Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
31


__ADS_3

“GYAAAAAAAA!! Aku terlambat!!”


Mundika berlari tergopoh-gopoh menuruni anak tangga dari kamarnya yang berada di lantai dua menuju lantai dasar tempat ruang keluarga rumah sisi tempat ia tinggal dengan ibu dan adiknya. Setelah sekian lama ia tak pernah terlambat, baru kali ini insiden terjadi lagi. Bak dejavu, ia seperti melakukan hal yang sama dengan kejadian keterlambatan yang sama pula. Dan ia hanya bisa menepuk dahinya menghadapi sikap teledornya itu.


“Ya Allah, kenapa hal ini bisa terulang lagi sih?!”


*"Bu, aku berangkat sekarang ya karena harus mampir ke rumah utama untuk pamit ke Baba dan Mama Latifa serta kakak-kakak yang lain," Mundika menghampiri ibunya yang sudah menyiapkan sarapan untuknya dan sang adik, Zayed. "Jam 10 nanti ada meeting* antar direktorat di rumah sakit.” Mansoor lagi yang akan memimpin rapat nanti! Enggak kebayang deh ekspresi wajahnya akan seperti apa...


Kau tidak sarapan dulu Nduk?" Tanya Artika yang menerima ciuman tangan dan kecupan di pipi kanan dan kirinya dari Mundika.


“Aku sarapan di rumah sakit saja," Jawab Mundika mengecup dan mengelus rambut adiknya, Zayed kemudian keluar dari rumah.


"Assalamu'alaikum."


“Wa'alaikumsalam, hati-hati dijalan..."


Mundika berjalan setengah berlari menuju rumah utama untuk berpamitan. Setelah sampai di rumah utama, ia melihat Ayah, Ibu tuanya, Kak Majid, Kak Maitha dan Kak Haya, anak-anak dari Ayah dan Ibu tuanya sedang menikmati sarapan mereka juga.

__ADS_1


“Selamat pagi Baba, Mama Latifa, Kak Majid," Mundika melakukan aktifitas mencium tangan, pipi kanan dan kiri kepada Ayah, Ibu tuanya dan Kak Majid. Ia melakukan hal yang sama dengan kedua kakak perempuannya, dan kali ini tidak ada penolakan seperti dulu lagi. Bahkan mereka sudah bisa bercanda sarkastik dengan dirinya.


“Jangan lupa cium tangan,” Maitha menyodorkan punggung tangannya di hadapan Mundika setelah adiknya itu mencium keningnya.


“Iya, kakakku sayang…,” Jawabnya dengan senyuman terkembang dan menyambut punggung tangan Maitha dan Haya.


Mengapa hal itu bisa terjadi? Tentu saja bisa. Sejak ibunya telah sembuh dan kembali ke rumah, Babanya meminta diadakan rapat khusus anggota inti keluarganya sesuai permintaan dirinya untuk meluruskan segala kesalahpahaman yang terjadi selama ini. Babanya menceritakan rahasia yang ditutupi rapat di dalam keluarga mereka, termasuk siapa sebenarnya Latifa dan Haya. Tentu saja hal tersebut mendapat pertentangan tidak terima oleh Latifa dan Haya. Namun sebuah jawaban anggukan dari Latifa membuat keduanya menyadari bahwa mereka hanyalah keponakan yang diangkat anak oleh Baba dan Mama Latifa untuk menebus kesalahan Mama Latifa melibatkan adik perempuan Dalmouk meninggal dunia.


Bohong! Baba pasti berbohong!” Teriak histeris Maitha dan berdiri dari duduknya di salah satu sofa di dalam ruang keluarga. Saat ini seluruh keluarga inti Al Hassimi berkumpul untuk menyelesaikan masalah yang selama ini berusaha dipendam selama ini seolah melarikan diri karena ego dan sakit hati tanpa mencari penyelesaiannya secara nyata. Dalmouk sudah menduga reaksi yang akan ditunjukkan Maitha kepadanya. Ini salahnya karena terlalu lama menyimpan bom waktu yang pada akhirnya harus meledak juga. “Apakah ini adalah salah satu trik Baba agar kami mau menerima dan mengakui kedua anak berbeda ini untuk menjadi bagian dari anggota keluarga Al Hassimi?”


“Baba tidak berbohong Nak,” Dalmouk menengadahkan kepalanya untuk mengikuti pandangan Maitha sambil mengaitkan kesepuluh jarinya dan mengepalkannya erat untuk menekan emosi yang tersalurkan ketika ia harus mengeluarkan ganjalan hatinya yang bagaikan sebuah bongkahan batu besar menghimpit hidupnya selama ini. Menceritakannya kepada Mundika dan Zayed saja sudah menguras tenaganya, ditambah dengan hari ini harus menceritakan ulang dihadapan seluruh anggota keluarga intinya.


