kepada Mansoor dengan menarik ujung kaos yang dikenakan lelaki tersebut. “Karena pasti sangat melelahkan hampir dua hari tidak tidur mengurusiku dan Zayed.”


“Tapi…,” Belum sempat Mansoor melanjutkan ucapannya, Mundika segera mendorong punggung lelaki itu untuk keluar dari ruangan perawatan tersebut. Ia ingin berbicara hanya berdua saja dengannya. Majid seakan memaklumi pada dua insan yang sedang dimabuk cinta ditengah-tengah masalah yang membelit mereka, sehingga mempersilahkan mereka berbicara berdua. Ah, sungguh membuat iri saja…, ia juga ingin segera mengajukan lamaran pada Rabiya. Namun ia masih belum bisa tenang jika urusan adik-adiknya belum selesai. Terkadang ia ingin bisa lebih berekspresi seperti Mundika dan Zayed meskipun ketika berbuat salah seperti saat ini, namun karena posisinya sebagai anak pertama di dalam keluarga membuatnya harus bisa menahan diri dan selalu bersikap bijak serta dewasa dalam menghadapi hidupnya. Semoga akan ada waktu dimana dirinya bisa lebih santai menjalani hidupnya tanpa beban di pundaknya. Semoga…, karena ia pun juga ingin berbahagia…


“Jadi…, apa yang hendak kau bicarakan padaku?” Mansoor tersenyum dan mencondongkan tubuhnya lebih dekat kearah Mundika seraya sedikit menggodanya. Sepertinya ia sudah memiliki hobi baru akan hal itu mengingat pipi Mundika yang spontan memerah. “Apakah kau hendak mengucapkan terima kasih padaku karena telah mengantarmu dengan selamat kepada keluargamu?”


“Mansoor…, apakah wajahmu tidak terlalu dekat kepadaku?” Sejak kejadian Mansoor memeluknya waktu itu seraya memberikan dukungan penuh kepada dirinya, ia menjadi semakin mudah berdebar-debar dan pipinya bersemu memerah setiap kali berada dekat dengan lelaki itu.

__ADS_1


“Kenapa? Apakah kau merasakan jantungmu berdebar-debar lebih kencang dari biasanya?” Betapa bahagianya jika itu benar terjadi, sehingga ia tak bertepuk sebelah tangan memperjuangkan perasaannya. Mungkin ini bentuk perubahan yang selama ini tak ia sangka bisa terjadi karena dirinya yang terlalu cuek dan dingin serta hanya memfokuskan pada karir pekerjaannya selama ini. Dipertemukan dengan seorang gadis seperti Mundika yang tidak pernah mengenal cinta dengan lawan jenis karena ketakutan dan beban masa lalunya memberikan pembelajaran bahwa ia harus bisa mengekspesikan emosinya yang terlalu lama tertidur. Ia ingin dirinya dan Mundika memiliki perasaan cinta yang sama kadarnya sehingga bisa lebih jujur satu sama lain dan tak merasa berjuang seorang diri.


“Aku…”


“Ya…,”Jawab Mansoor dengan suara lembut dan dalam.


“Isshhh, aku serius ini Mansoor, berhentilah menggodaku!” Protes Mundika tidak tahan dengan apa yang dilakukan tunangannya itu dengan menghentakkan kakinya seperti anak kecil.


“Aku juga serius menanggapimu,” Mansoor terkekeh kecil ketika melihat Mundika tak berkutik dihadapannya.


Senyum Mansoor semakin melebar ketika mendengar ucapan Mundika. Nampaknya usahanya sudah membuahkan hasil. Meskipun ia sendiri juga harus berjuang untuk mengendalikan perasaan emosi yang meluap-luap setiap kali dihadapkan dengan urusan mengenai Mundika.


