Ksatria Untuk Mundika

Ksatria Untuk Mundika
16


__ADS_3

Artika berjalan menuju pantry untuk membuat kopi hitam agar ia dapat menyelesaikan bahan presentasi yang akan disampaikan kepada Direktur Utama baru perusahaan tempatnya bekerja besok siang. Gila! Ia sampai harus mendoping dirinya dengan kopi hitam yang sudah pasti bukan favoritnya. Tapi apa daya, demi mendapatkan bahan presentasi yang sempurna, ia relakan dirinya untuk begadang di kantor.


"Hoaaammm...," Artika berusaha menahan kantuknya sambil menutup uapan dari mulutnya dengan tangan kirinya sementara Tangan kanannya berpegang pada meja yang diletakkan coffee maker di atasnya. Bunyi pemrosesan biji kopi menjadi cairan espresso memecah suasana di ruang kerjanya yang lengang mengingat jam yang melingkar di tangan kiri Artika sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ayo bertahanlah Artika, sebentar lagi selesai dan kau bisa pulang serta tidur nyenyak di apartemenmu! Ucapnya dalam hati menyemangati diri. Tidak ada yang salah dalam posisinya saat ini, salahkan dirinya yang berkepribadian perfeksionis sehingga membuatnya terjebak lembur malam ini demi menyelesaikan laporan.


“Wah, sepertinya kopi yang kau buat itu enak,” Suara berat dari belakang Artika yang menggema di telinganya membuat gadis itu terkejut dan bulu kuduknya meremang. Sontak ia menoleh kearah suara itu berasal. Didapatinya sosok lelaki asing namun sedikit familiar namun entah dimana ia pernah bertemu.


“Se..selamat malam Pak,” Sapa Artika memberikan anggukan.


“Selamat malam,” Jawab lelaki bernama Dalmouk itu. Dengan perawakan tinggi 175 cm dan berat ideal khas Bangsa Arab yang terkenal dengan kulit bersih berwarna tan kecoklatan dan kumis serta jambang yang rapi terbentuk di sisi rahang dan dagu menyempurnakan senyuman yang diarahkan kepada Artika membuat gadis itu tampak sedikit gugup dan kurang nyaman berada didekatnya. Hal yang cukup menggelitik hatinya setelah beberapa hari lalu ia melihat performanya dalam mempresentasikan progres area pengeboran di lepas pantai utara Dubai ketika melakukan inspeksi seluruh lantai pada hari pertamanya bekerja di kantor ini. Tak ia sangka dibalik kecemerlangan penuh percaya diri ketika menyampaikan laporan berbanding 180 derajat terbalik dengan saat ini, seperti anak kucing yang ketakutan menghadapi anjing buas yang siap menerkamnya kapanpun. Anjing buas? Aku? Tidak-tidak, aku bukan lelaki seperti itu!


“Anda mau kopi juga Pak?” Tawar Artika yang masih berusaha untuk tenang dan bersikap sopan di situasi yang tak pernah diduganya akan terjadi. Tatapan lelaki mata di depannya saat ini terlihat intens dan membius karena ada keteduhan, kelembutan, dan ketegasan yang berpadu menjadi satu di wajahnya. Baru kali ini Artika merasa gugup jika berhadapan dengan lelaki Emirati. Tenanglah hatiku, ini hanya kebetulan saja dari sekian malam lemburmu..., anggap saja lelaki dihadapanmu sama dengan teman lelaki kantormu yang lain.


“Boleh?” Tanya Dalmouk menatap.


“Tentu saja boleh,” Tawa kecil Artika memecah kekakuan yang terjadi ketika Dalmouk meminta izinnya untuk dapat membagi espresso yang dibuatnya. “Ini kan pantry umum kantor Pak, memangnya saya yang punya perusahaan sehingga berhak melarang orang lain masuk dan memanfaatkan fasilitas yang ada disini?” Artika menyodorkan secangkir kopi hitam yang dibuatnya tadi beserta beberapa tumpuk gula balokan kecil ke hadapan Dalmouk. “Karena saya tidak tahu takaran gula yang Bapak gunakan, saya letakkan di piring kecil saja ya Pak, jadi Bapak bisa memasukkannya sendiri ke kopi sesuai dengan selera Bapak...”