“Ma…,” Haya yang pendiam dan lebih sering mengikuti kata-kata kakak perempuannya akhirnya buka suara.


Latifa yang menerima tatapan meminta penjelasan hanya bisa menghela napas panjang. Pada akhirnya rahasia rentetan kesalahan besar yang ia lakukan harus dibukanya. Namun mau bagaimana lagi, dengan kondisinya saat ini memang sudah saatnya ia buka meskipun pahit dirasa.


“Itu… benar anakku,” Ia yang biasanya tegar akhirnya tak kuat menahan tangisnya karena kembali dipaksa mengingat kecelakaan yang telah merengut nyawa Raana, ibu mereka. Trauma yang hampir membuatnya gila karena telah kehilangan orang terdekatnya ditambah rahimnya jika saja Dalmouk pada akhirnya mengalah untuk tidak menceraikan dirinya dan menjadikan Artika yang saat itu sedang mengandung Mundika sebagai istri kedua. Hal yang dirinya yakin menorehkan luka lebih dalam terhadap Artika yang sudah kehilangan segalanya dan hanya dapat bergantung pada Dalmouk. “Dan semua karena kesalahan dan keegoisan Mamamu ini sehingga membuat kalian menjadi yatim piatu selamanya. Mamalah yang menyebabkan ibu kandung kalian meninggal…”

__ADS_1


Keangkuhan Maitha berubah tak berdaya hingga jatuh lemas di lantai setelah mendengar penjelasan dari Latifa. Ia tak menyangka bahwa kenyataannya begitu mengejutkannya sehingga tiada tenaga lagi sebagai penyangga. Untung saja tubuhnya segera ditangkap Mundika untuk mendudukkannya di posisinya sebelumnya di sofa. Hal yang tentu saja membuat Maitha terkejut setelah semua hal tidak baik yang dilakukannya pada adiknya itu, Mundika masih saja menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya.


“Untuk menebus kesalahan fatal itu, Mama meminta Baba mengangkat kalian menjadi anak-anak kami. Jadi Mama mohon, berhentilah untuk membenci Mundika dan Zayed. Mama hanya ingin kalian semua rukun sehingga rasa bersalah Mama sedikit terobati…,” Ucap Latifa sambil terus terisak.


“Ma…,” Haya yang selama ini selalu diam karena hidup berlindung dari sang kakak, Maitha, akhirnya tak kuasa untuk memeluk Latifa.


“Baba juga minta maaf kepada Maitha, Haya dan terutama untukmu Majid,” Majid yang juga sejak tadi tak bergeming terkejut dengan ucapan dari Dalmouk. Sontak ia menoleh untuk menatap ayahnya itu. “Maafkan Baba yang selama ini terkesan pilih kasih dengan lebih memperdulikan Mundika dan Zayed karena rasa kecewa Baba kepada Mama Latifa atas tindakannya di masa lalu. Padahal kalian juga anak-anak Baba. Baba berjanji akan membagi kasih sayang Baba sama rata semuanya. Dan Baba berjanji kau tidak harus menanggung beban sebagai pemimpin keluarga ini sendirian. Kau bebas Nak, kau sudah bisa memikirkan dirimu sendiri sekarang…”


Majid yang terkenal tak pernah menunjukkan ekspresi emosi sisi lemahnya tanpa sadar meneteskan air matanya. Akhirnya…, kata-kata yang selama ini dengan sabar ia nantikan meskipun sudah merasa tiada lagi harapan akhirnya terdengar juga nyata di telinga. Ia bisa lebih memberanikan diri untuk mendekati Rabiya.


“Baba pun akan membantu mencarikan calon suami yang baik untuk Maitha dan Haya setelah pernikahan Mundika dan Sheikh Mansoor yang akan digelar dalam beberapa minggu nanti. Baba hanya ingin kalian semua bahagia…”


“Kau tampak terburu-buru sekali Nak, apakah ada urusan penting?" Tanya Dalmouk.


*"Aku pamit dulu izin pergi terburu-buru karena jam 10 pagi ini ada meeting* di rumah sakit." Perasaan Mundika semakin kalut karena waktu terus berjalan namun terdapat secercah senyuman kebahagiaan karena ia sudah memiliki keluarga yang normal penuh kebahagiaan. Ternyata benar kata pepatah bahwa badai pasti berlalu dan ada pelangi yang menyambutnya dengan senyuman setelah berhasil melewati segala bentuk ujian yang nyaris mengantarkannya ke ujung hidupnya jika ia tak kuat iman dan tentu saja karena ada Mansoor di sisinya. "Aku pergi semuanya, Assalamu'alaikum."


“Wa’alaikumsalam…”

__ADS_1


***


__ADS_2