“Oleh karena itu, semakin jatuh cintalah padaku Mundika,” Tatapan Mansoor melembut namun begitu intens menembus kedua bola mata hitam milik Mundika. “Jatuh cinta seperti diriku mencintaimu…,” Ia pun mengambil kesempatan untuk mencium pipi kiri Mundika sedikit dalam dan dalam sekejap berlalu meninggalkan gadis itu yang masih terkejut sambil memegang pipinya yang ia cium. Gila! Ia sudah benar-benar gila! Jika babanya tahu apa yang telah dilakukannya, ia pasti dimarahi habis-habisan karena melanggar aturan untuk tidak bersikap mesra di depan umum. Tapi kan ini bukan kali pertama ia melakukan hal seperti ini pada Mundika? Ya sudahlah, semua sudah terjadi toh ia tak merasa bersalah karena melakukannya kecuali kepada Yang Mahakuasa karena tidak sabar menunggu dua bulan lagi. Bersyukurlah ia punya tunangan yang polos seperti Mundika sehingga tak akan bisa memprotes perbuatan penuh cinta untuknya. “Selamat malam, selamat beristirahat, dan sampai jumpa besok!”


Mansoor berjalan menuju lift yang tepat berada di depan ruang perawat dan menghampiri kedua pengawalnya yang memilih menyingkir sejenak untuk memberikan ruang bagi Tuannya itu dan tunangannya berbicara empat mata.

__ADS_1


“Badar, Ali, ayo kita pulang,” Mansoor tersenyum kecil menyapa para perawat yang dilewatinya. Ia pun mengaitkan kesepuluh jarinya dan mengangkatnya keatas untuk melakukan sedikit peregangan. “Kurasa akhirnya aku atau kita tepatnya sudah bisa tidur nyenyak malam setelah hampir dua hari kita terjaga. Terima kasih sudah mendampingi melewati hari-hari yang menegangkan dan melelahkan ini.”


“Sama-sama, Mansoor,” Badar dan Ali menepuk-nepuk bahu Mansoor.


“Tapi kuharap kau tidak melakukan hal tadi lagi Mansoor,” Badar mengeluarkan komentarnya.


“Hal yang mana?” Mansoor menoleh kearah Badar sambil menaikkan alis sebelah kirinya.


“Aku tahu gadis polos itu tunanganmu, tapi tidak seharusnya kau melanggar tindakan yang sudah menjadi ketetapan dari ayahmu. Ini sudah untuk kesekian kalinya lho…,” Badar mempersilahkan Mansoor untuk masuk terlebih dahulu ke dalam lift dan disusul olehnya dan Ali. “Bagaimanapun juga kau adalah contoh untuk rakyat di sini. Akan lebih baik kau berusaha menahan semaksimal mungkin sampai dua bulan ke depan kalian sah menjadi suami-istri. Kemudian setelah itu, mau berbuat apapun tidak akan ada yang melarang kalian untuk melakukannya. Dan jangan lupakan keluarganya yang telah memberikan kepercayaan penuh padamu untuk menjaga gadis itu. Tak mungkin kan kau akan merusak kepercayaan mereka padamu? Kau memang tidak dilarang jatuh cinta, namun setidaknya logikamu harus tetap kau gunakan agar tidak dikuasai nafsu sesaat yang akan kau sesali selamanya.”


“Aku setuju dengan pendapat Badar, Sheikh,” Timpal Ali ikut mengingatkan.


“…,” Mansoor sempat terdiam karena tak menyangka gerak-geriknya begitu diamati oleh Badar dan Ali. Ia menarik napas panjang dan menghempuskan perlahan untuk menyeimbangkan perasaannya saat ini serta berusaha mencerna ucapan dari sahabatnya itu. “Aku tahu itu Badar, tapi terima kasih kau sudah mengingatkanku kembali.”


Dan pintu lift pun tertutup menandakan aktifitas hari itu telah mereka selesaikan karena Mansoor pun harus melaporkan apa saja yang telah ia lakukan kepada kedua orang tuanya serta keluarganya hasil yang ia peroleh dari kepergian mendadaknya ke Indonesia.

__ADS_1


***


__ADS_2