__ADS_1


“Terima kasih,” Ucap Dalmouk. Aroma kopi espresso tercium wangi menyentuh indra sehingga membuatnya segera meneguk kopi buatan perempuan cantik dihadapannya itu. Ya, tak banyak ia menemukan gadis yang menyajikan minuman kepadanya dengan cara yang halus dan sopan seperti saat ini. “Kamu sendiri?”


“Ini,” Artika menunjukkan sebuah mug bermotif bunga-bunga yang digenggamnya.


“Wah, mengapa kau menggunakan mug? Tak adil!” Protes Dalmouk yang duduk di salah satu kursi makan sambil melipat kedua tangannya.


“Karena saya lebih butuh asupan kafein dibandingkan Bapak,” Jawab Artika sambil tersenyum dan duduk berhadap-hadapan dengan Dalmouk. Tak pantaslah rasanya jika berbincang-bincang dengan posisi satu orang duduk dan lainnya berdiri. “Saya harus mengecek finalisasi bahan presentasi untuk disampaikan kepada Direktur Utama yang baru besok agar tidak ada kesalahan dan membuat atasan saya malu.”


“Oh ya? Siapa atasanmu? Siapa tahu saya kenal,”


“Pak Salman,” Artika menyeruput kopinya. Dalam sekejap cairan hitam pekat itu menyentuh hormon melatonin sang penyebab kantuk sehingga dirinya merasakan kesegaran dan konsentrasinya kembali.


“Tidak sama sekali, malah saya berterima kasih kepada beliau yang telah memberikan saya kesempatan ini,” Jawab Artika antusias. “Terlebih lagi saya pula yang akan melakukan presentasi itu besok. Senang sekali!”


Dalmouk tersenyum melihat keceriaan yang ditunjukkan oleh Artika. Hei, bagaimana Dalmouk tahu nama Artika sedangkan sang pemilik nama saja tidak menyebutkan atau memperkenalkan dirinya kepadanya?

__ADS_1


“Kau senang karena akan bertemu Direktur Utamamu yang baru mungkin?” Pancing Dalmouk. “Kudengar ia tampan dan masih single lho...”


“Anda adalah orang kesekian yang mengucapkan kata-kata itu Pak,” Artika menepuk dahinya sebagai tanda tidak sependapat dengan ucapan Dalmouk. “Tak semua orang silau akan hal seperti itu Pak, salah satunya saya,” Ia menunjuk dirinya sendiri. “Saya disini bekerja dan digaji secara profesional, mau pimpinan tertinggi saya tampan kek, single kek, itu bukan urusan saya Pak, yang penting hasil pekerjaan saya dihargai, itu lebih penting bagi saya!” Ujar Artika berapi-api.


Dalmouk merasa harga dirinya sedikit tersinggung namun bercampur kekaguman terhadap gadis di depannya ini.


“Waduh, sudah jam setengah sepuluh malam!” Artika segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar pantry. “Saya harus melanjutkan lembur saya! Selamat malam Pak! Permisi...”


Belum sempat Dalmouk memperkenalkan namanya, Artika telah menghilang dari hadapannya. Ia mau lihat apakah gadis itu bisa bersikap santai seperti tadi esok hari?


***


Sesuai dengan jadwal yang ditentukan yaitu pukul 13.00 waktu setempat, Artika telah mempersiapkan segala sesuatunya di ruang rapat yang terletak di sebelah kanan ruang Direktur Utama. Ia tak munafik bahwa dirinya cukup gugup untuk melakukan presentasinya kali ini karena akan dinilai oleh Direktur Utama yang baru. Dipandanginya satu per satu para Emirati dan ekspatriat seperti dirinya yang telah duduk di posisi kursinya masing-masing dan menyisakan dua bangku kosong milik Direktur Utama dan Wakil Direkturnya.


Tak lama dua sosok mengenakan kandoora lengkap dengan gutrahnya memasuki ruangan. Betapa terkejut dirinya mendapati bahwa lelaki yang duduk mengisi bangku kosong tepat di tengah-tengah meja rapat yang membujur panjang berhadapan dengam layar proyektor adalah lelaki yang semalam berbincang-bincang di ruang pantry dan ia sempat membicarakan tentang lelaki dengan pembahasan kurang sopan terhadap orangnya sendiri! Ia jadi malu setengah mati pada dirinya sendiri!

__ADS_1


Sementara Dalmouk yang melihat ekspresi terkejut dari Artika tersenyum puas dan mulai membuka rapat siang itu.


***


__ADS_2